sumber foto asli: net

Riau; Semesti Sajak dalam Galaksi Diksi-diksi Paling Aku

bagi Penyair Riau

jika tahun adalah Tuhan-tuhan yang hilang,
harapan adalah hantu-hantu yang tumbang,
kata mana yang paling diksi untuk menunjuk muasal?

Kunni,
yang berdiri di cawan bening sajak-sajak hutan, kampung-kampung pedalaman,
juga ritual metafora menuju makna. dihulukannnya aku ke Cipang, ke Bono,
ke Pusako, ke dalam diriku paling mencari.

Marhalim,
yang berdiam pada gerak kritik tajam, meruncing cinta bagi diksi-diksiku
yang sumbang; kadang-kadang aku berang, kadang-kadang aku berangkat
pada pemakluman-pemakluman baru, penakhlukan-penakhlukan baru–keangkuhan
bagi ringkih jiwaku.

pada Kafrawi, Jefry, Armawi, Fedli, aku belajar menukar-nukar umpama,
ibarat, laksana, ke Marpoyan, ke Panam, ke Rumbai, lalu merenung
di Jembatan Siak satu, mengingat dongeng-dongeng kakekku
adalah kedalaman sungai paling diriku.

untuk DM, Herlela, Salma, betapa ibu kata-kata menyusu pada kalbu,
membentuk MTQ, Pasar Bawah, Pasar Dupa, juga Ramayana sebelum terbakar
di tahun 2015.

bagimu Eko, Tata, Rapina, Dahrial, Sarwan. Pustaka Soeman HS, toko buku Pasar Kodim, diskon 5% di Zanafa, hingga buku-buku baru di Gramedia, adalah halaman-halaman kenang kita paling lubuk puisi. siang malam denyut tintaku; denyut cintaku pada semesta paling purba juga paling masa depan.

Tuhan tetaplah Tuhan, hantu jahat, hantu baik. hutan-hutan lindung yang terjaga
dan yang terbakar; selamanya kita manusia, yang kadang gagal menjadi manusia
paling hidup.

Kubang Raya, 30 Desember 2021

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here