Riausastra.com – Di Sumatra Utara cerita-cerita mitos banyak yang disajikan menjadi cerita sejarah, keberadaan budaya Hindu dan Budha turut serta dalam mempengaruhi proses terbentuknya mitos dalam masyarakat Indonesia. Dalam penulisan sejarah tadi masih ada terdapat cerita yang bercirikan mitologi/cerita mitos. Dari hal ini peneliti berpendapat bahwa mitos dan bentuk-bentuk lainnya sangat sukar dihilangkan dari historiografi Indonesia, dan akan tetap berpengaruh di dalamnya.
Salah satu cerita yang memiliki banyak versi ataupun mitos di Sumatera Utara adalah cerita tentang Putri Hijau. Secara umum kisah tentang Putri Hijau yang dikenal oleh masyarakat adalah cerita Putri Hijau versi Melayu Deli.
Dalam legenda turun temurun diceritakan jika Putri Hijau adalah seorang putri raja dari Kerajaan Delitua yang terkenal akan kecantikannya. Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke segala penjuru, suatu ketika mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim. Pantun bersahut-sahutan. Tapi pinangan ini ditolak dan membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.
Putri Hijau adalah kisah kepahlawanan (folkhero) yang dikenal luas di masyarakat Sumatra Utara, khususnya dalam budaya Aceh, Melayu, Karo, dan Simalungun. Kisah ini tergolong sebagai folktale, yaitu cerita rakyat yang awalnya berkembang melalui tradisi lisan (oral tradition), dimiliki secara kolektif oleh masyarakat (communal), berasal dari satu daerah (local), dan diwariskan secara informal dari generasi ke generasi. Karena bersifat lisan dan tidak tertulis secara baku, cerita ini mengalami berbagai perubahan seiring waktu, baik berupa penambahan maupun pengurangan unsur cerita. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika terdapat beberapa versi berbeda dari kisah Putri Hijau di kemudian hari.
Beberapa Versi Legenda Putri Hijau
Kisah Putri Hijau tercatat dalam berbagai versi tulisan, yang menunjukkan kekayaan narasi lisan masyarakat Deli dan sekitarnya. Dalam Syair Putri Hijau karya A. Rahman (1962), dikisahkan bahwa Putri Hijau adalah putri Sultan Sulaiman dari Kerajaan Deli Tua, yang tubuhnya memancarkan cahaya hijau saat malam. Cahaya itu menarik perhatian Raja Aceh yang kemudian meminangnya, namun ditolak. Penolakan tersebut memicu serangan ke Deli Tua, yang berakhir dengan penculikan Putri Hijau. Namun dalam perjalanan ke Aceh, ia berhasil diselamatkan oleh saudara laki-lakinya yang menjelma menjadi naga. Versi ini diperkuat oleh Haris M. Nasution dalam Puteri Hijau (1984), yang menekankan motif serangan Aceh sebagai gabungan antara ekspansi kekuasaan dan daya tarik terhadap kecantikan Putri Hijau. Sementara itu, versi lain dari Burhan A.S. dalam Kisah Putri Hijau (1990) menambahkan dimensi baru dengan menyebut asal-usul Putri Hijau sebagai cucu Datuk Sunggal, serta menggambarkannya sebagai perempuan berwatak keras yang berani menolak Raja Aceh secara terang-terangan.
Menurut Tengku Luckman Sinar dalam Sari Sejarah Serdang Jilid I (1986), munculnya hikayat ini berkaitan erat dengan peristiwa sejarah penyerangan Kerajaan Aceh terhadap Kerajaan Aru di Deli Tua pada tahun 1612. Pertempuran besar yang berlangsung selama enam minggu itu menjadi latar munculnya kisah yang dibumbui unsur kepahlawanan dan mistik seperti “Meriam Puntung” dan naga penjaga. Hikayat ini dipandang sebagai bentuk sublimasi atas kekalahan tragis yang kemudian diabadikan dalam mitos. Dengan demikian, Putri Hijau tidak hanya merupakan cerita rakyat, tetapi juga medium memori kolektif yang merekam sejarah, memperkuat identitas lokal, dan diwariskan secara turun-temurun sebagai warisan budaya Deli dan Serdang.
Mangaradja Onggang Parlindungan dalam Tuanku Rao (1964) menyatakan bahwa Putri Hijau adalah saudara perempuan Sultan Aceh pertama, Mukhayat Syah, dan merupakan istri dari Panglima Manang Ginting Suka, yang setelah memeluk Islam bergelar Sultan Makmun Al Rasyd I. Pendapat ini senada dengan C. Snouck Hurgronje (1985) yang menyebut bahwa Putri Hijau adalah ibu dari Iskandar Muda melalui perkawinan semarga (bloedschande), sehingga menegaskan bahwa tokoh ini berasal dari lingkar dalam Kesultanan Aceh. Di sisi lain, versi Karo seperti yang dikemukakan Brahmoputro dalam Sejarah Karo dari Zaman ke Zaman (1981), menyatakan bahwa Putri Hijau adalah perempuan bermarga Sembiring Meliala yang menikah dengan Maharaja Aru Sicapah, menempatkan kisah ini dalam akar budaya Karo.
Berbeda pula dengan sumber Melayu seperti Husny (1975), yang menyebut Putri Hijau sebagai adik Raja Aru, Dewa Syahdan, dan menjadi tawanan pasukan Aceh sebelum hilang secara misterius dalam perjalanan laut akibat serangan seekor naga. Sementara itu, dalam tradisi Simalungun, manuskrip Partikkian Bandar Hanopan menyebut bahwa Putri Hijau berasal dari daerah Kerajaan Nagur dan berperan penting dalam terbentuknya Kerajaan Silo, sebagaimana dicatat oleh T.B.A. Tambak (1984) dan Tideman (1922). Dalam versi ini, Putri Hijau bersedia menikah dengan Sultan Aceh dengan syarat adiknya, Jigou, dijadikan raja di Silo. Keragaman narasi ini menunjukkan bahwa tokoh Putri Hijau hidup dalam imajinasi sejarah berbagai etnis di Sumatra Timur dan Aceh, yang masing-masing mengklaimnya sebagai bagian dari identitas kultural dan politik leluhur mereka.
M. Joustra, seorang misionaris Belanda yang bertugas di dataran tinggi Karo antara tahun 1895–1905. Versi ini dimuat dalam jurnal Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) tahun 1903 berjudul Iets over Bataksche Litteratuur . Joustra mencatat versi cerita yang sangat berbeda dari yang populer di kalangan Melayu atau Aceh. Dalam versi ini, Putri Hijau lahir dari seorang ibu yang mengandung selama dua belas tahun dan melahirkan tiga anak: Putri Hijau, seekor ular raksasa, dan sebuah meriam hidup. Mereka tinggal di bawah pohon Jabi-Jabi Sepuluh di daerah Seberaya. Keistimewaan Putri Hijau terletak pada kecantikannya yang luar biasa, namun untuk menikahinya, seorang pria harus bersedia memberi makan salah satu saudara laki-lakinya seekor ular buas yang memakan tujuh gunung beras dan tujuh kerbau setiap hari.
Tak ada satu pun bangsawan dari Seberaya maupun dari Sukapiring yang sanggup memenuhi syarat itu. Karena kecewa, Putri Hijau meninggalkan daerah itu dan mengembara ke berbagai tempat seperti Si Ciger, Buah Langlang, Tanjung Selamat, hingga ke Buluh Awar, sebelum akhirnya menetap di Delitua. Kisah berlanjut ketika Raja Aceh mendengar tentang kecantikan Putri Hijau dan berniat mempersuntingnya. Namun penolakannya memicu perang besar. Dalam pertempuran itu, sang meriam salah seorang saudara Putri Hijau berjuang melawan pasukan Aceh hingga akhirnya meledak karena tidak disiram air. Sisa-sisa meriam tersebut kemudian dipercaya terlempar ke dua tempat: bagian pangkal di Labuhan Deli dan ujungnya ke Sukanalu di dataran tinggi Karo, yang hingga kini dikenal sebagai Meriam Puntung.
Setelah tertangkap, Putri Hijau dibawa ke Aceh. Untuk menguji kesetiaan Raja Aceh, ia mengajukan syarat agar diperkenankan memanggil saudara laki-lakinya. Saat sang naga muncul, Raja Aceh lari ketakutan dan Putri Hijau pun lenyap ke tengah lautan di atas kepala naga. Cerita berlanjut dengan kisah seorang budak dari rombongan Sultan Deli yang menjatuhkan kotak perkakas (perpatil) ke laut dan harus menyelam mengambilnya. Di dasar laut, ia bertemu Putri Hijau yang sedang menenun dan menjelaskan asal-usul keberadaannya di sana. Putri Hijau menolak balas dendam dan justru menjamu Sultan dan para bangsawan yang ikut menyelam, namun memberikan mereka daging sebagai jamuan, berbeda dengan sang budak yang hanya meminta garam dan merica.
Ironi muncul ketika para bangsawan yang menikmati daging justru menjadi santapan buaya setelah kembali ke permukaan laut, sedangkan sang budak selamat dan naik ke kapal dengan memakai pakaian Sultan. Middendorp (2004) menggarisbawahi bahwa versi ini mengandung kritik sosial dan simbolisme tajam: tentang keserakahan, penolakan terhadap perempuan, dan pembalasan yang bersifat spiritual. Cerita ini, sebagaimana dicatat Joustra (1903), dipercaya hanya beredar diam-diam di kalangan masyarakat Karo karena dianggap tabu dan merendahkan martabat elite penguasa, terutama Sultan Deli
Metafora Legenda Putri Hijau dengan Kedatangan Portugis Di Sumatera Timur
Dalam kajiannya, Middendorp mencoba membongkar lapisan simbolik yang tersembunyi dalam legenda Putri Hijau dengan merujuk versi yang dicatat M. Joustra, misionaris Belanda yang bertugas di dataran tinggi Karo antara tahun 1895–1905. Versi ini dimuat dalam jurnal Nederlandsch Zendelinggenootschap (NZG) tahun 1903 berjudul Iets over Bataksche Litteratuur diatas. Dari legenda Putri Hijau di atas Middendorp menganalisis melalui tokoh-tokoh yang terdapat di dalamnya. Meriam dalam cerita ini melambangkan senjata milik Portugis. Kemunculan senjata api besar ini memberikan kesan yang luar biasa (bahkan magis) bagi penduduk pantai timur Sumatra ketika melihatnya pertama kali. Putri Hijau dalam perumpamaan ini menggambarkan orang Portugis yang datang secara tiba-tiba ke wilayah Nusantara.
Pada awalnya dia mengumpamakan bahwa warna hijau dalam nama Putri Hijau merujuk pada seragam militer Portugis. Sedangkan Ular yang mendesis adalah perlambang untuk tentara Portugis, yang bergerak seperti ular melalui jalan-jalan sempit tradisional Batak di antara alang-alang, berkelok-kelok sambil menembakkan senjata ke musuh (atau mungkin hanya untuk menunjukkan kekuatan). Ledakan senjata api mereka (bandingkan dengan asap mesiu dari senjata meriam kuno) menyebabkan pasukan ini diumpamakan sebagai ular yang mendesis. Ini adalah satu-satunya penjelasan yang masuk akal untuk nama anehnya yaitu Ular Simangombus, karena tidak ada ular yang benar-benar bisa mendesis seperti itu. Ini adalah contoh khas bagaimana sebuah cerita hewan yang aneh bisa muncul melalui perumpamaan.
Penghulu kaya dari kampung Rumah Julu di Siberaya adalah orang yang bertanggung jawab merawat kedua saudara Putri Hijau yaitu “Meriam ” dan “Ular simargombus “. Mereka tinggal di hutan suci pohon djabi-djabi di Lau Perik yang diperkirakan sebagai tempat di mana pasukan Portugis mendirikan kamp di luar desa demi keamanan.
Penghulu kaya ini kehilangan seluruh babi, sapi, dan kerbau sebagai makanan untuk ular (yang dalam interpretasi ini melambangkan pasukan Portugis) tersebut . Pada akhirnya, ia bertengkar dengan Putri Hijau karena tidak merawat ular dengan baik (dengan kata lain Penghulu ini gagal menyediakan logistik yang cukup untuk pasukan Portugis). Akibatnya penghulu ini memutuskan tidak bekerjasama lagi dengan Portugis itu .
Begitu juga dengan para Penghulu wilayah yang dilewati oleh Portugis lainya seperti Si Ciger ( hutan daerah Bukit) , Buah Langlang, Tanjung Selamat , Bayak Cineluh dan Tualang Sipitu semuanya menolak bekerjasama dengan Portugis. Hingga pada akhirnya mereka menuju Delitua dan berheni di sana. Kemungkinan besar, Portugis tinggal di Deli Tua dan sekitarnya selama bertahun-tahun, melakukan ekspedisi ke daerah dataran tinggi. Namun mungkin bahwa ekspedisi jauh ini hanya merupakan tambahan yang dibuat oleh para pencerita belakangan dan menyesuaikan cerita tersebut dengan tempat-tempat yang ada di sekitar mereka.
