Riausastra.com – Peradaban pertama kali diawali pada masa Yunani Kuno pada abad ke-8 SM. Peradaban Yunani kuno merupakan peletak dasar peradaban dan diduga telah mengenal kegiatan menulis. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan naskah kerajaan serta kegiatan surat-menyurat untuk kepentingan kerajaan, khususnya di kerajaan-kerajaan Mesir kuno.

Tujuan manuskrip pada era Yunani Kuno adalah sebagai sumber ilmu pengetahuan dan sebagai upaya meningkatkan perekonomian dengan komoditas perdagangan. Hal ini ditandai dengan keberadaan Perpustakaan di Alexandria (Iskandariyah) yang masih menyimpan naskah-naskah dengan menggunakan kertas vafirus dan berbentuk gulungan panjang.

Pada abad ke-3 SM, seorang Pustakawan bernama Erastothenes telah melakukan kegiatan filologi dengan cara membaca, menyunting, menyalin, lalu memberi komentar pada manuskrip yang ada di dalam perpustakaan di Alexandria.

Lalu, bagaimana perkembangan manuskrip saat manuskrip dijadikan sebagai komoditas ekonomi? Manuskrip disalin oleh budak belian. Sudah pasti rentan sekali terjadinya kesalahan penyalinan. Karena targetnya adalah komoditas ekonomi, maka perhatian terhadap keaslian teks setelah penyalinan sering diabaikan sehingga teks semakin jauh perbedaannya dengan teks aslinya.

Jejak sejarah kajian Filologi di Eropa berawal dari abad ke-3 SM yang dimulai oleh Erastothenes. Pada abad ke-1 M, Iskandariyah jatuh ke tangan Romawi dan upaya kristenisasi pun dimulai. Abad ke-4 M, Romawi terpecah menjadi Romawi Barat dan Romawi Timur. Romawi Barat cenderung revolusioner dan mulai menuliskan manuskrip dalam bentuk codex. Sedangkan Romawi Timur tetap mempertahankan tradisi Yunani, yaitu tradisi scholia. Kemudian muncullah Zaman Renaisans dengan kecenderungan untuk merujuk kembali pada khazanah Yunani Kuno. Abad ke-15, diciptakan mesin cetak oleh Gutenberg dari Jerman. Maka, perkembangan Filologi di Eropa dianggap selesai.

Bagaimana perkembangan filologi di Timur Tengah? Pada masa pra-Islam, tradisi tulis sudah kuat. Hal ini tercatat dalam sejarah bahwa kaum jahiliyyah menggunakan syair dan karya-karya sastra untuk menguasai Kakbah. Kegiatan bersastra ini dikenal dengan istilah tradisi Muallaqat. Pada saat Al-Quran turun, kaum jahiliyyah menolak Al-Quran dan menyebutnya dengan sebatas syair-syair. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat jahiliyyah pada masa itu telah mengenal tradisi tulis.

Pada abad ke-5 M, tradisi keilmuan Yunani berkembang pesat. Selanjutnya, peradaban Islam mulai berkembang pada abad 6-7 M. Tradisi tulis semakin meningkat hingga pada masa Dinasti Abbasiyah abad 8-13 M. Kemudian Islam menyebar ke Eropah, ke wilayah Timur, dan seluruh dunia dan pusat studi Islam semakin tumbuh dan berkembang pesat.

Dalam sejarah tercatat bahwa tawanan perang yang berasal dari Cina akan dibebaskan dengan syarat harus bersedia mengajarkan kegiatan baca tulis. Pada masa itu, kertas ditemukan oleh Bangsa Cina bernama Sayyidun. Lalu, muncullah kalimat pepatah yang berbunyi, “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”.

Link Youtube Kajian Kajian Filologi Dan Kodikologi: Sejak Kapan Sarjana Barat Melakukan Penelitian Filologi? :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here