Ilustrasi : Liputan6.com

Riausastra.com – Sastra tercipta dari buah pikir seorang pengarang yang dituangkan dalam sebuah karya yang bernilai estetika. Karya-karya sastra merupakan hasil pikiran yang dipadukan dengan perasaan sehingga menghasilkan seni berbahasa yang indah dalam bentuk karya lisan maupun tulisan.

Karya sastra terinspirasi dari segala yang ada di alam semesta. Seperti pendapat Damono (1979:1) bahwa sastra itu adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penciptaan sastra didasari oleh mimesis dengan melihat kenyataan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi, sebuah karya sastra tidak terlepas dari struktur yang membangun karya itu sendiri. Goldman (dalam Rosyidi, 2010: 205) mengemukakan bahwa teks sastra merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar, yang membuatnya menjadi struktur yang berarti. Dalam pengertian ini pemahaman mengenai teks sastra sebagai keseluruhan harus dilanjutkan dengan usaha menjelaskan dengan menempatkannya dalam keseluruhan yang lebih besar.

Analisis yang akan dilakukan pada tulisan ini adalah pada karya sastra populer. Mengkaji karya sastra populer cukup menarik karena keberadaan sebuah karya sastra tidak selalu dititikberatkan pada kualitas karya itu sendiri, melainkan tergantung pada cita rasa dari para peminat dan pembaca karya sastra. Sebagaimana dikemukakan Abraham Kaplan (melalui Damono, 2010:15)  bahwa persoalan selera dan cita rasa sastra bukan persoalan pembelajaran teknis tentang sastra, melainkan proses pendewasaan wawasan, pengetahuan, dan pengalaman dalam intensitas pergulatan dengan sebanyak-banyaknya karya sastra (dikutip dari: NUSA, Vol. 12. No. 4 November 2017).

Pada kajian sastra populer akan diuraikan nilai-nilai sosiologi. Akan tetapi, penelitian sastra populer akan lebih memperjelas pemahaman tentang istilah-istilah, konsep-konsep teori sastra, pengertian yang mendasar tentang unsur-unsur instriksik karya yang meliputi: tokoh, latar, tema, penokohan, dan gaya bahasa. Akan tetapi, jika dalam struktur dan estetiknya tidak perlu dipermasalahkan, maka segi sosiologi sastra akan menawrkan dimensi-dimensi baru yang lebih menarik. Struktur yang membangun karya sastra populer sebaiknya dikaitkan dengan konteks sosial pengarang, konteks sosial pembaca, aspek-aspek sosial teks, dan fungsi sosial kulturalnya. Sebagaimana pendekatan terhadap karya sastra populer dikemukakan oleh John G. Cawelti, yaitu: impact or effect theories, deterministic theories, and symbolic or reflective theories (Cawelti, 1976: 22).            

Ketiga pendekatan yang diutarakan oleh Cawelti di atas akan diterapkan pada cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya. Adapun permasalahan yang akan dicari solusinya adalah:

  1. Bagaimana unsur-unsur instrinsik yang membangun cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya?
  2. Bagaimana aspek sosial berupa impact or effect theories, deterministic theories, and symbolic or reflective theories yang terdapat pada cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya?

Sebelum diuraikan unsur-unsur instrinsik yang membangun cerpen Laki-Laki Sejati Karya Putu Wijaya, terlebih dahulu akan dibuat sebuah sinopsis cerita sebagai berikut:

Seorang anak gadis bertanya pada ibunya tentang bagimana yang dikatakan dengan sosok laki-laki sejati. Sang ibu ingin sekali menjelaskan kepada anaknya tentang sosok laki-laki sejati. Akan tetapi, sang ibu ingin agar anak perempuannya memahami bahwa sosok laki-laki sejati bukanlah sembarangan orang.

Gadis itu semakin penasaran dengan sosok laki-laki sejati. Dia meminta ibunya untuk menjelskan kepadanya. Sang ibu akhirnya mengatakan bahwa bagi dirinya, sosok laki-laki sejati tidak ada lagi sejak suaminya meninggal dunia. Lalu, sang ibu bertanya pada anak perempuannya, untuk apa mengenali laki-laki sejati. Dengan naluri keperempuanannya, sang anak mengatakan bahwa ia membutuhkan sosok pasangan yang siap memberikan cinta untuknya.

Akan tetapi, saat ibunya mengatakan bahwa sosok laki-laki sejati telah habis, gadis itu mulai merasa kehilangan harapan. Padahal, sebelum ibunya memberikan pernyataan demikian, sang ibu telah memaparkan dengan panjang lebar gambaran seorang laki-laki sejati.

Menurut sang ibu, sosok laki-laki sejati adalah bukan hanya karena dia perkasa! Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak tembus oleh peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami, tetapi dia harus lentur dan berjiwa. Selanjutnya sang ibu masih meneruskan dengan kalimat berikut, “Seorang laki-laki sejati adalah seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan”.

Setelah dijelaskan panjang lebar, anak gadis itu semakin tidak mengerti. Akhirnya, sang ibu meminta anak gadisnya bangkit dari peraduannya, membuka headset dari telinganya, lalu segera menatap dunia luar, dan menyuruh anak perempuannya untuk mecari sosok lelaki sejati di luar rumahnya. Anak perempuan tersebut semakin bingung. Dia telah terbiasa dininabobokkan musik R and B. Dia terbiasa rebahan. Bahkan sudah biasa pula menikmati segala yang tersedia tanpa perlu sibuk mencari.

Lalu, sang ibu segera menyampaikan pada anak perempuannya, “Banyak laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja, sembarangan dengan mata terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman hidupmu!”

Sang ibu pun melanjutkan kriteria laki-laki sejati yang bisa dijadikan teman hidup adalah dia yang benar-benar mencintai dan diri sendiri sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta dapat mengubah segala-galanya. Sebab, setiap perempuan pasti bisa mengubah laki-laki seperti apapun menjadi laki-laki sejati.

Metode penelitian yang akan diterapkan pada cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya adalah metode penelitian kualitatif. Seperti pendapat Sutopo (2006: 40) bahwa penelitian kualitatif bersifat deskriptif, natural, dan alamiah. Artinya, peneliti lebih menitik beratkan catatan pada deskripsi kalimat yang rinci, lengkap, dan mendalam, yang menggambarkan situasi sebenarnya guna mendukung penyajian data. Sutopo (2006 : 40) kembali menjelaskan bahwasanya “penelitian kualitatif juga menekankan pada analisis induktif, bukan analisis deduktif”.

Dari sinopsis di atas, akan ditemukan aspek sosial berupa impact or effect theories, deterministic theories, and symbolic or reflective theories ala Jhon. G. Cawelti. Akan tetapi, sebelum memaparkan pendekatan Cawelti, maka terlebih dahulu akan ditemukan unsur-unsur instrinsik yang membangun karya cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya.

1. Unsur-unsur Instriksik

  • Tema

Tema cerita berpusat pada pengertian sosok laki-laki sejati. Pengarang mengungkapkan beberapa kali mengenai tentang sosok lelaki sejati yang menjadi pusat penceritaan dalam cerpen. Hal ini dibuktikan dari kutipan berikut ini:

Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?

Laki-laki disebut laki-laki sejati, bukan hanya karena dia perkasa!

Bukan karena ampuh, bukan juga karena tampan laki-laki menjadi sejati.

Seorang laki-laki sejati adalah seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan.

  • Alur

Alur cerita pada cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya adalah alur maju mundur. Pengarang mengulas kisah si anak di saat masih kecil dahulu. Hal ini tampak pada kutipan berikut ini:  

Sepasang matanya yang dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap.

Selanjutnya, pengalaman si ibu di masa lalu juga diungkapkan melalui kutipan berikut ini:

Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan tidak pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut cinta. Kalaupun dicoba, jawaban yang muncul sering menyesatkan. Karena orang tua cenderung menyembunyikan rahasia kehidupan dari anak-anaknya yang dianggapnya belum cukup siap untuk mengalami. Kini segalanya sudah berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang harus mereka ketahui, tetapi semuanya. Termasuk yang dulu tabu. Mereka senang pada bahaya. Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala putrinya dan berbisik

Kemudian alur cerita sampai kepada masa sekarang. Hal ini tampak pada kutipan berikut ini:

Aku jatuh cinta kepadanya dalam penggambaran yang pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki seperti itu. Katakan di mana aku bisa menjumpai laki-laki sejati seperti itu, Ibu?

  • Latar

Latar kejadian dalam cerita berada di dalam kamar sebuah rumah. Hal ini dibuktikan dengan kutipan berikut ini:

Kamu terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dan duduk di belakang meja. Tutup buku itu sekarang dan berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu. Keluar, hirup udara segar, pandang lagit biru dan daun-daun hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar beramai-ramai di pagar, dunia tidak seburuk seperti yang kamu bayangkan di dalam kamarmu. Hidup tidak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam perpustakaanmu meskipun memang tidak seindah mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku, cari seseorang di sana, lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!

  • Tokoh dan penokohan

Tokoh dan karakter yang dimiliki oleh tokoh dalam cerita sebagai berikut:

  • Ibu: wanita yang supel, berpikir tentang masa depan, selektif, dan bijaksana. Wanita itu tidak ingin membiarkan anak perempuannya menjadi pribadi yang duduk diam dan hanya menanti. Sang ibu ingin anaknya punya impian, dan untuk mewujudkan impian itu, sang ibu memaksa anaknya agar berusaha mewujudkan impiannya. Selain itu, sang ibu juga merupakan seorang perempuan hebat karena ia mampu menjadikan suaminya sebagai sosok laki-laki sejati.
  • Ayah : sosok laki-laki sejati yang memiliki kepribadian yang istimewa dan telah menjadikan istrinya selalu mengistimewakan dirinya sekalipun tidak lagi berada di dunia ini.
  • Anak perempuan: seorang gadis yang lebih banyak menghabiskan hidupnya untuk bersantai dan membiarkan nasib mengahmpirinya begitu saja karena ia pernah merasakan patah hati pada laki-laki yang mengecewakannya. Akan tetapi, dengan membaca buku, gadis tersebut mulai merasa bahwa dirinya mem
  • butuhkan sosok laki-laki yang bisa menjadi pendamping hidupnya. Ia menyadari bahwa hidup sendiri itu tetap terasa tidaklah sempurna. oleh sebab itu, dia mulai memberanikan diri untuk bertanya pada ibu perihal lelaki sejati. Berikut petikan kalimatnya:

Perempuan muda itu tercengang, suara ibunya menjadi keras dan memerintah. Ia terpaksa meletakkan buku, membuka earphone yang sejak tadi menyemprotkan musik R & B ke dalam kedua telinganya, lalu keluar kamar.

  • Gaya bahasa

Ada beberapa gaya bahasa yang terdapat dalam cerpen Laki-Laki Sejati Karya Putu Wijaya sebagai berikut:

  • Terpesona, karena waktu tak mau menunggu : Majas personifikasi:
  • Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih berkabut : majas sineddok parsprototo.
  • Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang kemudian ada di depan mata : majas sineddok parsprototo.
  • Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak tembus oleh peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami, tetapi dia harus lentur dan berjiwa : majas simile.
  • tidak tembus oleh garukan tsunami: majas personifikasi.
  • Ia mengalami orgasme batin: majas metafora.
  • Biar dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku kalau nanti aku sudah tua : metafora.
  • Sekarang yang ada hanya laki-laki yang tak bisa lagi dipegang mulutnya: majas simbolik.
  • Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul jamu, tidak mau mengurus anak, apalagi mencuci celana dalammu, mereka buas dan jadi macan kalau sudah dapat apa yang diinginkan : majas sarkasme.
  • Jadi kalau kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu akan menjadi perawan tua: majas eufemisme.
  • Kalau begitu kamu mau jadi kodok kuper!: majas sinisme.
  • Matahari sore terhalang oleh awan tipis yang berasal dari polusi udara. Tetapi itu justru menolong matahari tropis yang garang itu untuk menjadi bola api yang indah: personifikasi.
  • katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin tegas: majas litotes.

2. Aspek sosial ala Cawelti

  1. Impact or effect theories

merupakan teori paling sederhana. Dasarnya adalah asumsi bahwa bentuk dan isi karya sastra mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung kepada sikap dan perilaku masyarakat. Teori ini cocok untuk menerangkan kaitan sastra dengan “propaganda”, bahwa sastra sebagai moral membawa pesan yang dapat memberi dampak positip bagi perkembangan sikap dan perilaku masyarakat (Cawelti, 1976:24).

Pada cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya memiliki pengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap masyarakat. Hal ini menjadi dasar bahwa cerita dalam cerpen tersebut bisa menjadi pandangan buat para orang tua untuk menuntun anak perempuannya untuk belajar menjadi wanita sejati agar bisa menuntun laki-laki mana saja untuk bisa menjadi laki-laki sejati. Hal ini tergambar pada petikan cerita berikut:

  • Mengurung diri itu lari atau ngumpet. Ayo keluar! Keluar ke mana?Ke jalan! Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Bergaul dengan masyarakat banyak.
  • Tidak cukup! Kamu harus pasang omong dengan mereka, berdialog akan membuat hatimu terbuka, matamu melihat lebih banyak dan mengerti pada kelebihan-kelebihan orang lain.Perempuan muda itu menggeleng. Tidak ada gunanya, karena mereka bukan laki-laki sejati. Makanya keluar. Keluar sekarang juga!
  • Banyak laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja, sembarangan dengan mata terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman hidupmu!
  • Asal, lanjut ibunya dengan suara lirih namun tegas, asal, ini yang terpenting anakku, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta, anakku, karena cinta dapat mengubah segala-galanya.
  • Dan lebih dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat membantah, lebih dari itu anakku, katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin tegas, karena seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap perempuan anakku, dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati!

2. deterministic

Teori deterministic lebih sesuai untuk menerangkan pemikiran-pemikiran Marxist dan Freudian tentang sastra. Cawelti berpikir bahwa sastra dapat menjadi semacam strategi untuk memperjuangkan hasrat-hasrat kejiwaan atau idealisme suatu kelompok sosial. Hasrat dan idealisme itu menjadi faktor penting untuk menjelaskan ekspresi sastra, serta menunjukkan bagaimana bentuk dan isi karya sastra tercipta melalui suatu proses (Cawelti, 1976:24).

Dari teori deterministic dapat menjadi cara untuk memperjuangkan idealisme suatu kelompok masyarakat. Berikut ini merupakan idealisme yang dibangun di tengah-tengah masyarakat. Adanya ideologi dalam karya sastra akan menghidupkan kembali teks-teks yang sudah mati sehingga mampu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak manusia. Ideologi terdapat dalam kutipan berikut:

  • Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan tidak pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut cinta.

Dari kutipan di atas, cara pandang seorang ibu di masa lampau berbeda dengan cara pandang ibu di masa sekarang. Kalau dulu, seorang ibu akan merasa tabu bercerita tentang cinta kepada anak-anaknya. Berbeda dengan zaman sekarang. Ibu di zaman ini harus berani berbicara secara transparan kepada anaknya agar si ibu bisa sekalian membimbing dan mengarahkan anaknya. Sebelum anak belajar pada lingkungan yang serba transparan dengan merebaknya internet, maka peran untuk mendidik anak harus segera diambil alih oleh orang tua, khususnya pendidikan seks dini. Hal inilah yang dilakukan oleh sang ibu dalam cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya seperti dalam kutipan berikut:

  • Banyak orang tua menyembunyikannya, karena pengetahuan yang tidak perlu akan membuat hidupmu berat dan mungkin sekali patah lalu berbelok sehingga kamu tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tapi ibu tidak seperti itu. Ibu percaya zaman memberikan kamu kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya yang juga sudah berbeda.

Selain ideologi di atas, ada juga ideologi lain dalam mendefinisikan sosok lelaki sejati. Dulu, laki-laki sejati mudah sekali didapatkan karena mereka memiliki kepribadian yang istimewa dan pandai mengistimewakan pasangannya. Berbeda dengan lelaki sejati di masa sekarang yang sudah sulit ditemukan. Hal ini terdapat pada kutipan  seperti:

  • Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya indah dan proporsinya ideal. Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban. Seorang laki-laki belum menjadi laki-laki sejati hanya karena dia kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara, beriman, menarik, rajin sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak suka memfitnah, rendah hati, penuh pengertian, berwibawa, jago bercinta, pintar mengalah, penuh dengan toleransi, selalu menghargai orang lain, punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta banyak akal. Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang laki-laki meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati!

Ideologi lainnya adalah minimnya interaksi pemuda di masa sekarang dengan lingkungannya. Tingkat pengetahuan dan jenjang karir telah mengisolasi pemuda. Menurut mereka, dengan berilmu, dengan memiliki jenjang karir yang baik, dan berpenampilan menarik sudah cukup sebagai modal dalam menuju rumah tangga. Oleh sebab itu, tokoh ibu tidak ingin anak perempuannya tumbuh menjadi perempuan yang berpendidikan, namun tidak mengenal alam semesta. berikut petikan ceritanya:

  • Kamu terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dan duduk di belakang meja. Tutup buku itu sekarang dan berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu. Keluar, hirup udara segar, pandang lagit biru dan daun-daun hijau.

Kemudian tokoh ibu ingin mengajarkan pada anaknya bahwa alam semesta ini bisa dijadikan sebagai guru kehidupan yang bisa diambil banyak pelajaran berharga padanya. Sang ibu ingin agar anak perempuannya tetap menjadi perempuan sejati yang bisa melayani suaminya dengan kewajiban-kewajiban seorang istri baik di area dapur, sumur, dan kasur. Dengan menjadi wanita sejati, sudah pasti akan bisa mengubah laki-laki seperti apapun menjadi laki-laki sejati. Berikut petikan dalam cerpen:

  • seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati!

pada petikan berikut terdapat sebuah deologi bahwa dengan banyaknya jumlah perempuan di masa sekarang dibandingkan dengan masa lalu, maka sudah saatnya wanita lebih kuat usahanya untuk mendapatkan laki-laki sejati. zaman sudah berubah. Sudah tidak masanya lagi menunggu. Untuk sebuah niat baik pernikahan, maka wanita pada masa sekarang harus berjuang untuk mendapatkan pasangannya. Berikut petikan cerpennya:

  • Apa salahnya sekarang wanita memilih laki-laki untuk jadi suami, setelah selama berabad-abad kami perempuan hanya menjadi orang yang menunggu giliran dipilih?

3. symbolic or reflective

Symbolic or reflective sesuai untuk tujuan melihat gambaran-gambaran apa yang ada dalam kandungan isi teks sastra, yang secara nyata mencerminkan aspirasi dan apresiasi estetik masyarakat. Pendekatan ini secara teoritis dapat menerangkan bahwa sastra populer sebagai social-product, sebagai karya kolektif hakikatnya adalah gambaran utuh mengenai masyarakat yang bersangkutan dengan segala seginya.

Cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya merupakan gambaran utuh mengenai masyarakat di masa sekarang. Gambaran sosial masyarakat yang lebih banyak berinteraksi dengan dunia maya dibandingkan dunia nyata. Selain itu, kehidupan ekonomi kapitalis sudah banyak mengangkat posisi wanita dan sejajar dengan laki-laki dalam segala bidang. Dengan demikian, penghormatan pada sosok laki-laki mulai mengalami pergerseran.

Selanjutnya, segi hiburan dan pendidikan telah banyak meninabobokkan generasi muda. Dengan hiburan yang mudah didapatkan dari berbagai alat elektronik, generasi muda menganggap bahwa hiburan rakyat tidak penting lagi. Lalu, sistem pendidikan seolah-olah memarjinalkan kelompok yang tidak berpendidikan. Padahal, generasi tidak menyadari bahwa kemudahan dalam memperoleh hiburan dan pendidikan di masa sekarang, bukanlah sebuah prestasi. Mereka boleh saja hebat dalam pendidikan dan nyaman dalam hiburan mereka yang eksklusif, akan tetapi mereka telah kehilangan sebuah yang teramat mahal, yaitu interaksi sosial.

Kesimpulan

Cerpen Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya telah diuraikan dari aspek struktural dan aspek sosial berdasarkan teori Cawelti. Dari analisis tersebut, ditemukan berbagai segi sikap, perilaku, obsesi, cita-cita, selera, dilema, dan sebagainya. Segalanya tersebut tercermin jelas dalam sastra populer.

Sastra populer sebagai objek material penelitian sangat kaya akan bahan dan data, terutama bahan dan data sosiologis yang erat kaitannya dengan masalah-masalah sosial, baik di dalam teks maupun di luar teks. Objek material yang erat kaitannya dengan masalah sosial ditemukan dalam Laki-Laki Sejati  Karya Putu Wijaya sehingga menghasilkan temuan yang orisinal, penting, dan bermanfaat bagi ilmu sastra dan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here