sumber foto asli: pixabay

Batang Taring Belang

Aku si lumut hijau kotor
Menempel antara tembok kering
Yang gersang terkena panas,
Yang terampas ke tanah oleh haus

Fatamorgana melukis genangan aspal hitam
Menabur serbuk-serbuk kenyataan.
Lalang melambai saksi pada angin kehidupan
Menikmati patri semesta alam

Burung-burung singgah pada dahan kayu lapuk
berkecipak alunan kicau penuh berisik
Mencari petunjuk ilalang anggrek
Bahwa jejak taring belang kembali punah

Ilahiku, hamba mohon ampun.
Izinkan hamba sebut namaMU dalam doaku.
Ketika mendung hitam datang,
Jangan sembunyikan mata air langit.

Sesungguhnya Engkau maha pelindung kami
Jagalah alam fana yang penuh kesedepan murni,
Jadikanlah kami pengagum ciptaanMU ini,
Dan jauhi tangan manusiawi dengan jahiliah.

Perawang, 7 Juli 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Dari Rioh ke Riau
Artikel berikutnyaPuisi: Surat Bulan Desember
Lahir di Perawang, 21 Desember 1993. Belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Beberapa karya pernah diterbitkan oleh Writerpreneur Academy dalam buku antologi puisi Asmara, Hujan dan Rindu. 200 Puisi Terbaik, Kerinduan Telisik. Penulis Kontributor, Buku yang berjudul “Anglocita: 1001 Muara Jilid 2” diterbitkan oleh Fustamedia - CV. RFM Pramedia, Mencium Sebutir Debu. 100 Puisi Terbaik di Karsastra, Bisikan Daun Kering. Berdomisili di Perawang, Siak Sri Indrapura, Riau.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini