Riausastra.com – Karya sastra sering menjasi penghubung yang mengaitkan fakta-fakta geografis di lapangan dengan analisis reflektif yang mendalam. Menurut Arifin (2019) sebuah karya sastra adalah karya kreatif yang lahir dari imajinatif pengarangnya, sebuah karya sastra terlahir dari sentuhan pemikiran dan ide-ide seorang sastrawan sebagai penciptanya. Buku “Senja Jingga di Bentala Timah” Karya Heri Suheri merupakan buku yang membahas tentang jejak sastra di tanah Melayu dengan menyajikan puisi dan cerpen. Karya ini bukan sekadar tulisan tetapi menghubungkan antar pembaca dengan kondisi lingkungan, kehidupan, kerinduan, kepiluan, dan keindahan di tanah Melayu. Buku ini unik karena menyajikan dua genre yang berbeda, puisi dengan kedalaman liriknya dan cerpen dengan kekuatan alur ceritanya yang berinteraksi dan saling menguatkan dalam membangun pemahaman tentang “Tanah Melayu”. Dengan karakteristik unik kedua genre tersebut bisa digunakan untuk menangkap nuasa “senja jingga” simbol dari sebuah masa transisi, kerinduan, atau kepiluan di tengah kekayaan mineral (timah).
Puisi merupakan pilar pertama yang ada di dalam buku “Senja Jingga di Bentala Timah” karya Heri Suheri. Menurut Launjara (2024) Puisi adalah sebuah bentuk seni sastra yang menggunakan bahasa dan kata-kata secara kreatif untuk menyampaikan perasaan, gagasan, atau pengalaman melalui ritme, suara, makna, dan citra. Puisi di dalamnya sangat menarik dan menghubungkan naratif dengan keindahan alam. Dalam konteks karya ini, puisi mengambil peran sebagai suara bebas yang menembus batas-batas naratif cerpen, menawarkan kedalaman emosi, proses berpikir secara mendalam dan deskripsi puitis yang sangat kuat tentang “Tanah Melayu”.
Puisi-puisi karya Heri Suheri tidak hanya melengkapi, tetapi juga memperkaya pengalaman pembaca, menjadikannya sebuah meditasi puitis atas realitas. Puisi tersebut mampu merealisasikan lewat kekayaan alam yang bisa menambah pengetahuan dan menarik minat pembaca. Berbeda dengan cerpen yang mengurai alur, puisi menyajikan inti dari perasaan kesedihan, kerinduan, atau kekaguman melalui diksi dan metafora yang padat. Puisi mengajak pembaca untuk merenungkan makna dibalik kejadian-kejadian. Puisi bisa digunakan untuk melukiskan latar tempat dan suasana hati dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh prosa biasa. Misalnya puisi-puisi yang spesifik membahas “Senja Jingga” akan memberikan deskripsi yang kaya dan kemampuan untuk merasakan fenomena alam di sekitar kita.
Puisi-Puisi karya Heri Suheri mengangkat tema sentral seperti alam, sejarah, dan kemanusiaan melayu, yang menjadi ciri khas sastra melayu. Di dalam puisinya sering menggunakan alam sebagai gambaran ulang keadaan manusia dan sejarah. Senja jingga melambangkan keindahan yang fana, harapan yang memudar, atau akhir dari suatu babak. Sementara bentala timah merujuk pada kekayaan alam, sejarah pertambangan, perjuangan ekonomi, atau luka yang ditinggalkan oleh eksploitasi. Puisi juga berfungsi sebagai penjaga “Jejak Sastra di Tanah Melayu” merayakan kekayaan bahasa, tradisi lisan, dan kearifan lokal. Dapat terlihat melalui pemilihan diksi yang kuat dengan nuasa lokal dan penggunaan perumpamaan yang mengakar pada budaya Melayu. Gaya penulisan puisi karya Heri Suheri memiliki ciri khas seperti diksi yang padat, puitis, metafora, dan simbolisme lokal (laut, hujan, tanah, atau senja).
Cerpen merupakan pilar kedua yang ada di dalam buku “Senja Jingga di Bentala Timah karya Heri Suheri. Menurut Nuroh & Sidoarjo (2011) Cerpen merupakan ungkapan perasaan si pengarang tentang tanggapan terhadap kehidupan dan dengan daya imigrasinya ditulis dengan bahasa yang indah, imajinasi yang mendakam serta tema yang kuat sehingga dapat memberikan kesan yang mendalam bagi pembaca. Penulis menyajian cerpen dengan kekuatan alur cerita yang kuat dan karakter yang mudah dihubungkan. Cerpen menjadi media penulis untuk menggali lebih dalam dinamika sosial, budaya, interaksi di Kepulauan Melayu.
