sumber foto asli: pixabay

Tepi Rindu

Sudah bertahun menimbun rindu pada seorang kasih
Dari musim kemarau hingga musim hujan
Kembali lagi ke musim kemarau
Berulang seperti mengayuh roda sepeda
Lelah, hai wanita kelak berakhir sendiri?

Nuansa hening menyertai malam
Suara hati seorang elakshi bertudung sendu
Menjerit kesakitan
Berjalan tertatih di hutan bambu

Payung merah jambu
Menjadi senjata penyelamat di kala derasnya hujan
Dan badai menyekap tubuhnya
Melihat kematian menari di pelupuk mata

Alena wanita cerdas berdiri di muara tinggi
Mengadu segala rasa yang berkecamuk lara
Mencari kententraman jiwa
Tanpa henti menggema doa dengan lembut

Hanya sepucuk suratan takdir menanti senja
Dan pada saatnya sutra putih
Kembali merangkul kepingan raga
Bersujud pada Sang Ilahi

Probolinggo, 15 November 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Segelas Wedang Jeruk
Artikel berikutnyaPuisi: Tak Abadi
Lahir di Probolinggo, 12 April 1989. Alumnus Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Universitas Negeri Jember. Ia mulai mencintai puisi berawal dari ajang lomba di salah satu perguruan tinggi swasta di Probolinggo mewakili sekolah dengan meraih juara harapan 2. Selain puisi, juga mengikuti lomba teater dan meraih juara harapan 2. Untuk meningkatkan kualitas diri, dia juga mengikuti kelas belajar puisi di Asqa Imagination School dan Comunity Pena Terbang (COMPETER) dari tahun 2020 hingga saat ini. Dia pun pernah mendapatkan anugerah menjadi pemenang juara 2 dan 3 Asqa Book Award. Bisa dihubungi lewat WA: 085259309393

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here