sumber foto asli: pixabay

Semoga Engkau Selalu Bersamaku

Ada yang tak memiliki telinga layaknya
jarum jam yang tak mendengar akan
denyut nadinya. Ia berdetak mengiringi intuisi
yang selalu diberi daya oleh semesta.

“Cinta masa lalu bukanlah jarum pada
jam dinding yang diputar ke kiri. Ia adalah
langkah yang menyebabkan kaki lebih
berhati-hati,” katanya pada suatu hari.

Ia merubah segalanya: dari jam menjadi menit,
menjadi detik, menjadi nafas, menjadi
kenangan yang tak mungkin bisa diulang.
Menerima masa lalu, baik yang kumiliki
atau pun yang kaumiliki adalah perihal rumit
yang bisa menyebabklan dendam dan
kekhawatiran bertarung sengit di atas langit.

Ada yang tak memiliki telinga layaknya
jarum jam yang tak mendengar akan denyut
nadinya sendiri. Ia seperti kekhawatiran,
kerinduan, kecemburuan, atau—entahlah,
yang pasti, aku tak mendengar, ternyata
selalu ada doa untukmu di dalamnya.

Al-Ikhsan, Agustus 2020

Artikel sebelumnyaPuisi: Perjalanan
Artikel berikutnyaPuisi: Embun
Lahir di Pemalang, 20 Juli 1997. Ia adalah santri di Pondok Pesantren Al-Ikhsan Beji, Banyumas. Laki-laki pecinta kopi ini puisi-puisinya pernah disiarkan di laman: Koran Tempo, Pos Bali, Medan Pos, Tanjungpinang Pos, Radar Banyumas, Radar Cirebon, Radar Pekalongan, Harian Sinar Indonesia Baru, LP Maarif NU Jateng, Metafor.id, Marewai, Kami Anak Pantai, dan lain-lain. Tersebar juga di beberapa antologi bersama, antara lain: Tahun Baru Bersama Bunda (Anara Publishing, 2018), Petani dan Sebatang Padi (Jejak Publisher, 2018), Setumpuk Rindu Yang Berdebu (Inspira Pustaka, 2019), Perempuan Ghirsereng: Kumpulan Sajak Penyair ASEAN-3 (Dema FTIK IAIN Purwokerto, 2020), Kembang Glepang 2: Antologi Karya Sastra Para Penulis Banyumas (SIP Publishing, 2021). Ia juga pernah menjadi juara 2 pada Lomba Cipta Puisi Nasional yang diselenggarakan oleh Catatan Pena (2021). WhatsApp: 085601885058.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here