sumber foto asli: pixabay

Gelembung Doa

Aku akan melukis ribuan gelembung
pada bentangan kanvas seluas jagat raya
Menghiasinya dengan warna-warna spektrum cahaya
Gelembung yang bernyawa doa-doa berterbangan

Ramalan cuaca hari ini menawarkan doa baru
yang kulukiskan dalam gelembung sebesar purnama cahaya

Aku merapal kembali doa-doa diatas bentangan sajadah
Memungut satu-satu kata aamiin yang kutekan lembut
Menusuk hati yang membeku

Masing-masing doa ku ulang hingga tiga kali
Tiga kali seribu sama dengan tiga ribu
ditambah satu, kemudian menyusul satu lagi

Seakan tak henti, seperti tak habis
Bagai meminum air laut, semakin diteguk semakin dahaga

Aku menangis tanpa daya, berusaha tak tersungkur
Lalu kemudian pagi menyeretku pada rutinitas
Kembali berjejalan di pintu kereta
Kembali melukis ulang gelembung yang pecah

Jakarta, 29 November 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Kelana Sang Jiwa
Artikel berikutnyaPuisi: Tanpa Judul
Anak sastra yang tersesat di fakultas teknik - Lulusan IT yang mencintai aksara dan mencintai coding pada akhirnya. Buku Antologi cerpen: ”The Millennials”, “Menggenggam bara”, “The Power of You”, “Beginilah Cara Kami Mendidik Anak”, “Ketika Badai Menerpa Rumah Tangga”, “Its Okay to Be Alone”. Buku Antologi Puisi: “Sajak Keheningan” Beberapa puisi di post di web pribadi. www.wildahurriya.com. Saat ini sedang belajar di kelas puisi KPO #37 bersama mentor Muhammad Asqa eNeste @duniaasqa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here