Ilustrasi :Technologue.id

Surat untuk Tuan Guru Asqalani

Abad ke-12 namamu mekar dalam sejarah
Buah penamu mendunia, penuh titah dan nasihat
Tentang luka yang menusuk sembilu
Tentang cerita duka tiga anak perempuanmu
Tentang kematian yang tak mengenal kasta dan derajat
Tentang meluasnya amal yang tak berawal dari ilmu
Tentang air mata, antara kesedihan dan kebodohan
Menyatu bagai bayang-bayang dalam terang
Dan tetap melekat meski gelap telah menjelma

Tuan guru Asqalani
Buah pikirmu yang kau ukir bersama aroma air mata
Teringat waktu yang menari dalam jendela masa lalu
Kitab Badzlu al Maun Fi Fadhli al Thaun menjadi saksi bisu
Ini perkara realita
Bukan fiksi, bukan melodrama, bukan pula syair pelipur lara

749 Hijriyah, di jantung Negeri Suriah
Umat berkumpul, mendamba pandemi segera berlalu
Penuh air mata mereka meminta
Ternyata sia-sia, justru memberi celah untuk wabah merajalela
Mereka abai pada anjuran menjaga jarak dan tetap di rumah
Mereka yang tak bisa diberi peringatan
Akhirnya terinfeksi dan menginfeksi
Lalu, jasad-jasad bertaburan
Pandemi tidak usai
Sekali lagi, justru wabah tidak selesai

Tuan Guru Ibnu Hajar Asqalani
Andai semua mata menatap pada ceritamu
Andai semua telinga mendengar kisahmu
Andai semua hati tidak mengeras dan membeku
18.010 terinfeksi, 1.191 meregang nyawa di Indonesia hari ini
“Akta kebal korona” hanya bualan belaka

Para raja mungkin sudah mulai letih mencintai
“Saatnya berdamai dengan pandemi,” titah mereka
Para tabib angkat tangan dengan lisan yang tak lagi kuasa berkata

#IndonesiaTerserah, merebak bagai kemarau panjang tak berkesudahan

Umat kembali berkerumun dalam kesombongan
Ada yang “terpaksa” ikut berkerumun karena lapar sudah lama tidak bertemu kenyang
Akankah kematian akan mengosongkan isi negeri?
Genosida telah bersiap menyapa
Wabah thaun, flu spanyol, SARS, ternyata tak juga jadi pelajaran

Tuan Guru Asqalani
Jika ulama sekaliber Anda saja tidak dihiraukan,
Lantas, pada siapa lagi umat ini akan berguru?

13 KOMENTAR

  1. Kesadaran orang-orang Indonesia masih sangat kurang. Alasan orang untuk melanggar aturan selalu ada, sebab yang ditanamkan dari kecil peraturan itu ada untuk dilanggar. Ya sudah, terbentuklah mental-mental tak taat peraturan. Yang waras saja yang mengalah dengan berusaha semampunya, sekaligus membantu sebisanya, dan berdoa yang banyak, agar pandemi ini bisa berhenti. Kemudian keluarga kita dilindungi Allah SWT, aamiin

  2. Sedih kalau memantau perkembangan umat, ketika keselamatan diri diabaikan demi hal-hal yang seharusnya berada di bawah keselamatan jiwa mereka. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kejadian ini

  3. Sekaliber ibnu hajar tidak dihiraukan, bagaimana dengan pembawa risalah kenabian? Setiap perjuangan ada rintangan. Ada tetes keringat jika ingin disebut seorang pejuang, ngeluh itu biasa tetapi putus asa adalah kata yang tak pantas bagi siapa saja yang sedang berjuang.

  4. Sekarang udah tembus 20.000 orang yang terinfeksi covid-19. Sedih iya banget. Takut-takut kalau virus masuk desa saya. Susah untuk menjangkau rumah sakit yang memadai. Semoga segerah berlalu dan tetap stay at home :’)

  5. Ulama besar berasal dari mesir, sedikit tahu karya beliau yang terkenal fathul bari.
    Semoga indonesia tidak menyerah melawan pandemi ini, indonesia akan menang selagi masih ada orang-orang yang tetap optimis dan berjuang. Amin

  6. Sedih ngeliat keadaan indonesia yang kayak gini. Tapi para pejuang garda terdepan tetap gak mau indonesia terserah. Jadinya sekarang yang trending Indonesia Jangan Terserah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here