gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Di bawah bukit berdiri kokoh sebuah sekolahku. Sekolah Dasar Negeri 25 Silang IV Silalang. Sekolah itu berada di Kampung Tengah, Kabupaten Pasaman. Aku ingat momen tahun 2007-an, metode mengajar dari guruku begitu klasik. Pakaiannya tidak mewah tetapi rapi. Gaya rambutnya pun klasik. Belah dua, licin sekali. Guruku  menulis dengan kapur. Metodenya kebanyakan ceramah tetapi para siswa mendengarkan dengan baik. Waktu itu, di dalam kelas pekik suara gelut siswa jarang terdengar ketika belajar. Kalaupun ada, sekali saja guru itu menegur, semua diam. Berbeda dengan anak zaman sekarang, semua serba canggih, tetapi karakter menghargai guru agak berkurang.   

Sekolah di Bawah Bukit memiliki sarana secukupnya atau dicukup-cukupkan, Aku dan teman-teman waktu itu duduk bertiga, kursinya panjang terbuat dari kayu. Kami duduk satu meja untuk belajar. Aku ingat betul zaman itu penuh kenang. Aku belum tahu huruf dan angka, tetapi guruku terus mengajariku menulis dan membaca. Ia tak bosan-bosan mengajariku, sehingga aku ingin menulis tentang mereka kembali.

Sekolah di Bawah Bukit. Wajahnya terus membayangiku untuk menuliskan kisahnya. Kebudayaan di sekolah itu yang mengajak pikiranku menulisnya kembali. Tiga puluh tahun sudah berlalu. Kebudayaan saling menghargai di sekolah dan pembinaan karakter masih teraplikasi dengan baik. Semua siswa sungguh patuh pada gurunya. Budaya salam di sekolah terus menjamur sampai sekarang. Kata-kata kasar tak boleh marak, komunikasi guru dengan guru pun tampak kompak. Apabila ada perselisihan atau perbedaan pendapat akan diselesaikan oleh kepala sekolah dengan musyawarah. Seluruh elemen saling mendukung dan berwibawa meski kehidupan para guru di kampung terbilang sederhana.

Kebahagiaan selalu bersemi di wajah mereka. Sampai kini, aku ingat betul wajah Bu Asra yang merupakan wali kelas pertamaku. Ia sangat ramah, murah senyum, dan bahasanya lemah lembut. Ia mengajariku membaca dan menulis beserta tata cara berbahasa. Ia mengajariku bersih-bersih dan beribadah. Sehingga tulisan ini adalah magnet kasih sayangnya. Semoga beliau tenang diharibaan Sang pencipta.

Musim hujan penghujung Desember 2024, aku mengunjungi sekolah itu. Sekolah di Bawah Bukit. Sengaja kulirik pohon kapas yang rindang, tetapi tinggal kenangan. Kucoba dengarkan suara burung Ambaroba dan Sikudi berkicau, tetapi kehilangan sarangnya. Kulihat potret pondok-pondok kecil tempat berjualan Nenek Ondak, sayangnya pondok itu telah rapuh ditelan zaman.  Kuhirup udara segar di bawah bukit itu, entah apa lagi yang tersisa. Aku penasaran sembari jalan-jalan berkeliling.

Suara semakin sunyi ketika suara gilingan padi tak kudengarkan lagi. Zaman benar-benar berubah. Sementara permainan klasik seperti permainan sepak bola takraw, lomba kelereng, lompat tali, gambar mini, tarik tambang, petak umpet, pukul bola kasti miris tak kutemui lagi.  Selain itu, uang koin seharga dua puluh lima rupiah pun hilang bak ditelan bumi. Sekolah di Bawah Bukit, hanya tiga yang kulihat tak berubah. Budi pekerti, Budaya, dan bahasa.

Sekolah di Bawah Bukit. Di samping sekolah ada sawah dan lading. Berbatas dengan hamparan sungai, dan suara-suara pacul petani dan suara kaki kerbau membajak sawah. Aku termenung sendiri mengenang masa-masa indah itu. Sementara rumah dinas di samping sekolah sudah tak layak pakai tiada penghuni.

 Sekolah itu bagian dari mimpiku. Tahun 2009, aku bercita-cita menjadi pemain sepak bola terkenal. Setiap sore, aku dan teman-temanku bermain sepak bola. Tanpa alas kaki. Hujan dan badai kami tangguhkan dengan bermain bola. Setelah salat Ashar, kami terus bermain sampai senja.

Sekolah di bawah bukit tidak menjadikan kami tinggi hati. Selaku Guru Pendidikan Agama Islam M. Syuib pernah mengatakan,” Pendakian tertinggi adalah budi pekerti. Artinya setiap langkah kaki mesti memiliki makna istimewa. Semakin tinggi ilmu seseorang semakin sering ia merunduk. Jatah sukses telah menunggu untuk itu jangan  pernah lupa kaji dan diri, ”ungkapnya.

Sekolah di bawah bukit adalah impianku untuk kembali. Kembali menjadi pengajar dan mengajak anak-anak kampung itu untuk sama-sama belajar. Belajar budi pekerti, budaya dan bahasa. Sebab banyak anak-anak putus sekolah dan merantau. Padahal merantau pun tidak semuanya berhasil. Hanya orang-orang yang sabar dan kreatif saja yang pasti berhasil.

Pada tahun yang beranjak, kenangan masih tersimpan dalam sanubari. Aku teringat sosok ibu menyuruhku menjual gorengan di teras sekolah. Gorengan itu berupa makanan ringan peniaram, tahu tusuk, bakwan, kerupuk kuah sate dan lain-lain.  Tradisi jualan membludak pada zaman terompah jepang menjadi-jadi. Biasanya setelah salat Subuh, ibuku Nurdaslima sudah selesai memasak, menghitung untung dan rugi.

Bila malam tiba, sekolah dan kampung itu tidak selalu sepi. Kampung itu masih hidup. seperti kehidupan yang terus berputar. Aku berharap kegiatan wirid remaja dan mengaji selalu terlaksana.

Padang,05 Agustus 2025

***

سكوله د باوه بوكيت

د باوه بوكيت برديري كوكوه سبواه سكولهكو. سكوله داسر نڬري ٢٥ سيلڠ ٤ سيلالڠ. سكوله إتو برادا د كمڤوڠ تڠه، كبوڤاتن ڤسامن. اكو إڠت مومن تاهون ٢٠٠٧-ئن، متود مڠاجر داري ڬوروكو بڬيتو كلاسيك. ڤاكايانڽ تيدق موه تاڤي راڤي. ڬاي رمبوتڽ ڤون كلاسيك. بله دوا، ليچين سكالي. ڬوروكو منوليس دڠن كاڤور. متودڽ كبڽاكن چرامه تتاڤي ڤارا سيسوا مندڠركن دڠن بايك. وكتو إتو، د دالم كلس ڤكيك سوارا ڬلوت سيسوا جارڠ تردڠر كتيك بلاجر. كالاوڤون ادا، سكالي ساج ڬورو إتو منڬور، سموا ديام. بربدا دڠن انق زامن سكارڠ، سموا سرب چڠڬيه، تتاڤي كاركتر مڠهرڬاي ڬورو اڬق بركورڠ

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini