sumber foto asli: pixabay

Wajahku Tewas Di Wajahmu

Darah mengucur deras dan hampa,
Merangkul bahu ringkih.
Legam hari tak cerah mengitari,
Jemala tandus tanpa harap ia telah mati.

Tawa yang dikenal kini terasa banal,
Terkapar raga tergenang air mata sisa semalam,
Rintih dalam kesakitan yang panjang,
Upaya menerjang badai berakhir pedih,
Dengan luka menyayat hati.

Di wajahmu, aku adalah bangkai,
Dengan lalat genit mengecup,
Dahi kusut dan impian yang surut,
Tergeletak jiwanya sengkarut.

Jakarta, 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Melukis Kelam
Artikel berikutnyaPuisi: Catatan Malam
Kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, nusantaranews.co, pucukmera.id, ibtimes.id., dan cerano.id. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.com, catatanpringadi.com, apajake.id, mbludus.com, kamianakpantai.com, literasikalbar, ruangtelisik, sudutkantin.com, cakradunia.co, marewai, metafor.id, scientia.id, LPM Pendapa, metamorfosa.co, morfobiru.com, Majalah Kuntum, Majalah Elipsis, Radar Cirebon, Radar Malang, koran Minggu Pagi, Harian Bhirawa, Dinamika News, Harian SIB, Harian BMR FOX, ,Harian Fajar, koran Pos Bali, dan Riau Pos. Penulis buku antologi puisi tunggal Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam. Salah satu penyair terpilih dalam “Sayembara Manuskrip Puisi: Siapakah Jakarta”. Whatsaap: 087819823958.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here