Riausastra.com – Emak milenial sesungguhnya adalah masa kanak-kanak hingga beranjak remaja di zaman Millenium. Masih ingat kan, saat warna millenium di awal tahun 2000 menjadi warna yang tengah populer dan menjadi warna pilihan banyak orang. Mulai dari warna pakaian, warna pernak-pernik, warna kendaraan, warna sandal sepatu, meskipun warna hati masih tetap sama, yaitu warna merah jambu.

Tibalah para penikmat zaman Milenium menemukan tambatan hatinya melalui ikatan pernikahan di zaman Millenial. Ada yang sudah punya anak, ada yang masih berdua dengan suaminya, dan ada yang berstatus sebagai pengantin baru.

Rata-rata, emak milenial mulai rada-rada risau karena terjadi perubahan pada bentuk tubuh dan tekanan psikologis yang sering pasang surut bagai air laut.

Setelah resmi menjadi istri, sudah barang tentu kondisi fisik tidaklah sama lagi saat masih menjadi anak gadis. Apalagi setelah menjadi ibu. Diawali dari proses hamil dengan suasana seperti nano-nano, lalu dilanjutkan dengan pertaruhan nyawa saat melahirkan, sampai pada proses menyusui hingga menyapih, dan terakhir sampai pada proses membesarkan anak-anak.

Semua dilalui dengan tidak mudah. Tidak heran jika emak merasakan banyak hal yang berbeda.

Saat masih gadis, dalam pikirannya hanyalah dirinya sendiri. Bahkan ada juga yang tidak memikirkan dirinya sendiri karena ada ayah-ibunya yang fokus mencurahkan perhatian penuh untuknya, mulai bangun pagi hingga bangun lagi. Kasih sayang orang tua melimpah, tak kenal batas waktu, tak kenal batas materi. Semua diterima dengan cuma-cuma.

Nah, ketika menikah, gadis tersebut sudah selayaknya mengokohkan pikirannya pada dua hal, yaitu dirinya dan suaminya. Sangat tidak mudah memulai semuanya jika tanpa diawali dengan mengokohkan hati dan keimanan karena yang dipikirkan adalah orang lain yang harus bisa diterima apa adanya.

Belum lagi kerinduan masa gadis saat masih dimanjakan oleh orang tua akan mengambil peran dalam mengusik perasaan sang istri. Ditambah lagi ingatan betapa bebasnya kaki kemanapun melangkah saat masih belum diikat dengan ijab qabul. Tentunya akan berbeda antara kebebasan masa gadis dengan kebebasan setelah menjadi istri. Kebebasan dibatasi dengan ruang, waktu, dan izin dari suami. Ada juga yang dibatasi oleh minimnya materi. Hal-hal di atas sudah pasti mengambil peran dalam mengaduk-aduk sensitifnya jiwa sang istri.

Lalu, tibalah masanya merasakan hamil. Sebagian orang merasa baik-baik saja dengan kondisi seperti ini. Tapi, tidak sedikit yang merasa kondisinya tidak baik-baik saja, bahkan babak belur dihantam rasa mual yang tak bisa diajak kompromi. Maka, perasaan yang bergelombang seperti air laut, sesekali akan menghasilkan badai-badai kecil.

Setelah trisemester demi trisemester berakhir, sampailah pada perjuangan melahirkan sang buah hati. Mau proses normal atau sesar, kedua-duanya tetap membawa pesan perjuangan yang tidak mudah. Kedua proses ini tetap menyisakan pengorbanan yang tidak enak. Sama.

Lahirlah sang buah hati dengan segala dinamika sehari-hari yang dilalui sang ibu (sebut saja: emak milenial).

Suasana telah berubah. Anggota keluarga juga telah bertambah. Bahkan, kondisi tubuh juga tak lagi sama. Sang emak pun punya profesi baru yang dikenal dengan “Ibu Rumah Tangga/IRT”.

Beberapa bulan terakhir, muncullah berbagai pernyataan yang mengungkapkan betapa beratnya menjadi IRT. Dan semakin berat saat dihubung-hubungkan dengan “tanpa gaji”. Wacana ini dibagikan oleh banyak sekali emak millenial di akun media sosialnya sebagai bentuk protes yang tak berkesudahan.

Banyak yang sepakat dengan salah satu ungkapan berikut:

“IRT memang tidak bekerja. Akan tetapi, semua orang harus tahu bahwa menjadi IRT itu jauh lebih berat dibandingkan ibu yang bekerja. Kalau dihitung-hitung, pembantu rumah tangga saja, digaji. Pengasuh anak, digaji. Guru bagi anak, digaji. Dokter keluarga, digaji. Seharusnya IRT itu gajinya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gaji emak yang bekerja. Bahkan, penghormatan terhadap IRT seharusnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan emak yang bekerja.”

Begitulah kira-kira suara hati yang mewakili sebagian emak millenial.

Tidak ada yang salah dari ungkapan di atas. Justru, salah jika dijadikan sebagai senjata untuk memerangi suami karena sang istri butuh pengakuan dari suaminya.

Biasanya, emak yang sibuk menyebut-nyebut kekurangan dalam dirinya, bisa jadi emak tersebut sedang butuh sanjungan dan perhatian dari suaminya. Kadang kala, suami tidak paham. Kadang kala, suami memang tak bisa berkata-kata romantis. Kadang kala, suami telah menunjukkan perhatian dan cinta pada istrinya, namun istrinya menuntut lebih dari kesanggupan sang suami. Lalu, dinamika rumah tangga pun mulai bergejolak kembali. Riak-riak kecil jika dibiarkan akan jadi banjir bandang yang menghanyutkan. Sangat disayangkan jika hal ini terjadi. Keinginan sesaat menghapus kenangan dalam suasana yang tidak tepat.

Lalu, solusinya gimana donk ???

Berikut hadist Rasulullah SAW pada ibu rumah tangga (robbatul bait):

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya.” (HR Muslim)

“Wahai Fathimah, wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.”

“Wahai Fathimah, tiadalah seorang wanita yang meminyaki rambut kepala anak-anaknya lalu menyisirnya dan memcucikan pakaiannya, melainkan Allah pasti menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberikan pakaian seribu orang yang telanjang.”

“Maukah engkau aku beri tahu sesuatu yang (paling berguna) ditimbun oleh seseorang, wanita shalihah apabila ia (suami) memandangnya ia (isteri) menjadikannya senang, apabila memerintahkannya ia pun mentaatinya, dan apabila ia tidak ada maka ia (isteri) menjaganya.” (HR. Abu Daud)

Nah, yang memberikan profesi bagi seorang istri sebagai IRT adalah Rasulullah. Dari hadits-hadits di atas, Rasulullah menceritakan keutamaan di hadapan Allah pada sebutan IRT.

Setelah membaca hadits di atas, masihkan kita rela mengukur amanah yang kita terima sebagai IRT dengan takaran materi berupa uang?

Sayang sekali jika peran kita sebagai IRT alias emak millenial disetarakan dengan gaji. Padahal, Allah sudah menyiapkan hadiah paling tinggi yang nilainya tidak terhingga dibandingkan dengan angka-angka dalam gaji.

Lewat tulisan sederhana ini, sebenarnya penulis sedang belajar menata hati dan belajar bahagia menjalankan peran sebagai emak milenial tanpa gaji. Ingin sekali bisa jadi emak milenial yang dijanjikan masuk syurga seperti Ibunda kita, Fatimah (puteri Rasulullah). Lalu, stop galau ya Mak, mari kita selow tanpa melow menjalankan peran terindah ini. Semoga barakah. Aamiin..

Salam sayang buat semua emak dimana pun berada.

20 COMMENTS

  1. Saya termasuk yang pernah merasakan jadi ibu pekerja dan sekarang memilih jadi IRT. Pasti ada plus dan minusnya. Tapi keduanya perlu mendapatkan penghargaan. Sebab ibu bahagia, InsyaAllah berkah bagi keluarganya. Semoga semua lelah selama menjadi IRT diganti dengan langkah pahala mendekati surga, aamiin

  2. saya punya cerita nih, jadi sebelumnya ibu saya adalah seorang wanita karir. setelah saya kuliah yang alhamdulillah mendapat beasiswa penuh, saya langung bilang ke ibu saya untuk resign saja dan fokus untuk keluarga. apalagi saya juga masih mempunyai adik yang bisa dibilang masih kecil 😀

  3. Perjuangan seorang ibu memang berat ya gan. Dari kita semasa didalam perutnya sampai kita tua, beliau selalu berusaha untuk membahagiakan anaknya.

  4. Terima kasih ibu, semoga selalu diberi umur panjang. Zaman boleh berganti tetapi tidak akan pernah menggantikan semua yang telah beliau berikan.

  5. Pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun baik itu harta ataupun tahta atau yang lainnya

  6. Anak milenial sudah masanya untuk berganti masa jadi berkeluarga, timbulah kata emak milenial haha semangat teruss

  7. dapat mengubah mindset, artikelnya bermanfaat dibaca mendalam. di masa sekarang, multi talent sangat berguna. bisa berperan sebagai apapun dapat menunjang hidup

  8. Perjuangan seorang emak memang tidak mudah, baik itu emak milenial ataupun emak konvensional. Semuanya adalah seorang ibu yang berjasa bersar untuk keluarga dan anak-anaknya.

  9. IRT yah rasanya serba beratlah, mau ibu yang bekerja di luar rumah atau yang bekerja di rumah aja sebagai ibu rumah tangga. Tapi yang terpenting bagaimana kita melakoninya, tetap bertanggung jawab pada anak dan suami hehe

  10. Semoga bnyak calon ibu-ibu yang berubah mindset dan mulai berpikir IRT itu keren. Khawatir juga kalau mama muda (ibu-ibu muda) bnyak aktivitas dluar wkwk. Apalagi pria yang bertanggung jawab menafkahi jadi berikan kesempatan lebih besar kepada untuk memenuhi lowongan pekerjaan. Btw istri yang tidak bekerja terhitung pengangguran??

  11. Menjadi ibu rumah tangga itu tugasnya berat dan tidak tergantikan, pilihan hidup apakah ingin bekerja atau menjadi IRT itu pilihan yang sulit, pasti ada alasan besar di balik pilihan itu

  12. Saya hanya ingin menyampaikan opini saya. Yah, memang peran ibu ibu rumah tangga sangat berpengaruh dalam perkembangan anak-anak. Namun, tidak ada salahnya bagi mereka jua untuk berkarir. Khususnya di masa ini, pekerjaan bagia wanita tidak terbatas di luar rumah. Dalam rumah un jadi asal bisa berkreasi, seperti contohnya ya blogger.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here