sumber foto asli: pixabay

“sungailah jantan airnya dalam
disitulah lubuk si ikan kasau
hati menahan rindu dan dendam
hendak mengadu dimana engkau”

Riausastra.com – Cik Puan Nora mengingat-ingat kisah dan senandung Abahnya itu setiap malam terang, setiap purnama mengambang di pesisir timur Pulau Sumatera. Ia gemar duduk di beranda rumah. Rumah panggung bercorak Lipat Kajang bentuk curam. Dinding-dinding kayu rumah itu dihiasi ornamen-ornamen Melayu seperti Selo Bayuang. Sangat asri ditambah lagi letaknya yang langsung mengarah ke sungai jantan.

Abah Zul kerap mengasuh putri semata wayangnya dengan dendang zapin, terkadang sembari bertutur mesra kepada istri tercinta, Mak Midah; bertutur kisah tentang lubuk-lubuk ikan kasau dekat tepian sungai, tentang udang galah memadati bubu yang terpasang selagi
suak di sekitaran tempat tinggal dirasa cukup lengkap, semasa air sungai jernih bak tepian mandi.

Di sepanjang sungai jantan, menjala ikan kasau dan udang galah memang dirasa gampang. Rela berpenat-penat hari terik menjaring dan melempar kail, di pangkal malam istirahat pun di tepi sungai itu sangatlah nyaman. Apatah lagi tersebab hasil tangkapan sehari dapat dimakan untuk waktu sepekan.

“Melayu tak pemalaslah, Dik…” Abah Zul melirik wajah istrinya. “Tinggal labuhkan jaring serentang dua bersama belat. Saat bulan setengah kelam, penuh sesak lah tu ikan kasau di petak perahu jongkong. Udang galahpun beruntai-untai capit. Setengah malam bekerja untuk sepekan cukup makan kita bertiga”. Mak Midah hanya menghadiahi lesung pipit pada suaminya itu. Terkadang bercuri muka, bila Cik Puan Nora telah lelap dibuai dingin malam tepian sungai, sebab Mak Midah tau betul jika anaknya itu suka berpura-pura. Mata terpejam, telinga tetap terbuka.

Seketika Cik Puan Nora terbangun dari lamunannya, “akhh,” ia jadi tersipu sendiri sekarang. Sebab semua kisah perihal negeri Siak di masa lalu pernah didengarnya; tentang embun di pagi hari menyumsum sedingin es dan bukan pedih berkabut asap seperti sekarang.

Tepian mandi sungai jantan jernih dan menyegarkan tubuh, tidak keruh apatah lagi bergetah tuba limbah kematian seperti sekarang ini.

***

Khayalnya kini menjadi terngiang-ngiang, ruang matanya juga menggambar-gambar kisah masa dulu, belasan tahun yang lalu. Juga cerita kenangan Abah Zul, ayahnya yang telah tiada, yang dahulu menjadi korban seperti ayam disambar elang. Begitu cepatnya ajal
merenggut orang yang dikasihinya itu.

Rusuk jalan berdada tahi minyak menjalur sepanjang Kampung Minas, Perawang hingga ke Tanjung Buton pada era delapan puluh-sembilan puluhanan, licinnya bukan kepalang. Ketika itu, truk tumpangan Abahnya berlanggar dengan truk gandeng teronton penuh muatan kayu-kayu balak milik pabrik kertas er-a-pe-pe, tepat pada penurunan tikung- gelombang Koto Gasib paling berbahaya. Korban tercampak menembus kaca depan truk, terjerembab di samping pipa minyak milik pe-te. ‘Drraaakkkhh’.

Cik Puan Nora, saat itu baru duduk di kelas empat Sekolah Dasar Siak Sri Indrapura. Sore-sore sedang riang bermain statak, berebut bintang dan rumah dengan kawan sepermainan di samping halaman surau, menjelang Maghrib.

“Nor…Nor,” terengah dan cuma sepotong kata yang sanggup diucapkan Mak Midah, sebelum akhirnya jatuh telungkup di samping bintang-bintang statak milik Cik Puan Nora, putrinya. Saat itu, kaki Cik Puan Nora masih jinjit berjingkat, pun jadi terpaku. “Mak,” biji jagok statak yang diambil dari batu bundar pipih di punggung tangan Cik Puan Nora jadi terjatuh, “Mak,” anak itu merangkul ibunya bersamaan dengan dentum beduk Maghrib bertabuh, ‘duk, duk-duk-duk’.

Rasi bintang-bintang mulai bermunculan menampakkan kilaunya, begitu pula kilau pelupuk mata Cik Puan Nora. Kaum kerabat mulai berbondong memapah tubuh Mak Midah dan berbimbing tangan dengan Cik Puan Nora untuk dibawa pulang ke rumah lipat kajang- nya.

Sesampai di rumah, tangis-ratap semua adik beradik Abah Zul memecah sebab orang yang sama-sama mereka kasihi. Seorang penjaring ikan kasau dan udang galah air tawar bernasib mujur di tepian sungai jantan dahulu, kini telah mendahului rekan-rekan sekampung sesama pelabuh perahu jongkong di lubuk sungai pusaka.

***

Tak-trak-tak-tak…trek-tek’. Cik Puan Nora sedang asyik mahsyur memainkan alat tenun tradisional Siak, setelah melihat ragi dan tajuk kain songket lejo yang ditenunnya mengelopak bunga. Namun kenangannya pada masa lalu di tepian sungai jantan bersama Abah Zul, ayahnya. Sukar untuk dihapus. Dara Sri Indrapura terkenal berteguh alim beradat, sejak tangannya bertenun songket itu, entah apa sebab menjadi dara pelamun akhir-akhir ini. Remaja putri menginjak usia dua puluh yang juga penyendiri mungkin masih menderita remuk-redam kerinduan kepada abahnya.

Astaghfirullah”, Cik Puan Nora kembali menurun-naikkan kayu pakan, alat tenunnya. Berderak-derik, menghantar-menarik sutera China dan unting-unting benang emas sebagai peragi corak kain songket di tangannya. Sinar matahari di dekat tepian sungai jantan, menukik tajam ke bilik tenun anak dara pengrajin terdidik itu.

Kilatan cahaya berpantul benang emas peragi songket. Percik sinarnya menyilaukan mata. Karena itulah Cik Puan Nora mengalihkan pandangnya, tidak semata-mata melihat tajuk bunga kain songket tenunannya saja. Ia layangkan pandangan matanya ke arah matahari yang terangkat dari pucuk-pucuk rumbia, tumbuhan payau di sisi sungai. Dari sebelah timur perkampungan Siak lama yang dahulu pohon karet dan padi menjadi tanaman pusaka, kini kelihatan berwarna hijau muda, diantaranya hijau lumut. Perkebunan kelapa sawit.

“Negeri ini sudah berubah wajah”, gumam anak Almarhum Abah Zul itu. “Adakah orang Siak dahulu berkebun sawit?”. Jantungnya sekelebat berdebar-debar. Gumamnya kini tiba-tiba tertuju pada seorang lelaki. Syaipul. Pemuda putus kuliah, lalu memilih lubang pekerjaan menjadi penjaring, meski kehilangan air sungai lubuk jernih. Sudah dua tahunan ini, Cik Puan Nora kerap melarikan pikirnya ke pemuda itu.

“Aduh, kenapa pula harus Syaipul? Oh, iya, karena Syaipul tidak dapat menjaring ikan kasau dan udang galah seperti zaman abah dahulu. Sungai jantan sudah tidak ber-ikan kasau lagi, tidak pun ber-udang galah lagi, karena air sungai ni sudah bercurah limbah tuba”. Alihnya dalam hati sendiri.

***

Cik Puan Nora, bersendiri saja ia di rumah itu. Sejak pagi-pagi Mak Midah pergi menjemput istri Penghulu Kampung, karena akan ada tamu kaum ibu-ibu dari kota Pekanbaru. Mereka sudah memberitahukan akan santap siang di Siak Sri Indrapura.

“Maklumlah, Mak Midah,” kata istri Penghulu terngiang-ngiang di telinga Cik Puan Nora. “Kunjugan ibu-ibu dari kota itu tentulah kunjungan wisata. Maka kepada Mak Midah jugalah kami harapkan, agar kiranya dapat menyajikan rempah gulai asam pedas. Makan beradat-adatlah konon, lengkap bermasuh mulut dengan lempok durian dari Dedap. Memang di kampung itu, masakan Mak Midah-lah yang paling termahsyur, sebab mendiang suaminya kerap mendapati ikan dan selalu meminta dimasakkan asam pedas. “Gulai asam pedas ikan
kasau?” celetuk tanya Mak Midah sejurus. “Masih mengena ikan kasau juga jaring orang Siak?”. “Tidak begitu mudah mencari ikan kasau di sungai jantan sekarang, Mak Midah. Mak seperti telah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula. Apatah lagi musim sungai sudah
berkecimpak air limbah begini, manakan sungai jantan ber-ikan kasau lagi,” sanggah istri Penghulu.

“Lantas, ikan apa yang akan digulai asam pedas?

“Ikan tenggiri, setadi malam bersusah payah diantarkan Tauke Abah Long dari Selat Panjang,”

“Aduh,” Cik Puan Nora terperanjat dari lamunannya, lalu tercenung di muka jendela lantas menuruni anak tangga. “Rasakan rebas jantung hatiku,” katanya dalam hati. Tatkala itulah darahnya tersirap melihat Syaipul datang seorang diri ke rumahnya.

Assalamu’alaikum, ada Mak Cik Midah di rumah?” Syaipul langsung mengena tanya, setelah melihat Cik Puan Nora duduk di muka pintu arah ke tangga turun-naik, keluar- masuk rumah, “Ehm… ada Mak Cik Midah?” ia mengulang pertanyaannya.

Alaikumsalam”, Cik Puan Nora cuma tersenyum tipis-tipis. Rambut terurai lepas sisir di jidatnya terumbai-rumbai angin tepian sungai jantan. Semerbak bunga tanjung dan ramin yang bergantung di sanggul kondenya, merayap-rayap pula bersama gemerisik angin
saat itu. “Ehm… Mak sedang ke rumah Penghulu Kampung. Maaf, Bang Ipul”. Ia pun segera kembali menaiki anak tangga.

“Engkau mengusir aku, Nor?” gertak Syaipul sambil menyambar tangan dara penenun kain songket, sampai terasa getaran hatinya merasuk sukma. Sebab Cik Puan Nora bergegas hendak naik ke rumah. “Ada masalah penting yang akan Abang sampaikan hari ini kepada Mak Cik Midah, Nor” kata Syaipul.

“Risik angin pagi hari di tepian sungai jantan, sudah tidak terasa dingin lagi,” bisik Syaipul, setelah duduk di anak tangga tepat di bawah alat tenun Cik Puan Nora. Bilik tenun berjendela lambai angin, separas pinggang terbuka ke arah sungai jantan yang ketika itu surut bersamaan kemarau panjang.

“Sudah berbau limbah tengik, sungai lubuk ikan kasau kita, Nor. Udang galah juga telah lama tidak dapat membiakkan telurnya. Mereka kehabisan habitat.”

“Apa hal maksud, Bang Ipul?”

“Sampai patah tulang empat kerat sekalipun, tidak akan terkumpul nilai mahar sebagai mas kawin untuk engkau, Nor. Sedang duit itu mesti terkumpul juga, guna mendapati kembang terdidik dan beradat. Nor, aku melinguknya di negeri kita ini semuanya telah berbeda.”

“Bang Ipul!!!” Cik Puan Nora tak kuasa menahan diri. Ia rebah ke pangkuan orang yang dikasihinya itu seraya tersedu-sedu. Terisak-isak dan tak berkata-kata.

***

Mereka sama terdiam. Sejenak berpandang-pandangan.

“Telah kucoba minta bekerja di pabrik kertas Perawang, malah limbah tersisa yang didapati. Tuba mematikan telur udang dan habitat ikan kasau, mematikan aktivitas penjaring seperti aku ni,” pungkasnya. “Dalam waktu dekat, Abang akan segera menyeberang ke Sungai Tong Terengganu bersama kawan-kawan yang lain. Mencoba peruntungan disana. Itulah sebabnya, aku ingin bertemu Mak Cik Midah untuk mengatakan hal ini.”

Cik Puan Nor semakin tersedu-sedu sejadi-jadinya. Disingkapnya tirai langit yang berkelukur awan tebal, riak-riak ombak kecil mendaduh tepian, dan gelombangpun membahana dahsyat. Kembali ia tersedu-sedu sejadi-jadinya.

***
Tualang Timur, 2022

Artikel sebelumnyaPuisi: Puncak Kehancuran
Artikel berikutnyaPuisi: Kepala Dua
Lahir di Aek Pamingke. Bermastautin di Siak Sri Indrapura. Penggiat Literasi, Seni, dan Sastra. Saat ini aktif sebagai Dewan Kehormatan UKM Batra UR. Menggeluti seni teater, musik, lukis, dan ukir. Puluhan naskah teater telah dipentaskan, diantaranya; Prahara Cik Apung (Jakarta: 2013), Bulang Cahaya (Batam: 2013), Malam Botak (Palu: 2014), Raja Minyak (Banjarmasin: 2015), dan puluhan peran lainnya. Beberapa karya telah dibukukan; Kepompong (Trilogi Novel: Nulisbuku Publishing, 2015), Fragmen Hitam (Trilogi Novel: Nulisbuku Publishing, 2015), Rumah Kita (Antologi Puisi dan Cerpen- Pustaka A2, 2016), Hom Pim Pa (Naskah Teater, bentuk Dummy 2017; pernah dipentaskan di Laman Anjungan Seni Idrus Tintin), Kitalah yang Hidup di Sungai Itu (Juara 2 Cipta Puisi Festival Sastra Sungai Jantan, 2019), Sebuah Kisah Tentang Waktu (Juara 1 Cipta Puisi Nasional-Jendela Sastra Indonesia, 2020), Potret Kehidupan (Juara 1 Cipta Puisi Nasional-Tzone Publisher, 2020), Suara yang Lindap dan Malam Senyap (Antologi Puisi Bersama Penyair ASEAN- Salmah Publishing, 2020), Ode Kerinduan (Juara 1 Cipta Puisi Nasional-Inong Agam Publishing, 2020), Mimpi dan Puisi (Juara 3 Cipta Puisi Nasional-Mentari Media, 2020), Langkah Bahtera Langka (Antologi Puisi Bersama Alumni UKM Batra UR-Malay Culture Studies, 2020), Puisi Para Pendaki Bisik Langit Pasak Bumi (Antologi Puisi Pendaki- Pendaki Indonesia-Rumah Sunting, 2021), dan beberapa sekumpulan buku lainnya juga beberapa karya yang terbit di media massa. 0813 1044 0782

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini