sumber foto asli: pixabay

Surat Bulan Desember

Untuk temanku Piet,

Masihkah kamu berbaju jelaga? Dan dari sana kau mendapat gelar: Piet Hitam. Bukan berarti hatimu hitam. Sekelam jam 7 pagi, awal Desember. Namun putih. Secerah salju musim dingin, awal Januari.

Aku selalu ingat. Senyummu pecah saat berseluncur di cerobong asap rumah-rumah tua. Tawamu lepas saat kau baca surat-surat di dalam kaus kaki yang tergantung rapi di perapian batu bata. Kau tukar dengan stroopwafeltjes. Atau permen-permen licorice. Riang anak-anak menggelegar di sudut kanal-kanal. Menanti tas karung yang kau pikul di punggung bongkokmu. Hadiah raport ujian hidup. Setahun.

Kita sudah berlayar dari Spanyol ke Belanda. Berabad-abad. Dengan perahu kayu yang tak pernah lapuk.
Orang-orang dewasa memang buta. Tak melihat kita. Namun anak-anak punya kacamata. Memandang kita nyata.

Terima kasih atas pertemanan kita. Atas langkah-langkah kecil di sudut kota. Atas peluh yang berpesta. Atas kata-kata yang tak pernah menderita.

Dari sahabatmu,
Sint Nicolaas

Amsterdam, 10 November 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Batang Taring Belang
Artikel berikutnyaPuisi: Nelayan Kehidupan
Lahir dan besar di Kediri 34 tahun yang lalu. Pria yang memiliki hobi menyelam dan travelling ini bekerja sebagai tenaga kesehatan di kota Utrecht, Belanda. Meski tinggal di jantung kota Amsterdam, namun tidak menyurutkan niatnya untuk menyelami dunia literasi Indonesia khususnya menulis puisi. Ia belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER) - Indonesia. Puisinya dimuat di laman Asqa Imagination School (AIS).

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here