gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Karya sastra adalah karya kreatif yang berasal dari ide-ide pengarangnya. terlahir dari hubungan langsung antara pikiran dan gagasan seorang sastrawan sebagai pembuatnya.(ARIFIN, 2019) Karya sastra adalah ungkapan perasaan, pikiran, dan pengalaman manusia yang ditulis atau diucapkan dengan menggunakan bahasa yang indah, inovatif, dan penuh imajinasi. Menurut A. Bakar Hamid dalam (Nosianti & Haridh, 2019) cerpen atau cerita pendek seharusnya dilihat dari kuantitas kata yang digunakan, yaitu antara 500 hingga 20.000 kata, terdapat plot, terdapat satu karakter,dan adanya kesan.

Cerita pendek, atau cerpen, pada dasarnya adalah “irisan kehidupan” yang disajikan dengan cara yang sederhana.  Cerpen langsung mengajak pembaca ke inti masalah, tidak seperti novel, yang memerlukan banyak waktu untuk mengenalkan banyak tokoh atau tempat.  Penulis hanya berkonsentrasi pada satu peristiwa penting atau konflik yang dialami tokohnya di dalamnya.  Setiap kata dalam cerpen terasa sangat berarti karena keterbatasan ruangnya. Tidak ada ruang untuk bahasa yang berlebihan.

Cerpen ini menceritakan tentang  “Raja dan Batu Langit”, seorang penguasa tiran yang menyimpang dari realitas rakyatnya dan jatuh. Kisah bermula dengan meteor, atau batu langit, jatuh yang membawa pesan mengerikan, “Raja Akan Mati.”  Raja menanggapi ramalan itu dengan kemarahan, paranoia, dan kejahatan, bukannya berpikir sejenak.  Semua orang di desa itu dibunuh karena mereka mengira dia adalah orang yang bertanggung jawab atas tulisan di batu itu. Raja digambarkan hidup dalam kebohongan karena hanya ingin mendengar pujian dari penjilat, sementara rakyatnya kelaparan dan sakit.  Di akhir cerita, menteri Raja menjebaknya untuk menyepi di gunung. Di sana, dia akhirnya menyadari kesalahannya.  Namun, kesadaran itu datang terlambat karena Pangeran Bukit Kaki Langit, komandan pasukan pemberontak, berhasil menggulingkan kerajaannya sebagai balasan atas tindakannya yang kejam.

Dalam cerpen ini penulis tertarik pada kekuatan pesan moral yang terkandung didalam ceritanya. Cerita ini mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah hak abadi, tetapi amanah yang harus dipertahankan dengan cara yang adil. Alam dan rakyat akan bersatu untuk menjatuhkan seorang pemimpin yang sombong, kejam, dan hanya mau mendengar pujian palsu (penjilat). Cerita ini lebih mendalam menunjukkan bahwa penyesalan yang datang terlambat tidak dapat mengubah keadaan.  Meskipun Raja menyadari kesalahannya di akhir hayatnya, ia masih harus menanggung akibat dari tindakan kejamnya di masa lalu.  Intinya, cerpen ini mengingatkan kita bahwa kekerasan tidak dapat melindungi kebenaran, dan bahwa mereka yang mengabaikan kesusahan rakyat akan selalu dihukum oleh sejarah.

Harian Kompas  mengadakan malam penganugerahan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2024, dan karya Bre Redana, “Raja dan Batu Langit”, yang diterbitkan pada 28 Januari 2024, menjadi pemenang. Dalam acara tahunan “Menguatkan dan Menyembuhkan Melalui Kata” Anugerah Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2024, pengumuman dan penyerahan penghargaan dilakukan pada hari Sabtu, 18 Oktober 2025, di Bentara Budaya Jakarta. Ciri khas cerpen “Raja dan Batu Langit” adalah narasi dramatis tentang kejatuhan seorang penguasa tiran. Namun, aspek luarnya—hubungannya dengan sejarah, filosofi politik, dan moralitas universal—adalah yang paling menonjol. Di akhir cerita, pengakuan jelas, “Diilhami kisah jatuhnya dinasti-dinasti kuno Tiongkok, seperti Qin, Sui, dan Tang. L’Histoire se Repete”, adalah kunci untuk interpretasi, mengangkat cerpen dari sekadar cerita fiksi menjadi kritik sosio-politik yang berkelanjutan.

Tujuan dari penelitian ekstrinsik ini adalah untuk menjelaskan bagaimana cerpen menanamkan pesan moral yang kuat melalui pengaruh sejarah dan filsafat politik. Dalam filsafat politik, hilangnya legitimasi moral Raja adalah tema utama cerpen ini. Secara eksternal, kisah ini merupakan perwujudan literer dari gagasan Mandat Langit (Tianming) Tiongkok, yang menegaskan bahwa kekuasaan diberikan dengan cara tertentu.Dalam The Prince, ahli filsafat politik terkenal Niccolò Machiavelli menekankan bahwa penguasa harus memilih apakah akan dibenci atau ditakuti. Dia juga memperingatkan tentang bahaya dibenci. Melalui megalomania dan pembantaian rakyatnya, raja dalam cerpen ini akhirnya memilih untuk dibenci.

A. Teeuw, seorang kritikus sastra Indonesia, sering menekankan bahwa sastra melakukan fungsi sosial dan moral. Dalam hal cerpen ini, dia mungkin melihatnya sebagai narasi yang melakukan koreksi “Sastra tidak hanya merefleksikan masyarakat, tetapi juga memberi kritik terhadap nilai-nilai yang berlaku dan menunjukkan alternatifnya.” Kekuatan moral cerpen ini terletak pada kemampuan untuk menunjukkan konsekuensi brutal dan langsung dari kegagalan Raja untuk mempertahankan kepercayaan dan kecintaan terhadap rakyatnya, yang ia sesali pada akhirnya.

Cerpen ini dengan tegas mengkritik keadaan di istana.  Penggambaran para pejabat yang memuja Raja secara berlebihan, bahkan ketika ia telanjang, adalah sindiran pedas terhadap budaya penjilatan dan isolasi kekuasaan. Adagium terkenal yang sangat relevan dengan kejatuhan Raja dibuat oleh sosiolog dan sejarawan seperti Lord Acton:”Kekuasaan cenderung mencemari, dan kekuasaan absolut mencemari sepenuhnya.” Raja yang telah menikmati kemuliaan palsu untuk waktu yang lama menjadi korban kekuatan absolutnya sendiri.  Ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan palsu, dan penyakitnya yang sebenarnya ketakutan akan kematian diobati dengan solusi sederhana dari dokter dan menteri yang takut untuk mengakui kebenaran.

Unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang mempengaruhi penciptaan karya sastra dan ada di luar karya sastra itu sendiri. Nurhasanah, E. (2018) Penyerapan Mandat Langit (Tianming), filosofi politik klasik Tiongkok, adalah elemen ekstrinsik utama cerpen ini.  Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, ide utama adalah hilangnya legitimasi kekuasaan karena kerusakan moral.  Tinming mengatakan bahwa Langit memberkati seorang penguasa (Raja) untuk memerintah selama ia adil, bijaksana, dan menjaga kesejahteraan rakyat (minben).  Rakyat memiliki hak bahkan kewajiban moral untuk memberontak jika pemerintahan tidak adil atau tirani. Dalam cerpen ini, raja digambarkan menderita kebodohan, mengabaikan kekayaan negeri, dan, yang paling penting, dikelilingi oleh penjilat yang memujinya, bahkan ketika ia telanjang, dengan alasan bahwa “busana raja sangat indah.” Ini secara jelas melanggar prinsip Mandat Langit. “Beberapa elite negeri menganggap Raja banyak melenceng dalam mengemban kekuasaan yang merupakan mandat langit. Raja ditengarai mengidap megalomania, dengan menguasai segenap sumber daya negeri ia merasa amat sangat berkuasa”.

Pesan moralnya yang ekstrinsik adalah peringatan keras tentang bahaya yang mengintai dari isolasi moral kekuasaan.  Seorang pemimpin kehilangan legitimasi moral di mata “Langit” atau, dalam istilah kontemporer, di mata rakyat ketika ia mengutamakan keangkuhan daripada kritik yang objektif.  Bencana alam dianggap dalam tradisi Tianming sebagai pertanda bahwa Langit tidak lagi mendukung penguasa.  Keyakinan ini dibahas secara eksplisit dalam cerpen ini. “Bukan merupakan peristiwa kebetulan meteor jatuh di lembah Sungai Naga… Panen gagal. Pertanian ambruk. Selain kelaparan di sejumlah tempat, wabah penyakit menyebar… itu pertanda Raja kehilangan mandat langit.” Dengan tulisan “Raja Akan Mati” di atasnya, Batu Langit adalah simbol keadilan kosmis yang lebih besar daripada sekadar elemen cerita.  Pesan moralnya adalah bahwa ketidakseimbangan di Bumi disebabkan oleh ketidakadilan manusia.  Menurut cerpen ini, kepemimpinan yang etis memelihara keharmonisan antara manusia, alam, dan takdir, yang merupakan konsekuensi yang jauh lebih luas daripada hanya urusan politik.

Cerpen ini menggambarkan kritik sosial terhadap mekanisme korupsi kekuasaan absolut, yang telah ada sejak dinasti Tiongkok hingga pemerintahan kontemporer. Dalam cerita disebutkan banyak pejabat istana yang dihormati sebagai “petinggi negeri, cerdik pandai, pendeta, pujangga, tentara, saudagar”.  Teks ini merupakan kritik sosial terhadap birokrasi yang mengutamakan kepatuhan buta dan penjilatan di atas kejujuran. Kehancuran negara terjadi bukan hanya karena kebodohan penguasa, melainkan karena kebisuan orang-orang cerdas yang takut menyuarakan kebenaran. Kekejaman Raja yang membantai rakyatnya memicu hilangnya “Mandat Langit” dan melegitimasi pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Bukit Kaki Langit. Sejalan dengan teori kontrak sosial John Locke, ketika pemerintah gagal melindungi hak dasar dan berubah menjadi tirani, rakyat memiliki hak moral untuk menggulingkan kekuasaan tersebut demi menegakkan keadilan.

Cerpen “Raja dan Batu Langit” menggambarkan bahwa legitimasi kekuasaan bersifat rapuh dan sangat bergantung pada perilaku moral seorang pemimpin. Kekejaman dan penyalahgunaan “Mandat Langit” oleh Raja memicu pemberontakan rakyat yang akhirnya membawa sang penguasa pada titik kehancuran dan penyesalan mendalam. Melalui peristiwa tragis ini, muncul pemahaman filosofis tentang catharsis, di mana Raja menyadari kesalahannya saat semuanya sudah terlambat. Pada akhirnya, kisah ini menjadi refleksi universal bahwa hukum sejarah akan selalu membalas ketidakadilan, membuktikan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan dan tirani pasti akan runtuh.

Daftar Pustaka

  • Arifin, M. Z. (2019). Nilai moral karya sastra sebagai alternatif pendidikan karakter (Novel Amuk Wisanggeni karya Suwito Sarjono). Literasi: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya, 3(1), 30-40.
  • Nosianti, R. P., Andini, A. Y., Oktari, E. A., & Haridh, F. (2020). Apresiasi Unsur Ekstrinsik dan Instrinsik Cerpen Serta Makna Ambiguitas dalam Pembelajaran Membaca Pemahaman Siswa Kelas X SMKN 2 Karawang. Jurnal Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia Sasindo Unpam, 1(2), 349-356.
  • Nurhasanah, E. (2018). Analisis Unsur Ekstrinsik Novel “Merry Riana-Mimpi Sejuta Dolar’’karya Alberthiene Endah Dan Pemanfaatannya Sebagai Bahan Pembelajaran Bahasa Indonesia. METAMORFOSIS| Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya, 11(1), 23-26.

***

ككواتن ڤسن مورل دالم چرڤن راج دان باتو لاڠيت كاريا بر ردان: كاجيان اكسترينسيك

كريا سسترا اداله كريا كرياتيف يڠ براسل داري إد-إد ڤڠارڠڽ، ترلاهير داري هوبوڠن لڠسوڠ انتارا ڤيكيرن دان ڬڬاسن سئورڠ سستراون سباڬاي ڤمبواتڽ. (اريفين،٢٠١٩) كريا سسترا اداله اوڠكاڤن ڤرسائن، ڤيكيرن، دان ڤڠلامن مانوسيا يڠ ديتوليس اتاو ديئوچڤكن دڠن مڠڬوناكن بهاس يڠ إنده، إنوۋاتيف، دان ڤنوه إمجيناسي. منوروت ا.باكر هاميد دالم (نوسيانتي دان هاريد،٢٠١٩) چرڤن اتاو چريت ڤندك سهاروسڽ ديليهت داري كوانتيتس كات يڠ ديڬوناكن، يايتو انتارا ٥٠٠ هيڠڬ ٢٠.٠٠٠ كات، ترداڤت ڤلوت، تإرداڤت ساتو كركتر، دان اداڽ كسن

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini