sumber foto asli: pixabay

Munajat

Semenjak shyam malam menyingkap pekatnya
Ia tahu, sebagian anak Adam tengah bersimpuh
Mengharap taufik dan cahaya hidayah pada Yang Maha Kuasa.

Ia hanya percaya kepada-Nya, kepada Rabb satu-satunya
Tempat segala keluh dan pinta, yang membuat kalbunya bahagia.

Manakah yang lebih nikmat selain munajat?
Jika doa-doa tulus dijadikan obat, untuk luka atma yang sekarat
Hingga ia kembali kuat, untuk menghadapi hari esok yang lebih berat.

Manakah yang lebih syahdu selain munajat?
Dicurahkannya segala ampunan, sedang diam-diam Tuhan
mengabulkan. Dan malaikat turut meng-aamiin-kan.

Maka pada swastamita malam ini, ia akan terus bermunajat,
Bersimpuh khidmat kala hidup terasa berat.
Mengharap inayah dan rahmat
Serta apa-apa yang dapat melebur segunung dosanya.

(Jakarta, 2021)

Artikel sebelumnyaPuisi: Hujan
Artikel berikutnyaPuisi: Ziarah Sajak
Lebih diakrab Mudhri ini merupakan pemuda melankolis yang plegmatis kelahiran Medan, pada suatu di bulan Maret 2001. Saat ini, Mudhri telah melahirkan ratusan buku antologi, di antaranya adalah The Miracle of Hijrah (2019), Meraih Cinta Allah (2019), Aku Kamu dan Puisi (2020), Senyum Ibu (2020), Al Qur’an dan Aku (2021), Menunggu Rintik Hujan Terjatuh (2021), Berita-Berita Tak Terduga Setelah Hari Mengepung Jakarta (2021). Melalui tulisannya, Mudhri berharap bisa mengumpulkan bekal akhirat yang tak hanya menjadi inspirasi bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini