Riausastra.com – Pascastrukturalisme berkembang untuk menganalisis nilai-nilai sosial budaya yang membangun sebuah karya sastra. Dengan metode penghancuran yang dilakukan oleh Jacques Derrida terhadap teori dekonstruksi, menghasilkan unsur-unsur pembangun sebuah karya. Setelah dihancurkan, justru diperbaiki kembali dengan model baru. Demikian juga metode dekonstruksi yang diaplikasikan terhadap cerpen “Guru” karya Putu Wijaya. Melalui metode analisis deskriptif dan pembacaan cerita, maka dihasilkan klimaks yang melahirkan beberapa biner dan undecidable yang menguraikan isi cerita.

Kata kunci: dekonstruksi, Derrida, “Guru”

  1. PENDAHULUAN

Dalam sudut pandang pascastrukturalisme, bahasa tidak teratur dan tidak stabil karena adanya aspek linguistik yang bisa diserap dan dijadikan sebagai kritik yang dianggap mampu melampaui strukturalisme. Dalam Sunardji (halaman: 373) pascastrukturalisme menjelaskan bahwa faktor sosial budaya berpengaruh dalam mendefinisikan tubuh dengan karakter ilmiah, universal, yang bergantung pada waktu dan tempat. Bahwa ciri-ciri alamiah tubuh (laki-laki dan perempuan) bisa bermakna berbeda dalam tataran kebudayaan yang berbeda. Seorang tokoh pascastrukturalisme, Foucoult, tertarik pada cara berbagai bentuk ilmu pengetahuan menghasilkan cara-cara hidup. Menurutnya, aspek masyarakat yang paling signifikan untuk menjadi modern bukanlah fakta bahwa masyarakat itu ekonomi kapitalis (Marx), atau suatu bentuk baru solidaritas (Weber) atau bersikap rasional (Weber), melainkan cara dimana bentuk-bentuk baru pengetahuan yang tidak dikenal pada masa pramodernitas itu muncul yang dapat mendefinisikan kehidupan modern.  

Dari uraian di atas, faktor sosial budaya bisa menggambarkan unsur-unsur yang membangun karya sastra secara universal, meskipun karya tersebut tetap terikat pada waktu dan tempat. Bahkan pengetahuan-pengetahuan baru muncul saat mendefinisikan kehidupan masa kini yang tergambar di dalam sebuah karya sastra.

Dengan mode cara berpikir sendiri, pascastrukturalisme hadir untuk menganalisis karya sastra. Pada analisis berikut, akan diterapkan teori Jacques Derrida dengan konsep dekonstruksi pada cerpen berjudul “Guru” karya Putu Wijaya. Cerpen “Guru” layak untuk dikritik dengan kritik sastra dengan metode dekonstruksi karena cerpen tersebut memiliki kekayaan makna di setiap teksnya. Selain itu, cerpen karya Putu Wijaya tersebut cukup menggambarkan kondisi zaman sekarang sehingga perlu untuk dikupas lebih dalam unsur-unsur pembangunnya.

Tinjauan pustaka terhadap cerpen “Guru” karya Putu Wijaya telah banyak diteliti oleh orang lain, seperti: Cerpen “Guru” karya Putu Wijaya sudah pernah dianalisis dengan pendekatan struktural dengan dengan menganalisis unsur-unsur intrinsik oleh Kristia Bintang (kristiabintang.blogspot.com/17/12/2019), Apresiasi Cerpen dengan menganalisis unsur-unsur intrinsik dan unsur-unsur ekstrinsik oleh Guruh Aris Setyawan (maribelajarbersamapgsd.blogspot.com /17/12/2019), Kajian Intertekstualitas pada Cerpen “Guru”  karya Putu Wijaya dengan Cerpen “Saksi Bisu Pengorbanan Guru” Karya Evangelina Tessia Priscilia (samsullastra.blogspot.com /18/12/2019). Beberapa analisis di atas menggambarkan tentang ketertarikan pembaca untuk melakukan apresiasi dan kritik sastra terhadap cerpen “Guru” karya Putu Wijaya. Berbeda dengan analisis yang akan dilakukan saat ini, yaitu menggunakan pendekatan dekonstruksi Derrida.

2. LANDASAN TEORI

Menurut Derrida (dalam Sim, 2002: 59) Dekonstruksi merupakan suatu pengembangan dari observasi yang dilakukan oleh Ferdinand de Saussure tentang hubungan antara penanda dan petanda (kata dan makna) yang bersifat arbiter (semena-mena atau mana suka). Selanjutnya, Derrida (dalam Al-Fayadl, 2005: 79) dekonstruksi merupakan menyusun puing-puing yang tertinggal dari bangunan teks, menghancurkannya kembali, menatanya, lalu merombaknya kembali.

Berdasarkan teori Derrida di atas dapat disimpulkan bahwa dekonstruksi dikembangkan dari teori semiotika yang dirumuskan oleh Ferdinand de Saussure. Kemudian, memaknai sebuah bangunan teks dengan cari menguraikan unsur-unsur yang membangun teks, lalu menyusunnya kembali dengan penataan yang lebih baik sehingga ditemukan makna yang lebih kaya di salam bangunan teks karya sastra tersebut.

Dekonstruksi adalah penolakan terhadap logosentrisme dan fonosentrisme yang secara keseluruhan melahirkan oposisi biner dan cara-cara berpikir yang bersifat hierarkis dikotomis (Ratna, 2004: 222).

Berdasarkan teori di atas dapat dimaknai bahwa sasaran dekonstruksi ialah mempertimbangkan sejauh mana sebuah teks dianalisis dengan mencoba mengungkapkan berbagai kemungkinan yang terkandung di dalam teks itu sendiri, baik termasuk yang tertindas atau terselubung, baik sengaja atau tidak, dan secara sadar atau tidak. Hal ini dilakukan dengan cara membongkar bangunan teks dengan menganalisis tekstual yang mendalam. Selain itu, dekonstruksi dilakukan dengan memperhatikan gejala-gejala yang disembunyikan dengan sengaja atau tidak.

Derrida melalui dekonstruksi hendak membongkar filsafat yang mengatakan bahwa segala sesuatu adalah bahasa. Bahasa memiliki kecenderungan membekukan ideologi di dalam teks. Hierarki metafisik itu kental melekat pada bahasa (Haryatmoko, 2016). Hierarki metafisik dibentuk mula-mula melalui oposisi biner yang terdapat dalam teks. Oposisi biner membentuk tingkatan dalam pembandingan kata. Sebagai contoh, putih/hitam, miskin/kaya, besar/kecil, siang/malam, kata-kata tersebut tanpa disadari membawa kecenderungan pilihan sekaligus. Selain itu, hierarki metafisik yang telah terbentuk dan membeku dapat dipetakan dengan menemukan unsur-unsur yang undecidable. ‘Undecidable’ merupakan konsep yang sulit dimasukkan ke dalam salah satu kutub oposisi biner.

Penulis tertarik untuk menganalisis cerpen “Guru” karya Putu Wijaya karena di dalam cerpen tertulis kisah seorang tokoh bernama Taksu yang bersikeras ingin bercia-cita menjadi seorang guru. Akan tetapi, dengan berbagai upaya dilakukan oleh orang tua Taksu agar anaknya tidak bercita-cita menjadi seorang guru. Metode analisis yang akan dilakukan menggunakan pendekatan teori dekonstruksi Derrida dengan cara studi deskriptif dan studi perpustakaan. Langkah yang dilakukan selanjutnya adalah menganalisis teks dengan mencari oposisi biner, kemudian mencari teks yang “undecidable”.

3. PEMBAHASAN

Cerpen “Guru” karya Putu Wijaya memiliki klimaks pada kutipan kalimat berikut:

“Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu. Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya. Saya duduk di dalam kamar itu, mencium bau Taksu yang masih ketinggalan. Pikiran saya kacau. Apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok? Mau tak mau saya kembali memaki-maki Mina yang sudah menyesatkan pikiran Taksu. Kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.”

Dari kutipan di atastergambar bagaimana perjuangan seorang ayah untuk meyakinkan anak laki-laki satu-satunya agar ikut dengan kemauan orang tua. Pada teks ini, si anak yang bernama Taksu lebih memilih untuk bertentangan dengan orang tuanya dan tidak menerima harta pemberianorang tuanya karena Taksu menganggap bahwa prinsip yang sudah dia bangun kokoh dalam jiwanya tidak dapat ditukar dengan materi. Padahal, di masa yang penuh dengan ragam hidup bergaya mewah sedang populer di saat ini. Sangat sulit ditemui orang-orang yang punya prinsip teguh dan prinsip itu mengakar kuat hingga ke dalam jiwanya. Di masa sekarang, justru yang sering terlihat adalah maraknya kelakuan manusia yang rela menukar prinsipnya dengan harta / materi. Padahal, prinsip akan kekal selamanya, sedangkan materi hanya pemuas nafsu sekejap.

Cerminan seorang guru pada kutipan teks di atas mengandung dua unsur berlawanan (biner) yang membangun klimaks konflik cerita. Unsur biner tersebut adalah “mulia dan brengsek”:

  • Guru pekerjaan mulia

Pada konteks di atas, pada dasarnya setiap guru harus memiliki cerminan pribadi yang baik karena sejatinya seorang guru merupakan teladan bagi anak didiknya. Jika guru benar-benar mengabdikan dirinya untuk mendidik generasi, sudah pasti, ilmu yang diajarkan oleh para guru akan menjadi lentera dalam kehidupan dan masa depan anak didiknya. Lalu, ilmu yang diajarkan tersebut akan menjadi amal jariyah bagi guru.

  • Guru itu banyak yang brengsek

Jika dilihat potret zaman masa kini, banyak orang yang berlomba-lomba menjadi guru dengan niat ingin mendapatkan upah yang tinggi sehingga orientasi guru banyak yang berkiblat pada materi. Tidak sedikit guru yang melakukan pungli terhadap orang tua melalui anak didiknya. Tidak sedikit guru yang mengajar dengan modal kekerasan. Padahal, sejatinya seorang guru adalah sahabat terbaik buat anak didik selama di sekolah.

Terdapat beberapa oposisi biner dalam naskah cerpen “Guru” karya Putu Wijaya sebagai berikut:

  • Desa >< kota
  • Ada >< tidak ada
  • Tugas banyak >< upah sedikit
  • Tinggalkan >< kunjungi
  • Senang >< terpukul
  • Meletakkan >< memungut
  • Lenyap >< abadi
  • Pergi >< tinggal
  • Mulia >< brengsek

a. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota.

Pada kutipan cerita di atas, terdapat dua perbandingan antara desa dan kota. Tokoh yang berperan sebagai ayah Taksu mengutarakan bahwa prinsip-prinsip yang menyanjung-nyanjung profesi guru hanya dilakukan oleh orang desa dengan makna tersirat bahwa orang desa masih menganggap profesi guru sebagai profesi yang diperhitungkan. Sedangkan menurut orang tua Taksu, kehidupan di kota sudah lain. Profesi guru hanya dianggap sebagai sebelah mata oleh masyarakat kota.

b. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja.

Ungkapan pertama menegaskan bahwa tidak ada orang yang ingin menjadi guru. Jika ada yang sudah jadi guru, menurut orang tua Taksu, pasti karena terpaksa dan hanya pilihan akhir daripada tidak bekerja. Begitulah pandangan sebagian masyarakat di negeri ini. Gambaran hidup yang diceritakan oleh keluarga Taksu  dalam cerita merupakan gambaran paradigma sebagian masyarakat di dunia nyata.

c. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar.

Profesi guru disampaikan dalam cerita sebagai profesi yang sangat sibuk. Selain mendidik, guru juga wajib membuat administrasi sehingga para guru dituntut tidak hanya fokus menjadi sahabat buat para siswa yang akan memahami karakter siswa. Adakalanya kesibukan administrasi menguras waktu dan energi para guru sehingga perhatian dan tanggung jawab mereka terbagi. Untuk masalah upah, bagi guru yang sudah PNS, upahnya sudah dikatakan cukup meskipun belum sampai pada tahap sejahtera. Namun, kalau guru honorer, sangat jauh dari kata layak. Yang lebih ironi adalah para guru honorer belum tentu menjadi PNS mengingat betapa sulitnya perjuangan untuk lolos menjadi PNS.

d. Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas.

Taksu senang sekali. Tapi kami sendiri kembali sangat terpukul.

Taksu merupakan seorang tokoh yang sangat kuat dalam pendiriannya. Kedua orang tuaTaksu juga merupakan orang yang gigih sekali dengan keinginannya. Keinginan antara anak dan orang tua bertolak belakang karena masing-masing punya pandangan tersendiri terhadap sosok guru.oleh karena itu, saat Taksu dengan senang hati tetap memilih ingin menjadi guru, namun kedua orang uanya merasa terpukul sekali dengan pilihan Taksu.

e. Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.

Masa sekarang ini, sogokan adalah jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu. Misal, agar urusan lancar, maka diberikanlah uang atau harta benda sebagai alat untuk menyogok. Dengan menyerahkan sogokan tersebut, biasanya semua keinginan akan terkabul dalam waktu dekat sesuai dengan besarnya nilai sogokan. Metode sogokan inilah yang diterapkan oleh orang tua Taksu untuk mengalihkan cita-cita Taksu agar tidak bersikukuh untuk menjadi guru. Orang tua Taksu memberikan laprop, kerupuk kulit, mobil, hingga BMW kepada Taksu. Awalnya Taksu menerima pemberian itu. Tetapi, diletakkannya kembali pemberian itu karena orang tuanya ingin agar Taksu tidak bercita-cita menjadi guru.

f. Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi.

Kutipan cerpen di atas membandingkan antara kata ‘lenyap’ dengan kata ‘abadi’. Taksu mengutarakan kepada kedua orang tuanya bahwa ilmu yang diajarkan oleh seorang guru tidak akan pernah hilang meskipun guru tersebut sudah tidak ada lagi. Ilmu yang diajarkan akan kekal abadi.

g. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:

Saat Taksu memilih pergi, itu pertanda bahwa sudah tidak ada lagi celah untuk mengubah pendiriannya. Akan tetapi, ayah dan ibunya yang merasakan suasana ruang kosong sebab ditinggal pergi oleh Taksu, membuat mereka merasa bersalah.

h. Kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.

Pada kutipan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ada guru yang mulia, namun ada juga guru yang brengsek. Tergantung pada niat setiap orang saat setiap orang tersebut memilih untuk menjadi guru.

Lanjutan analisis pada cerpen “Guru” karya Putu Wijaya adalah menelaah naskah yang memberikan makna Undecidable atau “yang tidak dapat ditentukan”. Berikut beberapa kalimat yang dianggap undecidable:

  • “Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!”

Saat ayahnya Taksu mengatakan bahwa hanya bicara satu kali, setelah itu tereserah itu dapat dimaknai bahwa tidak ada pilihan lain lagi. Mau tidak mau, ayahnya Taksu mengharuskan anaknya agar ikut kemauannya.

Berkali-kali ayahnya Taksu membanding-bandingkan nasib seorang guru di desa maupun di kota. Banyak orang yang sepaham dengan ayahnya Taksu bahwa banyak guru yang memilih untuk tetap menjadi guru daripada tidak berkerja sama sekali. Oleh karena itu, tidak heran jika banyak sekali guru yang orientasinya adalah uang.

  • Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar.

Pesan tersirat dari kalimat di atas menggambarkan antara lemahnya pendapatan dari seorang guru. Padahal dalam dunia nyata, banyak sekali guru yang hidupnya cukup dan mapan, bahkan bermegah-megahan. Setiap libur panjang menuju pergantian jadwal mengajar, maka tujuan jalan-jalan ke luar negeri juga sudah hampir menjadi tradisi di dunia sekolah.

  • Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!”

Ayahnya Taksu menyebutkan bahwa menjadi guru sama saja memilih hidup menderita. Tidak akan ada kebaahagiaan yang akan diperoleh denan menjadi seorang guru. Padahal pada kenyataannya tidak begitu. Guru banyak juga yang hidupnya sejahtera seperti masuk surga.

  • Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang perjalanan. Yang dijadikan bulan-bulanan, saya. Menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.

Ibunya Taksu merupakan tipe ibu-ibu kebanyakan yang suka menyalahkan suaminya saat ada yang tidak beres dengan anaknya. Padahal, madrasah pertma pendidikan setiap anak adalah ibunya. Selayaknya, ibunya Taksu harus banyak instropeksi diri saat anaknya memiliki kesalahan.

  •  Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.

Ungkappan dalam kalimat di atas menyatakan bahwa kelemahan setiap suami terletak pada istrinya. Demikian juga dengan kelebihan seorang suami akan sangat berpengaruh ketika mendapat sokongan suaminya. Oleh karena itu, suami istri itu ibarat satu pakaian yang akan saling menutupi dan saling menjaga.

  • “Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!” damprat istri saya. “Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?”

Guru dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, namun pemerintah seolah-olah menutup mata dan telinga saat banyak guru yang tidak bisa mengajar dengan baik, banyak guru yang tidak mendidik dengan hati, bahkan banyak sekali oknum guru yang justru menjadi penyebab rusaknya masa depan anak bangsa.

  • “Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?”

Potret masa kini yang membiarkan guru harus tetap mengajar walaupun dengan gaji yang sangat tidak layak, seperti yang dirasakan oleh para guru honorer. Iming-iming akan diangkat jadi guru PNS membuat para guru honorer memilih untuk bertahan tanpa digaji. Padahal kenyatataannya jauh panggang dari api. Tidak heran jika guru yang sejahtera akan semakin sejahtera dan guru yang tidak pernah mendapatkan perhatian, hanya akan menjadi guru yang tergilas oleh zaman.

Kritis sosial pada kutipan di atas mewakili gambaran masa kini. Kepemimpinan sepertinya sebuah dinasti turun-temurun. Semua fasilitas dinikmati oleh para pejabat bersama keluarganya. Saat anak-anak para petinggi negeri telah sarjana, maka sangat mudah bagi mereka untuk mendapatkan jabatan di negeri ini.

  • Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit,

Orientasi hidup kebanyakan orang adalah duit. Jika memiliki duit, maka akan sangat disegani dan dihormati di negeri ini. Berbeda jika tidak memiliki duit, akan dianggap sebagai beban negara.

  • Dasar anak zaman sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!”

Gambaran masa kini yang menganggap sogokan adalah jalan pintas untuk mewujudkan keinginan hati dalam waktu sekejap.

  • . Istri memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.

Suami tergantung pada prasangka istrinya. Dengan prasangka yang dimiliki oleh setiap istri akan berpengaruh pada jalan rezeki suami.

  • Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu, mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Supaya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti. Bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila! Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!”

Orang tua menginginkan anaknya mapan secara finansial di saat dirinya telah menua. Dengan kemapanan tersebut, orang tua merasa telah berhasil mengantarkan anaknya pada gerbang kesuksesan. Padahal, bekal setiap anak saat menjalani hidup  bukanlah harta, tetapi keterampilan dan kemauan.

