Riausastra.com – Secara sederhana filologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang Naskah Kuno. Apa itu naskah kuno? Menurut peraturan perundang-undangan, Naskah Kuno adalah semua dokumen tertulis yang tidak dicetak atau tidak diperbanyak dengan cara lain, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki kekayaan tersebut, hampir diseluruh bagian wilayah Indonesia memiliki naskah dengan keunikan dan keragamannya masing-masing. Naskah Kuno merupakan dokumen berharga yang harus dijaga dan dilindungi. Naskah Kuno juga merupakan salah satu benda Cagar Budaya. Hal ini diatur dalam UU No. 11 Tahun 2010 mengatur tentang larangan penjualan benda cagar budaya, termasuk di dalamnya naskah-naskah kuno. Undang-undang ini merupakan peraturan utama yang mengatur naskah kuno sebagai bagian dari cagar budaya. Selanjutnya UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Undang-undang ini juga mengatur tentang naskah kuno dari perspektif perpustakaan. Pasal 6 ayat 1 (b) menyatakan bahwa masyarakat berkewajiban untuk menyimpan, merawat, melestarikan naskah kuno yang dimilikinya dan mendaftarkannya ke Perpustakaan Nasional.
Mengapa Naskah Kuno dianggap begitu penting? Sebab didalam naskah tersebut tersimpan kekayaan intelektual terkait sejarah, budaya dan peradaban suatu bangsa yang dapat dijadikan dasar untuk pengembangan intelektual masa depan. Berdasarkan hal tersebut banyak para peneliti ikut andil dalam penyelamatan dan pelestarian Naskah Kuno ini. Salah satunya dengan menyediakan “korpus filologi”. Korpus filologi adalah kumpulan naskah atau teks yang menjadi objek kajian dalam ilmu filologi. Pada umumnya objek ini berupa manuskrip kuno, kitab keagamaan, surat cinta raja, hikayat sastra dari berbagai zaman dan budaya. Dengan adanya korpus ini menjadi tempat dimana sejarah, sastra dan bahasa bersatu dalam petualangan ilmiah. Sesuatu yang sebelumnya tidak terbayangkan tulisan tangan di sebuah kertas kuno, bahasa yang asing dan lembaran yang rapuh dipenuhi debu di sudut ruangan menyimpan kisah yang luar biasa. Korpus yang disediakan oleh seorang filolog ini dapat membantu kita mengubah cara pandang terhadap tumpukan kertas yang dipenuhi debu tersebut. Siapa penulisnya, kapan ditulis, apa konteks sosial dan budayanya, bagaimana teks itu disalin atau berubah dari waktu ke waktu dapat kita lihat melalui korpus ini.
Di era digital, para peneliti filologi tidak ketinggalan, filolog tersebut ikut andil dalam memanfaatkan dunia digital. Manuskrip kuno kini didigitalisasi, dianalisis, disajikan dalam sebuah platform yang bisa di akses oleh siapa saja diseluruh dunia. Filologi menjadi lebih terbuka dan multidisipliner. Melalui korpus digital ini dapat memudahkan para peneliti, mulai dari peneliti filolog hingga peneliti bidang lainnya. Dengan mengakses korpus ini kita bisa mengetahui bagaimana sebuah fenomena yang akan kita teliti dibicarakan pada zaman dahulu. Bagaimana orang zaman dahulu berfikir, berbicara dan memahami fenomena tersebut. Dalam dunia yang bergerak begitu cepat filologi mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenung dan mendengarkan suara-suara masa lampau. Ia membawa kita untuk membaca secara kritis, menghargai keragaman budaya dan menyambungkan masa lalu dengan masa kini. Maka dari itu korpus filologi dapat diibaratkan ladang emas bagi siapapun yang mencintai bahasa, sejarah dan budaya.
Beberapa contoh korpus filologi digital yang dapat diakses secara gratis diantaranya ada Kortara yang dikelola oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang, Korpus Indonesia yang dikelola oleh Universitas Negeri Malang, Relic Manuskrip dikelola oleh Universitas Indonesia. Disamping itu ada juga beberapa korpus di luar negeri yang menyimpan naskah-naskah Nusantara dan dapat di akses secara gratis. Diantaranya ada Sketch Engine biasanya digunakan di Brunei, Malaysia, dan Singapura. Selain itu ada juga Malay Concordance Project (MCP) yang dikelola di Malaysia. Selain korpus tersebut masih banyak lagi korpus lain yang menyimpan naskah-naskah Nusantara dan bisa di akses secara terbuka. Mendigitalisasikan naskah kuno dan diabadikan dalam korpus ini menjadi pilihan yang efektif untuk penyelamatan naskah.
Kemajuan teknologi pada era digital ini sangat memudahkan proses pendigitalisasian naskah kuno namun pekerjaan ini memiliki tantangan yang cukup serius. Kondisi fisik naskah yang semakin rapuh akibat usia dan faktor lingkungan membuat proses digitalisasi menjadi perlombaan dengan waktu. Belum lagi kendala teknis seperti keterbatasan dana, sumber daya manusia yang terampil, dan infrastruktur teknologi yang belum memadai. Meskipun demikian di balik tantangan tersebut, terbuka peluang besar untuk kolaborasi lintas institusi, baik dalam negeri maupun internasional. Beberapa universitas telah mulai mengintegrasikan mata kuliah filologi berbasis digital dalam kurikulum mereka, hal ini dapat menciptakan generasi peneliti yang tidak hanya memahami metodologi filologi tradisional tetapi juga menguasai teknologi digital terkini.
