Foto : Tangkapan Layar

Riausastra.com – Sesungguhnya bangsa ini sangat kaya. Tidak hanya kaya akan sumber daya alam, namun kekayaan lainnya ada pada sumber daya budaya berupa manifestasi budaya berupa keberagaman bahasa daerah di Indonesia. Badan Bahasa menyebutkan bahwa terdapat 652 bahasa daerah di Indonesia. Ini merupakan sebuah keanekaragaman yang harus dijaga sebagai sebuah kekayaan bangsa.

Keragaman terjadi akibat posisi atau letak geografis wilayah Indonesia yang sangat strategis. Diapit oleh dua benua dan dua samudera. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai wilayah transit jika hendak menjelajahi belahan bumi ini. Wajar saja jika Bangsa Indonesia mudah sekali menerima kebudayaan asing yang singgah di negeri ini. Sikap masyarakat yang terbuka dan ramah seolah-olah membiarkan budaya asing diterima di Negeri ini. Meskipun pada dasarnya budaya asing tersebut tetap saja difilter dan disesuaikan dengan kearifan lokal setempat.

Ada tiga peradaban besar yang mempengaruhi ragam aksara di Nusantara, yaitu: peradaban India. Pada dasarnya, Bangsa India datang ke Indonesia dengan tujuan ekonomi dan religiusitas. Oleh sebab itu, aksara pallawa melekat erat di Nusantara. Hal ini terlihat pada era prasasti. Selanjutnya peadaban Arab yang masuk ke Nusantara pada abad ke-13 dan 14. Pengaruh budaya Islam sangat kuat. Hal ini terbukti dengan banyaknya manuskrip yang menggunakan aksara arab Melayu juga isi manuskrip yang bertemakan tentang ajaran-ajaran Islam. Selanjutnya masuklah pengaruh Barat (Eropa). Hal ini ditandai dengan keharusan penggunaan aksara latin yang terbukti pada era manuskrip dan era cetak. Kehadiran semua Bangsa asing ke Indonesia sama-sama memiliki tujuan membawa literasi agama.

Vernakularisasi dan Pribumisasi Aksara Arab di Nusantara muncul saat masuknya pengaruh Islamisasi ke Nusantara. Menurut Hermansyah, seorang Filolog Aceh, dalam tulisannya tahun 2014 mengungkapkan bahwa lingua pranca di Nusantara adalah bahasa Melayu. Samudera Pasai dianggap sebagai kerajaan Islam pertama yang melakukan vernakularisasi aksara Arab ke aksara Jawi dengan metode modifikasi.

Vernakularisasi aksara Arab mencapai puncak perkembangan pada abad 17-19 berkat adanya sumbangsih para ulama Nusantara yang belajar ke Haramain. Modifikasi aksara Arab masih dilestarikan di beberapa lembaga pendidikan ke-Islaman. Aksara Jawi meliputi wilayah Melayu, Aceh, dan Minangkabau. Sedangkan aksara Pegon meliputi wilayah Sunda, Jawa, dan Madura. Kemudian aksara Buri-Wulio meliputi wilayah Kerajaan Buton. Adanya aksara-aksara ini para Ashabul Jawiyin mengaplikasikan “Islam dalam wajah lokal”.

Berdasarkan pengamatan para ahli, baru lima belas aksara yang terdeteksi sebagai kekayaan aksara di Indonesia. Masih diharapkan peran penting generasi muda untuk mendeteksi aksara lainnya. Kekayaan budaya berupa bahasa adalah marwah dan identitas bangsa Indonesia. Jika bangsa ini kehilangan bahasa, maka bangsa ini akan kehilangan jati diri. Oleh sebab itu, layak untuk digaungkan kembali bahwa Bangsa Indonesia merupakan Bangsa yang cerdas, maju, dan tidak buta huruf karena telah lama mengenal baca tulis dengan aksara dan bahasa lokal.

Link Youtube Kajian Filologi Dan Kodikologi: Ketika Aksara Arab Di-Nusantara-kan :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here