Foto: Net

Riausastra.com – Pada abad ke-18 Belanda memasuki Indonesia dengan tiga tujuan, yaitu: menguasai kekayaan alam Indonesia, memperluas wilayah jajahan, dan menyebarkan agama Nasrani. Ketiga tujuan ini diberi istilah gold, glory, dan gospel. Belanda melihat bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat kaya sehingga jika dikuasai akan memberikan kemakmuran bagi negeri Belanda. Hal ini sesuai dengan tulisan Hutauruk (2020: 23) yang menyebutkan bahwa tujuan bangsa Barat mendatangi Nusantara, salah satu di antaranya adalah adanya ambisi untuk melaksanakan semboyan 3-G, yaitu gold (mencari emas atau kekayaan), glory (mencari keharuman nama, kejayaan, dan kekuasaan), dan gospel (menunaikan tugas suci menyebarkan agama Nasrani).

Untuk mewujudkan tujuan di atas, Belanda juga menggencarkan upaya yang dikenal dengan istilah divide and rule. Menurut Suryanegara (2014:79) divide and rule adalah taktik pecah belah untuk dikuasai untuk meretakkan hubungan baik antara penganut agama Hindu, Budha dengan umat Islam. Dari perpecahan ini akan dikembangkan penjajahan dengan target menghilangkan warisan para pendahulu, menghapus toleransi. Setelah terjadi perpecahan, selanjutnya Belanda akan menguasai Nusantara.

Tahun 1830 Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya sebesar 20% untuk ditanami komoditas ekspor, khususnya tanaman tebu, kopi, teh, dan tarum (nila). Hasil kebun akan dijual kepada Kolonial Belanda dengan besar harga yang ditentukan oleh Belanda. Sedangkan keuntungan dari penjualan tersebut dikuasai oleh Belanda.

Bagi penduduk pribumi yang tidak memiliki tanah, maka penduduk desa harus bekerja dengan cara cultuurstelsel atau sistem tanam paksa. Penduduk pribumi diwajibkan bekerja selama 75 hari dalam setahun di kebun- kebun yang dikuasai oleh para penjajah.

Sistem tanam paksa merupakan era paling kejam yang dilakukan oleh Belanda kepada rakyat pribumi khususnya di daerah Lebak, Banten, untuk meraup keuntungan besar bagi kesejahteraan Belanda. Tidak heran jika pada tahun 1835 sampai dengan 1940 merupakan masa keemasan bagi Kolonial Hindia Belanda (Sukardi, 2014).

Sistem tanam paksa yang diterapkan oleh Belanda terhadap pribumi memiliki dampak negatif yang sangat dominan. Seperti pendapat Robert van Niel dalam Anne Both (1988:118) menjelaskan bahwa sistem tanam paksa telah menghancurkan desa-desa di Jawa, karena telah memaksa mengubah hak kepemilikan tanah desa menjadi milik bersama dan dengan demikian merusak hak-hak perorangan yang lebih dulu atas tanah. Perubahan dalam sistem kerja juga telah memperkenalkan sistem ekonomi uang ke dalam lingkungan kehidupan pedesaan agraris

(Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo, 1991:68). Selain itu, Eksploitasi lewat sistem tanam paksa yang bersifat brutal, mengakibatkan keluarga petani di Jawa menderita kemiskinan dan kelaparan. Struktur sosial dan ekonomi Jawa nyaris dihancurkan. Teori involusi pertanian Clifford Geertz yang menjelaskan proses kemiskinan struktural di Jawa tampak relevansinya. Pertambahan penduduk Jawa, berkurangnya lahan pertanian dan perluasan perkebunan Eropa menjadi penyebab kemiskinan di Jawa. (Kurniawan, 2014: 171).

Akan tetapi, dibalik kejamnya sistem tanam paksa yang dirasakan oleh petani, namun terdapat efek positif yang dirasakan oleh masyarakat pribumi dari kegiatan tanam paksa. Efek positif tersebut adalah lahirnya sistem administrasi pemerintah yang lebih baik. Selain itu, kerja paksa telah memperkenalkan masyarakat pribumi pada perdagangan internasional dan tanaman-tanaman berkualitas ekspor. Hal ini sesuai dengan pendapat Sartono Kartodirdjo dan Djoko Suryo (1991:69) ada beberapa hal positif dari pelaksanaan sistem tanam paksa, antara lain terjadinya pembaruan dalam sistem administrasi pemerintahan desa. Secara tidak langsung, pelaksanaan

tanaman paksa juga telah memperkenalkan teknologi baru, terutama dalam pengenalan bibit-bibit tanaman perdagangan, seperti tebu, indigo, dan tembakau, beserta cara tanamnya. Pada akhirnya, sistim ekonomi  modern yang muncul akibat dari tanam paksa mendorong Jawa semakin terlibat dalam perdagangan internasional karena pertumbuhan yang mantap dibidang ekspor,  walaupun disisi lain telah mengekspolotasi  sistim  ekonomi subsistens yang menjadi basis ekonomi kaum tani.

Kerja paksa yang pada akhirnya melahirkan kerja rodi terpaksa dilakukan oleh penduduk pribumi tanpa diberi upah yang layak sehingga membuat kehidupan penduduk semakin sengsara. Kolonial Belanda mewajibkan penduduk untuk kerja rodi membangun infrastruktur seperti: jalan raya, waduk, jembatan, rumah-rumah pesanggrahan untuk tentara Kolonial. Selain itu, para penduduk Pribumi dijadikan sebagai budak yang akan melakukan berbagai pekerjaan untuk kepentingan Kolonial. Akhirnya, busung lapar terjadi dimana-mana.

Melihat kondisi tersebut, muncullah berbagai penolakan dari berbagai pihak. Penolakan tersebut mengecam tindakan yang dilakukan oleh penjajah Belanda yang telah mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Penolakan tersebut berasal dari:

  • Golongan Pengusaha

Golongan ini menghendaki kebebasan berusaha. Mereka menganggap bahwa tanam paksa tidak sesuai dengan ekonomi liberal.

  • Isaac Dignus Fransen van der Putte

Seorang Menteri Urusan Tanah Jajahan yang diturunkan jabatannya karena dikatakan sebagai penentang sistem tanam paksa (Breman, 2014:3)

  • Eduard Douwes Dekker

Eduard Douwes Dekker adalah seorang pejabat Belanda yang pernah menjadi Asisten Residen Lebak (Banten). Multatuli yang merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker, menunjukkan perlawanannya terhadap kebijakan Belanda tentang tanam paksa yang dibebankan kepada rakyat pribumi. Oleh sebab itu, Multatuli (1860) dalam bukunya yang berjudul Max Havelaar, menuliskan tentang penderitaan masyarakat Lebak, Banten Selatan. Multatuli menganggap bahwa Nusantara merupakan jamrud khatulistiwa yang indah. Akan tetapi, kemegahan itu kontras dengan kondisi sosial masyarakatnya.

Dari berbagai penolakan di atas, upaya Eduard Douwes Dekker tetap dikenang oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini. Tidak hanya di Indonesia bahkan di dunia, Eduard Douwes Dekker dikenal sebagai pihak yang menentang tanam paksa yang dilakukan penjajah Belanda di Indonesia.

Penolakan terhadap tanam paksa disuarakan oleh Eduard Douwes Dekker dalam novel Max Havelaar dengan tema cerita tentang tanam paksa. Eduard Douwes Dekker menulis novel tersebut dengan mencantumkan nama pena Multatuli.

Multatuli merupakan nama pena dari seorang pegawai Belanda yang mahir sekali menulis karya sastra. Nama Multatuli diambil dari bahasa Latin yang berarti “banyak yang sudah aku derita”.

Eduard Douwes Dekker dengan Nama Pena Multatuli

Penulis yang memiliki nama asli Eduard Douwes Dekker terinspirasi membuat novel Max Havelaar. Eduard Douwes Dekker lahir di Amsterdam pada 2 Maret  1820 dari seorang ayah yang merupakan kapten kapal besar dengan penghasilan keluarga yang mapan sehingga keluarga tersebut juga merupakan keluarga berpendidikan.

Di saat masih duduk di bangku sekolah, Eduard Douwes Dekker merupakan anak yang cerdas. Akan tetapi, semangat belajarnya mulai turun sehingga ayahnya mengeluarkannya dari sekolah dan menjadikannya sebagai pegawai kecil di kantor perusahaan tekstil yang masih kecil. Selama empat tahun berada di kantor kecil tersebut, Eduard mulai merasakan bagaimana menjadi orang miskin yang termarginalkan.

Pada tahun 1839 Eduard Douwes Dekker tiba di Batavia. Selama di dalam kapal milik ayahnya, dia bekerja sebagai kelasi yang belum memiliki pengalaman. Tidak berapa lama, Eduard Douwes Dekker bekerja menjadi seorang pegawai negeri (ambtenaar) di Kantor Pengawasan Keuangan Batavia. Tiga tahun kemudian, Eduard dikirim  ke Kota Natal yang sangat terpencil sebagai seorang kontroler.

Sebagai seorang ambtenaar di daerah terpencil, Eduard Douwes Dekker sangat menikmati pekerjaannya. Akan tetapi, Eduard Douwes Dekker tidak bersungguh- sungguh dalam menjalankan tugasnya di pemerintahan sehingga terjadi kerugian pada kas pemerintahan. Oleh karena itu, Eduard Douwes Dekker kembali ke Batavia dan mendapatkan tugas baru di Batavia.

Dalam perjalanan karirnya, Eduard Douwes Dekker mendapatkan tugas baru di Lebak, Banten. Eduard mendapati kondisi masyarakat pribumi yang dijadikan sebagai buruh paksa untuk memenuhi kehidupan Bupati Lebak yang hidupnya berfoya-foya. Bupati bahkan melakukan pemerasan terhadap pribumi dengan meminta secara paksa hasil pertanian dan hasil ternak milik pribumi.

Melihat kejahatan yang dilakukan oleh Bupati Lebak dan keluarganya terhadap kaum pribumi, Eduard mengirimkan surat kepada atasan residennya dengan penuh emosi. Eduard meminta agar Bupati Lebak dan putra- putranya ditahan untuk memperbaiki situasi di Lebak. Ternyata, meskipun permohonan Eduard telah sampai kepada Gubernur, tetap saja keinginan Eduard tersebut ditolak. Akhirnya, Eduard Douwes Dekker mengundurkan diri dari pekerjaannya karena bentrok dengan atasannya. (Sumber: https://id.m.wikipedia.org) .

Novel Max Havelaar Karya Multatuli

Pada tahun 1875, Eduard Douwes Dekker membuat sebuah karya berjudul Max Havelaar dengan nama samaran “Multatuli”. Di dalam novel tersebut, Multatuli menceritakan tentang penderitaan yang dialaminya serta penderitaan yang dialami oleh masyarakat pribumi selama penjajahan Kolonial Belanda.

Karya-karya Multatuli telah menjadi motivasi bagi para Sastrawan Indonesia, misalnya Angkatan Pujangga Baru untuk bangkit dan menyuarakan penderitaan rakyat melalui tulisan dan karya-karya sastra. Akhirnya tumbuhlah semangat kebangsaan untuk menentang kebiadaban Belanda dengan lahirnya pemberontakan-pemberontakan.

Karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handel maatschappy menggambarkan tentang seorang tokoh utama yang bersikap idealis dan sangat menentang kekuasaan feodalisme yang selalu menyiksa rakyat jelata. Novel Max Havelaar akhirnya populer di berbagai dunia dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

Sinopsis Novel Multatuli dengan Judul Max Havelaar

Karya fenomenal yang berjudul Max Havelaar berisi tentang kisah seorang tokoh yang sangat kumuh dan tokoh tersebut memakai syal. Dengan ciri khas tokoh tersebut yang selalu memakai syal, Oleh sebab itu, dia disebut dengan Sjaalman.

Pada suatu kesempatan, Sjaalman bertemu dengan seorang Makelar Kopi yang kaya raya di Amsterdam. Makelar kopi tersebut bernama Batavus Droogstoppel yang merupakan teman lama dari lelaki kumuh dan bersyal tersebut. Sjaalman baru saja datang dari Negeri Timur.

Batavus mengetahui bahwa Sjaalman memiliki banyak sekali tulisan yang bertema tentang kopi. Karena Batavus melihat tulisan-tulisan tentang kopi tersebut bisa mendatangkan keuntungan bagi usahanya, maka lelaki tersebut meminta untuk mempublikasikan tulisan-tulisan Sjaalman dengan harapan bisa memperkenalkan kopi ke berbagai penjuru.

Pada beberapa naskah tentang kopi tersebut, Batavus menemukan cerita tentang “kekejaman” yang dialami oleh sebuah bangsa karena penerapan sistem tanam paksa yang dilakukan oleh Tentara Belanda. Masyarakat pribumi yang menjadi wilayah jajahan tersebut hidup dengan penuh penindasan, kelaparan, kesengsaraan, dan kemiskinan.

Dari resensi novel Max Havelaar karya Multatuli di atas, maka timbullah gejolak di dalam negeri Belanda dan  di luar negeri. Banyak petinggi Belanda yang menganggap bahwa karya sastra yang ditulis oleh Multatuli tersebut merupakan rekayasa dengan isi cerita yang dilebih-lebihkan.

Multatuli tetap bertahan dengan fakta-fakta sejarah yang dijadikannya sebagai tema cerita di dalam novel Max Havelaar. Multatuli sangat menentang kekejaman yang dilakukan oleh bangsanya sendiri terhadap kaum pribumi. Oleh karena itu, Multatuli siap menghadapi bangsanya sendiri yang tidak menerima karyanya tersebut.

Dengan tersebarnya kekejaman Belanda tersebut ke seluruh penjuru dunia, maka Belanda pada tahun 1901 di

bawah kepemimpinan Ratu Wilhelmina membentuk sebuah “politik etis”. Tujuan diadakan politik etis adalah sebagai bukti balas budi dari Belanda terhadap Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dibuatlah tiga kebijakan baru, yaitu: pendidikan, pengairan, dan perpindahan penduduk (Ricklefs, 2008: 328).

Ternyata, kebijakan-kebijakan yang sudah disepakati bersama disalahgunakan oleh Belanda. Irigasi yang dibangun hanya menguntungkan perkebunan- perkebunan milik Belanda. Sedangkan imigrasi dilakukan dengan cara memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda dan dijadikan sebagai pekerja rodi.

Sedangkan bidang edukasi benar-benar diselenggarakan oleh Belanda dengan cara membangun sekolah-sekolah untuk kaum priyayi atau kaum bangsawan. Para kaum bangsawan yang bersekolah tersebut dijadikan sebagai pegawai-pegawai di perkantoran milik Belanda.

Akan tetapi, kesadaran dalam memperoleh ilmu dan pendidikan tersebut membuat para kaum terpelajar terinspirasi untuk bangkit dari penjajahan dan mulai menularkan sikap patriotisme untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dan segera mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi.

Upaya dari pribumi untuk menentang pemberontakan Belanda sebagai wujud tuntutan kepada penjajah tentang “memanusiakan manusia”. Seperti pendapat Arifin (1996:26) bahwa manusia itu sama kedudukannya terhadap sesama manusia. Sejarah dari berbagai bangsa banyak memberikan contoh bahwa jika penguasa membuat masyarakat kacau dengan kebijakan yang dibuatnya, itu pertanda bahwa lambat laun sang penguasa akan tersingkir dengan pemberontakan- pemberontakan masyarakat.

Di Indonesia Novel Max Havelaar karya Multatuli dianggap sebagai bagian dari perisai dalam mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini dingkapkan oleh beberapa sastrawan dalam berbagai tulisan. Di antaranya: Sastrowardoyo (1983, hlm. 44) menuliskan bahwa buku ini telah membuka perhatian masyarakat Belanda tentang kecurangan dan tindakan pemerintah Belanda yang mendatangkan kesengsaraan sehingga pada tahun 1870 sistem cultuurstelsel (tanam paksa) yang telah ada sejak tahun 1830 dihapuskan. Selanjutnya Pramoedya Ananta Toer menuliskan bahwa dirinya yang menganggap Multatuli sebagai bapak spirit kebangkitan nasionalisme, menilai novel Max Havelaar sebagai novel yang memperlihatkan sisi kemanusiaannya (Ubaidillah: 2016).

Kesimpulan

Pemaparan tentang karya sastra yang berjudul Max Havelaar karya Multatuli merupakan salah satu bukti sejarah tentang kekejaman penjajah Belanda terhadap bangsa Indonesia. Untuk menguntungkan Negeri Belanda, penjajah membuat kerja paksa (rodi) yang menyisakan kesengsaraan, kelaparan, dan penindasan terhadap pribumi.

Dengan lahirnya novel karya Multatuli tersebut membuat Belanda merasa harus balas budi pada Bangsa Indonesia. Lalu, Pemerintah Belanda membuat kebijakan “politik etis” yang membuat rakyat Indonesia mulai mengenal pendidikan sehingga lahirlah rasa patriotisme untuk meraih kemerdekaan.

Catatan: Artikel ini telah dibukukan dalam antologi bersama dengan judul buku “Menyisir Catatan Sejarah Sastra” dengan ISBN: 978-623-7959-22-9

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here