Korpus filologi Indonesia tidak hanya bermanfaat bagi peneliti domestik, tetapi juga menjadi aset diplomasi budaya di kancah internasional. Melalui platform digital yang terbuka, Indonesia dapat memperkenalkan kekayaan intelektual nenek moyang kepada dunia. Hal ini tidak hanya meningkatkan soft power Indonesia, tetapi juga membuka peluang kerjasama penelitian dengan berbagai negara. Naskah-naskah Nusantara yang tersebar di berbagai perpustakaan dan museum dunia kini dapat diakses dan dipelajari secara kolaboratif. Peneliti dari berbagai negara dapat bekerja sama mengkaji satu naskah yang sama dari perspektif yang berbeda, memperkaya interpretasi dan pemahaman terhadap warisan budaya tersebut.
Bayangkan sebuah masa depan dimana seluruh naskah kuno Nusantara dapat diakses melalui satu platform terintegrasi. Seorang mahasiswa di Papua dapat dengan mudah mengakses naskah Melayu klasik dari Sumatera, sementara peneliti di Eropa dapat mempelajari hikayat Jawa kuno tanpa harus datang langsung ke Indonesia. Visi ini bukan lagi mimpi, melainkan tujuan yang dapat dicapai melalui kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, universitas, dan komunitas peneliti. Platform digital yang memuat naskah ini tidak hanya menyediakan akses baca, tetapi juga fitur-fitur interaktif seperti anotasi kolaboratif, terjemahan multibahasa, analisis linguistik otomatis, dan visualisasi data yang memudahkan pemahaman. Dengan demikian, korpus filologi tidak hanya menjadi gudang penyimpanan, tetapi laboratorium hidup tempat peneliti dari berbagai disiplin ilmu dapat berkolaborasi.
Korpus filologi bukan sekadar proyek akademis, melainkan investasi jangka panjang untuk peradaban. Setiap naskah yang terdigitalisasi, setiap teks yang ditranskripsi, dan setiap analisis yang dilakukan adalah kontribusi nyata untuk generasi mendatang. Mereka akan mewarisi tidak hanya kekayaan materi, tetapi juga kekayaan intelektual yang tak ternilai harganya. Dalam era globalisasi ini, ketika batas-batas budaya semakin kabur, korpus filologi menjadi jangkar yang mengingatkan kita pada akar dan identitas. Ia mengajarkan bahwa kemajuan teknologi dan pelestarian tradisi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam harmoni yang indah. Melalui korpus filologi, masa lalu berbicara kepada masa kini, dan masa kini menyiapkan warisan intelektual untuk masa depan.
***
كورڤوس فيلولوڬي، واريسن إنتلكتوال اونتوق ماس دڤن
سچارا سدرهان فيلولوڬي اداله سواتو إلمو يڠ ممڤلجاري تنتڠ نسكه كونو. اڤ إتو نسكه كونو؟ منوروت ڤراتورن ڤروندڠ-اونداڠن، نسكه كونو اداله سموا دوكومن ترتوليس يڠ تيدق ديچتق اتاو تيدق ديڤرباڽق دڠن چارا لاين، بايك يڠ برادا د دالم نڬري ماوڤون د لوار نڬري. إندونسيا مروڤاكن ساله ساتو نڬارا يڠ مميليكي ككيائن ترسبوت، همڤير د سلوروه باڬيان ويلايه إندونسيا مميليكي نسكه دڠن كئونيكن دان كرڬامنڽ ماسيڠ-ماسيڠ. نسكه كونو مروڤاكن دوكومن برهرڬ يڠ هاروس ديجاڬ دان ديليندوڠي. نسكه كونو جوڬ مروڤاكن ساله ساتو بندا چاڬر بوداي. هل إني دياتور دالم او.او نو. ١١ تاهون ٢٠١٠ مڠاتور تنتڠ لراڠن ڤنجوالن بندا چاڬر بوداي، ترماسوق د دالمڽ نسكه-نسكه كونو. اوندڠ-اوندڠ إني مروڤاكن ڤراتورن اوتام يڠ مڠاتور نسكه كونو سباڬاي باڬيان داري چاڬر بوداي. سلنجوتڽ او.او نو. ٤٣ تاهون ٢٠٠٧ تنتڠ ڤرڤوستكائن. اوندڠ-اوندڠ إني جوڬ مڠاتور تنتڠ نسكه كونو داري ڤرسڤكتيف ڤرڤوستكائن. ڤاسل ٦ ايت ١ (ب) مڽتاكن بهوا مشراكت بركواجيبن اونتوق مڽيمڤن، مراوت، ملستاريكن نسكه كونو يڠ ديميليكيڽ دان مندفتركنڽ ك ڤرڤوستكائن ناسيونل





















