Foto: net

Riausastra.com – “Assalamualaikum,” ucap Purnama dengan santainya saat memasuki ruangan kelas.

“Mantap ya, Poo, sudah tengah sembilan baru nyampe di kelas. Memangnya tidak ada guru yang ngecek ke asrama tadi?” Tanya May pada wanita berkulit hitam manis yang biasa kami panggil dengan “Poo” yang baru saja memasuki ruang kelas untuk menjalankan rutinitas selepas salat isya, yaitu belajar malam di kelas .

Masih dengan gayanya yang santai, ”Sukak-sukakku lah…” begitulah perempuan yang lahir dari keturunan Batak ini dengan sikap santainya.  Meskipun Poo, pemilik nama lengkap Purnama Syafariah Pasaribu terkesan santai, namun ia juga sangat serius dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Seperti halnya malam ini. Ia memanggil dua orang adik kelas akhwat untuk segera menemuinya di ruang kelas kami, kelas XI Puteri. Kedua orang adik kelas itu pun menghampirinya dengan wajah harap-harap cemas. Barang kali kedua orang adik kelas tadi sedang memendam rasa takut karena mereka merasa pernah melakukan suatu kesalahan fatal sehingga harus berhadapan dengan senior mereka bernama Kak Poo. Atau barang kali, perasaan mereka sedang tidak nyaman saat berhadapan dengan Kak Poo karena kehadiran mereka disambut dengan suasana “panas dan tegang”.

“Mawar…,” panggil Poo pada junior bernama Mawar. Gadis itu pun menatap Poo dengan wajah manyun.

“Ya, Kak..,” jawabnya singkat.

“Apa alasan kamu tidak pernah ikut apel pagi?” Tanya Poo kepada Mawar dengan gaya sersannya alias “serius tapi santai”.

Sejak kami menduduki kelas XI SMA, kami telah diamanahkan untuk mengemban kepeminpinan OSIS di lingkungan sekolah dan kepeminpinan di asrama. Sekolah SMP-SMA Nurul Ilmi dibentuk dalam sistem boarding school, yaitu para siswa kembali ke asrama setelah jadwal sekolah usai. Asrama adalah tempat tinggal kami. Selain mendapatkan ilmu umum dan ilmu agama di bangku sekolah, seluruh siswa juga digembleng dengan pendidikan asrama yang sangat islami. Sehingga saat pagi hari sebelum azan salat subuh, tepatnya pukul setengah lima, seluruh siswa sudah harus bangun dan mengikuti rutinitas asrama, yaitu apel pagi.

Kegiatan apel pagi merupakan kegiatan senam santai dalam bentuk pemanasan. Gerakan yang sering dilakukan berupa gerakan kepala, tangan dipundak, tarik nafas, kuda-kuda, lari di tempat, dsb. Pada saat-saat tertentu, seperti hari libur, suasana senamnya agak berbeda karena sesekali dibubuhi dengan games ringan untuk membuat peserta apel lebih ceria dan tidak bosan dengan gerakan apel pagi yang begitu-begitu saja, serta agar terciptanya ukhuwah juga kekompakan di antara seluruh penghuni penjara suci, Nurul Ilmi. Kebetulan, Purnama diamanahkan sebagai Seksi Olah Raga di asrama Puter. Makanya, beliau memiliki tanggung jawab untuk mengurusi setiap siswa puteri yang melakukan pelanggaran di bidang olah raga, khususnya saat rurinitas apel pagi.

“Saya pernah ikut apel kok, Kak,” jawab  Mawar tidak terima karena dianggap tidak pernah mengikuti kegiatan apel pagi.

“Ya, pernah. Tapi sesekali, kan?” tegas Purnama.

“Kadang-kadang, kalau bangun sebelum subuh itu rasanya ngantuk berat, Kak. Kedua mata saya sangat sulit untuk dibuka. Kalau sudah saya paksakan bangun, kepala saya pusing jadinya,” jelas Mawar mencari pembelaan atas dirinya.

Heleh, alasan. Semua orang juga masih ngantuk berat kok saat dibanguni apel. Makanya orang ikut apel pagi biar segar,” bantah Purnama tidak terima atas jawaban sang adik. Kami yang sedari tadi pura-pura fokus pada buku pelajaran, sesekali ikut tertawa geli mendengar Purnama menghakimi adik-adik dengan gayanya yang sangat sok serius. Sebenarnya, Purnama adalah sosok gadis periang dan sangat hobi bergurau. Tapi, tidak semua orang dengan mudah bisa akrab dengannya karena ia memang sering pasang wajah seriusnya. Tapi bagaimana pun, setelah mengenal Poo lebih dekat, barulah tau bahwa gadis yang berasal dari Parsalakan ini sangat menyenangkan dan lucu. Tak heran kalau banyak orang, baik teman seangkatan, kakak kelas, dan adik kelas yang akrab dengannya.

“Jadi maumu, gimana?” Tanya Purnama lagi.

“Terserah kakak lah…,” gadis itu pun pasrah dan kesal sebab alasannya tidak diterima.

“Besok, kamu yang membangunkan seluruh anak puteri dan memimpin senam saat apel pagi! Biar kamu tidak punya alasan untuk ngantuk,” perintah Purnama sebagai hukuman peringatan buat sang adik.

“Tapi, kak… saya ngga pandai, Kak..,”bantah sang adik.

“Tidak ada alasan. Mau ngga? Kalau ngga mau, biar kakak cari hukuman yang lebih berat,”sambung Poo.

Wisda……  Ya udah la, Kak,” jawab Mawar sewot.

“Jangan lupa ya! Ya udah, kembalilah ke ruang kelas kamu untuk belajar malam lagi,” ucap Poo.

“Kamu, Hanifah. Kenapa jarang sekali ikut apel pagi?” Tanya Poo menginterogasi tersangka yang kedua.

“Kalau bangun pagi, perut saya mules terus, Kak. Makanya setiap bangun pagi Hanifah langsung ke belakang dulu,” jawab gadis yang dipanggil dengan Hanifah.

“Habis dari belakang kan bisa langsung ke lokasi apel. Kalau terlambat kan tidak masalah. Yang penting ada alasan yang syar’i. Kalau alasan kamu cuma itu, sangat tidak masuk akal. Kamu memang malas ikut apel. Ngaku aja,”protes Poo.

“Benar, Kak. Abis dari belakang, apel sudah usai dan orang-orang sudah pada bubar. Untuk apalagi Hanifah ke sana, Kak,” jelasnya meyakinkan seniornya ini.

“Lama kali kamu di kamar mandi. Sambil tidur ya?” jawab Poo. Tawa seisi kelas pun lepas setelah dari tadi rasa lucu ini kami pendam. Namun, lagi-lagi Poo tanpa tawa. Sersan abis…

Ngga la, Kak… Kakak kan tau kalau mau ke wc tuch, butuh waktu yang lama. Menimba air lagi di sumur. Nyari ember lagi. Trus ngantri lagi,” papar gadis yang masih duduk di bangku SMP itu.

“Makanya kalau sudah tau punya kebiasaan aneh bin ajaib, setelah pulang belajar malam, siapkan kian airmu untuk besok. Biar tidak ada alasan untuk tidak ikut apel pagi,” urai Poo.

Wiii, Kak… Kalau air disimpan di ember pun di-ghoshob orang juga. Disimpan di bawah tangga asrama, di­-ghoshob orang. Disimpan di bawah pohon-pohon di taman asrama tetap juga di-ghoshob orang. Mau disimpan di mana lagi airnya?” jawab Hanifah berkilah.

“Simpan di dalam koper pakaianmu. Atau simpan di bawah tempat tidurmu. Kalau tetap di-ghosob orang, bikin di bawah bantalmu!” Poo mulai kesal karena Hanifah selalu mencari-cari alasan.

“Hahahahhahhahhah….,” seisi kelas tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan Poo.

Beginilah cara Purnama menutupi amarah dan kekesalannya pada adik-adik yang ngeyel saat diingatkan. Menjadi pemimpin sangat tidak mudah. Setiap kekurangan yang dimiliki pasti akan menjadi buah bibir dari orang-orang yang dipimpin. Itulah yang kami rasakan saat memimpin sekolah dan asrama.

Wiii, Kakak ini ada-ada aja,” bantah Hanifah turut tertawa pula.

Kok nanya-nanya kakak pula. Mau disimpan di mana itu kan terserahmu. Ngga mungkin kan kakak juga menyiapkan air untukmu,” jawab Poo masih dengan gaya santainya.

Cieh…cieh…namanya juga ‘decang’ alias ‘adek cayang’. Ngga papa la, Kak…,” goda May pada Poo membuat perut ini terasa terguncang karena sedari tadi tertawa menyaksikan aksi Purnama.

Di asrama Nurul Ilmi, ada beberapa istilah yang sering digunakan sebagai bahasa jargon dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya akronim “kacang” dan “decang” yang diambil dari singkatan kata “kakak cayang” dan “adek cayang”. Istilah ini muncul karena adanya keakraban  khusus yang terjalin di antara seorang kakak dan seorang adik kelas sesama akhwat. Seluruh penduduk asrama memang diwajibkan akur dengan sesama penghuni asrama lainnya. Oleh karena itu, agar tidak ada senioritas di kampus Nurul Ilmi tercinta ini, setiap ruangan kamar di asrama yang terdiri atas 20 orang satu ruangan, dihuni oleh akhwat mulai dari kelas VII SMP sampai kelas XII SMA. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengenal satu sama lain dan tidak ada potensi untuk petentengan dan membentuk genk atau kelompok-kelompok. Namun, kita diajarkan untuk saling menyayangi dan saling mengerti sebagai aplikasi dari ukhuwah Islamiyah.

Selain jargon “kacang” dan “decang” ada juga jargon ghoshob. Kata “ghoshob” awalnya muncul setelah penghuni asrama membaca sebuah cerpen di majalah Annida. Istilah ini diartikan dengan mengambil barang orang lain tanpa berniat untuk mencuri. Hanya sekadar memakai karena terburu-buru. Bahasa halus dari “nyolong”, barang kali. Kebiasaan meng-ghoshob sering dilakukan anak asrama saat terdesak ke kamar mandi, mengingat di sekolah yang sangat dibanggakan ini sumber airnya sangat minim. Sehingga, untuk memperoleh air butuh perjuangan ekstra jika ingin air yang “halal” tanpa di-ghoshob. Tak hanya air yang biasa di-ghoshob. Sandal yang telah tertera nama pemiliknya juga selalu menjadi sasaran peng-ghoshob-an. Ember yang tertulis nama pemiliknya juga sering di­-ghoshob. Bahkan air yang sangat tersembunyi sekalipun, akan tetap di-ghoshob.

Begitulah sekelumit kisah di asrama yang untuk mendapatkan satu bangku kemenangan di dalamnya sangatlah sulit dan butuh perjuangan di saat testing yang menggugurkan ratusan peminat lainnya. Namun, ternyata, setelah berhasil masuk di sekolah “Plus” ini, hari-hari kami juga tidak jauh dari perjuangan dan pengorbanan. Subhanallah…

“Jadi, gimana, Kak?” desak Hanifah penasaran akan hukuman yang akan diterimanya.

“Sekarang kakak maafkan. Tapi, kalau besok kamu ulangi lagi, kakak akan kasi hukuman. Oke!” sambung Purnama.

“Iya, Kak. Makasi ya Kak. Yang cantik-an kakak da…,”gadis itu pun berlalu setelah menggoda Purnama dengan pujiannya.

Fuihhh, habis waktu belajar malamku demi mengurusi orang ini. Gagal dech impianku untuk meraih juara kelas,”canda Poo membuat seisi kelas kembali ramai berkomentar.

Sambil menahan tawa, keriuhan sekejap mereda dan pura-pura sibuk dengan buku di meja masing-masing. Kelas langsung senyap. Ternyata Bu Eli Saragih sedang melintas di depan kelas untuk mengawasi proses belajar malam. Setelah Bu Eli Saragih berlalu, kelas kembali riuh dengan suara tawa.

Waktu bergulir hingga jarum jam tepat di angka 10. Hal ini menandakan jam belajar malam telah usai. Kami belum beranjak dari ruangan kelas karena di luar ruangan masih ada guru-guru yang mencek kondisi belajar para siswa. Apakah ada yang tidur saat belajar, atau ada yang ngerumpi, atau apakah ada yang tidak belajar malam ke kelas. Ternyata yang mengawas pada malam hari ini adalah Bu Eli Saragih, Bu Devi, dan Bu Nisa.

Aisyah, sang ketua kelas, menghampiri Bu Nisa dan Bu Devi di lantai satu saat kedua gadis itu hendak beranjak pulang ke rumah mereka yang telah disediakan oleh yayasan di dekat Masjid Siti Maryam Nurul Ilmi.

“Bu,,,Bu,,,”Aisyah tergopoh-gopoh dan tergagap memanggil dua orang guru tersebut saat ruang sekolah sudah mulai sepi karena jadwal belajar malam telah berakhir.

“Kenapa Aisyah?” guru yang dipanggil dengan Bu Nisa itu pun terkejut mendapati Aisyah yang sedang terengah-engah menghampiri mereka.

“Bu….ke kelas kami dulu, Bu…!”Bujuk Aisyah memelas.

Ngapain?” Tanya Bu Nisa makin tak mengerti.

“Bu…di kelas sedang berantam, Bu. Hesty menentang tugas yang akan dikumpul besok, sedangkan Listi menyampaikan agar besok tugas itu segera dikumpul sesuai dengan perintah guru yang bersangkutan,” Aisyah menjelaskan pokok permasalahan yang menjadikan ada konflik di ruang kelas XI Puteri. Mendengar hal itu kedua guru tersebut bergegas menuju ruangan kelas kami di lantai dua. Sedangkan Bu Eli Saragih sudah lebih awal kembali ke rumahnya.

Kedua gadis itu tampak sangat cemas. Dengan cepat-cepat mereka menaiki anak tangga satu-persatu dan berharap segera sampai di kelas kami.

“Bagaimanapun, aku nggak setuju! Terserah mau kalian kumpul besok atau tidak, pokoknya aku nggak mau. Titik!” marah Hesty dengan volume suara yang sangat tinggi.

“Ya, terserah…,” jawabku sambil terisak dan menahan emosi. Sebagian kawanku tidak peduli. Sebagian menyuruh untuk menyudahi. Sampai kedua orang guru tadi hadir di kelas, pertengkaran kami masih berlanjut.

“Biar kalian tau, aku benci tau kabar kayak gini. Nggak jelas!!!” sambung Hesty sambil, “Prakkk…” gadis berkulit bening itu menampar sebuah meja  dan menjadikan semua orang tersentak dan membuat suasana malam semakin panas.

Udah lah… gitu aja pun ribut,” komentar Iki.

“Eh, Hesty, itu ada bu Nisa di depan,” ucap Maya mencoba menyudahi ketegangan dan berharap pertengkaran usai karena ada guru di depan kelas yang menyaksikan tingkah kami.

Biarin! Guru di sini sama saja. Nggak ada yang bisa dijadikan teladan. Untuk apa mendengarkan nasihat guru,” ucap Hesty.

Dan aku semakin terisak. Kawan-kawan yang lain tersentak dengan ucapan gadis Boru Lubis itu.

Tanpa sepatah kata pun. Bu Nisa berbalik arah menerobos Bu Devi yang berdiri di pintu kelas XI Puteri. Gadis bernama Khoirunnisa Daulay itu mencoba meninggalkan kelas kami dengan memendam amarah yang sangat serta air mata yang telah berderai di pipinya. Sakit hati dengan sikap kami barusan. Kami pun berlari menghampirinya dan memintanya untuk kembali ke dalam kelas kami. Ia marah dan berontak. Akhirnya beliau berhasil kami paksa masuk ke kelas kami, lalu…

Selamat…hari lahir/ Iringan doa kuhulur/ Bersyukur kepada-Nya/ atas nikmat usia…” lantunan nasyid sederhana itu menyadarkan Bu Nisa dari amarahnya. Kami tertawa lepas dan merasa malam ini adalah malam kemenangan bagi kami. Meski tanpa sutradara, meski tanpa narasi cerita, meski tanpa kamera shooting, meski tanpa penonton dan para fans, ternyata malam ini kami mampu menyelesaikan drama spontanitas kami yang kedua. Yup, Bu Nisa masuk dalam jebakan betmen kami…

Bahagianya… Karena gadis bertubuh tinggi semampai ini berhasil kami buat “menangis”. Itulah satu kemenangan tertinggi bagi kami di malam ini. Bu Nisa adalah sosok seorang wanita periang yang sangat anti dengan tangisan, khususnya di depan orang banyak. Kami punya misi untuk membuatnya menangis meskipun sulit sekali. Guru kami yang satu ini menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Universitas Andalas, Padang, pada bidang studi Ilmu Biologi. Ia bersama Bu Devi adalah alumni pertama sekolah ini dan sekarang mengabdikan diri di sekolah ini. Kepiawaiannya dalam menyimpan galaunya, menjadikan beliau jauh dari air mata dan sikap manja. Itulah yang paling unik dari bu guru yang selalu berpenampilan paling rapi dan model-model busananya yang indah selalu enak dipandang mata.

Wih..Apalah kalian ini..,” Bu Nisa sewot karena telah dikerjai dan berhasil menitiskan air matanya yang sangat mahal untuk dilihat.

“Benci….! Pantas aja Bu Devi nyantai-nyantai aja. Rupanya kalian sudah kerja sama ya?” Bu Nisa masih kesal, sewot, dan malu.

Kami tertawa puas. Setelah menyanyikan lagu milad, kami pun memberikan sebuah bingkisan sederhana buat Bu Nisa. Beliau masih sangat tidak percaya dengan kejadian barusan yang sempat membuat semua orang yang tersisa di gedung putera dan gedung puteri heran dan mengira kalau di kelas kami memang berantam sungguhan.

“Saya kesal. Saya sudah datang di kelas kalian, eh bukannya diam malah makin menjadi-jadi. Ibu merasa sangat tidak dihargai tadi. Sampai pake acara tampar meja dan menghina para guru pula itu,” urainya mengingat peristiwa tadi. Setelah acara yang direncanakan usai, kami pun meminta maaf dan menyampaikan selamat atas milad-nya. Semoga penuh berkah. Itulah harapan terindah plus disegerakannya bertemu dengan Sang Belahan Jiwa..

Malam semakin pekat. Cahaya bintang semakin jelas terlihat dari teras asrama. Andai bisa melukis pada kanvas langit malam, barang kali aku dan kawan-kawanku seperjuangan akan menuliskan setiap harapan dan doa kami di sana. Lalu, setiap bintang akan dipetik dan padanya dititipkan rindu yang semakin lama semakin  bersemi. Dan, pada dinding rembulan, akan kami ukir nama teman-teman yang takkan bosan untuk selalu kurangkai dalam cerita dan anganku: Poo, Oche, Pipiet, Zeb, Andri, Ervi, Iki, Elly, May, Ai, Hesty, Vina, Mirah, Maya, Tami, Yuli, Saidan, Juwi, Ade, Delima, Mbak Lia, dan aku: Listi. Berharap satu tempat persuaan abadi kita kelak bernama syurga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here