Ilustrasi : Capture Youtube

Riausastra.com – Tulisan Malay Colophons karya Henri Chambert Loir tahun 2006 memuat tentang kondisi pengkajian pernaskahan di Nusantara. Kajian pernaskahan di Nusantara berkembang pesat meskipun di Barat telah lama meredup. Indikator yang dijadikan sebagai bukti adalah banyaknya publikasi dan katalog yang memuat tentang kajian manuskrip. Hal ini membuka potensi dan peluang untuk kajian filologi. Misalnya: Chatalogue of Buton by Achadiati Ikram (2003). Selain banyaknya katalog manuskrip, kajian filologi semakin berkembang di tengah-tengah lembaga pendidikan. Kemudian, munculnya berbagai komunitas penggiat budaya seperti Lingkar Filologi Ciputat, Ngariksa di bawah binaan Prof. Oman Fathurrahman, dll. Selanjutnya, penyuntingan teks pada manuskrip semakin semarak.

Akan tetapi, masih terdapat kelemahan dari perkembangan kajian pernaskahan diakibatkan oleh banyaknya para sarjana yang fokus meneliti teks. Padahal, kajian filologi bisa juga fokus pada fisik teks dengan menggunakan kajian kodikologi. Pada kodikologi dapat diterapkan kajian kolofon, kertas, lay out, hiasan atau iluminasi.

Henri mengumpulkan enam katalog naskah dari Perpusnas RI, SPNM, UB Leiden, Inggris Raya, dll. Henri menyimpulkan terdapat 1.965 manuskrip dan di dalam manuskrip tersebut terdapat 798 kolofon. Mengapa harus mengkaji kolofon? Hal ini sangat penting mengingat minimnya perhatian masyarakat untuk mengkaji kolofon pada manuskrip Melayu.

Kolofon menurut Henri adalah catatan yang berada di akhir penulisan sebuah naskah yang memuat info kepengarangan, penyuntingan, waktu pembuatan, tempat penulisan dan penyuntingan, bagaimana naskah tersebut disalin, dan siapa saja yang terlibat dalam penyalinan. Adanya kolofon pada manuskrip Nusantara karena kuatnya pengaruh tradisi Arab dan Persia.

Pada manuskrip Islam, kolofon yang terletak di bagaian awal disebut sebagai “manggala”. Pada manuskrip yang ditulis oleh Ibnu Hajar Asqolani, keberadaan kolofon menjelaskan bahwa tujuan ditulisnya manuskrip tersebut adalah karena permintaan dari kolega dan para sahabatnya yang ingin mengetahui dahsyatnya pandemi wabah thoun pada masa itu.  Adapun tujuan kolofon lainnya adalah memberikan informasi tentang penulisan teks serta mengkaji sejarah penyalinan nakah tersebut.

Contoh naskah yang terdapat kolofon adalah:

  • Nazam Tarekat

Pada manuskrip ini, terdapat dua buah kolofon yang berada di awal dan di akhir. Di awal berisikan 15 Ramadan tahun Alif Hijrah Nabi Utusan 1283, Jawa 1794 yang menulis menandai Hasan Dineja. Kolofon yang tertulis di akhir dengan aksara Pegon berisikan, selesai, Jumadil Awal, tahun Wawu, Hijratun Nabi Utusan tahun 1257.

  • Koleksi Masykur Aceh, seorang cendekiawan muda.

Koleksi dari mahasiswa UIN Arraniry Banda Aceh tersebut terdapat unsur doa pada kolofon dalam manuskrip. Isi kolofon tersebut, telah selesai dari seorang yang fakir, Muhammad Jaelany Ali Ibnu Hasanji Ibnu Muhammad Hamid Arraniry, mazhabnya Syafii, telah selesai mengumpulkan hadist dengan bahasa Melayu , Syawal, Jumat, tahun 1025. Tamat kitab pada Jumat waktu zhuhur. Menyurati Muhammad Ali dan yang punya Teuku Tanjung.

  • Pesantren Tarbiyya al-Talabah, Jawa Timur

Tammat penulisan yang dinamakan Minhajul Qawim pada Jumat, waktu dhuha, tahun Wawu 1264, hijratun Nabi min Makkati ilal Madinah. Pada kolofon ini terdapat unsur judul manuskrip dan unsur doa.

  • Kitab Assanusi

Kitab Assanusi atau Ummul Barahim selesai pada Selasa waktu dhuha, bulan Dzulqaidah tahun Jim.

Di antara naskah di atas, banyak yang tidak memiliki nama karena pada dasarnya kitab-kitab ini ditulis untuk koleksi pribadi. Oleh sebab itu, para penulis dan penyalin tidak menyebutkan nama sehingga ada unsur kolofon yang lengkap dan ada yang tidak lengkap unsur-unsurnya.

Link Youtube Kolofon Melayu :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here