Riausastra.com – Nostalgia itu seperti sihir emosional yang tidak bisa kita hindari. Cukup satu aroma atau lagu lama, dan kita langsung terbawa ke masa lalu. Pasti kita sering mengalaminya? Hidup di antara kenangan dan kenyataan, sambil hanyut di sungai memori yang selalu meninggalkan jejak. Nah, antologi puisi “Menyapa Waktu Lalu” karya Syifa Fauziah Sucia ini seperti pintu masuk ke dunia memori kita sendiri. Lewat bahasa yang simpel dan penuh perasaan, penulis mengajak kita mengobrol dengan masa lalu yang sudah terlewat, tetapi suaranya masih bergema di hidup kita. Buku ini seperti rekaman hati yang tidak mau di lupakan, usaha untuk menyalakan lagi momen-momen yang bikin kita jadi diri.
Antologi puisi ‘Menyapa Waktu Lalu” karya Syifa Fauziah Sucia menceritakan pengalaman hidup dengan bahasa yang sederhana dan hangat, sehingga terasa lebih dekat dengan pembaca, seperti sedang berbagi kisah dan kenangan secara jujur dan apa adanya. Bagi saya, buku ini seperti pintu yang membuka kembali ruang-ruang kenangan yang sering kita simpan rapat-rapat. Dengan bahasa yang sederhana, jujur, dan penuh perasaan, penulis seolah mengajak pembaca duduk bersama masa lalu, bukan untuk terjebak di sana, tetapi untuk memahaminya.
Bagian pertama buku ini mengajak kita berhenti sebentar, melihat ke masa lalu yang terasa sunyi dan jauh. “Bungkamlah Berlalu” intinya adalah pengakuan jujur bahwa waktu yang sudah lewat itu tidak bisa diulang, sudah kaku, dan membisu. Di puisi-puisi ini, Sucia sering menunjukkan kenangan lewat benda-benda lama, coba bayangkan ‘surat kusam’, ‘foto yang mulai kabur’, atau ‘tempat yang dulunya ramai tapi kini sepi’. Itu bukan cuma deskripsi, tapi cara dia bilang: ingatan itu tersembunyi, hanya bisa kita temui saat kita benar-benar menyendiri dan merenung. Seperti yang sering orang bilang, rasanya seperti membuka kotak harta karun lama yang penuh rahasia.
Tapi ingatan sejati itu tidak pernah diam total. Dari kesunyian itu, tiba-tiba muncul perasaan yang kuat, membuat masa lalu terasa hidup lagi. Inilah fase “Mengalir”, yang sangat dinamis. Di sini, penyair sibuk merasakan dan mencerna semua emosi rindu, sedih, atau bahagia, mencoba menghubungkan semua itu dengan hidupnya yang sekarang. Sucia pandai memakai perumpamaan seperti air atau aliran sungai untuk menggambarkan memori yang terus bergerak dan mengubah cara kita melihat sesuatu. Nostalgia di fase ini bukan sekadar melihat foto lama, tapi merasakan kembali momen itu di dalam hati. Ini membuktikan bahwa waktu, meski sudah berlalu, emosinya terus mengalir dalam diri kita.
Puncak dari semua perasaan itu adalah tahap “Lalu Berlalu”, yaitu momen kita akhirnya menerima dengan damai. Setelah menghadapi masa lalu yang diam dan semua emosi yang mengalir deras, penyair mencapai titik “sudah, cukup”. Puisi-puisi penutup terasa lebih tenang dan bijak. Kenangan, baik yang indah maupun yang menyakitkan, diakui maknanya, dan kemudian diizinkan untuk pergi dibiarkan berlalu. Menerima di sini bukan berarti melupakan, tapi menjadikan masa lalu itu sebagai pelajaran berharga, bukan beban yang harus kita pikul. Sucia mengajarkan: nostalgia itu harus diselesaikan. Kenangan harusnya menjadi motivasi, bukan penghalang. Dengan melepaskan genggaman emosi pada yang telah hilang, barulah kita bisa melangkah maju dengan hati yang lapang.
Setelah membaca Antologi Puisi “Menyapa Waktu Lalu,”perasaannyacampur aduk banget, tapi akhirnya happy ending. Buku ini kayak terapi pribadi. Awalnya, kita diajak diam-diam menatap kenangan yang udah “bungkamlah berlalu”, yang rasanya kaku dan nggak bisa diapa-apain. Sempat sedih, lah, karena masa lalu itu terasa jauh banget. Tapi ya namanya emosi, nggak bisa ditahan, tiba-tiba semua rasa rindu, penyesalan kecil, dan kehangatan itu langsung “mengalir” deras, bikin hati kayak diguyur hujan. Nah, kerennya, penulis nggak cuma bikin kita baper. Dia kasih clue gimana cara healing-nya, kita harus ikhlas membiarkan semuanya “lalu berlalu”. Intinya, saya jadi sadar bahwa kenangan itu harusnya jadi cerita yang bikin kita senyum, bukan beban yang harus dipikul terus. Begitu tutup buku, rasanya plong, kayak baru selesai bersih-bersih pikiran dan siap jalan lagi.
Setiap orang punya “Menyapa Waktu Lalu”-nya sendiri. Kumpulan puisi ini mengingatkan kita bahwa proses berdamai dengan masa lalu itu adalah perjalanan, bukan tujuan yang instan. Kita sering memulai perjalanan itu dengan fase “bungkamlah berlalu”. Ini adalah titik hening di mana kita mengakui bahwa ada kenangan ada orang, tempat, atau momen yang sudah selesai, sudah statis, dan kita tak punya kuasa untuk membawanya kembali ke masa kini. Di sinilah sering muncul rasa sunyi, rasa rindu yang terisolasi. Kita mencoba menyimpan masa lalu itu dalam sebuah kotak yang terkunci, berharap keheningan bisa meredam sakitnya.
Namun, hidup itu cairan, ia tak bisa diam. Rasa yang telah kita bungkam tadi pasti akan mengalir kembali. Renungan ini adalah tentang mengakui aliran emosi itu, gejolak rindu yang tiba-tiba, rasa haru saat mengingat kebaikan, atau sedikit penyesalan yang melintas. Fase mengalir ini mengajarkan kita bahwa memori bukanlah museum mati ia adalah sungai yang terus bergerak di dalam diri, membentuk aliran darah dan cara kita berpikir.
Dan akhirnya, keindahan sejati terletak pada kesimpulan yang disajikan oleh penulis, kita harus mengizinkan semuanya lalu berlalu. Ini bukan tentang lupa, melainkan tentang penerimaan penuh. Membiarkan berlalu berarti kita telah memetik pelajaran dari masa lalu, mengintegrasikannya ke dalam diri, lalu melepaskan kepemilikan emosional atasnya. Kita membiarkan kenangan menjadi jangkar yang indah, bukan rantai yang menahan langkah. Renungan akhirnya adalah: kita harus menjadi pencerita yang baik bagi masa lalu kita sendiri, agar ia menjadi sumber kekuatan untuk terus mengalir maju.
Setelah kita telusuri tuntas “Menyapa Waktu Lalu,” jelas sekali kalau antologi Syifa Fauziah Sucia ini lebih dari sekadar puisi. Ini adalah panduan keren tentang gimana cara kita menghadapi nostalgia. Kita sudah lihat bagaimana penulis mulai dengan fase bungkamlah berlalu, mengajak kita menghormati keheningan masa lalu yang memang nggak bisa kembali. Lalu, ia menunjukkan betapa kuatnya emosi yang mengalir deras, membuktikan bahwa ingatan itu hidup dan terus membentuk kita. Paling penting, buku ini mengantar kita pada kesimpulan yang menenangkan kita harus mengizinkan kenangan lalu berlalu, melepaskannya tanpa harus melupakan hikmahnya.
Pesan paling penting adalah Nostalgia itu bukan tali yang mengikat langkah, tapi justru fondasi yang kokoh untuk keberanian kita melangkah. Penulis mengajarkan kita, setelah kita berani menghadapi yang diam dan merasakan yang bergejolak, kita akan sadar kalau kenangan itu adalah sumber kekuatan yang menerangi. Kekuatan itulah yang bikin kita terus mengalir maju ke depan dengan hati yang utuh, tanpa perlu lagi membawa beban masa lalu.
***
اكسڤلراسي نوستلڬيا دالم انتولوڬي ڤويسي “مڽاڤ وكتو لالو”
نوستلڬيا إتو سڤرتي سيهير اموسيونل يڠ تيدق بيس كيت هينداري. چوكوڤ ساتو اروم اتاو لاڬو لام، دان كيت لڠسوڠ ترباوا ك ماس لالو. ڤستي كيت سريڠ مڠلاميڽ؟ هيدوڤ د انتارا كناڠن دان كڽتائن.، سمبيل هاڽوت د سوڠاي مموري يڠ سلالو منيڠڬلكن ججق. نه، انتولوڬي ڤويسي “مڽاڤ وكتو لالو” كريا شيف فاوزياه سوچيا إني سڤرتي ڤينتو ماسوق ك دونيا مموري كيت سنديري. ليوت بهاس يڠ سيمڤل دان ڤنوه ڤرسائن، ڤنوليس مڠاجق كيت مڠوبرول دڠن ماس لالو يڠ سوده ترليوت، تتاڤي سواراڽ ماسيه برڬم د هيدوڤ كيت. بوكو إني سڤرتي ركامن هاتي يڠ تيدق ماو ديلوڤاكن، اوساه اونتوق مڽلاكن لاڬي مومن-مومن يڠ بيكين كيت هادي ديري
























