Tidak ada anak yang gagal di muka bumi ini. Yang ada hanyalah anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari orang tua yang baik!

Riausastra.com – Kalimat bijak di atas adalah cermin yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengevaluasi diri bagi setiap orang tua melalui sebuah pertanyaan, “Sudahkah kita menjadi orang tua yang baik untuk anak kita?”. Setiap orang tua pasti sepakat bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga, dididik dengan cinta, dibesarkan dengan kasih sayang, dan diberikan hak-haknya.

Suasana di masa pandemi telah mengubah hampir seluruh tatanan kehidupan manusia, baik dari segi sosial, akademik, ekonomi, kesehatan, bahkan spiritual. Seluruh sendi kehidupan berubah drastis, terutama di bidang pendidikan. Jika selama ini konsep belajar-mengajar dilaksanakan dengan cara tatap muka (luring atau luar jaringan) antara peserta didik dan tenaga pendidik, maka dengan kemunculan virus korona konsep belajar harus dilaksanakan dengan cara daring (dalam jaringan). Dengan demikian, sekolah-sekolah terpaksa harus ditutup untuk memutus penyebaran virus korona.

Tidak bersekolah, bukan berarti tidak melaksanakan proses belajar-mengajar. Selama ini, yang berperan aktif dalam kegiatan belajar-mengajar adalah guru dengan siswa. Dengan masa pandemi ini, peran orang tua dituntut lebih banyak agar meluangkan waktu saat mendampingi anak belajar di rumah karena metode belajar telah berubah, yaitu metode belajar di rumah.

Untuk memfasilitasi kegiatan belajar-mengajar di rumah, pemerintah tidak tinggal diam. Melalui kegiatan-kegiatan webinar yang dilaksanakan oleh Kemendikbud merupakan salah satu wujud kepedulian pemerintah agar proses belajar mengajar tetap terlaksana. Salah satu webinar yang dimaksud berjudul Webinar 8: Mengelola Pembelajaran Adaptif, Fleksibel, dan Akomodatif dan dilaksanakan pada Sabtu, 22 Agustus 2020 pukul 10.00 WIB oleh Pusat Penguatan Karakter, Kementerian Pendidikan Republik Indonesia.

Webinar ini menampilkan berbagai animasi dan video pendek yang menunjukkan bahwa kondisi masa pandemi adalah kondisi yang tidak biasa. Interaksi harus berjarak, kesehatan rentan terpapar virus korona, ekonomi anjlok karena pembatasan sosial, pengangguran meningkat tajam, bahkan pendidikan tidak lagi menjadi hal yang prioritas. Melalui literatur-literatur yang ada menunjukkan bahwa kesedihan telah menguasai psikologis banyak orang.

Akan tetapi, haruskah kesedihan dibiarkan merantai kehidupan? Seharusnya tidak! Setiap manusia telah Allah ciptakan untuk memiliki motivasi untuk mendorong keinginannya agar bisa bangkit dari kesedihan. Melalui webinar 8 ini, Kemendikbud mengingatkan kembali bahwa segala permasalahan dapat diselesaikan dengan cara bergotong-royong sesuai dengan teks Pancasila, sila kelima yang berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dengan demikian, persatuan dan kesatuan akan terlaksana karena telah bersama-sama satu rasa melaui jargon “Aku, kamu, dia, dan Pancasila”.

Lalu, bagaimana cara untuk menumbuhkan minat belajar anak pada masa pandemi?

A. Bangun Literasi Keluarga

Kecakapan literasi membangun kecakapan hidup yang meningkatkan ketahanan peserta didik untuk melalui masa pandemi (Sofie Dewayani, Satgas Literasi Sekolah Kemendikbud). Dari pemaparan di atas, setiap keluarga bisa mempergunakan kecakapan literasi pada masa pandemi ini untuk menyesuaikan kebutuhan anak dalam pemenuhan pendidikannya. Melalui membaca, orang tua dan anak bisa memperoleh informasi penting tentang upaya untuk bertahan hidup pada masa sulit seperti saat ini. Selain itu, lewat membaca anak dan orang tua akan belajar mengelola emosional dan melatih psikologi untuk segera beradaptasi dengan kondisi pandemi.

Mengingat perkembangan teknologi telah menjamur, maka penggunaan gawai bukan lagi sebuah hal baru bagi anak. Oleh sebab itu, orang tua perlu mendampingi anak untuk memilih konten yang edukatif dan sesuai dengan perkembangan jenjang pembelajaran si anak di sekolah. Melalui Satgas Literasi Kemendikbud, telah banyak disediakan buku-buku elektronik bergambar untuk memudahkan anak dalam memahami isi bacaan. Sedangkan untuk anak usia pramembaca, maka peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membacakan cerita untuk anaknya.

Dengan membacakan cerita untuk anak, maka emosional antara anak dan orang tua akan terjalin kuat. Bahkan anak akan memahami bahwa orang tuanya selalu ada untuknya.

B. Bangun Kesehatan Mental Keluarga

Pandemi tidak hanya berimbas pada psikologi anak. Psikologi orang tua dan peserta didik juga merasakan efek dari pandemi. Oleh sebab itu, penting sekali bagi setiap keluarga untuk membangun kesehatan mental keluarga. Cara yang paling utama adalah mendekatkan diri pada Allah sebagaimana bunyi Pancasila ayat pertama, “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Kemudian, turunkan standar ego di rumah dan tingkatkan kesabaran. Artinya, orang tua harus bijak memilih hal yang lebih prioritas dalam keluarga, misal: kesehatan jasmani dan rohani. Orang tua harus memahamkan anaknya tentang pola hidup bersih dan sehat dengan cara pendekatan, ajakan, rayuan, dan kelemahlembutan. Dengan demikian, anak akan merasa bahwa sahabat terbaik bagi dirinya adalah orang tuanya sendiri.

C. Terapkan Relaksasi Pembelajaran

Pembelajaran yang menyenangkan dapat diterapkan kepada peserta didik di masa pandemi. Langkah utama adalah melakukan assesment kepada orang tua dan anak. Pihak sekolah harus memahami kondisi dan latar belakang keluarga setiap peserta didik. Dengan demikian, kebutuhan setiap peserta didik akan bisa disesuaikan dengan perangkat pembelajaran yang ada.

Kemudian, persiapkan perangkat ajar sesuai dengan Keputusan Mendikbud Nomor 719/P/2020 Fleksibilitas, terdapat tiga pilihan dalam pemilihan kurikulum yang menjadi acuan dalam pelaksanaan pembelajaran dalam kondisi khusus, yaitu:

  • Merujuk pada KD utuh yang tertuang dalam Permendikbud no 37/2018 dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi;
  • Merujuk pada penyedehanaan KD yang tertuang dalam Surat Keputusan Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Nomor 018/H/KR/2020;
  • Melakukan pemetaan, analisis, dan penyederhanaan KD secara mandiri dan menitikberatkan pada pemahaman mendalam.

D. Pembelajaran Jarak Jauh

Metode pembelajaran jarak jauh disampaikan melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 yang berisi:

  • Memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum kenaikan kelas maupun kelulusan.
  • Memfokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19.
  • Memberikan variasi aktivitas dan tugas pembelajaran belajar dari rumah antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar dari rumah.
  • Memberikan umpan balik terhadap bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah yang bersifat kualitatif dan berguna bagi guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kualitatif.

Merujuk pada metode pembelajaran jarak jauh di atas, Kemendikbud telah menyediakan metode belajar gratis dan menyenangkan melalui Rumah Belajar Kemendikbud. Aplikasi ini telah menciptakan beberapa fitur yang sangat mudah diakses dan digunakan sesuai dengan jenjang perkembangan peserta didik, seperti: Lab Maya, Bank Soal, Peta Budaya, Kelas Maya, Buku Sekolah Elektronik, Karya Guru, Karya Komunitas, Karya Bahasa dan Sasrta. Semua fitur ini bisa didaptkan melalui situs belajar.kemdikbud.go.id.

E. Berikan Lingkungan yang Kondusif

Saat belajar di rumah, orang tua harus memberikan suasana yang kondusif bagi anaknya. Suasana yang kondusif tidak selalu suasana yang tenang dan nyaman. Semua tergantung pada ekologi tempat anak tersebut dibesarkan. Misalnya: anak dibesarkan di lingkungan terminal atau pasar. Suasananya pasti selalu ramai dan berisik. Kondisi ini bisa saja nyaman bagi anak yang sudah terbiasa dan beradaptasi dengan lingkungannya sejak kecil.

Materi yang harus tetap diajarkan kepada anak adalah langkah nyata penanganan pandemi dan pembiasaan pola hidup bersih dan sehat dimulai dari sendiri, dimulai dari hal terkecil, dan dimulai dari sekarang. Tentu saja kebaikan ini akan berlanjut dari setiap keluarga dan akan menjadi sebuah kebiasaan di masa yang akan datang.

F. Latih Anak Belajar Mandiri

Cara melatih anak belajar mandiri dilakukan dengan tiga hal sesuai dengan pendapat Bu Vera, Psikolog Anak dan Keluarga, yaitu:

  • Autonomy

Metode ini memberikan kebebasan kepada anak untuk memutuskan cara belajar yang dia butuhkan. Berikan juga kebebasan kepada anak untuk memilih materi pembelajaran yang ingin digarap terlebih dahulu sesuai dengan keinginannya.

  • Mastery

Belajar dari kebiasaan anak saat bermain games. Anak biasanya akan memainkan games dimulai dari permainan yang tingkat kesulitannya rendah dan dilanjutkan dengan tingkat kesulitan menengah, sampai pada tingkat kesulitan yang jauh laebih menantang. Demikian halnya ketika belajar di rumah. Orang tua selayaknya memberikan pandangan kepada anak untuk memulai pembelajaran yang dianggap lebih mudah. Jika anak berhasil menyelesaikan sebuah tantangan kecil, maka adrenalinnya akan memicu keinginannya untuk  melanjutkan tantangan berikutnya. Hal ini akan menumbuhkan minat belajar anak karena diberi kesempatan untuk merasakan keberhasilan.

  • Relatednes

Metode relatednes adalah upaya seorang ibu dalam mengawali kedekatan secara psikologis dengan anaknya. Cara paling efektif adalah menyebut nama si anak dan disertai dengan tatapan kasih sayang bahkan dilanjutkan dengan sapaan. Dengan demikian, anak akan merasa tersanjung dan bahagia. Apabila anak merasa bahagia setiap hari, tidak akan sulit untuk membuatnya bergairah belajar.

G. Ibu Adalah Guru Pertama

Peran seorang ibu tidak bisa dipisahkan dari pembentukan karakter anak. Perjuangan seorang ibu dalam mendidik anak ibarat kata pepatah, “apa yang ditanam itu yang akan dituai”. Setiap kebaikan yang diajarkan oleh seorang ibu kepada anaknya, suatu saat nanti kebaikan itu akan dirasakan kembali oleh ibu tersebut. Tidak hanya ibu yang akan merasakan, bahkan efeknya bisa pada seluruh dunia, seperti kata-kata bijak berikut:

“The mother is the first teacher of the child. The massage she gives that child, that child gives to the world.”

Malcom X.

“Ibu adalah guru pertama bagi anak. Pesan yang diberikan ibu kepada anaknya, maka anak akan menyampaikan pesan kebaikan itu kepada dunia.”

Malcom X.

H. Metode Pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Masa Khusus

Ketika mendampingi anak normal, tetap tidak terlepas dari rintangan. Apalagi saat mendampingi anak berkebutuhan khusus di masa pandemi, tentu akan lebih banyak rintangan yang dihadapi oleh para peserta didik. Akan tetapi, semangat untuk mencerdaskan anak bangsa, Fandy Dawenan, Guru Pendidikan Khusus Berprestasi, tetap melaksanakan proses belajar mengajar dengan cara assesmen kebutuhan siswa, melibatkan orang tua dalam menuntaskan pembelajaran dalam modul, serta melakukan kunjungan ke rumah siswa dengan diawali persetujuan orang tua serta tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Dengan menerapkan seluruh komponen belajar mengajar yang disampaikan lewat webinar, maka upaya ini diharapkan menjadi cara jitu untuk mennumbuhkan minat belajar anak pada masa yang khusus seperti saat ini. Tentu saja peran serta antara orang tua, tenaga pendidik, peserta didik, dan pemerintah sangat berkaitan erat. Melalui sinergitas ini, maka akan tercipta pendidikan yang cerdas berkarakter.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here