sumber foto asli: pixabay

Perihal Asap, Hujan dan Kita

1/
Tak usah kau memeram gelisah pada hujan yang
Mencurah, walau sekejap cuma.
Paling tidak basahlah sudah semak-semak samun,
parit-parit yang kerontang.
Pun hamparam gambut yang disekap bahang nyala api
dan kemarau yang panjang
memenjarakannya dalam beberapa pekan,
beberapa purnama yang telah kita singgahi

Di musim-musim sebegini kering,
tak ada gunanya kau sesali hari-hari yang pedih
Segala perih sesungguhnya adalah ujian
agar kau saksikan seberapa besar karunia Tuhan
yang telah kita nikmati,
meski Dia tak pernah meminta kita
untuk membalas semuanya,
dengan ucap kalam syukur,
pada papan-papan reklame, baleho,
maupun sepanduk-sepanduk menghiasi ruas-ruas jalan
dan tiap persimpangan

2/
Sekurang-kurangnya bersama Kamis pekan ini,
kau merasakan lagi sejuk dingin hari.
Walau esok belum tentu kau temui langitmu
sebegini indah,
menanti hujan datang menyimbah,
bersembang-sembang mengurai semua gundah

Mungkin kita telah ditakdirkan Tuhan,
mesti selalu mendengar ratap gelisah,
derita yang sesungguhnya adalah cambuk-cambuk kecil
agar kita tahu menyisakan setumpuk kebijaksanaan
dan demi setiap kebijaksanaan
yang disusun sedemikian rapi, sistematis, terukur dan teruji
di balik meja-meja kerja kita, jauh-jauh hari lagi –
sebelum tragedi mengerdipkan mata api
untuk yang ke sekian kali

3/
Dedaunan pagi bersiul manja,
riang menyambut ketibaan hujan
Semilir angin utara pun mengisyaratkan cinta
sebab bermusim-musim ia berpeluk luka,
dikungkung jerebu; kabut asap tak sudah-sudah
dari segenap penjuru, rantau dan jazirah

4/
Asap kebakaran hutan dan lahan yang kau
risaukan itu,
pagi ini telah menyatu bersama mendung-mendung
yang berarak kelabu
seketika ia menyepi dari sudut-sudut ruang pandang kita
yang menyembunyikan sebaris senyum gigil pokok hari
tanpa hangat sinar mentari

Kita seringkali leka pada tangan-tangan kita sendiri
yang selalu menyulut duka.

Maka sebaiknya patahkan saja nestapa
sebelum semua menjadi sia-sia

5/
Esok semarakkanlah senyumanmu itu
lewat kabut-kabut yang mengirimu pesan Tuhan
walau hujan pagi ini sebentar cuma,
sekadar untuk bersua, menyapa dan bertanya hal ihwal
tentang kita
menjaga titah kuasa, amanah-Nya sepanjang masa

(Apa kabar asapmu pagi ini Riau-ku. Semoga tak menyulut debar
dan risau yang baru)

Bengkalis, Agustus 2019

Artikel sebelumnyaPuisi: Bukit Sulap
Artikel berikutnyaPuisi: Gelap
Penulis, penyair dan sastrawan Riau bermastautin di Bengkalis. Ia tidak hanya menulis puisi, namun juga menulis cerpen, artikel maupun esai. Buku puisi yang diterbitkannya antara lain Menakar Cahaya (FAM Publishing: 2016), Di Luar Jendela (TareBooks: 2019) dan Cinta Hingga ke Surga (Aden Jaya: 2020). Selain karya-karyanya pernah tersiar di sejumlah media massa dan antologi bersama, pria kelahiran Bantan Air, Bengkalis pada 16 September 1977 ini juga telah menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Burung-Burung yang Mengkapling Surga (FAM Publishing: 2018) dan Pada Senja yang Basah (Dotplus Publisher, 2021), serta tiga buah buku kumpulan esai berjudul Menuju Puncak Keindahan Akal Budi (Aden Jaya: 2019), Setitik Embun Pagi (Aden Jaya, 2020), dan Sabda Pujangga Dari Negeri Junjungan (Dotplus Publisehr, 2021). Baginya, menulis adalah bagian dari proses pendewasaan diri dan cara paling indah dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan kemaslahatan. Beliau dapat dihubungi di nomor HP 0852-7811-8244.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini