gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Disadari atau tidak, mayoritas mahasiswa yang berprestasi di kampus belum memberikan kontribusi nyata ke masyarakat. Mereka aktif dalam organisasi, sering memenangkan lomba, dan dianggap cerdas di lingkungan akademik. Namun, kegiatan mereka sering tidak terasa di luar tembok kampus. Fenomena ini menunjukkan jarak antara aktivitas akademik dan partisipasi sosial. Mahasiswa seharusnya tidak hanya fokus pada prestasi pribadi, tetapi juga memanfaatkan ilmunya bagi masyarakat. Sebab, mereka memiliki tanggung jawab moral sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan sosial di sekitarnya.

Prestasi dan kegiatan dalam organisasi memang penting untuk melatih kemampuan memimpin dan berpikir kritis. Dalam melakukan kegiatan tersebut, mahasiswa belajar bekerja sama, bersaing secara sehat, serta mengelola tanggung jawab. Namun, jika prestasi hanya dihargai secara pribadi, maka hasilnya tidak bermakna.Menurut Freire (1970) dalam bukunya “Pedagogy of the Oppressed”, pendidikan yang sejati seharusnya mampu membebaskan manusia, sehingga bisa berpikir kritis terhadap kondisi sosial dan berani berubah. Jadi, ilmu pengetahuan harus menjadi alat untuk membebaskan, bukan sekadar tanda keberhasilan akademik.

Mayoritas mahasiswa saat ini terjebak dalam budaya yang kompetitif dan penuh simbol. Mereka saling berlomba untuk mendapatkan IPK tinggi, posisi strategis di organisasi, serta berbagai penghargaan. Namun, mayoritas mahasiswa belum benar-benar memahami nilai sosial dari pencapaiannya. Pendidikan seharusnya mampu membebaskan manusia agar hidupnya bisa sejalan dengan masyarakat. Mahasiswa yang hanya berputar di dalam lingkaran kampus seperti menara gading yang tinggi, tetapi justru kehilangan dasar yang kuat di bumi. Ilmu pengetahuan yang tidak terhubung dengan realitas sosial pada akhirnya akan kehilangan kemampuan untuk mengubah dunia.

Kondisi seperti ini membuat sebagian mahasiswa menjadi kurang peka terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tujuan pendidikan yang tinggi seharusnya tidak hanya mencetak individu yang cerdas, tetapi juga membentuk pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan berintegritas. Mahasiswa perlu memperluas ruang untuk berkembang melalui aktivitas yang memiliki dampak nyata, seperti membantu para pengusaha kecil menengah (UMKM), memberi edukasi tentang dunia digital, mempromosikan pendidikan lingkungan, atau membangun kualitas pendidikan di daerah terpencil. Pengalaman sosial seperti ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga melatih rasa empati, kepedulian, dan kepekaan terhadap kehidupan nyata. Ilmu pengetahuan baru terasa hidup ketika digunakan untuk kebaikan bersama demi kemajuan masyarakat luas.

Mahasiswa yang hebat bukan hanya mereka yang berprestasi di dalam kampus, tetapi mereka yang mampu menerapkan ilmu yang mereka miliki untuk kepentingan masyarakat. Madjid (1992) dalam bukunya “Islam Doktrin dan Peradaban”, pernah menyatakan bahwa ilmu yang tidak diwujudkan dalam tindakan adalah kesombongan intelektual. Prestasi akademik hanya memiliki arti jika diubah menjadi tindakan nyata yang mampu menciptakan perubahan positif.Mahasiswa yang mampu menghubungkan teori dengan praktik akan menjadi penggerak utama dalam pembangunan sosial. Di sini, peran para intelektual muda dapat ditemukan relevansinya dalam kehidupan masyarakat.

Selain itu, mahasiswa perlu memiliki kesadaran akan posisi mereka dalam masyarakat modern yang terus berkembang pesat. Mereka bukan hanya orang yang mengambil ilmu, tetapi juga calon pemimpin yang bisa membawa perubahan positif bagi lingkungannya. Mereka harus tahu bahwa menguasai ilmu bukan tujuan akhir, melainkan cara untuk berjuang demi kebaikan bersama dan kemajuan bangsa. Ketika ilmu diperpadukan dengan perhatian dan tindakan nyata, maka tercipta seseorang yang cerdas dan memiliki jiwa sosial yang kuat. Itulah makna pendidikan tinggi yang benar, yaitu membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, serta berjiwa sosial.

Saat ini, tantangan seperti kemiskinan, ketidakadilan, hingga masalah lingkungan membutuhkan peran dari generasi muda yang peduli. Mahasiswa bisa terlibat langsung melalui aktivitas seperti advokasi, penelitian yang berpangkalan pada masalah nyata, atau kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dimulai dari kampus. Partisipasi langsung seperti ini dapat membentuk pemikiran kritis, empati sosial, dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat luas. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat penggerak perubahan sosial yang berkelanjutan. Semakin meningkat mahasiswa yang turut serta di tengah masyarakat, semakin besar peran perguruan tinggi dalam membangun bangsa yang adil dan berdaya.

Menurut saya, sekarang saatnya mahasiswa menyeimbangkan prestasi akademik dengan pengabdian kepada masyarakat. Aktivitas di kampus memang penting, tetapi keterlibatan dalam kehidupan masyarakat adalah wujud sejati dari penerapan ilmu. Melalui interaksi langsung dengan orang-orang di lingkungan sekitar, mahasiswa belajar memahami dunia nyata dan memperkaya empati serta kemampuan memimpin. Bangsa ini tidak hanya memerlukan sarjana yang bisa berbicara di forum akademik, tetapi juga orang yang peduli, berani bertindak, dan mampu menghasilkan dampak nyata. Dengan begitu, mahasiswa bukan sekadar hebat di kampus, tetapi juga terdengar dan dirasakan kehadirannya oleh masyarakat.

***

مهاسيسوا هبت د كمڤوس، تاڤي تق تردڠر د مشراكت

د سداري اتاو تيدق، ميوريتس مهاسيسوا يڠ برڤرستاسي د كمڤوس بلوم ممبريكن كونتريبوسي ڽات ك مشراكت. مرك اكتيف دالم اورڬنيساسي، سريڠ ممنڠكن لومب، دان دياڠڬڤ چردس د ليڠكوڠن اكادميك. نامون، كڬياتن مرك سريڠ تيدق تراس د لوار تمبوق كمڤوس. فنومن إني منونجوككن جارق انتارا اكتيۋيتس اكادميك دان ڤرتيسيڤاسي سوسيال. مهاسيسوا سهاروسڽ تيدق هاڽ فوكوس ڤادا ڤرستاسي ڤريبادي، تتاڤي جوڬ ممنفائتكن إلموڽ باڬي مشراكت. سبب، مرك مميليكي تڠڬوڠ جاوب مورل سباڬاي اڬن ڤروباهن يڠ ممڤو منجمبتاني دونيا ڤنديديكن دڠن كبوتوهن سوسيال د سكيترڽ

Artikel sebelumnyaMembaca Degup yang Tersembunyi dalam Jantung Batu
Adin Dwi Jayanti
Adin Dwi Jayanti adalah mahasiswi aktif semester tiga Program Studi Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Fakultas Adab dan Bahasa, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Ketertarikannya terletak pada isu-isu pendidikan, sosial, dan peran mahasiswa dalam perubahan masyarakat. Menurutnya, menulis merupakan cara untuk menghubungkan dunia akademik dengan realitas sosial. Adin aktif menghadiri berbagai seminar kepenulisan guna memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan menulisnya. Ia berharap dapat terus menulis untuk menyuarakan gagasan-gagasan yang bermanfaat bagi pembaca, Nomor HP: 085640321956, Gmail: adindwijayanti102@gmail.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini