Riausastra.com – Pada musim yang mulai bersemi, rinai hujan rintik-rintik jatuh perlahan. Bila sudah gerimis, perasaan pun akan terbawa suasana.

Ingin kuceritakan tentang rindu. Dia hadir dalam sunyi. Membelenggu rasa, meski dalam suasana ramai. Lalu, kukatakan selamat tinggal. Namun, dia katakan sampai jumpa. Akhirnya aku tersadar bahwa dia belum benar-benar pergi dariku, tapi aku sudah merindu.

Aku hanyalah seorang Kaca Mayang. Gadis remaja yang mencoba merenda hari-hariku dengan sabar. Ayahku menamaiku dengan indah. Aku tahu, ayahku ingin sekali  agar putrinya bisa secantik dan seistimewa Puteri Kaca Mayang seperti dalam dongeng Asal Mula Kota Pekanbaru.

Kutarik selimut tipis berwarna biru langit. Kututup wajahku dan kupejamkan mataku. Aku ingin mendamaikan hatiku. Meski telingaku, tetap saja tak bisa menghalau bunyi yang singgah padanya.

Andai saja hujan tidak hanya sebatas gerimis, mungkin aku bisa memekikkan suara tangisku agar berlomba dengan suara derasnya hujan. Tapi, aku tak punya pilihan. Seperti malam ini, keributan itu lagi dan lagi kudengar.

“Sebagai seorang ayah, seharusnya Abang bertanggung jawab menafkahi kami. Mayang sudah SMA. Butuh biaya besar untuk menyelesaikan sekolahnya. Paham!”

“Ah, sudahlah! Tidak perlu mengguruiku. Kamu saja yang tidak pernah berterima kasih pada suami. Dikasih berapapun, selalu mengeluh! Bagusnya, aku pergi saja dari rumah ini!”

“Pergi! Pergilah! Aku juga sudah bosan bertengkar terus!”

“Prak!”

Pintu kayu yang mulai reot itu dibanting keras. Suara grasak-grusuk masih mencekam perasaanku. Aku kalut. Pikiranku kacau. Ayah dan ibuku sering sekali bertengkar.

Ada kalanya, aku jenuh dengan semua ini. Tapi, aku bisa apa? Aku hanyalah Kaca Mayang yang malang. Ingin kubela ibuku, ayahku merasa benar. Jika kubela ayahku, ibuku tidak terima. Aku lelah.

Aku bangkit dari tempat tidur kayu ini dan segera keluar dari kamarku. Kubiarkan rambut hitam panjangku terurai menemani wajah senduku. Aku lihat, ayahku sudah mengemasi pakaiannya dan bersiap-siap meninggalkan rumah tua ini.

“Ayah mau kemana?” ucapku parau.

Ayahku menghampiriku, lalu memelukku, dan mengusap kepalaku. Air mataku tumpah dalam dekapannya.

“Jaga diri baik-baik ya,” ucapnya singkat.

Lelaki itu beranjak pergi membawa sepotong hatiku. Dan ibuku, menangis pilu dalam kamar lusuhnya.

Aku terduduk lemas di lantai semen ruang tamu ini. Perasaanku hancur.

            ***

Pagi menjelma. Sesak di dada tak lagi kuhiraukan. Mataku sembab, wajahku memerah. Aku menuju kamar ibuku. Kudapati dirinya rebah membisu, hilang semangat.

“Bu, Mayang pamit ke sekolah,” ucapku pelan.

“Kamu belum sarapan kan?” tanya ibuku dengan mata berkaca-kaca.

Aku diam. Dan langsung meninggalkannya sendirian.

Angin pagi meniup ujung jilbabku. Dingin menusuk pori-poriku. Seperti biasa, aku berjalan menuju bangku sekolah dari sudut kota ini.

Tiba-tiba,

“Mayang!”

Seseorang menegurku dari seberang jalan. Lelaki itu mendekat dan memutar sepeda motornya ke arahku. Aku mengalihkan pandanganku. Antara kikuk dan serba salah. Rizal mendekatiku.

“Kamu tidak diantar?”

Aku menggeleng.

Ayok, ikut aku!”

Aku masih menggeleng dan berusaha menyembunyikan wajahku.

Hey, Kamu menangis?”

Ditanya seperti itu malah membuat air mataku tak bisa kutampung lagi di kelopaknya.

“Apa yang bisa Aku bantu, Mayang?”

“Maaf, Aku sedang ingin sendiri.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan, ya.”

Lelaki berseragam sekolah dengan tema baju melayu itu segera beranjak dari hadapanku.

Aku mengayunkan langkah kakiku dengan sepatu yang mulai menipis telapaknya. Hanya butuh seperempat jam, aku sudah sampai di sekolah, SMA Komite. Bel berbunyi. Dengan sekuat hati, kulepaskan bebanku di gerbang sekolah. Aku tidak ingin melewatkan materi matriks, fisika kuantum, bioteknologi, paragraf, dan seni budaya.

“Kaca Mayang, mohon ke depan kelas,” ucap Bu Lidya.

“Tiurma, Andrea, dan Yurnalis, ke depan kelas juga,” lanjut Bu Lidya, Bendahara SMA Komite.

“Sampai kapan hutang kalian di sekolah ini menumpuk, hah?” Nada suara Bu Lidya mulai meninggi.

Aku tahu, tidak mudah berada di posisi Bu Lidya. Meskipun hampir setiap hari Bu Lidya marah-marah saat menagih utang-utang kami, aku yakin, Bu Lidya tidak benar-benar marah. Bu Lidya hanya menjalankan amanah. Tapi, apalah daya. Sehebat apapun Bu Lidya menghukum dan mempermalukan kami karena hutang-hutang ini, kami hanya bisa pasrah pada keadaan. Seperti kata orang-orang tua, “keras batu lebih keras lagi yang tidak ada”. Batu yang keras, saat dipukul bisa hancur. Akan tetapi, ketidakadaan, mau diapakan juga tetap tidak akan hancur.

Nggak ada duit mamakku, Buk. Kurasa besok, enggak sekolah aku lagi ini. Adek-adekku pun sudah enggak sekolah lagi,” jawab Tiurma dengan logat Bataknya yang khas.

“Tidak punya duit, ya tidak usah sekolah! Suruh orang tuamu bekerja keras! Kalau ada duit, tidak usah beli rokok dulu! Kamu kan sudah kelas dua belas. Sebentar lagi tamat. Kalau hutang-hutangmu tidak secepatnya dilunasi, Kamu tidak bisa ikut ujian akhir kelulusan. Ngerti?” ucap Bu Lidya ketus.

Tiurma menundukkan kepalanya. Air mata perempuan berkulit sawo busuk itu mengalir. Aku merasakan hal yang sama. Hutangku di sekolah hampir lima juta. Uang komite, uang seragam, uang ekskul berenang, dan uang buku latihan cerdas pintar, semua meminta untuk segera dilunasi. Setiap semester, aku disebut sebagai juara kelas. Namun, karena hutang yang belum usai, aku belum pernah sekalipun melihat isi rapor yang katanya berjejer bilangan sembilan, hampir sempurna.

Jam pelajaran usai. Aku mendekati Tiurma. Gadis manis itu masih bersedih. Ternyata Tiurma bisa juga menangis. Padahal, dia gadis yang supel, energik, rajin, dan ramah. Hari ini dia berbeda. 

Benci kali Aku sekolah ini! Suka atinya aja bikin malu orang! Sakit kali hatiku!”ucap Tiurma marah.

“Ststttsss!”, ucapku pada Tiurma.

Seandainya Buk Lidya jadi Aku, kurasa, enggak akan seenaknya atinya ngomong macam-macam. Pakek acara menghina bapak mamakku pulak.”

Aku menatap Tiurma dalam diam. Aku melihatnya sangat terpukul.

Besok, aku enggak sekolah lagi di sini. Di kota ini, uang sekolah mahal kali. Udah enggak kuat mamakku menyekolahkan kami. Adekku aja, udah berenti seminggu yang lalu.”

Aku masih terdiam. Berusaha keras memahami perasaan Tiurma.

Uang seragam sekolah pun pihak SMA Komite yang beli. Aturannya bisa murah kalo kita cari sendiri yang seken di pasar loak. Ini enggak. Wajib beli! Padahal harganya tinggi kali. Enam baju seragam, uangnya sejuta maratus. Jadi dua ratus mapululah sesitel baju sekolah itu. Padahal, kalau beli yang seken atau beli sendiri di pasar, enggak sampe segitu harganya. Belum lagi uang komite. Wajib! Dua ratus sebulan. Beli buku cerdas lagi. Entah yang mana yang katanya sekolah geratis itu,” Tiur meluapkan segala kekesalannya.

Setelah mendengarkan keluh kesah Tiurma, aku dan gadis manis itu beranjak meninggalkan gerbang sekolah yang sudah mulai sepi. Selama dalam perjalanan pulang, ingatan pada kejadian malam tadi kembali menyesakkan dadaku.

Aku masuk ke dalam rumah kayu ini. Sepi. Seperti biasa, ibuku pasti sedang bekerja membantu Bu Sulastri di warungnya menjual nasi ampera.

Tidak berapa lama, ibuku sudah sampai di rumah. Aku mendapatinya berlinangan air mata. Aku mengejarnya ke kamarnya.

“Ibu, kenapa menangis?”

Ibuku masih menangis sambil memeluk bantal. Lalu, ibuku menyerahkan sebuah telepon genggam nonandroid padaku. Aku membuka pesan masuk. Aku dapati pesan dari nomor ayahku.

Ayahku menceraikan ibuku.

“Gelegar!”

Aku seperti disambar petir di siang ini. Mudah sekali ayah dan ibuku melukai perasaanku. Aku langsung beranjak menuju kamarku dan menangis pilu.

“Mayang,” ucap ibuku.

Ternyata ibuku sudah berdiri di sisi pintu kamarku. Aku tak kuat menatapnya. Ada hiba dan rasa marah yang menyatu dalam rongga dadaku. Aku bingung harus memilih hiba atau marah untuk mewakili perasaanku.

“Tadi ayahmu ke warung bersama seorang perempuan. Mereka bilang, dalam waktu dekat mereka akan menikah.”

Tangis ibuku semakin kencang.

“Benar kan kata Ibu. Ayahmu itu tidak bertanggung jawab! Makanya ngasi uang ke Ibu juga separoh-separoh. Ternyata dia bagi dengan perempuan lain!”

Aku merasakan petir yang menyambar tadi semakin keras menyambar-nyambar. Air mataku tumpah. Tidak menyangka jika ayahku yang hanya berprofesi sebagai kuli bangunan itu tega menyakiti perasaanku.

Aku menghabiskan malam bersama kekalutan. Rindu. Ingin rasanya aku bercanda dengan khayalan. Berharap semua ini hanya mimpi di siang bolong. Tapi, ketika perasaan ini sudah lelah menerima kenyataan, akhirnya tidur menjadi obat rindu yang paling mujarab.

***

Aku pamit pada ibuku dan berangkat ke sekolah. Seperti biasa, aku harus melapangkan telinga dan hati saat wali kelas kembali menyinggung soal hutang di sekolah.

Sesampainya di sekolah, aku tak mendapati Tiurma di sana. Kata teman-temanku, Tiurma dan keluarganya pindah ke Sumatera Utara karena di kota ini biaya pendidikan terlalu mahal. Ironis. Tiurma dan adik-adiknya harus berhenti sekolah karena ketiadaan biaya. Mungkin, besok akan jadi giliranku mengikuti jejak Tiurma, meskipun ujian kelulusan tinggal dua bulan lagi.

Sepulang sekolah, seperti biasa, rumah ini tetap saja sunyi. Kehadiran seorang ayah tidak akan kuharapkan lagi. Biarlah rinduku kukunci mati dalam dadaku.

“Mayang! Assalamualaikum,” teriak Tante Darni, tetangga sebelah, dengan panik.

“Waalaikumsalam, Nte,” jawabku ikut panik.

“Ibumu jatuh dari motor. Sekarang lagi di puskesmas. Ayok, Nte antar ke puskesmas,” ujar Tante Darni.

Sesampainya di puskesmas, aku langsung memeluk ibuku. Perempuan ini begitu rapuh. Aku berusaha menguatkannya agar semangatnya tidak berpatah arang.

Ibuku kecelakaan tunggal saat akan menjemput anak Bu Sulastri ke sekolah. Motor Bu Sulastri lecet dan kaki ibuku terkilir. Ibuku meringis kesakitan. Saat diajak ke rumah sakit untuk melakukan ronsen dan tindakan medis, ibuku menolak karena tidak punya biaya sama sekali.

Akhirnya ibuku dibawa ke dukun patah. Malamnya, ibuku sudah bisa dibawa pulang ke rumah.

Aku menyuapkan air putih dan bubur nasi ke mulut ibuku. Wajah, tangan, bibir, dan kakinya masih banyak luka segar. Apapun yang kurasakan detik ini, aku harus kuat agar ibuku juga kuat.

Sudah seminggu aku tidak berangkat ke sekolah. Harapan lulus dengan nilai memuaskan telah kukubur dalam-dalam. Aku fokus merawat ibuku dan sudah pasti tidak akan ada harapan untuk melunasi hutang-hutang di sekolah karena untuk sementara ibuku sudah tidak bekerja lagi di warung bu Sulastri.

Siang itu, Rizal, Ayu, Dyan, dan Rina bertamu ke rumahku. Sambil membesuk ibuku, mereka menguatkanku agar tetap bersekolah. Aku hanya tertunduk tanpa sepatah katapun. Luka ini terlalu mahal untuk kutebus. Dan, teman-temanku pasti tidak akan mengerti.

***

Keesokan harinya aku berangkat sekolah setelah menyiapkan nasi goreng buat ibuku. Aku memang tak punya banyak pilihan. Aku sudah putuskan untuk tidak bersekolah lagi dan akan menggantikan ibuku di warung Bu Sulastri. Tapi, ibuku marah pada keputusanku. Akhirnya, aku tetap berangkat ke sekolah hanya untuk membahagiakan ibuku. Tak lebih.

Aku tidak benar-benar pergi ke sekolah. Aku membelokkan jalan menuju pasar kota dengan menaiki angkot. Di sana ada toko buku. Aku sering sekali mengisi waktu di toko buku itu. Tentu saja bukan untuk membeli buku, tapi hanya sekadar membaca dan mengobati setiap kegundahanku. Di toko buku ini disediakan buku-buku yang boleh dibaca oleh pengunjung. Selain itu, di ruangan yang cukup luas ini disediakan sofa untuk pembaca dan ruang salat yang nyaman.

Telepon genggam milik ibuku berdering. Aku memang sengaja membawanya untuk berjaga-jaga, manatau ibuku memerlukanku sewaktu-waktu, dan ibuku bisa meminta tolong pada Tante Darni untuk meneleponku.

Ternyata panggilan ini dari Rizal. Awalnya aku ragu mengangkat panggilan ini. Setelah tiga kali berdering, akhirnya aku mengangkat handphone jadul ini.

Rizal kembali menanyakan kabarku dan kenapa belum juga masuk sekolah. Tidak berapa lama, Rizal menghampiriku ke toko buku dan memberikan selebaran tentang lomba menulis karya ilmiah dalam rangka peringatan Bulan Bahasa.

“Semua orang tahu, Kamu berbakat menulis, Mayang,” ucap Rizal dan langsung beranjak pergi.

Keesokan harinya, aku benar-benar berangkat sekolah dan setelahnya kembali mampir ke toko buku. Aku membaca dan menyalin poin-poin penting sebagai referensi yang kuabadikan dalam karya ilmiah.

Karya ilmiah yang kutulis, segera kukirim ke panitia lomba Bulan Bahasa. Seminggu sudah aku kembali bersekolah. Tapi, tagihan horor tentang utang-utang di sekolah kembali menerorku. Ancaman demi ancaman kembali tertuju padaku.

Malam ini, aku larutkan semua gundah di atas sajadah lusuh pemberian ayahku. Aku tak ingin mendahului takdir-Nya dengan prasangka-prasangka burukku. Lalu, penat ini pun segera meluruh.

Paginya aku kembali ke sekolah dengan semangat yang baru. Tapi, tiba-tiba saja semangat itu pupus di telan waktu. Karya ilmiah yang aku kirimkan tidak masuk sebagai pemenang. Aku sudah membayangkan, seandainya hadiah lima juta rupiah itu menjadi milikku, impian untuk menuntaskan masa SMA ini akan tidak hanya sebatas angan-angan. Tapi, apalah daya.

Aku pulang. Kudapati ibuku yang masih terbaring lemas. Kuusap keningnya dan kuhaturkan maaf dari lubuk hati yang paling dalam.

Hari demi hari berganti senja. Setiap senja tiba, hasratku pun semakin memudar. Hilang dan larut di temaramnya langit malam. Potret anak negeri telah mengalir dalam kisahku. Lalu, aku semakin tertunduk bisu. Bisa apa aku pada mahalnya pendidikan di kota ini?

“Mayang, sekarang sibuk di sini kah?” tanya Rizal.

Aku beranjak menuju dapur warung. Berusaha menyibukkan diri agar terhindar dari Dyan, Ayu, dan Rizal. Aku sibuk. Aku sibuk sekali. aku sibuk sekali dengan perasaan dan nasibku. Warung Bu Sulastri adalah pilihan terakhir bagiku.

***

Catatan : Cerpen ini dimuat di Lancangkuning.com, media online terverifikasi Dewan Pers. pada tanggal 4 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here