sumber foto asli: pixabay

Tiada yang Lebih Damai selain Hidup Diteduhi

Perlahan-lahan pagi mengembangkan senyuman
semanis bujukan berbisa seorang isteri dan pesan seorang ibu
jangan menjelma benang kusut bagi masyarakat
tapi selalu bersiaga menghurainya sampai sentuh damai
hidup bersatu dalam kasih sayang
dibarengi matahari memang tak lupa maknai kesetiaan
pada seorang sahabat terbaca ketika kita susah
terjepit di antara gerhana dan malam
kerapkali kausamakan dengan kejahilan
rosakkan martabat seorang insan

Kini terkuak hari baru adalah anugerah
tak sekadar dinikmati keindahannya malah peluang
membenah diri biar hijau jiwa yang garing
jika disia-siakan seperti angin lalu
nasib pun tercampak ke onggokan bau apak
tiada harga walaupun secawan kopi

Kusambut setiap kedatangannya
dengan mencetak amal ketaatan
kerana selalu bermimpi aku dalam peluk kasih-Nya
tiada yang lebih damai selain hidup diteduhi
sedang kesudahannya musnah sama sekali

Melaka, 15/3/2022

Artikel sebelumnyaPuisi: Darah Terakhir
Artikel berikutnyaPuisi: Darah Terakhir
Bermukim di Melaka, Malaysia. Pernah menimba ilmu di Universitas Islam Negeri Banda Aceh dalam bidang Dakwah dan UTM, Skudai, Johor (Universiti Teknologi Malaysia) Seorang pesara guru KPM (Kementerian Pendidikan Malaysia) mulai tahun 2022. Berminat dalam bidang puisi sejak masih belajar di sekolah.dan sekarang menjadi ahli Ikatan Persuratan Melayu Melaka. Puisi-puisi pernah muncul di Berita Harian, Utusan Borneo, Harian Ekspres, Mingguan Malaysia, majalah Dewan Sastera, Tamadun Islam, Wanita dan lain-lain. Majalah online seperti Lamanriau.com, Potret Online com, Kosana.my.id., sksp-literary.com, Sabah360 online.Sudah mempunyai puluhan antologi bersama di antaranya Antologi C Antagonis (ASWARA 2020) Bahtera Merdeka (Tinta Karya 2020) Pasrah (PTK 2020) Citra Yang Tak Padam ( Narangkai Publications 2021) Sejernih Embun (KS 2021)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini