Riausastra.com – Sejatinya sebuah rumah adalah tempat berteduh dari panas dan hujan, tempat bertemu dengan orang-orang tercinta, tempat paling bebas untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan, dan sebaik-baik tempat kembali setelah bepergian. Maka, rumah akan selalu menjadi gudang yang menyimpan banyak kenangan dan kerinduan.

Aku pernah mengunjungi sebuah rumah besar yang dihuni oleh sepasang suami istri bersama keempat orang anaknya. Saat bertandang ke rumah tersebut, aku dapati senyuman ramah dan sambutan kehangatan dari tuan rumah beserta istri dan anak-anaknya. Rumah besar itu terasa semakin elegan meskipun tidak begitu mewah. Mungkin inilah yang dikatakan dengan rumah yang memiliki pancaran cahaya. Dari mana datangnya cahaya tersebut? Tidak lain dan tidak bukan, cahaya itu berasal dari hati pemiliknya. Lalu, aku menyebut rumah itu dengan rumah cahaya.

Jika memungkinkan ,tuan rumah dan keluarganya senantiasa menawarkan rumahnya untuk dijadikan sebagai tempat untuk dilaksanakan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Suatu hari aku menyampaikan bahwa aku suka dengan desain rumah besar itu. Ruang tamu hanya berukuran sekitar tiga kali tiga meter, namun ruangan keluarga dibuat berukuran kira-kira seluas lima kali delapan meter dan terhubung dengan ruang tamu di bagian depannya. Sedangkan di bagian sekeliling ruang keluarga terdapat empat buah kamar dan satu ruang masak (dapur). Posisi ruang keluarga tepat berada di tengah-tengah seluruh ruang yang ada.

Pemilik rumah yang sekaligus menjadi tuan rumah menyampaikan bahwa ketika Allah SWT mencurahkan rezeki kepada keluarganya untuk membangun sebuah rumah, maka niat pertama yang ditanamkan suami istri tersebut adalah membuat satu ruang keluarga yang luas agar bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Ternyata keinginan tersebut Allah jadikan nyata sehingga rumah besar tersebut sering dijadikan sebagai tempat kegiatan sosial dan keagamaan.

Biasanya, kegiatan yang mengundang banyak orang pasti membutuhkan tempat yang luas dan kondusif. Daripada panitia kegiatan harus mengeluarkan dana setiap ada kegiatan sosial dan keagamaan, lalu tuan rumah pasti akan menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat kegiatan secara cuma-cuma (gratis).

“Rumah ini hanya titipan Allah. Kami tidak akan pernah meminta bayaran apapun setiap rumah ini dipakai untuk kegiatan yang bernilai kebaikan. Biarlah Allah saja yang akan membayarnya di surga nanti.”

Ucap tuan rumah dengan mantap saat sebuah kegiatan sosial sedang dilaksanakan di rumah besarnya.

Ada takjub yang memenuhi ruang rasaku. Zaman ini sudah modern. Apalagi kehidupan di tengah-tengah kota besar seperti di Pekanbaru, biasanya gaya hidup masyarakat cenderung individualis. Bahkan, banyak yang tidak suka jika hartanya turut dinikmati oleh orang lain.

Tidak salah jika aku menyebut rumah besar itu dengan rumah cahaya. Belum lagi saat kegiatan dakwah dilakukan di rumah tersebut. Para jamaah yang hadir tidak sedikit karena ruangan teras depan dan teras belakang masih cukup luas dan bisa digunakan. Bayangkan jika satu nasihat seorang ustadz disampaikan di dalam rumah itu kepada para jamaah, dan ada beberapa orang jamaah yang tersentuh hatinya dengan nasihat tersebut, lalu mengamalkannya, masya Allah, sudah tentu pahala jariyah akan selalu mengiringi tuan rumah dan keluarganya tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang-orang yang melakukan kebajikan tersebut.

Tiga malam yang lalu, rumah cahaya kembali bercahaya dengan ramainya para tamu. Akan tetapi, keramaian hari kemarin mengabarkan tentang duka. Sang tuan rumah telah kembali pada Sang Pemilik Semesta. Tinggallah istri dan keempat anaknya yang soleh dan solehah. Meskipun pemilik rumah tak lagi menyinggahi rumahnya, semoga cahaya yang telah berseri dari dalam rumah tersebut tetap bersinar selamanya dan fungsinya sebagai tempat kegiatan sosial dan keagamaan diteruskan oleh anak-anaknya.

Rumah cahaya yang telah ditinggal pergi tuannya, biarlah cahayanya akan menjadi pelita bagi si tuan rumah di “rumah barunya”. Bagi siapa saja yang memiliki titipan harta di dunia ini, peluang untuk menjadikan harta itu bercahaya masih ada. Mari berlomba-lomba berbuat kebaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here