Ilustrasi: net

Hujan Bulan Juli

(Mengenang Sapardi Djoko Damono)

Tidak ada yang lebih menyita rasa
Dari hujan bulan Juli
Dibiarkannya daun-daun hijau nan berseri
Basah bersama kerinduan

Tidak ada yang lebih membuat lara
Dari hujan bulan Juli
Dihapusnya retak-retak kebisuan angin malam
Bersenandung di antara nyanyian duka

Tidak ada yang lebih indah
Dari hujan bulan Juli
Dibiarkannya getar-getar aksara
Terangkai merdu bersama air mata

Tidak ada yang lebih suka cita
Dari hujan bulan Juli
Dihapusnya kepingan-kepingan waktu
Diubahnya menjadi serpihan kenangan

Tidak ada yang lebih rinai
Dari hujan bulan Juli
Dibiarkannya kesedihan merantai hati
Ditabur doa tersebut sebuah nama

Tidak ada yang lebih abadi
Dari hujan bulan Juli
Dihapusnya jejak-jejak sang penyair
Diabadikannya dalam karya-karya nan agung

7 COMMENTS

  1. Sedih banget rasanya, sang maestro meninggalkan dunia sastra. Walau jasad tak bersama lagi, tapi percayalah dalam bait-bait karya masih hadir sosok Eyang Sapardi 🙂

  2. Eyang Sapardi merupakan salah satu orang yang memeperkenalkan saya pada sastra puisi. Lewat buku “Yang Fana adalah waktu”. Semoga sajak dan kalimat menjadi doa untuk Eyang

    Btw puisi mengenang Sapardi bagus ka Listi.

  3. Puisinya mengena bangett.. Karya-karya beliau juga sangat bagus.. Banyak orang-orang pentinng dan ternama Indo yang meninggal 2020 ini, salah satunya Bapak Sapardi Djoko. Semoga beliau tenang disana.. Aamiin

  4. Hujan buni juli ataukah hujan bulan juni?
    Sapardi memang seniman sastra sekaligus kritikus sastra Indonesia yang saya kagumi. Meskipun saya hanya bisa membaca karya-karyanya di koran.
    Sukses selalu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here