sumber foto asli: pixabay

Riausastra.com – Lelaki tua berambut putih bercengkerama dengan cucu-cucunya yang lima orang. Dua lelaki dan lainnya perempuan. Masing-masing anaknya yang lima telah menyumbang seorang cucu padanya.

Begitu gaduh suasana yang ditimbulkan oleh kelima anak berumur antara tiga hingga sepuluh tahunan itu. Tawa renyah mereka tumpang tindih disusul keributan berganti-ganti. Kadang memperebutkan mainan, kadang bersilang pendapat sampai sedikit gontok-gontokan. Namun sesudahnya mereka akur seperti sedia kala.

Lelaki tua yang hanya memakai kaos singlet itu tak henti-hentinya memamerkan sisa giginya. Kadang hanya tersenyum, sesekali meringis dan lebih banyak tertawa lebar ketika mendapati tingkah polah lucu cucu-cucunya. Rupanya kehadiran kelima cucunya itu begitu manjur membunuh sedih dan sepi sejak kepulangan istrinya ke rumah Ilahi tujuh hari lalu.

“Kata Papa, dulu Kakek seorang prajurit ya?” tanya Radit, cucunya yang jangkung, mewarisi gen dari anak pertamanya.

“Iya, benar,” jawabnya singkat. Tak perlu memanggil dengan kentongan, ke semua cucunya langsung mengerubungi si lelaki tua. Antusias.

Wah, benarkah? Prajurit itu seperti yang joget India di televisi itu kan?” tanya Vina, kemayu.

Ah,  masak iya Kakek suka menyanyi dan menari India!” sembur Wisnu, tak percaya.

Chaiyachaiya…..” Mulut Devi mengumandangkan lagu dengan cadel seraya menggoyang badan sekenanya. Sementara Lusi, cucu paling muda turut mengikuti gaya Devi.

“Hus! Bukan! Prajurit itu seorang ksatria yang membela negara. Kalau yang suka menyanyi dan menari itu namanya artis,” ralat Radit yang umurnya paling tua dibanding semuanya.

Oh begitu.” Vina dan Wisnu mangut-mangut. Devi dan Lusi masih asyik dengan lagu dan tarian yang semakin tak karuan.

“Apakah Kakek pernah ikut perang?” tanya Radit, serius. Wisnu ikut menyimak. Sementara Vina terkekeh seraya memegangi perutnya yang melilit oleh tingkah lucu Devi dan Lusi.

“Tentu saja pernah.”

“Di mana, Kek?” kejar Wisnu antusias.

“Di Timor Timur,” tukas Lelaki tua, tegas.

Radit dan Wisnu menggaruk-garuk kepalanya yang mendadak gatal. Mengingat-ingat pelajaran geografi dan menerka-nerka di mana letak Timor Timur berada.

                *

Timor-Timur bergolak. Penduduknya panik. Berlarian orang-orang yang dibekap ketakutan itu menuju perbatasan Indonesia. Mereka lari mengungsi demi mencari segenggam rasa aman. Sambutan yang dari tuan rumah, membuncahkan harapan bagi mereka yang merindu kedamaian.

Sebuncah harapan itu mendorong kaum lelaki mendukung faksi integrasi. Militan Fritilin tak terima melihat kecenderungan itu. Mereka mengejar para pengungsi yang berlarian ke perbatasan. Dampaknya tak hanya warga pelarian yang menjadi korban tetapi juga penduduk Indonesia yang bermukim di wilayah perbatasan. Kondisi ini memaksa panglima tertinggi ABRI mengirim misi rahasia demi melindungi rakyatnya.

Fajar belum menyingsing di Maliana kala serombong tentara berbaju preman terus merangsek rerimbun hutan. Tak terbilang kali, duri-duri tajam tanaman mengoyak baju dan kulit mereka.

Hingga akhirnya markas musuh makin dekat. Tak berapa lama, instruksi penyerangan bergaung. Baku tembak menguasai udara. Ketidaksiapan pada pihak lawan membuat pertahanan mereka carut-marut. Kelompok militan lari tunggang langgang. Bersembunyi ke pegunungan. Untuk sementara waktu, Maliana dikuasai oleh tentara Indonesia. Para pengungsi maupun masyarakat di area perbatasan dapat sejenak bernapas lega.

Pukul dua belas siang, kondisi seketika berbalik. Para militan berbalik menyerang dari balik bukit-bukit. Posisi yang kurang menguntungkan bagi para tentara membuat korban-korban dari pihaknya satu-persatu berjatuhan.

Zuhri, salah seorang tentara tertembak di lengan kanannya. Tubuhnya terkapar merambah tanah. Tampak ia masih bernapas tersengal-sengal. Melawan perih timah panas yang bersarang di lengan kanannya. Sejenak, terbayang olehnya wajah isteri serta bayinya yang ditinggalkannya demi tugas Negara.

Dengan pandangan yang mulai mengabur, Zuhri menyaksikan satu persatu rekan-rekannya berjatuhan menyusul dirinya. Dalam keterdiaman pula kepasrahannya, ia menatap salah seorang temannya merenggang nyawa. Setelah selongsong peluru beberapa kali menerjang tubuhnya. Darahnya muncrat menodai pakaian dengan beberapa tambalan, juga mengenai wajah Zuhri hingga anyir darah lekat tercium olehnya. Tak berselang lama, Komandan satuannya pun tak luput dari koyak berondongan peluru dan gugur dalam medan pertempuran.

Baru pada pukul tiga sore tentara-tentara yang terluka ditarik mundur. Mereka di bawa ke kantor kabupaten, satu-satunya bangunan permanen di kawasan Maliana. Para tentara dibaringkan di atas meja-meja. Menunggu pertolongan dalam cengkeraman kematian.

“Lengannya sudah bengkak! Harus segera ditolong!” seru seorang dokter, panik.

“Belum ada heli yang datang,” tukas perawatnya.

Menunggu heli seolah berkejaran waktu dengan datangnya malaikat maut yang siaga menjemput. Esok harinya pesawat heli mendarat, para relawan segera mengangkut korban luka ke dalam pesawat menuju rumah sakit daerah.

Ketiadaan peralatan medis yang memadai memaksa para korban harus dipindahkan lagi ke rumah sakit di kota. Dengan pesawat Chesna, mereka di usung menuju landasan. Rute berlanjut tatkala rumah sakit di kota pun tak memiliki ketersediaan alat yang memadai. Menumpang pesawat Hercules mereka diterbangkan ke Jakarta untuk mendapatkan pertolongan.

Tujuh orang dari pemberangkatan kloter pertama korban luka tiba di Rumah Sakit Gatot Subroto. Mereka segera mendapatkan perawatan intensif dari dokter-dokter ahli. 

Kondisi luka tembakan banyak menimbulkan tanya dokter ataupun petugas rumah sakit lainnya. Adakah mereka korban perang atau sejenisnya? Saat itu dokter, perawat serta masyarakat pada umumnya memang tidak tahu telah terjadi pertempuran hebat di Timor Timur. Misi Timor Timur memang sebuah rahasia Negara yang tak boleh diketahui publik pada umumnya. Tentara-tentara itu tutup mulut, sesuai dengan perintah atasan. Keluarga mereka pun tak ada yang tahu dengan kondisinya saat itu.

Selang satu bulan, rumah sakit Gatot Subroto penuh oleh tentara yang terluka. Tidak satu pun kamar yang tak terisi. Bahkan area kamar mandi pun terpaksa diubah fungsi. Kondisi ini memaksa pihak rumah sakit memindahkan pasien-pasien yang sudah menginjak tahap pemulihan ke rumah sakit daerah sesuai dengan satuan asalnya.

Kembali ke satuannya di Surabaya, Zuhri-tentara yang tertembak di lengan kanannya hingga tembus ke dada-menulis sebuah surat untuk isterinya di kampung pelosok Boyolali. Kondisi memang telah mengizinkan mereka untuk berhubungan kembali dengan keluarganya. Lewat goresan tangan kirinya-karena tangan kanannya belum sembuh seperti sedia kala-ia meminta isterinya membawa serta anaknya datang ke Surabaya. Sudah demikian rindu ia pada anak pertama yang belum pernah ia lihat wajahnya.

Beberapa bulan setelah berkumpul dengan anak istrinya sembari menjalani perawatan, petugas medis dari kesatuannya memeriksa kondisi kesehatan Zuhri. Berdasarkan pemeriksaan itu, tentara itu dinyatakan apkir (cacat) sehingga sudah tidak dapat dipakai lagi di kesatuan tempur.

Lewat kebijakan atasannya, Zuhri dipindah ke Kodam Diponegoro menjadi salah satu staf di sana. Dua tahun berikutnya ia lalu dipindahtugaskan ke Kodim Boyolali.

**

“Kakek, itu apa yang ada di lengan kananmu?” tanya Vina centil, menurun dari gen anak gadisnya yang ke empat.

“Ini? Ini adalah bekas luka dari medan pertempuran Timor Timur.”

“Luka tembak?” tanya Wisnu memastikan. Lelaki tua berwajah keriput berbintik-bintik hitam itu mengangguk.

“Apakah prajurit yang suka joget itu juga punya luka seperti itu?” Devi ikut nimbrung. Rupanya Devi mulai lelah bernyanyi dan bergoyang India.

“Lihat saja nanti kalau dia muncul di televisi lagi!” seru Radit.

“Tapi Kek … sebenarnya Timor Timur itu di mana?” sahut Wisnu, penasaran.

“Iya di mana, Kek?” serbu cucu-cucu lainnya.

Lelaki tua yang memang terkenal hemat bicara itu menutup mulutnya rapat-rapat. Kegaduhan yang dibuat oleh kelima cucunya karena ia tak kunjung menjawab pertanyaan mereka justru seakan-akan mengantarkannya pada kegaduhan peristiwa empat puluh enam tahun silam.

Desing peluru menjerit. Gemuruh bom membahana. Rintih perih melirih kala nyawa melayang ke angkasa. Entah berapa jumlah pasti yang gugur di medan perjuangan. Berapa yang terluka fisiknya dan menanggung cacat seumur hidup. Serta berapa lainnya yang kehilangan akal oleh tak kuatnya mental melihat kesadisan di medan perang.

Rintik satu dua air mata luruh dari pelupuk turun ke pipi lelaki tua. Luka di lengan kananya sudah sembuh sejak lama meski tak pernah senormal sebelumnya. Namun luka hatinya entah kapan terobati saat mengingat kegaduhan di Maliana lalu mendapati kenyataan bahwa tanah tempat ia menumpahkan darah tak lagi berada dalam rengkuhan pertiwi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini