Bagian 1

Rindu yang Mahal

Rindu Membeku

Ketika rindu kutanyakan pada angin
Dia memberiku belaian
Ketika rindu kutanyakan pada malam
Dia memberiku gulita
Ketika rindu kutanyakan pada elegi
Dia memberiku air mata
Ketika rindu kutanyakan pada awan
Dia memberiku hujan
Ketika rindu kutanyakan pada hujan
Dia memberiku kesejukan
Ketika kutanyakan rindu pada mentari
Dia memberiku sinarnya
Ketika kutanyakan rindu pada temaram
Dia memberiku mimpi
Ketika kutanyakan rindu pada sesiapa
Dia memberiku jawaban yang tak berkesudahan
Hingga kuputuskan untuk berhenti bertanya
Sampai akhirnya, rinduku membeku

Riausastra.com – Episode rindu adalah bagian tereksotis dari kisah hidup. Harapan ingin bertemu, saling menyapa, bahkan berharap untuk saling menyentuh seperti hujan kepada tanah. Hujan yang turun, terkadang deras, namun terkadang hanya titik-titik gerimis. Sering kali, bila bumi telah basah oleh air hujan, ketandusan akan berangsur sirna.

Bumi dan hujan laksana melepas rindu. Maka, tumbuhlah pucuk-pucuk dedaunan, tunas-tunas baru, bahkan mengalirlah air-air sungai. Terciptalah suasana dan kehidupan yang baru. Begitu dahsyat efek rindu yang terealisasi. Akan tetapi, jika kerinduan tidak bersambut antara hujan dan bumi, maka sirnalah kedamaian. Yang tersisa hanyalah kemarau tandus berpanjangan.

Begitu jugalah ekspresi kerinduan Penguasa Hindustan, Shah Jahan, kepada Almarhum istrinya, Mumtaz Mahal. Sang raja rela mengabadikan kerinduannya tersebut dengan membangun Taj Mahal sebagai lambang keagungan cintanya kepada istrinya. Meskipunpun rindunya tidak akan bertepi, Shah Jahan tetap mengukir selaksa cintanya di sekitar kesyahduan Sungai Yamuna.

Ini adalah malam kesekian jauh dari Airin. Ada sesak yang memaksa air mataku jatuh saat aku mengingatnya.

“Aku merinduimu, Airin”.

Sejatinya sebuah kerinduan, tentu saja karena terpisah oleh ruang, waktu, serta keadaan. Sebenarnya, mudah saja bagiku menemui Airin. Sebab, jarak yang memisahkan antara aku dan Airin tidaklah begitu jauh. Hanya saja, keadaan yang memintaku untuk terus bersabar. Pemulihan pascasesar memaksaku untuk tetap istirahat.

Bertemu dengan Airin, tidak hanya dibatasi oleh waktu pada jam besuk yang sudah ditentukan oleh pihak rumah sakit. Bahkan, aku juga tidak akan bisa menyentuhnya secara leluasa saat aku memasuki ruangan megah dan penuh kecanggihan teknologi tempatnya menginap. Kondisi Airin lemah sekali. Sebab itu, Bang Fachri harus menyiapkan minimal lima juta per malam, bahkan lebih, agar ruangan megah dan berteknologi canggih itu masih “diizinkan” sebagai tempat beristirahat bagi bayi mungilku, Airin. Sungguh, ini kusebut sebagai rindu yang sangat mahal.

“Astagfirullah, darahnya semakin deras,” ujar Bang Fachri panik saat pendarahan pascabersalin sekitar seminggu yang lalu.

Ini adalah pengalaman pendarahan untuk yang kesekian kalinya selama mengandung Airin. Pendarahan terhebat terjadi di usia kandungan belum genap tujuh bulan. Padahal, sebelum pendarahan hebat ini kurasakan, sudah sebulan penuh aku bedrest dan melakukan semua sesuai dengan perintah dokter. Tapi, pendarahan kali ini tetap juga tidak bisa dicegah. Padahal, usia kandungan baru saja hampir tujuh bulan. Darah segar mengalir diselingi air ketuban membuatku benar-benar tidak berdaya.

“Aku sudah tidak kuat lagi,” rintihku pada Bang Fachri.

Lelaki berpostur tinggi itu lalu lalang di sekitarku. Aku tahu, betapa paniknya dia. Bang Fachri sibuk mengumpulkan perlengkapan. Siap-siap menuju rumah sakit.

Jantungku berdegup sangat kencang dan tidak terkontrol lagi. Kaki dan tanganku sudah mulai dingin dan kaku. Pitam. Aku membayangkan suasana sakratul maut telah menghampiriku. Sementara kontraksi rahim semakin menjadi-jadi.

Rabb,” rintihku hampir kehabisan tenaga.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menanganiku sebulan yang lalu hadir di masa-masa emergency ini.

“Seharusnya, kita harus bertahan minimal tiga minggu lagi, Bu. Berat bayi masih satu koma tiga kilogram dan paru-parunya belum matang, “ papar dokter setelah melakukan USG di Rumah Sakit Buah Hati.

 Ingin rasanya kekuatan itu menguasai diriku. Harapan besar terus bersemayam dalam jiwaku. Aku ingin Airin terlahir sempurna. Aku ingin Airin terlahir sehat. Aku ingin….

Akan tetapi, waktu tidak mampu memberiku kesempatan. Meskipun berkali-kali tim medis menyuntikkan cairan penguat rahim demi mencegah kelahiran dini, namun Allah punya ketentuan lain. Kontraksi rahim malah semakin tidak bisa dicegah lagi. Ketuban dan darah segar seakan berlomba untuk keluar dari sarangnya. Dengan kondisi yang kian memburuk, akhirnya dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan sesar pada hari itu juga.

Aku diantar Bang Fachri menuju kamar bedah. Sesampainya di pintu utama, ia mengecup keningku, memelukku, dan mengusap-usap perutku.

“Semangat, Sayang!”

Aku menjawab ucapannya dengan segaris senyuman dan dua garis air mata. Benar-benar sebuah pilihan yang sulit..

Perawat mengantarku ke ruangan yang sangat dingin. Tubuhku dipasang berbagai alat. Dokter Spesialis Anestesi menyuntikkan bius ke tulang belakangku. Meskipun terasa nyeri, tapi tidaklah seberapa dibanding perihnya kontraksi dalam perut ini.

“Maaf ya, Bu. Sebenarnya ini adalah kondisi yang begitu sulit. Tapi, bagaimanapun kita harus tetap memilih. Bayinya masih terlalu kecil. Jantung dan parunya masih terlalu lemah. Tapi, kami harus mengutamakan keselamatan ibunya. Terpaksa kita harus sesar sekarang juga,” ucap dokter padaku.

“Iya, Dok,” jawabku sambil menahan sakitnya kontraksi rahim ini.

Ini adalah pengalaman pertama merasakan sesar. Sebelumnya, tiga anak lainnya lahir secara normal meskipun diawali dengan induksi. Bibir sang dokter melafazkan bismillah. Ada energi baru yang mengalir hingga ke dasar hatiku.

“Airin, bertahanlah, Sayang! Sebentar lagi kita akan bertemu. Semoga kita baik-baik saja ya, Nak,” ucapku dalam hati.

Aku percaya, Airin pasti mendengarku. Pasrah! Hanya berkisar lima belas menit, aku sudah mendengar tangisan bayi. Ach, itu dia tangisan gadis kecil yang selama ini bermain-main di dalam perut ini.  Aku menghadiahkan langit-langit kamar bedah dengan segaris senyuman. Bahagia seperti menyelinap dalam titik-titik nadiku. Kontraksi pun usai. Rasa sakit pun berlalu.

“Bayinya kecil sekali. Satu koma tiga kilogram. Pernafasannya tersendat-sendat. Dia butuh perawatan di ruang NICU. Kondisinya sangat buruk,” cerita Dokter Spesialis Anak pada beberapa tim medis yang tergabung dalam ruang bedah itu.

Deg, jantungku seperti berhenti sejenak. Darahku berdesir. Hatiku kacau balau. Sedih. Lalu, Mereka bilang, Airinku hanya punya waktu empat jam saja untuk bertahan hidup.

“Dok, bolehkan bayiku inisiasi menyusui dini di dadaku?” tanyaku pada Dokter Spesialis Anastesi. Sedari tadi mereka sibuk berembuk tentang kondisi Airin. Hingga mencium gadis kecil itu pun, aku tak diberi kesempatan.

“Bagaimana mau menyusui dini, Bu, kondisi bayinya lemah. Tadi masih menangis pelan. Sekarang sudah tidak sanggup lagi menangis. Harus segera dibawa ke ruang NICU, Bu,” jelas dokter anastesi.

Aku berusaha menenangkan pikiran dan perasaanku. Aku sudah berjuang selama hampir tujuh bulan dengan kondisi beberapa kali pendarahan dan bolak-balik masuk rumah sakit. Aku harus kuat apapun yang terjadi. Jangan sampai baby blues menghampiriku. Jangan! Aku harus kuat untuk Airin dan untuk orang-orang yang kucintai.

Sayup-sayup kudengar suara ikomah dari Bang Fachri. Indah sekali lantunan seruan azan itu. Membuat jiwaku bergetar.

Lembar persetujuan telah ditandatangani Bang Fachri. Si kecil mungilku, Airin, harus dirujuk ke Rumah Sakit Unggulan dengan syarat deposito empat juta harus disetor ke kasir Rumah Sakit Unggulan. Rumah Sakit Buah Hati belum memiliki Ruang Perinatologi yang memadai untuk menangani kondisi bayi sekritis Airin. Oleh sebab itu, kurelakan Airin harus terpisah rumah sakit denganku.

Bang Fachri mengantar Airin ke Rumah Sakit Unggulan yang berlokasi di Jalan Protokol. Tepat pukul 24.00 WIB, suara ambulan meraung-raung meninggalkan pelataran Rumah Sakit Buah Hati.

Aku memandangi sekeliling kamar rawat inap tempatku berbaring. Hanya aku sendiri di kamar rawat inap kelas II ini. Kebetulan dua tempat tidur yang lain sedang kosong. Aku benar-benar sendirian dan tidak ada seorangpun yang menemani. Sesekali para suster yang sedang piket jaga memantau, memastikan bahwa kondisiku baik-baik saja pascasesar.

Kupandangi telapak tanganku yang memutih. Aku sadar telah kehilangan banyak darah. Aku harus kuat. Berkali-kali kulafazkan dzikrullah. Berharap kegalauan ini segera sirna.

Malam sudah berganti dini hari. Mataku enggan terpejam. Menahankan sakitnya kontraksi seharian tidak membuat tubuhku ingin menagih istirahat dan tertidur pulas. Pikiranku tertuju pada Airin. Kubayangkan, tubuh kecilnya yang hanya seberat satu koma tiga kilogram itu akan ditusuk untuk memasukkan jarum infus. Aku tahu, tubuh kecil itu butuh pelukan hangat dariku. Akan tetapi, paru-parunya yang belum sempurna membuatnya harus masuk ke Ruang NICU. Air mataku menganak sungai. Jiwaku rapuh. Antara bimbang, merasa bersalah, atau haruskah aku memilih bahagia dengan kelahiran Airin?

Pikiranku juga tertuju pada Bang Fachri. Tubuhnya pasti lelah sekali. Seharian penuh mengurusiku. Aku tidak sempat bertanya padanya apakah dia sudah makan malam ini. Aku juga tidak tahu, dari mana Bang Fachri meminjam uang empat juta dalam sekejap. Saat ini, bang Fachri masih berada di Rumah Sakit Unggulan. Aku tiba-tiba saja merinduinya. Ingin rasanya berterima kasih padanya.

Aku juga ingin berbisik di telinganya,”Sayang, semoga pengorbananmu selama ini, Allah beri ganjaran surga.”

Pikiranku juga tertuju pada ketiga anakku yang masih kecil-kecil. Omar yang masih duduk di kelas TK, Mira yang masih berusia empat setengah tahun, dan Nisa yang masih berusia tiga tahun. Mereka semua butuh sentuhan ayah ibunya. Sejak pendarahan sebulan yang lalu, mereka telah kehilangan pelayanan dariku. Bang Fachri menggantikan semua peranku dalam mengurus anak-anak. Sedih sekali jika mengenang semua ini.

Bersambung

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here