Cerpen mengangkat tema-tema yang akrab dalam kehidupan sehari-hari seperti keluarga, pertemanan, dan pilihan hidup yang sulit. Dengan cerpen ini pembaca merasa tidak asing dan mampu menghubungkan pengalaman dalam cerita dan realitas di sekitar mereka. Dengan karakter dan latar, cerpen di dalam buku tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya pemahaman pembaca tentang sejarah, budaya, dan cara berpikir masyarakat Melayu. Cerpen memiliki kemampuan menangkap kejadian kecil dalam hidup yang justru memiliki dampak emosional yang besar, pembaca akan lebih paham tentang kondisi manusia dan dilema moral.
Di dalam cerpen ditampilkan tokoh-tokoh yang nyata melalui prosanya seperti para penambang, masyarakat lokal, konflik sehari-hari yang berkaitan dengan masalah ekonomi dan politik Bangka Belitung. Melalui pendekatan realisme atau objektif dalam ceritanya, menunjukkan bahwa “timah” adalah takdir yang menentukan nasib orang-orang di atasnya, bukan sekadar komoditas tambang. Hal yang menarik di buku ini adalah penulis buku memasukkan lingkungan ke dalam ceritanya, dengan bahasa yang lugas dan teratur.
Keunikan dan kekuatan “Buku Senja Jingga di Bentala Timah” karya Heri Suheri terletak pda kedua pilar ini. Puisi dan cerpen bekerja saling melengkapi dan saling mendukung. Keduanya tidak berdiri semdiri, melainkan saling mengisi. Puisi sebagai point penting, cerpen sebagai dasar cerita, puisi datang sebagai jeda emosional yang singkat tapi kuat, memperdalam dampak psikologis dari peristiwa-peristiwa. Cerpen membangun dan memberi latar belakang yang detail tentang kehidupan sehari-hari. Penulis menggunakan cerpen untuk menyuarakan kritik sosial yang terperinci, sementara puisi memberinya kebebasan untuk mengekspresikan kesedihan, kemarahan, atau bahkan sedikit harapan yang tesembunyi dengan cara yang lebih mengagumkan dan pesannya bisa dirasakan semua orang di dunia. Kombinasi ini menghasilkan karya yang seimbang antara objektivitas narasi dan subjektivitas lirik.
Jadi buku “Senja Jingga di Bentala Timah” karya Heri Suheri sangatlah unik karena menyajikan dua genre yaitu antara puisi dan cerpen, Puisi berfungsi sebagai suara bebas yang menyaring emosi dan proses pemikiran mendalam tentang Tanah Melayu, sementara cerpen bertindak sebagai dasar naratif yang kuat, menggali dinamika sosial dan kehidupan sehari-hari. Kombinasi yang seimbang serta memberikan pemahaman utuh tentang Tanah Melayu.
Daftar Pustaka
Arifin, M. Z. (2019). Nilai Moral Karya Sastra Sebagai Alternatif Pendidikan Karakter (Novel Amuk Wisanggeni Karya Suwito Sarjono).
Launjara, L. (2024). Pengaruh Deklamasi Puisi Dalam Pemahaman Makna Puisi. 14(1).
Nuroh, E. Z., & Sidoarjo, U. M. (2011). Analisis Stilistika Dalam Cerpen. 1(1), 21–34.
***
مڠوراي دوا ڤيلر سسترا، ڤويسي دان چرڤن دالم “سنج جيڠڬ د بنتالا تيمه” كريا هري سوهري
كريا سسترا سريڠ منجادي ڤڠهوبوڠ يڠ مڠايتكن فكت-فكت ڬيوڬرافيس د لڤاڠن دڠن اناليسيس رفلكتيف يڠ مندالم. منوروت اريفين (٢٠١٩) سبواه كريا سسترا اداله كريا كرياتيف يڠ لاهير داري إماجيناتيف ڤڠارڠڽ، سبواه كريا سسترا ترلاهير داري سنتوهن ڤميكيرن دان إد-إد سئورڠ سستراون سباڬاي ڤنچيڤتاڽ. بوكو “سنج جيڠڬ د بنتالا تيمه” كريا هري سوهإري مروڤاكن بوكو يڠ ممباهس تنتڠ ججق سسترا د تانه ملايو دڠن مڽاجيكن ڤويسي دان چرڤن. كريا إني بوكن سكدر توليسن تتاڤي مڠهوبوڠكن انتر ڤمباچ دڠن كونديسي ليڠكوڠن، كهيدوڤن، كريندوان، كڤيلوان، دان كئينداهن د تانه ملايو. بوكو إني اونيك كارن مڽاجيكن دوا ڬنر يڠ بربدا، ڤويسي دڠن كدلامن ليريكڽ دان چرڤن دڠن ككواتن الور چريتاڽ يڠ برينتركسي دان ساليڠ مڠواتكن دالم ممباڠون ڤمهامن تنتڠ تانه ملايو. دڠن كاركتريستيك اونيك كدوا ڬنر ترسبوت بيس ديڬوناكن اونتوق منڠكڤ نوانس “سنج جيڠڬ” سيمبول داري سبواه ماس ترنسيسي، كريندوان، اتاو كڤيلوان د تڠه ككيائن منيرل (تيمه)
