  • Anak guru itulah yang saya anggap sudah kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi guru. Sialan!

Ucapan orang tua Taksu di atas menekankan bahwa kebiasaan masyarakat di masa kini senantiasa lebih suka mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain saat terjadi sesuatu hal pada dirinya dan keluarganya. Padahal, sebaiknya harus melihat ke dala diri masing-masing sebelum menjustifikasi orang lain.

Cinta sering membuat seseorang termotivasi. Orang tua Taksu menuduh anaknya sudah dipengaruhi oleh wanita yang merupakan seorang guru dan keturunan guru. Kembali lagi menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam saat ada masalah dengan keluarganya.

  • Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.

Gambaran dari kutipan di atas dimaknai dengan setiap perlakuan yang dilakukan akan kembali kepada pelakunya. Oleh karena itu, jangan ragu untuk berbuat kebaikan, kelak nilai-nilai kebaikan itu akan kembali pada yang melakukannya.

  • “Karena saya ingin jadi guru.”

“Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!”
“Saya mau jadi guru.”
“Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru.”
Taksu menatap saya.
“Apa?”
“Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!” teriak saya kalap.
Taksu balas memandang saya tajam.
“Bapak tidak akan bisa membunuh saya.”
“Tidak? Kenapa tidak?”
“Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak.”

Rangkaian percakapan di atas memberi makna bahwa ilmu yang diajarkan setiap guru akan kekal abadi meskipun jasad dari seorang guru tersebut telah hancur dimakan tanah. Begitulah ilmu yang diajarkan akan kekal abadi sampai kapan pun.

  • “Bangsat!” kata saya kelepasan. “Siapa yang sudah mengotori pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu? Siapa yang sudah mengindoktrinasi kamu, Taksu?”

Kembali lagi, menyalahkan orang lain adalah kebiasaan banyak orang.

  • Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci BMW yang harganya semilyar

Kertas selembar berisi tentang prinsip. Menurut orang yang kuat dalam mempertahankan prinsipnya, maka harta sebanyak apapun tidak akan membuat matanya buta. Menurut Taksu, prinsip tidak bisa diganti dengan BMW.

  • Tetapi itu 10 tahun yang lalu.

Waktu adalah bilangan hari yang akan memberikan kesempatan pada setiap orang memperbaiki semua pandangan dan keadaan. Jika solusi tidak ditemukan sekarang, jangan ragu untuk menunda. Seiring bergulirnya waktu, akan banyak hal berharga yang akan ditemui dan sedikit demi sedikit solusi akan ditemui. Jangan pernah buru-buru mengambil tindakan.

  • “Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja,” ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi.


Setelah lama berjuang untuk meyakinkan kedua orang tuanya, Taksu pun membuktikan bahwa prinsipnya murni karena keinginan yang mulia, atas dorongan hati. Bukan merupakan pengaruh buruk dari orang lain, meskipun kehidupan ini tidak terlepas dari pengaruh orang lain. Taksu ingin mengajarkan setiap orang bahwa menjadi guru adalah pekerjaan utama. Menjadi seorang guru dengan ruang lingkup kerja apapun seperti yang digambarkan oleh Taksu. Meskipun tidak mengajar siswa pandai baca tulis dan menghitung, namun Taksu telah mengajari 10.000 pegawai untuk memiliki akhlak yang baik dan etos kerja positif. Oleh karena itu, Taksu ingin menyampaikan bahwa setiap orang harus menjadi guru agar bisa bermanfaat buat orang lain.

4.KESIMPULAN

Analisis yang dilakukan pada cerpen “Guru” karya Putu Wijaya telah menghasilkan uraian dekonstruksi yang ditandai dengan adanya oposisi biner dan undecidable. Analisis tersebut menggunakan teori dekonstruksi milik Jaques Derrida. Dengan analisis tersebut, cerpen berjudul “Guru” layak dijadikan sebagai pelajaran berharga buat pembaca.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here