sumber foto asli: pixabay

Nawala

Hanya dari sekejap kedip
Lalu jadi sekerlip cercah

Kemudian setitik pijar
Dan menjadi segenggam bara

Dengan singkat menjadi api
Unggun nan anggun

Dengan mudah meratakan belantara damarku
Meninggalkan panas arang mengabu

Ah..
Benarlah kata pak tua Pardi itu
Tunggul-tunggulku takkan menyesal menjadi serpih

Jika nyala cintamulah yang dengan perih
Mengenalkanku pada murninya kasih

Kota Malang, 070911

Artikel sebelumnyaPuisi: Menunggu Bapak Pulang
Artikel berikutnyaPuisi: Hululiala Lintang
Seorang pria yang lahir pada 10 Desember 1989 di kota Blitar ini memilih menjadi seorang Guru Bimbingan Konseling yang mengambil fokus pada pendidikan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus di SMK Negeri 9 Malang. Alumni Unversitas Negeri Malang jurusan BKP. Kecintaannya pada dunia kepenulisan dimulai sejak tahun 2006. Berhasil meninggalkan jejak karya berupa Kumpulan Sajak Pahlawan (2007) bersama Forum Teater Pelajar Blitar, Aktif mengirim karya di majalah Dinamika SMAN 1 Blitar, Blitar Post, dan Memorandum. Kembali membukukan karyanya berupa Antologi Cerpen Ketawang Puspawarna bersama UKMP (2011). Antologi bersama Penerbit Mahiswara: Masa Indah Negeri di Atas Awan (2021), Merdeka Menulis (2021), Kumpulan Cermin (2021), Kumcer Merah Putih (2021), Kumpulan Sajak Pahlawanku (2021), Kolaborasi Antologi Puisi Mahiswara (2021) Antologi KMK: Bianglala di Lautan Aksara (2021), Pena Sang Merah Putih (2021) Menerbitkan Kumpulan Puisi pribadi melalui Guepedia: Warisan - Alfi Magfiroh (2021), Warisan - Kontemplasi (proses ISBN), Warisan - Tinta Jiwa (proses ISBN) Kembali berusaha berkarya dengan mengikuti Kelas Antologi KMCO Angkatan 62, KPO Angkatan 36, dan platform web novel di Novelme, Kwikku, KBM, Novel Life.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here