sumber foto asli: pixabay

Semburat Rindu di Tiap Jejak Kaki Tanah Riau

Rindu pada ujung barat Sumatera sejenak sirna
Dimanja vista hijau Marpoyan Damai
Dedaunan melambai di Tenayan Raya dan Rumbai
Senyum perempuan dan lelaki kembang
Di antara tarian kangkung dan bayam
Memanen rezeki dari Tuhan.

Rasa pedas cerewet mamak di kampung
Tak sepedas cabai Dumai dan Kampar
Kecut aroma petani yang lelah
Kadang kuhirup dalam-dalam
Lamat-lamat menyeruak wajah-wajah di kampungku.

Petani di Siak manggut-manggut
Jemput ilmu yang kusumbang
Demi meluberkan panen mereka
Ilmu yang kumiliki berkat keringat mamak bapak.

Puas berlelah di Pekanbaru,
Kulangitkan doa untuk orang tua
Menembus langit-langit Masjid An Nur yang agung
Menggema di kubah-kubah ala Taj Mahal.

Kubasuh pula wajah dengan air bertuah
Di antara percik Air Terjun Aek Martua Rokan Hulu
Tempias-tempias warna perak
Terkenang perak rambut mamak
Dan tuah doanya.

Langkah kubawa hingga hutan akasia
Ketika daun bersiul dan bunga kuning senyum simpul
Teringat bacaan Quran mamak
Kertasnya dari batang akasia yang kokoh
Sekokoh jasa orang tua
Hingga aku di ketinggian
Seperti berdiri di Bukit Ulu Kasok
Memandang keteduhan Danau Koto Panjang.

Tak mampu kupersembahkan megahnya Istana Siak Sri Indrapura
Namun nyanyian doa kulantunkan
Dari tengah Sumatera
Untukmu, pemilik rahim itu.

Malang, 28 Desember 2021

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini