sumber foto asli: pixabay

Puisi di Perjalanan Pulang

Malam ini, puisi berteriak,

Gemanya, memenuhi alam raya.

Seolah lomba orasi,

ia kali ini berbait panjang berliku-liku

Bahasanya halus, namun menikam

Nadanya tinggi,

Suaranya parau,

Mendongkrak perasaan hingga ada di puncaknya yang paling tinggi

hingga terjatuh, nista kian pasrah terlukai.

Tetapi yakinlah, bahwa jatuh mungkin hanya sebentar jika jarak kejatuhannya tidak terlalu tinggi.

Namun ini, jatuh dari puncak yang paling tinggi!

Selain sedikit lebih lama, juga pasti sedikit lebih sakit.

Ah tidak, tidak. Ini perasaan, bukan benda mati.

Rasanya tak pernah aku lihat perasaan terpengaruhi gaya gravitasi.

Atau begini saja, puisi! Kau, pulanglah dengan sesuka hati,

Meski kau pasti tenggelam dalam lautan gundah,

Maka nikmatilah.

Karena aku tahu, tiada kegundahan yang paling merobek hati,

Selain renungan di jalan pulang nanti.

Pandeglang, 29 Nov. 21

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here