Riausastra.com – Sastra lisan ialah salah satu bentuk sastra yang menyimpan kekayaan budaya suatu bangsa. Salah satu sastra lisan yang akrab ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah peribahasa. Peribahasa dalam kamus umum susunan WJS Poerwadarminta adalah “kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya yang biasanya mengiaskan sesuatu maksud yang tentu (di peribahasa termasuk juga ungkapan, bidal dan perumpamaan). Selain itu ada pepatah, yang berarti, sebangsa peribahasa yang mengandung nasihat dan sebagainya, perkataan (ajaran) orang tua, pepatah dan petitih, berbagai-bagai peribahasa”. Berdasarkan kamus tersebut salah satu peribahasa ialah ungkapan tradisional.
Ungkapan tradisional adalah salah satu kekayaan khazanah budaya lisan Indonesia yang fenomenal. Masduki dalam penelitiannya mengakatakan ungkapan tradisional merupakan kearifan lokal yang dimiliki setiap suku bangsa dan sangat erat kaitannya dengan karakter dan nilai-nilai yang berkembang dalam suku bangsa tersebut. Ungkapan tradisional ini merupakan cetusan atau simpulan dari sebuah kenyataan atau keadaan, masing-masing ungkapan tradisional digubah oleh seorang yang cerdas, punya pendangan dan kajian yang tajam tentang sebuah keadaan. Ungkapan tradisional menyiratkan makna yang arif sehingga dihafalkan secara turun-temurun pada setiap generasi. Beragamnya ungkapan tradisional merupakan hasil dari beragamnya kehidupan dan pengalaman setiap suku bangsa. Dalam perjalanan kehidupan setiap suku bangsa, banyak hal yang ditemukan dan dijadikan nilai-nilai dalam berkehidupan.
Nilai-nilai kehidupan ini dapat ditelusuri melalui aspek budaya yang ada dalam suatu masyarakat. Aspek budaya dapat dilihat dari ekspresi komunikasi masyarakat dalam mengkomunikasikan nilai-nilai kehidupan yang dipercayainya dengan ungkapan tradisional. Ungkapan tradisional tersebut dapat merepresentasikan bagaimana masyarakat bersikap, bertindak dan cara mereka berinteraksi dalam masyarakat komunalnya. Hal ini dapat kita lihat pada salah satu masyarakat komunal yang masih akrab menggunakan ungkapan tradisional, yaitu masyarakat Minangkabau.
Salah satu ungkapan tradisional Minangkabau yang sering diungkapkan dalam berbagai situasi ialah “Alam takambang jadi guru”. Ungkapan sederhana ini mungkin terdengar asing bagi telinga generasi muda masa kini. Padahal, di balik kata-kata tersebut tersimpan filosofi hidup yang mendalam dari masyarakat Minangkabau: bahwa alam semesta adalah guru terbaik manusia. Fenomena ini bukan sekadar kehilangan kata-kata, melainkan erosi identitas budaya yang mengancam. Ketika ungkapan tradisional hilang, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya ikut menghilang. Generasi muda kehilangan kompas moral dan panduan hidup. Era globalisasi memang membawa kemudahan, namun juga tantangan besar bagi pelestarian budaya lokal. Bahasa gaul dan tren internasional lebih mudah viral dibanding petuah nenek moyang.
Kini, kearifan leluhur ini sedang mengalami transformasi yang menarik. Alih-alih terlupakan ditelan zaman, ungkapan-ungkapan tradisional Minangkabau dapat bangkit dalam wujud yang tak terduga yaitu kolaborasi dengan fashion lokal. Bagaimana jika baju kaos santai Anda bisa menjadi guru kehidupan? Inilah yang terjadi ketika ungkapan tradisional Minangkabau bertransformasi menjadi tren fashion masa kini. Di sinilah industri fashion menawarkan solusi kreatif. Data terbaru yang dimuat di laman Goodstreet.id menunjukkan bahwa 65% masyarakat Indonesia menganggap fashion sebagai aspek penting dalam kehidupan mereka. Angka ini mengungkap potensi besar fashion sebagai medium komunikasi dan pelestarian budaya.
Fashion bukan hanya soal penampilan, tapi juga cara berkomunikasi. Ketika seseorang mengenakan baju bertuliskan ungkapan tradisional, dia secara tidak langsung menjadi duta budaya. Konsep ini sederhana namun revolusioner, mengubah pakaian dari sekadar penutup tubuh menjadi kanvas penyampaian nilai-nilai budaya. Berikut beberapa ungkapan tradisional yang berpotensi besar ditransformasikan dalam desain fashion lokal. Pertama ungkapan “Alam Takambang Jadi Guru”. Filosofi fundamental yang mengajarkan bahwa alam adalah sumber pembelajaran tak terbatas. Dalam desain kaos, ungkapan ini dapat divisualisasikan dengan elemen-elemen alam yang menginspirasi. Selanjutnya ungkapan Si Ganjua Lalai. Ungkapan yang merepresentasikan kekuatan feminim Minangkabau – lemah gemulai namun tegas. Ungkapan ini cocok untuk produk fashion perempuan, dari anak-anak hingga remaja.
Ungkapan tradisional yang tak kalah berpotensinya adalah Tak Lakang Dek Paneh, Tak Lapuak Dek Hujan. Ungkapan ini merupakan simbolisasi ketahanan adat Minangkabau yang tidak mudah tergerus zaman. Pesan yang powerful untuk generasi yang menghadapi tantangan modernitas. Ungkapan tradisional terakhir adalah Tigo Tali Sapilin. Ungkapan yang merepresentasikan konsep kepemimpinan kolektif yang melibatkan tiga pilar: niniak mamak (pemimpin adat), alim ulama (pemimpin agama), dan cadiak pandai (cendekiawan). Empat ungkapan tersebut merupakan ungkapan tradisional yang sangat fundamental merepresentasikan identitas budaya masyarakat Minangkabau.
Implementasi ungkapan tradisional ini tidak terbatas pada kaos. Ungkapan tradisional dapat ditransformasikan ke berbagai produk fashion seperti tas, aksesori, topi bahkan sepatu. Yang penting adalah kesesuaian antara filosofi ungkapan dengan desain visual yang menarik. Selain itu kolaborasi dengan seniman lokal menjadi kunci. Mereka dapat menciptakan interpretasi visual yang tidak hanya estetis, tapi juga autentik secara budaya.
Bayangkan ketika turis asing mengenakan kaos bertuliskan “Alam Takambang Jadi Guru” dan memahami filosofi di baliknya. Atau anak muda Indonesia yang bangga mengenakan fashion bermuatan kearifan lokal. Ini bukan sekadar mimpi. Dengan strategi yang tepat, fashion berbasis ungkapan tradisional dapat menjadi identitas unik Indonesia di panggung global. Bukan lagi sekadar mengikuti tren, tapi menciptakan tren yang bermakna.
Fashion adalah cermin jiwa pemakainya, jika kita ingin generasi muda memiliki jiwa yang berkarakter, berikan mereka fashion yang berkarakter pula. Revolusi ini dimulai dari hal sederhana yaitu memilih baju yang tidak hanya bagus dipandang, tapi juga bermakna bagi jiwa. Kearifan leluhur kini hadir dalam bentuk yang tak pernah mereka bayangkan namun dengan tujuan yang sama yaitu mendidik dan menginspirasi.
***
سسترا دان إندوستري فاصيون، سلامتكن بوداي دڠن ڬاي
سسترا ليسن إياله ساتو بنتوق سسترا يڠ مڽيمڤن ككيائن بوداي سواتو بڠس. ساله ساتو سسترا ليسن يڠ اكرب ديتموي دالم كهيدوڤن سهاري-هاري اداله ڤريبهاس. ڤريبهاس دالم كاموس اوموم سوسونن و.ج.س. ڤوروادرمينت اداله ” كليمت اتاو كلومڤوق ڤركتائن يڠ تتڤ سوسوننڽ يڠ بياساڽ مڠياسكن سسواتو مكسود يڠ تنتو ( د ڤريبهاس ترماسوق جوڬ اوڠكاڤن، بيدل دان ڤرومڤمائن). سلاين إتو ادا ڤڤاته يڠ بررتي، سبڠس ڤريبهاس يڠ مڠندوڠ ناسيهت دن سباڬايڽ، ڤركتائن (اجارن) اورڠ توا، ڤڤاته دان ڤتيتيه، برباڬاي-باڬاي ڤريبهاس”. برداسركن كاموس ترسبوت ساله ساتو ڤريبهاس إياله اوڠكاڤن تراديسيونل





















