sumber foto asli: pixabay

Takdir di Catatan Memori Lelaki Tua

di tunggul sebatang pohon karet yang melapuk diri dimakan kapang
lelaki tua itu duduk bersila menghampar pandang membentang jauh
menghitung, mengeja barisan jejeran batang sawit yang tumbuh subur
di tanah melayu riau warisan nenek moyangnya, tempat dirinya dilahirkan

wajah lelaki tua itu terlihat letih, alam pikirannya mencurah banyak beban
lelaki tua itu terlihat sakit dari sorot matanya yang tajam penuh luka
sakit mengingat catatan sejarah, taqdir hidupnya di tanah melayu riau
rantau kuantan negerinya bernama dahulu, kukok nama hamparan hutannya

jauh sebelum pohon-pohon sawit ini diberi izin hidup di tanah melayu riau ini
lelaki tua ini tergolong lelaki pertama pemilik hak takuk rambah di atas tanah negeri ini
sembilan puluh sembilan tahun berlalu, lelaki tua itu memulai menakuk rambah hutan
dengan parang, kampak, beliung, lelaki tua itu menebas, menakuk rambah pohon-
pohon besar
dalam pola garapan tradisional, lelaki tua itu mulai berkebun karet sambil bercocok
tanam padi kasang

tanah garapan bersepadan tanah rawah, semak belukar, hutan yang masih perawan
pohon-pohon karet lelaki tua itu tumbuh subur, hijaunya padi menutupi permukaan
tanah
dari pelantar panggung beratap daun rubia, berdinding, berlantai kulit kayu,
lelaki tua itu memandangi tubuh subur pohon-pohon karetnya merenggang
membesarkan diri
batang dan daunya menari, bergoyang dalam tiupan angin, memyuarakan harapan.
hidup untuk masa depan, menabur mimpi di tetes getah bila kelak dapat ditakik

lelaki tua itu terus menginggat jalan taqdirnya, duduk bersila ditunggul sebatang pohon
karet yang melapuk dimakan kapang
dulu dengan kebun karet seluas dua hektar, aku mampu menghantar anak-anak jadi
sarjana bergelar dotorandus dan dotoranda
tapi itu dahulu, sebelum tanah takuk rambah milikku terkurung dikelilingi parit-parit
besar
di tubuhnya tumbuh subur pohon-pohon sawit bebaris rapi seperti tentara dalam baris-
berbaris
sebelum pemilik izin guna usaha atas tanah garapan milik para kapitalis berkuku,
diberi izin merabah semak belukar, tanah rawa, hutan perawan ditanah leluhurku

tanah garapanku hilang lenyap, karena aku tak memiliki bukti dalam bentuk akta atas
tanah sebagai hak milik
aku terlalu lugu membaca zaman, tak pandai menduga ketamakan manusia sebagai
budak nafsu
aku kalah dalam keluguan, tak paham menadministrasikan kepemilikan tanah dalam
catatan badan pertanahan negara
kalah, terjajah, di tanah leluhur atas izin dalam kebijakkan para penguasa negara
bila membela hak, aku dihadapkan dengan moncong senapan polisi negara

di jalur hukum tak pandai membela diri, tak ada bukti hak milik dalam lembaran kertas
hukum adat terlalu tumpul untuk dipertikaikan dengan hukum negara yang tertulis
jadilah hukum adat sekedar perisai mencelaka diri merenggang takdir pada kekalahan
aumnya mengemah lantang dalam petatah-petih-petuah adat tak tertulis di kertas
diucapkan para pemangku adat dalam negeri yang bergelar datuk
lenguhnya mengelegar lantang kepelosok negeri, gemahnya sampai di liang telinga
penguasa
tak tajam, tumpul sebagai alat pembela diri, kalah tajam dengan antan pepat penumbuk
padi dalam lesung

kini dimasa tuaku, aku hanya pandai menguraikan air mata dalam kekalahan
menyaksikan hiruk pikuk, lengking pedih dalam erang tangis anak cucuku dalam negeri
gugur memeluk kekalahan penuh luka melawan kaum kapitalis para pemilik modal
di depan mataku, anak cucu keponakanku ditangkap polisi negara, lalu dipenjarakan
di pundaknya disematkan sebagai pelaku anarkis, pelaku melawan hukum negara

suara para wakilnya di dewan lantang mengaum, tumpul keatas untuk merompak
jadilah aku, anak cucu kemenakanku, menjadi orang-orang kalah terjajah
di tanah melayu riau tempat kami di lahirkan, tumbuh menjadi besar
mengapung menjadi buih di laut tak bertepi, kehilangan hapan dihepas debur ombak
lenyap dalam pikiran, terlupakan dalam kebijakkan para pengusa negara
mengaum tanpa suara, hilang di jejak waktu, miskin di tanah subur kaya raya
lelaki tua pun tengelam lenyam kehilangan usia di balik runtuhnya tunggul pohon karet

Pekanbaru, 16 Januari 2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini