Riausastra.com – Aku terbangun dari tidurku. Kupandang arloji pada handphone seluler milikku, pukul 2.30 WIB. “Ternyata masih terlalu pagi,” bisik batinku.

Kulirik ke arah samping kiriku. Kudapati pangeran kecilku, masih tertidur nyenyak. Jari-jari kecilnya memeluk erat tangan kekar ayahnya. Seakan tersirat pada jari-jari tersebut bahwa suatu saat jari-jari itu akan menggenggam dunia. Lalu kukecup pipi tembemnya dan kubelai rambut anak semata wayangku yang masih terbaring lelap. “Subhanallah, bahagianya melihat perkembangan dirimu, Sayang..,” ucapku membelah kesunyian malam.

Aku yang sedari tadi mencoba tuk tidur kembali seperti halnya bayiku dan suamiku yang masih pulas. Tapi, mataku ternyata tak bisa dirayu. Akhirnya kuputuskan untuk memainkan jemariku di atas benda mini bernama notebook. Pikiranku mengembara pada sahabat-sahabat terbaikku kala SMA dulu. Tak bosan rasanya menyebutkan nama mereka berkali-kali: Poo, Oche, Pipiet, Zeb, Andri, Ervi, Iki, Elly, May, Nur, Hesty, Vina, Mirah, Maya, Tami, Yuli, Saidan, Juwi, Ade, Delima, Mbak Lia, dan aku: Rembulan.

Kalau tidak jaus alias jail dan usil, barang kali para guru tidak akan ingin mengenal kami lebih dekat dan lebih akrab. Mengapa tidak, beberapa orang guru telah berhasil kami kerjain dengan modal acting yang sangat pas-pasan dan sangat hampir kurang kreatif. Namun, tak sedikit orang guru yang masuk dalam perangkap “jebakan batman” yang kami rancang sendiri secara spontanitas.

“Tettttttttttt,” bel menjerit menandakan pergantian jam dan mata pelajaran. Sedangkan mata pelajaran sebelumnya dianggap telah berakhir untuk satu kali pertemuan di hari ini. Aku lupa bahwa momen bersejarah itu tepatnya pada hari apa dan pada tanggal berapa. Yang jelas, kejadian itu berlangsung pada siang hari yang cerah. Di saat angin masih semilir masuk ke ruangan kelas kami melalui pintu dan ventilasi jendela-jendela kaca bercat hijau di lantai II gedung Puteri, tepatnya berada di depan gedung Sekolah SMP-SMA Putera Nurul Ilmi Islamic Boarding School.

Pada jam ini sebenarnya tidak ada jadwal untuk istirahat, apalagi jadwal untuk belanja ke koperasi (kantin sekolah) yang sering kami sebut dengan “koper”. Tapi, sebagian orang dari penghuni kelas XI SMA Puteri ini sedang berada di koper. Sebagian lagi di kamar mandi dan sebagian lagi berada di ruang kelas.

Aku dan beberapa orang kawanku yang masih berada di kelas, duduk sesukanya. Ada yang masih makan. Ada juga yang masih bersenda gurau alias sedang ”kombur lotok”. Tiba-tiba…

“Assalamualaikum…,” salam seorang guru mengagetkanku. Wanita berpakaian biru toska itu masuk dan menghampiri kursi-meja yang telah disediakan untuk para tenaga pendidik di kelas ini. Masih dengan tatapan herannya. Bu Tiur Pasaribu nama lengkap guru muda, manis, supel, cerdas, solehah, dan energik di hadapan kami ini. Beliau merupakan alumni pertama sekolah ini. Setelah menamatkan studinya di Universitas Negeri Medan pada bidang studi Pendidikan Matematika, beliau dan dua orang teman sealumni dengannya mengabdikan diri ke sekolah yang sangat kami cintai ini. Ya, Bu Tiur adalah guru bidang studi Matematika di kelas kami.

Serombongan akhwat penghuni kelas ini berdatangan dengan gaya sangat tidak berdosa. Mengetuk pintu dan mengucap salam semaunya dan tanpa mendengar perintah sang guru terlebih dulu, mereka pun masuk dan duduk di bangku masing-masing. Dahi Bu Tiur berkerut seakan tidak percaya. Tapi dia masih diam menyusun kekuatan untuk menegur kekhilafan kami. Namun, ia semakin tak percaya karena kami benar-benar sangat tidak menghargainya hari itu. Setelah menyelonong masuk, kami pun masih bercanda-canda sambil makan jajanan yang telah dibeli di koper barusan meskipun bukan pada jam istirahat.

Tidak tahan dengan tingkah kami, akhirnya gadis berjilbab besar berwarna putih itu pun angkat suara,”Sudah? Sudah bisa kita mulai?”

“Belum, Bu…,”jawab sebagian orang.

Wanita berkaca mata minus itu pun semakin tidak mengerti. Segaris senyum manis yang biasanya melekat di wajah ovalnya, tapi hari ini nyaris tak terlihat. Setelah semua kembali duduk di posisi masing-masing, beliau pun mulai bicara,”Saya tidak menyangka kalau aslinya kalian itu seperti ini..,”gurat kekecewaan terpancar jelas di wajahnya.

“Kalian muslimah yang telah dewasa. Seharusnya kalian menjadi teladan yang baik di sekolah ini buat adik-adik junior kalian. Bukan malah seperti ini,” sambungnya dengan menahan emosi dan amarah.

“Saya tidak mengira kalau anak XI Puteri seperti ini. Bagaimana kalian memimpin di OSIS dan di asrama kalau sikap kalian sangat kekanak-kanakan seperti ini. Saya merasa tidak dihargai…,”ungkap Bu Tiur dengan suara mulai terisak dan mata berkaca-kaca.

Tak tahan kami menahan geli, akhirnya salah seorang dari kami, gadis cantik yang dikenal gemar dengan ilmu Fisika, mulai bersuara,”Satu..dua..tiga..,”ucapnya.

“Awan berarak ceria….,” masih sebaris nasyid yang kami senandungkankan dengan suara terbaik kami, Bu Tiur langsung terduduk lemas di kursinya sambil menutup wajahnya menahan malu. Akhirnya air mata yang telah berusaha ia bendung, jatuh juga membasahi wajahnya. Ternyata wanita solihah itu baru tersadar bahwa kami sedang menjailinya di hari lahirnya. Kami pun tertawa puas dan merasa acting kami di hari itu berhasil. Nasyid pun kami lanjutkan dengan suara kami yang indah dan menawan (menurut kami karena memang hobi bersama adalah menyanyi!). Semakin lama suara isakan itu semakin jelas. Lalu beliau pun tersenyum di tengah tangisnya. Sang Ketua Kelas, Nur Siregar, menyerahkan kado spesial persembahan dari kami buat Bu Tiur. Bu Tiur tersipu malu dengan wajah yang masih basah.

“Masya Allah… Saya pikir kalian benar-benar berubah dan tidak menghargai saya,”ucapnya di sela isak tangis yang berubah haru dan bahagia.

“Saya sangat kecewa ketika melihat para akhwat di kelas ini tidak mengindahkan kehadiran saya. Sebenarnya saya tadi sudah kecewa di ruangan guru. Tas saya hilang. Saya sudah capek mencarinya. Saya tidak tau siapa yang menyembunyikan. Padahal di tas itu seluruh perlengkapan mengajar saya simpan di dalamnya. Belum selesai kekesalan saya tadi, eh masuk di kelas ini ternyata lebih mengesalkan lagi. Semua asik dengan urusan masing-masing dan mengabaikan kehadiran saya…,”curhat Bu Tiur tentang kejailan yang telah diterimanya hari ini. Dan beliau baru tersdar kalau hari ini adalah hari milad-nya.

“Hahahahha…,” kami pun tertawa puas dan geli. Beliau baru tau ternyata tas beliau disembunyikan oleh Bu Annisa Daulay (target jebakan batman kami selanjutnya). Kami bekerja sama dengan Bu Anis untuk menjaili Bu Tiur di hari ini. Mendengar penjelasan kami yang diwakili oleh Nur Siregar, sang Ketua Kelas, Bu Tiur merasa malu dan tertawa lucu. Setelah curahan hati usai, kami meminta Bu Tiur menyanyikan sebuah nasyid sebagai persembahan dari yang sedang milad. Dengan indah, suara wanita berkulit hitam manis itu pun mengisi ruang kelas yang hening dan semakin terasa sejuk karena angin semilir tak bosan-bosannya singgah dan menyapa hati-hati kami di ruangan yang penuh kenangan ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here