gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Billie Eilish adalah seorang penyanyi kelahiran 2001 yang berasal dari California, Amerika Serikat. Ia telah berkarir sejak umurnya masih berusia 13 tahun dengan lagu berjudul “Ocean Eyes” yang ditulis langsung oleh kakaknya Finneas O’Connell, lagu tersebut resmi dirilis pada tahun 2016 yang dituilis ulang oleh Darkroom dan Iinterscope Records.

Pada tanggal 17 Mei 2024 lalu Billie kembali merilis album bertajuk “Hit Me Hard And Soft” dengan 10 title track di dalamnya seperti “CHIHIRO”, “BLUE”, dan salah satu lagu yang paling berkesan bagi pendengarnya yaitu “WildFlower”. Dalam karyanya tersebut tak hanya menawarkan keindahan musikal saja, namun juga mengajak pendengarnya menelisik kembali sisi gelap dan rumitnya emosi manusia dewasa. Dengan liriknya yang jujur dan aransemen yang lebih sederhana, Billie menyampaikan pengalaman pribadi, cerminan diri, dan estetika keburukan dalam satu narasi yang kuat dan relevan untuk generasi masa kini.

WildFlower” sendiri merupakan lagu yang penuh dengan makna mendalam, sementara itu frasa “WildFlower” dalam bahasa Indonesia berarti “bunga liar”, disimbolkan sebagai keindahan serta ketahannya yang mampu hidup di tempat yang keras, metafora pada frasa ini dapat diartikan sebagai kemampuan manusia dalam bertahan ketika menghadapi luka dan trauma yang pernah ia lalui. Dalam konteks lainnya, bunga liar juga dapat dipahami sebagai sisi liar, tak beraturan, terkadang dapat pula diartikan sebagai “buruk” dari emosi manusia seperti perasaan cemburu, rasa bersalah, serta ketidakpastian dalam sebuah hubungan.

Munculnya estetika keburukan dalam karya Billie ini merupakan akibat adanya dorongan diri untuk menampilan sisi-sisi tidak sempurna dalam dirinya, seperti perasan bersalah, cemas, serta keraguan yang sering kali muncul ketika dianggap “buruk” ataupun tidak layak untuk diperlihatkan di ruang publik. Dalam Liriknya yang berbunyi “I see her in the back of my mind all the time/ Like a fever, like i”m burning alive, like a sign,” ia menyampaikan bagaimana luka dan perasaan yang dihantui oleh bayang-bayang masa lalu, namun begitu tak dapat dipungkiri hal ini merupakan bagian dari kejujuran dan keindahan karya itu sendiri.

Keburukan yang dimaksud dalam konteks estetika kali ini bukan hanya membicarakan sesuatu yang jelek saja atau negatif, akan tetapi merupakan bagian dari pengalaman yang membekas dalam ingatan setiap manusia. Melalui lagunya “WildFlower”, ia mengajak pendengar berdamai dengan luka, penerimaan atas diri, serta refleksi diri yang kerap merasakan sakit serta perasaan gagal.

WildFlower” juga menjadi cermin refleksi diri bagi orang dewasa. Billie menyampaikan bagaimana seseorang ketika dihadapkan dengan rumitnya sebuah hubungan serta mempertahankan identitas. Dalam lagunya tersebut, sarat akan rasa ketidaknyamanan, perasaan bersalah yang didasari oleh keterlibatan diri dalam hubungan yang kompleks, serta perasaan takut akan pendapat orang lain mengenai dirinya, hal ini kerap menjadi bagian dari pengalaman banyak orang dewasa.

Pengalaman pribadi Eilish tentang body image, rasa tidak percaya diri, dan tekanan publik juga memperkaya narasi ini. Ia pernah menyebut tubuhnya sebagai “teman jelek” yang selalu bersamanya, menandakan hubungan kompleks dengan diri sendiri yang penuh kontradiksi dan kerentanan. Inilah bentuk refleksi diri yang jujur—mengakui, bukan menutupi, sisi gelap yang ada dalam diri.

