Judul : RinduPenulis : Tere Liye
Penerbit : RepublikaTahun : 2014

“Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami. Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan. Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami tertunduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun? Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dlam rindu hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”

-Tere Liye-

Riausastra.comRindu  merupakan sebuah karya yang tercipta dari daya imajinatif dan kreatif seorang pengarang bernama Tere Liye. Pengarang menyajikan sebuah suguhan cerita bergenre sejarah dengan berbagai konflik yang membangun alur cerita. Meskipun diwarnai dengan latar sejarah, akan tetapi novel Rindu tidak terlepas dari tema cinta, keluarga, dan nasionalisme.

Cerita dalam novel Rindu dibuka dengan penggalan sejarah yang berkisar pada tahun 1938 dengan lokasi Pelabuhan Makassar. Sebuah perjalanan sakral akan dilaksanakan menggunakan kapal uap kargo terbesar di masa itu dengan nama kapal Blitar Holland milik Belanda.

Perjalanan ini telah lama ditunggu oleh masyarakat se-Nusantara. Bisa melaksanakan ibadah haji dalam upaya menyempurnakan Rukun Islam kelima adalah sebuah keniscayaan di tengah peliknya suasana Perang Dunia II.

Pemerintah Hindia Belanda mengawasi dengan ketat perjalanan menuju Tanah Haram ini. Tampak sekali perbedaan perlakuan yang diberikan oleh petinggi Belanda kepada kaum buruh dan ulama. Dua golongan ini biasanya akan dihujani dengan hinaan dan selalu dicurigai. Seperti perlakuan Belanda yang mengatur persiapan keberangkatan kapal uap, kaum buruh dibentak-bentak dan diperintah dengan kasar. Demikian juga dengan seorang ulama yang dipanggil dengan Gurtta Ahmad Karaeng. Seluruh bawaannya diperiksa. Buku-buku yang dibawanya juga diperintahkan untuk dimusnahkan.

Gurutta yang juga seorang penulis kitab dituduh membawa ideologi yang akan mengganggu stabilitas Pemerintahan Hindia-Belanda. Ulama yang berilmu dan beradab itu sangat dicintai oleh masyarakat. Keluasan ilmunya, kesederhanannya, sikapnya yang terbuka pada siapapun, tidak membuat Gurutta merasa canggung berbaur dengan siapapun meskipun dengan para kelasi, penumpang kapal yang merupakan masyarakat biasa, termasuk Anna dan Elsa, bahkan dengan Kapten Phillips.

Perlakuan Belanda berbeda pada seorang pengusaha kaya bernama Daeng Andipati yang membawa serta anggota keluarganya, seorang istri dan dua orang gadis kecilnya bernama Anna dan Elsa, untuk ikut menunaikan naik haji. Belanda sangat menghormati Daeng Andipati dan keluarganya. Sosok Daeng Andipati yang kharismatik, berwibawa, terpandang, dan cerdas membuatnya bisa dekat dengan Belanda dan Belanda menjadi segan padanya.

Akan tetapi. Daeng Andipati yang tampak sempurna dan bahagia itu, tetap saja menyimpan masa lalu yang membuatnya tidak bahagia. Daeng Andipati memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan ayah kandungnya. Padahal, selayaknya ayah dan anak adalah dua orang yang seharusnya memiliki keterikatan hati, namun tidak dengan Daeng Andipati. Sampai saat ini, kebenciannya pada ayahnya masih sama.

Selama perjalanan dengan menggunakan kapal uap ini, beberapa penumpang memiliki kisah unik dan menarik untuk dikenang. Sebut saja Mbah Kakung dan Mbah Putri Slamet yang berasal dari Semarang. Dari seluruh penumpang kapal, mereka merupakan pasangan paling sepuh sekaligus paling romantis. Kebahagiaan pasangan itu tampak sempurna. akan tetapi, dibalik kebahagiaan tersebut, mereka dikaruniai dua belas orang anak. Tentu saja kerepotan dan ujian demi ujian melanda rumah tangga mereka. Sampai akhirnya, Mbah Putri Slamet menemui ajalnya di tengah perjalanan dan harus dimakamkan dengan cara melepaskannya ke laut karena daratan masih sangat jauh. Butuh waktu beberapa hari agar samapai pada dermaga berikutnya.

Kematian Mbah Putri Slamet adalah puncak kesedihan yang dirasakan oleh Mbah Kakung. Sepulang dari haji, di tengah perjalanan yang sama, Mbah Kakung juga menemui ajalnya menyusul istrinya yang sangat dicintainya. Mayatnya juga dibuang ke laut persis di tempat yang sama dengan sang istri.

Tema cinta yang membangun novel Rindu semakin diperkuat dengan kisah seorang Kelasi yang rajin dan cekatan, namun sangat pendiam. Di balik diamnya, kelasi ini menyimpan sebuah permasalahan pelik yang mendera hatinya. Ambo Uleng nama kelasi itu. Dia tidak malu untuk serta belajar mengaji meskipun disatukan dengan anak-anak seperti Anna dan Elsa.

Pemuda itu benar-benar sedang ingin mencari jati diri dan sedang berjuang untuk bangkit dari perasaan hati yang selama ini membuatnya hampir saja mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, hati yang telah patah itu akhirnya pulih kembali saat pemuda itu bertemu dengan orang-orang hebat yang memberikannya pengajaran yang sangat berharga untuk menghargai hidup selama dalam perjalanan menuju dan pulang dari naik haji.

Demikian juga pengalaman pahit yang dilalui oleh seorang guru mengaji bernama Bonda Upe. Bonda Upe mengabdikan diri sebagai guru mengaji, khususnya buat anak-anak selama perjalanan dengan kapal uap. Bonda Upe tampak bahagia bersama suaminya, Enlai. Meskipun tampak bahagia, Bonda Upe telah melewati masa lalu yang tidak mudah. Sempat juga ingin mengakhiri hidupnya karena dia merasa bahwa masa lalu telah membunuh masa depannya. Namun, keinginan itu pupus saat Enlai siap menjadi pasangan hidupnya dan memberikannya semangat untuk membuka lembaran kehidupan yang baru.

Bonda Upe semasa gadisnya diculik oleh Belanda dan dipaksa menjadi pemuas nafsu para tentara Belanda. Awalnya, wanita itu sangat membenci perlakuan Belanda itu pada dirinya. Bahkan, dirinya sempat ingin bunuh diri karena keperawanannya dirampas dengan keji. Namun, seiring berjalannya waktu, wanita itu justru menikmati perannya sebagai wanita simpanan dari tentara Belanda. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang molek membuatnya bangga karena menjadi wanita yang paling disanjung oleh Belanda dan membuat teman-teman seprofesinya iri padanya. Sampai akhirnya usia wanita itu semakin bertambah, namun kecantikannya semakin memudar.

Tentara Belanda sudah mulai menelantarkannya dengan munculnya gadis-gadis penghibur yang baru yang masih segar, cantik, dan muda. Mulailah Bonda Upe menyesali semua masa lalunya. Sampai akhirnya, Bonda Upe mengenal hidayah dan segera bertaubat. Tanpa disadarinya, ternyata Allah telah mempersiapkan sosok lelaki istimewa untuk mendampinginya bangkit dan mengubur masa silamnya.

Demikianlah para tokoh yang terdapat dalam novel Rindu karya Tere Liye dengan setting beberapa provinsi di Indonesia dan beberapa negara di dunia. Perjalanan dengan naikkapal uap ini bukanlah perjalanan biasa. Tidak hanya kisah cinta, bahkan perjuangan pelik juga dilalui para tokohnya saat berhadapan dengan para perompak Somalia.

Bahkan para tokoh juga sempat bersitegang dengan tentara Belanda selama perjalanan sehingga Daeng Andipati direncanakan untuk dibunuh dan Gurutta dipenjara di sel kapal Blitar Holland. Sampai akhirnya mereka tiba di Tanah Air dengan selamat dan masing-masing segera menyelesaikan konflik batinnya dengan cara memafkan masa lalu dan membuka diri pada masa depan yang lebih indah.

16 COMMENTS

  1. Gak tau kenapa saya ada kenangan sama novel Rindu ini. Kenangan sama org yang pernah saya suka. Ceritanya ini pas di perpus, saya liat ada cewek yang ngembaliin buku ke cowok. Nah cowok itu yang punya buku Novel Rindu, duh mana dia rajin banget ke perpus haha

    Eh curhatkan jadinya

  2. Tere liye yang menjadikan novelnya selalu banyak antrian di ipusnas, haha.. berhubung gratis dan legal. Paling tidak kalo nggak beli ya pinjem.

  3. Hadeeh jadi terharu bacanya, melihat perjuangannya yang penuh rintangan, walaupun akhirnya selamat. Kata temen saya buku ini memang bagus, walaupun saya sendiri belum pernah membacanya hehe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here