sumber foto asli: pixabay

Ambu Geni Mahameru

Kala abhati direnggut awan hitam
Membawa peti nestapa beramai di segala dusun
Tak memandang manusia di hadapannya
Berteriak kesakitan lumpuh tak berdaya

Lontaran batuan pijar berjatuhan di bumi Pronojiwo
Kala amarah kawah jonggring saloko
Merebak hingga tubuh tertimbun lumpur panas
Merata dengan tanah

Sabana yang selalu menghiasai alam Mahameru
Seketika itu berubah menjadi abu
Suar berhamburan keluar dari perut kerucutnya
Seakan senja itu adalah hari terakhir

Halai balai raut wajah tak lagi ramah
Gelebah hati tak lagi menyanjung riang
Tergamang pilu
Hingga air kehidupan menjadi genangan keruh
Dalam kalbu

Hati terasa tersayat perih
Ketika semesta sudah berang
Tak lagi apa yang bisa terucap?
Hanya tinggal rintihan doa dan tangis pengampunan
Pada Ilahi Rabbi

Probolinggo, 10 Desember 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Tanpa Judul
Artikel berikutnyaPuisi: Melamun
Lahir di Probolinggo, 12 April 1989. Alumnus Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Universitas Negeri Jember. Ia mulai mencintai puisi berawal dari ajang lomba di salah satu perguruan tinggi swasta di Probolinggo mewakili sekolah dengan meraih juara harapan 2. Selain puisi, juga mengikuti lomba teater dan meraih juara harapan 2. Untuk meningkatkan kualitas diri, dia juga mengikuti kelas belajar puisi di Asqa Imagination School dan Comunity Pena Terbang (COMPETER) dari tahun 2020 hingga saat ini. Dia pun pernah mendapatkan anugerah menjadi pemenang juara 2 dan 3 Asqa Book Award. Bisa dihubungi lewat WA: 085259309393

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here