Billie sendiri pernah merasakan pengalaman yang erat kaitannya dengan body shaming, pada Juli 2021 lalu ia mengalami penurunan jumlah pengikut sebanyak 100 ribu di akun instagramnya, hal ini terjadi lantaran ia mengenakan tank top putih saja memperlihatkan tubuhnya yang tidak ideal dan menjadi sasaran body shaming oleh pengikutnya sendiri di Instagram, dilansir dari laman Liputan 6 “Sejak awal karier, Billie sempat membangun citra diri sebagai figur publik yang suka berpakaian oversized, atau tampil dengan baju dan celana kebesaran. Namun, pada 12 Juli 2021 lalu, sang pelantun Happier Than Ever mengunggah potret dirinya mengenakan pakaian ketat dan mem memperlihatkan bentuk tubuh. Tentu saja hal ini berbeda dengan citra dan gaya Billie yang boasa sebelumnya. Alhasil, karena foto itu saja, ia kehilangan kurang lebih 100 ribu followers di Instagram” (Minggu, 25/06/2023).

Adanya pengalaman tidak mengenakkan tersebut, akhirnya memunculkan perasaan tidak percaya diri dan merasakan tekanan di ruang publik dapat memperkuat narasi ini. Kembali mengutip dari Liputan 6 “Pada kesempatan yang sama, Billie menjelaskan bahwa ia menghabiskan sebagian besar hidupnya seabgai sosok yang tampak maskulin dan kekanak-kanakan.” hal ini menyaratkan tentang bagaimana ia mencoba meyesuaikan diri dengan apa yang diinginkan oleh khalayak tanpa mempertimbangkna jati dirinya sendiri. Inilah mengapa ”WildFlower” menjadi bentuk refleksi diri yang penuh dengan kejujuran dengan artian mengakui bukan menutupi sisi gelap dari dalam diri”

Pada dasarnya makna dari lagu “WildFlower” tidak sesederhana bagaimana pernyataan cinta diungkapkan atau bagaimana perasaan patah hati disampaikan. Makna dari karya ini sendiri lebih kompleks, ini merupakan bagaimana ekspresi diri disampaikan melalui karya seni berupa syair dengan estetika keburukan dan refleksi diri dibalut dalam imaji orang dewasa. Billie Eilish menegaskan bahwa keindahan bisa juga dihasilkan dari luka, ia juga memberikan pemahaman kepada penonton bagaimana keberanian dalam sebuah kejujuran mengenai diri sendiri merupakan bentuk seni yang paling indah dalam sebuah karya. Billie menyampaikan sebuah pemahaman bagaimana menerima dan juga memberikan sebuah penerimaan akan luka sebagai bagian dari perjalanan bagi kita menjadi manusia yang dewasa.

***

ويلدفلوور-بيللي ايليس: رفلكسي ديري دان استتيك كبوروكن دالم إماجي اورڠ دواس

بيللي ايليس اداله سئورڠ ڤڽاڽي كلاهيرن ٢٠٠١ يڠ براسل داري چاليفورنيا، امريك سريكت. إيا تله بركارير سجق اومورڽ ماسيه بروسيا ١٣ تاهون دڠن لاڬو برجودول “اوچيان ايس” يڠ ديتوليس لڠسوڠ اوله كاككڽ فيننيس او-چوننل، لاڬو ترسبوت رسمي ديريليس ڤادا تاهون ٢٠١٦ يڠ ديتوليس اولڠ اوله دركروم دان لينترسچوڤ ريكورد

Artikel sebelumnyaPuisi: Juli Mendekap
Artikel berikutnyaPuisi: Pendam
Nurhayati
Nurhayati, mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Andalas. Saya berasal dari Solok, Sumatera Barat. Ketertarikan saya pada dunia sastra tumbuh dari keinginan untuk memahami lebih dalam makna dan keindahan bahasa. Melalui tulisan, saya berusaha mengeksplorasi berbagai pengalaman, pemikiran, dan potret kehidupan. Semoga tulisan ini bisa menjadi jembatan untuk saling berbagi rasa dan cerita.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini