Foto : Riausastra.com

Riausastra.com – Sastra tercipta merupakan hasil kreativitas dari pengarang yang dituangkan melalui gagasan, ide, dan pikiran yang indah sehingga lahirlah karya sastra. Pengarang diberi kebebasan berbahasa yang dikenal dengan lisensi puitika. Akan tetapi, sastra bukanlah sebuah karya yang turun dari langit. Justru keberadaan sebuah karya sastra terinspiraasi dari kehidupan masyarakat dan menggambarkan tentang realita sosial.

Abstrak

Novel Rindu karya Tere Liye dipilih sebagai objek kajian sastra karena novel ini mengandung nilai-nilai kehidupan yang spesial. Hal ini dibuktikan dengan tokoh-tokohnya yang memiliki kepribadian yang unik serta karakter yang saling menguatkan antarsatu sama lain. Karakter yang terdapat dalam tokoh tersebut tentu saja tercipta karena adanya masalah yang dipikul oleh masing-masing tokoh dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu, para tokoh saling menguatkan dan saling memberikan pelajaran berharga pada tokoh lainnya, terutama Gurutta Ahmad Karaeng yang merupakan tokoh sentral. Gurutta dikenal sebagai ulama kenamaan yang cerdas, nasionalis, alim, namun dengan mudah merangkul siapa saja. Dia juga tokoh yang sangat dibenci oleh tentara Belanda.

Alur cerita dalam novel Rindu menggambarkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia saat pendudukan penjajah Belanda tahun 1830-an. Oleh sebab itu, novel ini disebut juga dengan novel sejarah. Di dalam cerita terdapat banyak sekali hegemoni-hegemoni yang dirasakan oleh para tokohnya. Maka novel ini dianalisis dengan menggunakan teori Hegemoni Antonio Gramsci.

Kata kunci: hegemoni, Antonio Gramsci, Novel Rindu, Tere Liye.

Abstract

Tere Liye’s novel Rindu was chosen as the object of literary study because this novel contains special life values. This is evidenced by the characters who have unique personalities and characters that reinforce one another. The characters contained in the character are of course created because of the problems borne by each character in living his life. Therefore, the leaders strengthen each other and give valuable lessons to other figures, especially Gurutta Ahmad Karaeng who is a central figure. Gurutta is known as an intelligent scholar, nationalist, pious, but easily embraces anyone. He was also a figure who was hated by the Dutch army.

The storyline in the novel Rindu illustrates the history of the struggle of the Indonesian Nation during the Dutch occupation of the 1830s. Therefore, this novel is also called a historical novel. In the story there are a lot of hegemony-hegemony felt by the characters. Then this novel is analyzed using Antonio Gramsci’s Hegemony the Anthony Gramsci.

Keywords: hegemony, Antonio Gramsci, Rindu, Tere Liye

1. Pendahuluan

Sastra tercipta merupakan hasil kreativitas dari pengarang yang dituangkan melalui gagasan, ide, dan pikiran yang indah sehingga lahirlah karya sastra. Pengarang diberi kebebasan berbahasa yang dikenal dengan lisensi puitika. Akan tetapi, sastra bukanlah sebuah karya yang turun dari langit. Justru keberadaan sebuah karya sastra terinspiraasi dari kehidupan masyarakat dan menggambarkan tentang realita sosial. Menurut Sumardjo dan Saini, 1988 (dalam Rokhmansyah, 2014) sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa .

Gambaran konkret yang dituliskan oleh pengarang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat secara komplit. Tentu saja berbagai problematika kehidupan tidak terlepas dari kehidupan. Permasalahan demi permasalahan timbul karena adanya gesekan-gesekan yang lahir dari interaksi dengan lingkungan. Sebagaimana kehidupan nyata, permasalahan sosial juga ditemukan dalam karya-karya sastra. Permasalahan sosial sering terjadi karena adanya bentuk-bentuk dominasi antarkelas sosial.

Adanya dominasi di tengah-tengah masyarakat tercermin dari potret zaman dari masa ke masa. Kehadiran karya sastra di tengah-tengah masyarakat merupakan wujud dari upaya untuk menyuarakan permasalahan dominasi yang tengah terjadi. Konflikkonflik yang membangun sebuah karya sastra akan mengisyaratkan bahwa dalam dominasi akan tampak golongan yang mendominasi dan golongan yang terdominasi. Hal ini akan terlihat pada peran para tokoh dalam karya sastra. Tokoh tertentu akan mendominasi tokoh lainnya.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang mengisahkan tentang tarian ronggeng yang dibawakan oleh seorang penari bernama Srintil. Sebagai gadis belia, Srintil melihat tarian ronggeng hanya sebuah hiburan yang mengasyikkan. Akan tetapi, Srinti harus merasakan dominasi yang dilakukan oleh orangorang dewasa dan berharta bahwa penari ronggeng harus bisa memberikan hiburan yang memuaskan nafsu birahi.

Demikian juga dengan novel Seteguk Air Zam Zam karya Maulana Syamsuri yang mengisahkan tokoh seorang guru bernama Nauli. Tokoh Nauli harus menerima kenyataan pahit saat dihadapkan pada konflik dengan keluarga suaminya. Konflik tersebut berawal dari Nauli yang telah menikah selama bertahuntahun, namun belum juga mendapatkan keturunan. Padahal, bagi masyarakat Batak yang merupakan latar cerita ini, keturunan adalah penerus marga. Jika tidak belum bisa memberikan keturunan maka wanita akan selalu disalahkan pihak keluarga akan selalu memaksa agar wanita seperti Bu Guru Nauli untuk segera diceraikan. Demikianlah budaya Batak dalam upaya meneruskan marga telah mendominasi tokoh Nauli.

Dari hasil pembacaan beberapa novel di atas, penulis menemukan adanya hegemoni yang membangun konflik dalam cerita. Demikian pula dengan novel populer Rindu karya Tere Liye. Berbagai konflik sosial yang dialami tokohtokohnya ditulis secara apik oleh pengarang.

 Novel Rindu terbit tahun 2014 oleh Penerbit Republika dan dinyatakan sebagai best seller karena dalam rentang waktu tiga bulan novel ini sampai pada cetakan ke delapan. Novel ini ditulis oleh seorang penulis populer dan produktif. Dengan bahasa yang sederhana, karyakarya Tere Liye banyak diminati pembaca. Seperti lima buah novel berikut yang menjadi bagian dari sepuluh buku yang sangat laris di Gramedia tahun 2019, yaitu: Ceros dan Batozar, Bumi, Pulang, Rindu, dan Harga sebuah Percaya (makassar.tribunnews.com).

Berkisah tentang kehidupan para calon jemaah haji yang berasal dari Sulawesi dan berangkat menuju Tanah Suci dengan menggunakan kapal laut milik tentara Belanda. Tokohtokoh yang membangun cerita dalam novel memiliki karakter yang unik dengan berbagai konflik yang mendominasi kehidupan mereka di masa lalu hingga masa kini. Para tokoh bertemu di dalam kapal uap kargo yang bernama Blitar Holland di saat kekuasaan Belanda masih bertahta di Nusantara. Dengan membaca novel ini seolaholah penulis merasa kembali pada masa lampau. Kisah sejarah perjuangan rakyat Indonesia tergambar dalam novel ini. Meskipun perjuangan Indonesia dilawan dengan ideologiideologi agama dan nasionalisme. Selain bercerita masalah sejarah bangsa, novel Rindu juga menyelipkan kisah cinta dengan berbagai suasana.

Berangkat dari hasil pembacaan pada novel Rindu karya Tere Liye akan dilakukan analisis dengan menggunakan teori Hegemoni dari Antonio Gramsci. Meskipun novel Rindu telah banyak dianalisis dan dikaji namun untuk melihat adanya hegemoni dalam nove Rindu belum pernah diaplikasikan siapa pun pada novel ini.

Tinjauan Pustaka     

Novel Rindu dianalisis oleh Armalina, Syofiani, Romi Isnanda dengan judul analisis Novel Rindu Karya Tere Liye: Suatu Analisis Sosiologi Sastra. Penulis mengangkat nilainilai sosial yang ada pada novel tersebut sebagai bahan kajian. (http://ejurnal.bunghatta.ac.id). Analisis selanjutnya dilakukan oleh Maya Oktavia Edy Suyanto F. dengan judul Kepribadian pada Tokoh dalam Novel Rindu Karya Tere Liye dan Relevansinya. Penulis bertujuan untuk merelevansikan hasil analisis terhadap novel ini dengan pengajaran sastra di SMA. (Jurnal Kata (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya)). Kemudian Telaah Intrinsik terhadap Novel Rindu Karya Tere Liye oleh Edi, Purnama and Emi, Agustina and Amril, Canrhas (2016) Telaah Intrinsik terhadap Novel Rindu Karya Tere Liye.

Selanjutnya, penelitian berikut ini bukan pada objek novel Rindu karya Tere Liye. Namun analisisnya menggunakan teori hegemoni Gramsci. Judul telaah tersebut adalah Hegemoni Kekuasaan dalam Novel Si Anak Badai Karya Tere Liye: Pendekatan Teori Hegemoni Gramsci oleh Siti Fatimatus Zahro (Prosiding SENASBASA/research-report.umm.ac.id). kemudian ada juga penelitian terhadap karya Tere Liye dengan menggunakan teori hegemoni Gramsci dengan judul Analisis Hegemoni dalam Dwilogi Novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye (Perspektif Antonio Gramsci) oleh Ida Nuswantaria (dalam Jurnal EDU-KATA, 2017).

Dari tinjauan pustaka di atas, novel Rindu karya Tere Liye belum pernah ditelaah dengan menggunakan pendekatan teori hegemoni Gramsci. Dengan menilik konflik-konflik sosial dalam novel tersebut maka akan diuraikan hegemoni dan ideologi yang dialami oleh para tokoh dalam novel Rindu.

Landasan Teori

Dalam kerangka teori hegemoni Gramsci, kesusastraan merupakan salah satu bagian dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur bukan hanya sebagai refleksi dari struktur kelas ekonomi atau infrastruktur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri, Sebagai kekuatan material, dunia gagasan atau ideologi tersebut berfungsi untuk mengorganisasi massa manusia, menciptakan tempat yang di atasnya manusia bergerak (Faruk, 2003:61-62).

Dari pernyataan di atas, hegemoni tercipta dari adanya kekuatan material yang dibangun dari ideologi atau gagasan dari struktur kelas ekonomi. Dengan adanya kesadaran ini, maka akan terjalin upaya dalam mengorganisasikan kelompok massa yang merasa bagian dari yang termarginalkan.

 Supremacy of a social group manifests itself in two ways, as ‘domination’ and as‘intellectual and moral leadership’. A social group dominates antagonistic groups, which it tends to ‘liquidate’, or to subjugate perhaps even by armed forces; it leadskindred and allied groups. A social groups can, and indeed must, already exercise ‘leadership’ before winning governmental power (this indeed is one of the principal conditions for the winning o such power); it subsequently becomes dominant when it exercise power, but even if it holds it firmly in its grasp, it must continue to ‘lead’ as well (Gramsci, Prison Notebooks: 57-58).

Supremasi kelompok sosial memanifestasikan dirinya dalam dua cara, sebagai ‘dominasi’ dan sebagai kepemimpinan intelektual dan bermoral’. Kelompok sosial mendominasi kelompok antagonis, yang cenderung ‘melikuidasi’, atau untuk menaklukkan bahkan  mungkin oleh angkatan bersenjata; itu mengarah kelompok keluarga dan sekutu. Kelompok sosial dapat, dan memang harus, sudah mengambil alih ‘Kepemimpinan’ sebelum memenangkan kekuasaan pemerintahan (ini memang salah satu kondisi untuk memenangkan kekuatan tersebut); itu kemudian menjadi dominan saat itu menggunakan kekuatan, tetapi meskipun ia memegangnya dengan kuat, ia harus terus ‘memimpin’ dengan baik. (Gramsci, Prison Notebooks: 57-58).

Selanjutnya, Gramsci dalam teori di atas menegaskan kembali bahwa hegemoni akan mengarah pada dua kelompok, yaitu kelompok yang dikuasai dan kelompok yang menguasai. Kelompok yang dikuasai biasanya dari golongan yang tidak memiliki kekuatan. Sedangkan kelompok yang menguasai berasal dari kelompok yang memiliki wewenang terhadap kepemimpinan. Kekuasaan pemerintahan juga akan melibatkan angkatan bersenjata dalam menjalankan kekuasaanya. Biasanya, kelompok yang dikuasai akan merasa baik-baik saja meskipun berada dalam kekuasaan pemimpin jika pemimpin tersebut menggunakan kekuasaannya dengan sebaik-baiknya.

Dalam hegemoni Gramsci, ideologi muncul sebagai bagian dari pemikiran manusia. Ideologi ditanamkan oleh penguasa kepada kelompok yang dikuasai meskipun tidak sesuai dengan realita sosial. Dengan adanya ideologi tersebut maka hal yang dianggap tidak wajar bisa terbalik menjadi sesuatu yang dianggap wajar dan sebaliknya. Atau hal yang dianggap baik bisa saja menjadi buruk dan sebaliknya. Tergantung pemahaman apa yang disampaikan oleh penguasa kepada yang dikuasai.

Sebagaimana pendapat Yati (2009: 34-35) bahwa ideologi merupakan ilusi atau kesadaran palsu yang tidak menggambarkan situasi nyata manusia sebagaimana adanya. Ideologi menggambarkan realitas secara terbalik. Meskipun demikian, tidak berarti ideologi mengalami kekeliruan dalam menggambarkan realitas. Ideologi menggambarkan realitas dengan penafsiran yang dibalik. Sesuatu yang tidak baik dan tidak wajar, dinyatakan sedemikian rupa sehingga tampak baik dan wajar. Hal itu terjadi karena ideologi melayani kepentingan kelas yang berkuasa sebagai alat legitimasi.

Dari beberapa pendapat di atas, akan ditelaah lebih lanjut hegemoni-hegemoni yang ditemukan dalam karakter tokoh-tokoh novel Rindu karya Tere Liye. Satu per satu para tokoh akan ditentukan apakah tokoh tersebut ikut serta dalam hegemoni. Lalu, akan tampak bahwa tokoh tersebut merupakan kelompok termarginalkan atau kelompok penguasa, atau justru kelompok yang terhegemoni oleh ideologi penguasa atau malah bagian dari penguasa yang menghegemoni dengan ideologi-ideologinya.

Sumber Data

Data penelitian ini dilakukan untuk menguraikan nilai-nilai kekuasaan dalam novel Rindu karya Tere Liye sebagai berikut:

Judul : RinduPenulis : Tere LiyeEditor : Andriyati
Penerbit : RepublikaKota terbit : JakartaTahun : 2014
Halaman : 544 halamanUkuran buku : 13,5 x 20,5 cmCover : EMTE
Lay out : AlfianISBN : 978-602-8997-90-4

Sinopsis

Rindu merupakan sebuah karya yang tercipta dari daya imajinatif dan kreatif seorang pengarang bernama Tere Liye. Pengarang menyajikan sebuah suguhan cerita bergenre sejarah dengan berbagai konflik yang membangun alur cerita. Meskipun diwarnai dengan latar sejarah, akan tetapi novel Rindu tidak terlepas dari tema cinta, keluarga, dan nasionalisme.

Selengkapnya : Sinopsis Novel Rindu Karya Tere Liye

2. Pembahasan

Hegemoni Tokoh-Tokoh Novel Rindu Karya Tere Liye

            Hegemoni dalam novel Rindu karya Tere Liye akan diuraikan pada tokoh-tokoh yang berikut ini. Dengan memaparkan hegemoni yang ada akan terlihat pula ideologi-ideologi yang dibawa oleh para penguasa.

  • Gurutta Ahmad Karaeng

Ketajaman ilmu dan kesolehan Gurutta Ahmad Karaeng tidak membuat ulama kenamaan tersebut berbangga hati dan memberi jarak dengan orang-orang yang ilmunya tidak sepadan dengan dirinya. Justru sebaliknya, ulama kharismatik tersebut mencoba masuk ke dalam pikiran para tokoh lainnya sebagai upaya memberikan pemahaman dan berbagi ilmunya. Hal ini tampak pada kutipan berikut:

“….maka ketahuilah Andi, kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, maupun dengan penghapus canggih, dengan apa pun itu. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya , bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong.” (Rindu, 2014:376)

”Bagian yang pertama, kita keliru sekali jika lari dari sebuah kenyataan hidup, nak. Aku tahu, lima belas tahun menjadi pelacur adalah nista yang tidak terbayangkan. Tapi sungguh, kalau kau berusaha lari dari kenyataan itu, kau hanya menyulitkan diri sendiri. Ketahuilah, semakin kuat cengkramannya. Semakin kencang pula gemanya memantul, memantul, dan memantul lagi memenuhi kepala.” (Rindu, 2014:311-312)

“Cinta yang baik selalu mengajari kau agar menjaga diri. Tidak melanggar batas, tidak melewati kaidah agama”. (Rindu, 2014:376)

Dari dua kutipan di atas dapat mewakili kekuasaan Gurutta sebagai seorang ulama besar dan bersahaja mampu menghegemoni tokoh Daeng Andipati dan Bonda Upe. Hegemoni yang dilakukan oleh Gurutta sudah pasti dengan niat untuk menyampaikan kebenaran sesuai dengan ajaran Islam. Kemampuan Gurutta dalam berdiplomasi, menulis kitab, bahkan mengisi kajian keIslaman membuat tentara Belanda selalu mengawasinya dan menuduhnya membawa ideologi yang sangat berbahaya. Tentara Belanda sangat takut dengan ideologi yang dibawa oleh Gurutta meskipun pada dasarnya ideologi itu bersumber dari Sang Maha Pencipta. Oleh sebab itu, ulama yang cerdas itu seringsekali dijegal oleh Belanda. Berikut kutipannya:

Serdadu Belanda itu mana mau percaya, mereka kasar membuka tas, lantas mengaduk seluruh isinya. (Rindu, 2014:363)

“Omong kosong. Akui saja kau membawa buku-buku penuh hasutan agar melawan pemerintah sah Hindia Belanda”. (Rindu, 2014:370)

“Lihat Sendiri! Lihat judul buku berbahaya ini.”

“KEMERDEKAAN ADALAH HAK SEGALA BANGSA”

Kalimat itu tertulis rapi di sampul depan buku yang baru saja diselesaikan Gurutta tadi sore.

“Buku ini lebih berbahaya dibandingkan seribu pasukan inlander. Buku ini lebih berbahaya dibandingkan ceramah di hadapan ribuan orang. Dia memang tidak menghasut penumpang saat ceramah di masjid, tapi setiap hari dia ternyata menyiapkan sesuatu yang lebih serius. TANGKAP KAKEK TUA ITU!” (Rindu, 2014: 506)

  • Daeng Andipati

Daeng Andipati memiliki kekuasaan sebagai orang kaya dan pengusaha yang terpandang, bijaksana, dan berpendidikan tinggi. Kebahagiaan sepertinya sudah sempurna dalam hidupnya. Andi memiliki seorang istri yang cantik dan dua anak perempuan bernama Anna dan Elsa. Andi menyelesaikan sekolahnya di Belanda dan kembali ke Tanah Air dengan bahasa Belanda yang sangat fasih. Dia sangat disegani oleh pemerintah Hindia Belanda karena dia dianggap memiliki kuasa sebagaimana kelompok bangsawan.

“Akhirnya hari yang ditunggu datang juga, bukan?”

Pejabat Tinggi Pelabuhan menyalami, sambil menepuk-nepuk akrab bahu pemimpin rombongan. (Rindu, 2014: 10)

“Ini Daeng Andipati, pedagang di Kota Makassar. Masih muda, kaya raya, pintar dan baik hati. Aku kenal dengannya saat dia dikirim orangtuanya sekolah di Rotterdam School of Commerce lima belas tahun lalu.” (Rindu, 2014:11)

Dibalik kesempurnaan sosok Daeng Andipati, lelaki itu ternyata menyimpan sebuah masalah besar dalam kehidupannya. Dia dibesarkan dengan perlakuan kasar ayahnya kepada ibunya. Hal ini membuatnya membenci sosok ayahnya. Semestinya sosok seorang ayah memiliki keterikatan hati dengan anaknya, tapi berbeda dengan yang dirasakan oleh Daeng Andipati. Kekuasaan sang ayah dipertontonkan di hadapan dirinya, ibunya, bahkan enam orang saudaranya yang lain. Hal ini membuat rasa benci tertanam dalam dirinya seperti dalam kutipan berikut ini:

“Maafkanlah ayahmu, Nak. Hanya dengan itu kita bisa merengkuh kedamian. Dalam agama kita banyak sekali perintah agar senantiasa memaafkan. Ditulis indah dalam kitab suci, diwasiatka langsung oleh Nabi. Keburukan bisa dibalas dengan keburukan, tapi sungguh besar balasan Allah, jika kita memilih memaafka. Lihatlah, bahkan Allah tidak mengirim petir bagi Daeng Patoto, karena boleh jadi, Allah masih memberikan maaf di dunia ini, menangghkan hukuman. Kau berhak aas kedamaian dihatimu. Maafkanlah seperti ibumu yang memilih memaafkan suaminya. Maafkanlah seperti ibumu yang hingga akhir hayatnya tetap berdiri di samping suaminya. Tidak pergi walau selangkah. Tidak mundur walau sejengkal.” (Rindu, 2014:374-375)

  • Ambo Uleng

Sosok Ambo Uleng hanyalah seorang kelasi yang bekerja di bagian kantin kapal uap milik Inggris tersebut. Akan tetapi, dibalik sosoknya yang pendiam dan penampilannya yang lusuh, ternyata Ambo Uleng bukanlah pelaut sembarangan. Pengalamannya selama bersama ayahnya melaut telah cukup membuatnya paham tentang pelayaran. Ditambah pula pengalaman yang dia rasakan selama menjadi kelasi di kapal Phinisi.

“Aku bisa membuat kapal ini kembali berlayar, Kaptein. “ Ambo Uleng langsung bicara saat berhadapan langsung dengan Kapten Phillips.“Bagaimana cara kau akan melakukannya, Ambo?” Kapten Phillips bertanya serius.“Tiang-tiang layar.” Ambo Uleng menunjuk keluar jendela, terlihat dua tiang besar di haluan dan buritan kapal, “Naikkan layar di tiangnya, Kaptein. Kita bisa melaju cepat menuju pelabuhan (Rindu, 2014:442).”  

Meskipun berbagai kelebihan yang dimiliki oleh Ambo Uleng, namun lelaki itu menyimpan sebuah masalah besar dalam hatinya. Dia merasa bahwa perasaannya kepada seorang gadis yang dicintainya telah menghegemoni kehidupannya. Perjodohan yang dilakukan oleh orang tua sang gadis membuatnya memilih untuk lari dari kenyataan bahkan Ambo Uleng berencana untuk membunuh dirinya karena berputus asa. Namun, dia beruntung bertemu dengan Gurutta di kapal uap menuju perjalanan haji ke Baitullah. Dia pun berusaha untuk bangkit dan meyakinkan dirinya bahwa cinta sejati harus bisa melepaskan. Berikut kutipannya:

“Hanya dua alasan yang membuat seseorang memutuskan pergi sejauh mungkin. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi karena rasa cinta yang amat dalam,” ujar Kapten Phillips kepada Ambo Uleng. (Rindu, 2014: 33)

“Kita boleh jadi membenci atas kehidupan ini, boleh kecewa, boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka jangan rusak kapal kehidupan milikmu hingga dia tiba di dermaga terakhirnya”. (Rindu,2014:284)

“Cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, semakin tulus kau melepaskannya. Besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan”. Pesan Gurutta pada Ambo Uleng. (Rindu,2014:492)

  • Kapten Phillips dan Sergeant Lucas

Kapten Phillips merupakan kapten kapal uap Blitar Holland. Meskipun Kapten Phillips merupakan bangsa Belanda yang ikut serta menjajah Indonesia, namun kapten kapal ini tidak suka jika para penumpang selalu dicurigai oleh tentara Belanda. Kapten Phillips percaya bahwa para penumpang yang akan menunaikan ibadah haji ini memiliki niat yang lurus untuk beribadah. Oleh sebab itu, Kapten Phillips sangat menghormati siapapun termasuk Gurutta, Daeng Andipati, para kelasi, dan seluruh penumpang kapal. Bagi Kapten Phillips, kenyamanan penumpang adalah prioritas dalam upaya meraih keuntungan perekonomian. Orientasi kapten kapal ini murni untuk ekonomi kapitalis. Berbeda dengan Sergeant Lucas yang memiliki rasa kebencian yang mendalam pada masyarakat pribumi, khususnya ulama seperti Gurutta Ahmad Karaeng. Sebagaimana kutipan berikut:

“Astaga, Lucas. Ini kapal penumpang sipil. Ini bukan kapal perang. Semua orang memang merdeka di atas kapal!” Suara Kapten Phillips mengeras.

“Catat baik-baik, Kakek Tua. Aku akan mengawasi kau sepanjang perjalanan. Dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Aku jamin itu. Dan overdomme, berhenti memanggilku minj vriend! Aku tidak berteman dengan seorang kakek tua irlander penuh hasut seperti kau. Tidak pernah!” ucap Sergeant Lucas kepaada Gurutta. (Rindu,2014: 41)

 Hampir seluruh isi kapal bersuka cita. Termasuk Sergeant Lucas, yang meskipun setiap melihat irlander melintas di depannya, ia selalu mendengus kesal. (Rindu,2014:45)

  • Mbah Putri  dan Mbah Kakung

Selama perjalanan bersama kapal uap untuk menuju Tanah Suci, dua pasangan sejoli ini telah banyak menginsprirasi penumpang kapal yang mengangkut calon jemaah haji dari Makassar, Jawa, Padang, dan Aceh.  Kedua orang tua ini membangun rumah tangganya dengan dasar ikatan cinta yang kokoh. Sampai akhirnya mereka harus terpisah karena maut di tengah perjalanan panjang menuju Baitullah. Berikut kutipan kisah romantis mereka.

“Enam puluh tahun kami menikah. Dua belas anak. Tentu saja ada banyak pertengkaran. Kadang merajuk diam-diaman satu sama lain. Cemburu. Salah paham. Tapi kami berhasil melaluinya. Dan inilah puncak perjalanan cinta kami. Aku berjanji padanya saat menikah, besok lusa, kami akan naik haji. Kami memang bukan keluarga kaya dan terpandang. Maka itu aku kumpulkan uang, sen demi sen. Tidak peduli berapa puluh tahun, pasti cukup. Setahun lalu saat uangnya cukup, putri sulung kami mendaftar naik kapal ini. Ia juga ikut untuk menemani. Pagi ini, kami sudah berada di atas kapal haji (Rindu,2014:208).”

“Pendengaranku memang sudah tidak bagus lagi, Nak. Juga mataku sudah rabun. Tubuh tua ini juga sudah bungkuk. Harus kuakui itu. Tapi aku masih ingat kapan aku bertemu istriku. Kapan aku melamarnya. Kapan kami menikah. Tanggal lahir semua anak-anak kami. Waktu-waktu indah milik kami. Aku ingat itu semua.” (Rindu, 2014: 205)

  • Bonda Upe

Anak-anak yang ikut serta bepergian dengan orang tuanya menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kapal uap belajar mengaji kepada Bonda Upe. Perempuan ini pandai mengaji meskipun baru belajar beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, Bonda Upe dan suaminya, Enlai, hampir tidak pernah terlihat di meja makan kapal. Mereka hanya tampak saat menunaikan salat di masjid kapal. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi Gurutta. Dengan penuh hati-hati, Gurutta mencoba mencari tahu apa yang sedang disembunyikan oleh Bonda Upe dari kehidupannya. Ternyata Bonda Upe terhegemoni dengan masa lalunya yang kelam.

Ketika masih gadis dahulu, Bonda Upe pernah berprofesi sebagai wanita simpanan tentara Belanda. Keindahan rupanya telah membuatnya hanyut dalam sanjungan para tentara meskipun pada awalnya dirinya hanya dipaksa sebagai wanita penghibur. Namun, lama kelamaan, wanita itu menikmati perannya karena dia merasa bangga sebab dialah bunga terindah di antara teman-teman seprofesinya. Akan tetapi, setelah  sekian lama, Bonda Upe sadar dan ingin kembali menjadi wanita baik-baik. Dia menyesali seluruh masa lalunya yang kelam. Ternyata, Allah masih menyayanginya. Allah mengirimkan seorang laki-laki bernama Enlai yang penyayang dan siap menerima dirinya dan masa lalunya. Lelaki itu dengan sabar membimbing Bonda Upe dalam menjalani perjalanan “hijrahnya”. 

“Kesalahan itu ibarat halaman kosong. Tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, maupun dengan penghapus canggih, dengan apa pun itu. Tapi tetap tersisa bekasnya. Tidak akan hilang. Agar semuanya benar-benar bersih, hanya satu jalan keluarnya , bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong”. (Rindu,2014:376)

“….Saat kita tertawa,hanya kitalah  yang tahu persis apakah tawa itu bahagia atau tidak. Boleh jadi, kita sedang tertawa dalam kesedihan. Orang lain hanya melihat wajah. Saat menangis pun sama, hanya kita yang tahu persis apakah tangis itu sedih atau tidak. Boleh jadi kita sedang menangis dalam seluruh kebahagiaan. (Rindu,2014: 313)

Peluklah masa lalumu. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disisram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. (Rindu,2014:312)

  • Para kuli dan kelasi

Di antara seluruh tokoh dalam cerita ini, maka para kuli dan kelasi merupakan kelompok masyarakat termarginalkan oleh hegemoni dari para penguasa. Mereka menikmati setiap tugas mereka meskipun harus menerima cacian, bentakan, bahkan direndahkan berkali-kali. Berikut kutipannya:

“Kau pikir kau petugas yang menekah horn, hah? Atau kau pikir kau adalah penumpang kelas VIP? Baru masuk kantin setelah peluit terdengar, dan kami semua menunduk menyambutmu? Jij, lihat itu jam, pukul berapa sekarang? Kepala koki meledak marahnya. Spatula itu ditekankan berkali-kali ke perut Ambo Uleng yang menunduk. (Rindu, 2014: 166).

Kuli-kuli bertelanjang dada langsung berlarian mendekat. Tak ubahnya seperti anak-anak melihat rombongan pengantin yang melemparkan koin-koin uang. Para kuli itu berseru-seru, berebut menawarkan jasa memikul peti-peti besar, tas, karung, atau apapun yang ada di kereta kuda. Satu dua tentara Belanda berusaha menertibkan mereka, balas berseru-seru dengan bahasa Makassar yang terdengar kaku-tidak mampu menaklukkan lidah Eropa mereka meski lama tinggal di negeri jajahan. (Rindu, 2014:5)

3. Kesimpulan

Novel Rindu karya Tere Liye merupakan novel sejarah yang telah ditelaah dengan menggunakan teori hegemoni Gramsci. Dari hasil telaah ditemukan hegemoni-hegemoni yang dirasakan oleh para tokoh dalam novel tersebut. Novel yang bercerita tentang latar waktu tahun 1938 tersebut menunjukkan hegemoni yang dilakukan oleh para penjajah Belanda sebagai kelompok penguasa pada masa itu kepada kaum pribumi. Demikian juga hegemoni yang dilakukan oleh para kaum intelektual melalui ideologinya kepada para pelajar. Selain itu, tampak juga hegemoni yang dilakukan oleh kelompok borjuis kepada kelompok termarginalkan. Semua hegemoni di atas menyatu membangun novel Rindu dalam satu kesatuan yang utuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here