Pict : dtberdaya

Riausastra.com – Selamat Datang Februari..

Ramai sekali yang menantikan kedatanganmu. Ada yang mengatakan bahwa bulan Februari adalah bulan cinta. Ada juga yang mengatakan bahwa bulan Februari adalah bulan kebebasan. Tidak heran jika sebagian orang sangat menantikan kehadiran bulan kedua dalam penanggalan Masehi.

Bagi orang muslim, kehadiran Februari bisa saja istimewa, bisa juga biasa saja. Bahkan bisa juga tidak berharga sama sekali.

Februari akan terasa istimewa jika dijadikan sebagai refleksi untuk bercermin tentang segala yang telah terjadi di masa lalu, khususnya di bulan Januari. Masa lalu adalah masa yang paling jauh dari kehidupan dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itu, kedatangan Februari sangat layak dijadikan sebagai waktu yang tepat untuk muhasabah diri, mengingat segala kesilafan di masa lalu dan bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik dimulai sejak detik ini.

Ada juga yang menganggap bahwa kehadiran bulan Februari tidak begitu istimewa bahkan menganggap sama saja dengan bulan-bulan yang telah berlalu. Dalam kondisi seperti ini, kita seharusnya buru-buru koreksi hati kita. Kita akan merugi jika hari kemarin sama saja dengan hari ini. Padahal kesempatan untuk berbenah telah Allah berikan, namun kita tidak menyambutnya dengan antusias. Bukankah kehadiran masa yang baru adalah kesempatan untuk meninggikan kualitas iman dan diri? Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang gagal memaknai masa.

Sekelompok wanita telah mengikrarkan “1 Februari sebagai No Hijab Day”. Satu Februari telah menjelma. Maka, kelompok tersebut akan mengumumkan pada dunia bahwa mereka adalah wanita-wanita Indonesia yang menganggap bahwa kebebasan hakiki adalah “tanpa hijab”. Dengan semarak mereka membuat petisi, perlombaan dengan hadiah-hadiah yang menggiurkan, bahkan mengumpulkan massa untuk ikut serta bergabung dalam kelompok wanita tersebut.

Sekelompok orang yang telah mengikrarkan diri sebagai kelompok “Hijrah Indonesia” menjelaskan pada publik alasan mereka membuat kompetisi tersebut:

“Karena itulah, Hijrah Indonesia mengajak Anda para perempuan Indonesia baik Muslim maupun bukan Muslim untuk meramaikan #NoHijabDay dengan menayangkan foto foto Anda berbusana dengan nuansa Indonesia dengan memperlihatkan kepala Anda tanpa memakai hijab/jilbab/ niqab/cadar/ kerudung dan semacamnya di akun media sosial Anda, baik instagram, facebook, maupun twitter dan blog Anda dengan hashtag #NoHijabDay dan #FreeFromHijab pada 1 Februari 2020”.

Adapun alasan diadakannya kampanye ini menurut Hijrah Indonesia adalah: (1) Hijabisasi baru marak tiga dekade terakhir; Niqabisasi marak satu dekade terakhir. (2) Tidak semua ulama, tarekat dan sarjana KeIslaman mendakwahkan dan bersetuju dengan hijabisasi maupun niqabisasi. Pandangan mengenai batasan aurat berbeda-beda. (3) Kita berdiam di rumah, berada di habitat, berkebutuhan, bekerja, dan atau memiliki fisik, yang kesemuanya berbeda-beda. (4) Kebutuhan vitamin D, terutama yang mendesak. Sumber: Hijrah_Indonesia_mysharing.co

Kelompok ini menamai diri mereka dengan “Hijrah Indonesia”. Bagi mereka, hijrah itu adalah kebebasan. Bahkan dengan beraninya mereka memberikan interpretasi sendiri terhadap ayat-ayat Al-Quran untuk mendukung aksi mereka. Naudzubillah min dzalik

Yang paling menggelitik dari semua alasan mereka di atas adalah poin nomor 4, yaitu kebutuhan vitamin D yang begitu mendesak.

Mereka mengganggap bahwa hijab akan membungkus kulit dan tidak akan menerima haknya untuk mendapatkan vitamin D dari cahaya matahari. Ingin rasanya menertawakan alasan lucu ini. Di saat berbagai merek kosmetik dan scincare mengkampanyekan produknya yang berperan penting untuk melindungi wanita dari sinar ultraviolet, justru komunitas Hijab Indonesia menganggap bahwa wanita-wanita Indonesia mengalami darurat vitamin D.

Mengatasnamakan wanita Indonesia, komunitas ini menjadikan kehadiran bulan Februari adalah bulan yang sangat dinanti-nanti kehadirannya. Pada hari ini, komunitas ini akan merekrut peserta dan kontestan perlombaan foto tanpa hijab. Sayembara digelar hingga penghujung bulan Februari. Nyata sekali aksi mereka dalam menentang hijab dan menganggap hijab hanya akan mengekang kebebasan wanita Indonesia. Mereka lupa bahkan mengingkari pesan Allah yang mewajibkan wanita muslim untuk menutup auratnya.

Untuk menjaga generasi dari cengkraman orang-orang aneh seperti dalam komunitas Hijrah Indonesia, berikut tips sederhana:

  1. Mari kita rangkul anak-anak perempuan kita dengan cinta. Sampaikan pada mereka bahwa sebaik-baik teman adalah yang mengajak untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.
  2. Minta selalu perlindungan pada Allah agar diberi hidayah dan iman yang kokoh dalam menjalani kehidupan
  3. Hidupkan majelis-majelis ilmu baik dari media sosial atau langsung mendatangi tempat-tempat kajian yang diisi oleh ulama-ulama salih, bukan ulama jadi-jadian (orang yang mengaku ulama, padahal tingkah lakunya berseberangan dengan Al-Quran dan Sunnah).
    Untuk rekomendasi kajian di youtube: Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Hanan Attaki, dan Ustadz Khalid Bassalamah.
  4. Hidupkan tilawah Al-Quran setiap hari
  5. Budayakan membaca dalam keluarga tentang Sirah Nabawiyah, Fiqih Wanita Salihah, Fikih Keluarga, dll karena menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang beriman.
  6. Semarakkan untuk menulis hal-hal yang memberikan manfaat agar kelak menjadi bagian dari syiar dakwah dan menjadi amal jariyah.

Demikianlah tulisan sederhana ini sebagai bentuk kepedulian dan rasa cinta pada wanita Indonesia. Jika niat untuk berhijrah, maka hijrahlah karena Allah dan Rasul. Jika ada yang mengatasnamakan hijrah, tapi mengajak untuk menentang Allah dan Rasul, sesungguhnya hijrah tersebut bukan karena Allah dan Rasul. Hijrah mereka adalah hijrah palsu.

Kami berlindung pada-Mu ya Allah..

13 COMMENTS

  1. Seriusan tu ada no hijab day?
    Dimanakah itu, hijab itu menjaga lho. Baik menjaga si cewe juga menjaga si cowo yg liat dy.
    Tio-iotomagz

  2. Ada aksi ada reaksi, demikian terus hukum alam pemikiran mengenai pro dan kontra akan selalu ada, hikmahnya kembali ke masing-masing pemilik ide

  3. Wah ko ada ya gerakan seperti itu. Bukannya hijrah itu mengubah diri demi meraih rahmat dan keridhaan Allah SWT. Contohnya adalah menutup aurat perempuan dengan berkerudung. Ini ko malah sebaliknya.

  4. memang sih banyak yang beda pendapat tentang menutup aurat. tapi kan gaada salahnya menutup aurat dengan hijab

  5. Saya sangat menolak ‘no hijab day’ ini, karena sebagai perempuan kan memakai hijam hukumnya wajib. Apalagi bagi mereka yang sudah baligh.

  6. Untuk tips yang mendatangi kajian ulama, nah pada bagian ini untuk mencari ulama memang cari dengan selektif dan berhati-hati biar tidak salah jalur seperti ulama jadi jadian dan nantinya jadi paham yang salah hehe. Terimakasih gan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here