Kabar Putri Hijau tinggal di Deli Tua sampai juga kepada sultan Aceh. Cerita tentang kecantikannya membuat Sultan Aceh ingin meminangnya sebagai istrinya. Hal ini menggambarkan jika sampainya Pasukan Portugis di Deli Tua sampai kepada Sulta Aceh dan ingin mengajaknya bersekutu (bekerjasama). Mengingat pada masa itu sebagai kesultanan besar Aceh butuh sekutu yang kuat. Sultan Aceh berangkat ke Deli Tua dengan banyak pengikut dan membawa tujuh lengan jubah penuh emas sebagai mas kawin (dalam cerita Karo, sering disebutkan bahwa emas dibawa dalam lengan jubah)dengan tujuan menikahi Putri Biru (membentuk aliansi dengan Portugis).
Namun, Putri Biru menolak lamaran tersebut dengan alasan bahwa Sultan Aceh adalah penguasa yang luar biasa. Jika aku menikah dengannya, dia tidak akan peduli pada ular dan meriam saudaranya itu . Hal ini sebagai pertanda jika Portugis merasa tidak menguntungkan berkerjasama dengan Aceh karena sebagai Kesultanan yang besar sudah pasti akan menolak membayar pajak besar kepada Portugis.
Sultan Aceh yang terlalu cinta pada Putri Hijau sangat kecewa dengan penolakan tersebut dan kembali ke Aceh dengan hati hancur.Sesampainya di Aceh ia tidak mau makan. Mungkin ini menggambarkan bahwa Portugis yang menguasai Deli Toea mengambil alih perdagangan lada dan komoditas lainnya, sehingga merugikan ekonomi Sultan Aceh. Karena itu Sultan Aceh pun memutuskan untuk menyerang Deli Tua.Di Deli Toea para penduduk segera membangun benteng, yang selesai dalam empat hari.
Dalam perempuran ini Aceh membawa meriam yang dibuat oleh pengrajin meriam dari Sultan Turki dan menembakkan peluru emas . Sebuah unsur magis karena peluru emas diyakini memiliki kekuatan luar biasa dan membawa kejayaan. Pertempuran itu pun berlangsung selama satu bulan. Meriam milik Putri Hijau menjadi panas dan meminta izin untuk mandi adalah personifikasi meriam yang harus didinginkan setelah digunakan terlalu lama tetapi karena meriam tersebut terlalu panas hingga akhinya meledak dan terbelah jadi dua.
Salah satu bagiannya terbang ke istana Sultan Deli dan hingga kini masih disimpan di halaman depan istana dalam sebuah bangunan kecil bergaya arsitektur Karo. Bagian lainnya terbang Sukanalu sekitar Barus Jahe dearah dataran tinggi Karo dan awalnya digunakan sebagai sandaran kaki oleh para penenun . Benda ini kemudian berpindah-pindah hingga akhirnya ditempatkan di sebuah batu persembahan di kawasan Rumah Ukir di Sukanalu.
Cerita ini berlanjut dengan kisah bahwa Ular Simangombus, Putri Hijaudan meriam-meriam yang tidak hancur pergi ke laut dan tidak jatuh ke tangan Aceh menunjukkan bahwa Portugis melarikan diri ke laut.
Setelah lama berlalu, suatu hari sebuah kapal layar Melayu berlayar di atas tempat Putri Hijau tenggelam (legenda menggambarkan Putri Hijau tinggal dan bertenun di dasar laut). Sebuah patil emas jatuh ke laut dari kapal tersebut. Kapten kapal, yang marah, memerintahkan orang yang menjatuhkannya untuk mengambilnya kembali. Orang itu menjawab, “Aku tidak bisa mengambil kembali benda emas itu meskipun hukumannya adalah hukuman mati.”
Para pegawai kapal memutuskan untuk membunuhnya. Karena takut akan dibunuh, dia pun melompat ke laut dan menemukan Putri Hijau di dasar laut yang sedang menenun yang dapat diartikan sebagai orang Portugis yang bekerja di pantai seberang atau wilayah Malaka. Dia menemukan kembali benda emas tersebut dan Putri Hijau memberinya makanan tetapi ia hanya memakan telur, lada, dan garam yang ditumbuk , ketiga bahan ini dipercaya memiliki makna magis yang diyakini memberi kekuatan.
Benda emas yang ditemukan itu tampaknya adalah uang yang ia peroleh dari berdagang dengan Portugis, yang digunakannya untuk membayar denda atau utang yang membuatnya hampir terbunuh. Bisa jadi, orang yang menyelam ini melambangkan seorang raja kecil atau pemimpin suku di Deli. Ketika dia mengembalikan benda emas itu kepada kapten, para kru kapal terkejut dan ingin mencari Putri Hijau juga. “Itu bisa terjadi,” katanya, “jika kalian menyelam di tempat aku menyelam, aku akan menunjukkan jalannya.” Mereka pun menyelam dan menemukan Putri Biru sedang menenun serta diberi makanan.
Dari sini dapat diartikan bahwa mereka melihat orang Portugis bekerja, yaitu mereka mengikuti jejak orang sebelumnya dan berdagang dengan Portugis di pantai seberang Malaka. Makanan yang mereka makan melambangkan perdagangan, sementara si penyelam hanya makan telur, yang dalam pemikiran magis memberikan kekuatan luar biasa.
Mungkin ini adalah metafora dari hubungan perdagangan yang membantu Sultan Deli bertahan memerintah kesultanannya . Dia adalah orang satu-satunya yang kembali ke kapal yang berisi emas dan barang-barang lainnya, dan kini hanya menjadi miliknya. Dengan demikian ia menjadi kaya dan menjadi leluhur para sultan Deli.
Dari cerita ini, dapat disimpulkan bahwa leluhur Sultan Deli menjadi kaya melalui perdagangan dengan Portugis setelah mereka diusir dari Deli Toewa oleh Sultan Aceh Iskandar Muda pada tahun 1619. Leluhur ini kemungkinan seorang mantan terpidana atau musuh yang kalah. Joustra, yang mencatat cerita ini dari penduduk setempat, bahkan menyebutnya sebagai “seorang budak.” Sumber lain juga menyebutkan jika leluhur Sultan Deli adalah orang Karo , hal ini menunjukkan bahwa Orang -Orang Karo pernah berdagang dengan Portugis di Malaka.
Legenda Putri Hijau bukan sekadar cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga dapat dibaca sebagai perumpamaan yang merekam ingatan kolektif masyarakat terhadap peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah. Di balik kisah tentang putri jelita, raja yang murka, serta peperangan dahsyat, tersimpan simbol-simbol yang merefleksikan realitas sejarah mulai dari dinamika kekuasaan, invasi militer, hingga pergeseran budaya akibat kedatangan bangsa asing seperti Portugis.
Dengan demikian, legenda seperti Putri Hijau memiliki peran ganda:, selain menghibur, legenda ini juga menyampaikan jika sebuah kearifan lokal dapat menggambarkan cara pandang masyarakat terhadap sejarahnya sendiri. Kesadaran ini penting agar kita tidak memandang legenda secara literal semata melainkan sebagai karya budaya yang memuat tafsir simbolik dan pemaknaan atas realitas sosial-politik yang pernah ada. Dalam konteks ini, legenda adalahsebuah jendela masa lalu bukan dalam bentuk fakta keras sejarah melainkan dalam bentuk perumpamaan yang sarat akan berbagai makna.


***
مڠوليك لڬندا ڤوتري هيجاو؛ سبواه متفورا كدتاڠن ڤورتوڬيس د سوماترا تيمور
د سومترا اوتارا چريت-چريت ميتوس باڽق يڠ ديساجيكن منجادي چريت سجاره، كبردائن بوداي هيندو دان بودا توروت سرت دالم ممڤڠاروهي ڤروسس تربنتوكڽ ميتوس دالم مشراكت إندونسيا. دالم ڤنوليسن سجاره تادي ماسيه ادا ترداڤت چريت يڠ برچيريكن ميتولوڬي/چريت ميتوس. داري هل إني ڤنليتي برڤنداڤت بهوا ميتوس دان بنتوق-بنتوق لاينڽ ساڠت سوكر ديهيلڠكن داري هيستوريوڬرافي إندونسيا، دان اكن تتڤ برڤڠاروه د دالمڽ
ساله ساتو چريت يڠ مميليكي باڽق ۋرسي اتاوڤون ميتوس د سوماترا اوتاراداله چريت تنتڠ ڤوتري هيجاو. سچارا اوموم كيسه تنتڠ ڤوتري هيجاو يڠ ديكنل اوله مشراكت اداله چريت ڤوتري هيجاو ۋرسي ملايو دلي





















