Pict : CNBC Indonesia

Perempuan Dua Kota

Perempuan dalam sebuah kota
Menyeka air mata untuk sekadar menutupi luka batinnya
“Beri aku hakku!” teriaknya penuh harap
Wajah merahnya hanya dianggap angin lalu

Perempuan itu menyeka mimpi dengan denting waktu yang teramat lama berganti angka
Meski tak diberi kesempatan, ritual salatnya ia lakukan bersama hatinya yang semakin kecut
Meski tak diberi ruang, tetap saja asma Allah mengakar di kalbunya yang kian menajam
Orang-orang itu telah menghapus memori kehidupannya
Mereka paksa agar perempuan itu tersenyum dalam dusta

Tidak perlu waktu lama
Perempuan lain di sebuah kota kini histeris menjadi-jadi
Ia lupakan sanaknya, ia tinggalkan kemegahan hidupnya
Bayang-bayang karina membuatnya setengah gila

Padahal, kemarin ia berani mengaku bahwa tak ada yang lebih istimewa selain perempuan tak bertuhan
Lalu, ia ikut terbahak saat perempuan di kota seberang berteriak menyebut nama Rabbnya
“Perempuan bodoh,” bisiknya.
Semakin bengis hasratnya untuk menambah duka perempuan itu
Senang sekali saat ia melihat perempuan itu dipisahkan dari suami dan anak-anaknya

Perempuan tak bertuhan bangga dengan kebijakan negerinya
Lokasi pembantaian yang mereka sembunyikan dari wajah dunia
Menjadi sarana empuk untuk menyalurkan bakat kebinatangan mereka
Tangisan perempuan dalam tasbihnya dianggap bagai lolongan anjing malam yang nyaring di telinga mereka

Tapi, hari ini tidak lagi sama dengan hari kemarin
Kemarin ia terpingkal-pingkal, hari ini ia meraung-raung
Aroma kematian mulai merayu
Bisik-bisik duniawi sudah tak lagi menggiurkan
Yang ada hanyalah waktu yang teramat tumpul untuk bisa berputar berbalik arah, mengulang semua episode
Dan, mengubur episode hari ini

Karina bagai perempuan seksi yang menggait mata dunia
Perempuan tak bertuhan bingung entah harus berteriak memanggil siapa
Akalnya yang ia banggakan, negerinya yang ia pongahkan, pemimpinnya yang ia agungkan
Tak sedikitpun mampu mengusap ketakutan yang bersarang di dadanya

Negerinya lumpuh
Kecerdasannya lumpuh
Masa depannya lumpuh
Surga duniawi, lagi-lagi, sudah tak lagi menggiurkan

Detik melarut
Perempuan bertuhan mati dalam kedamaian jiwa
Jasadnya boleh tersayat
Tapi tidak dengan imannya
Perempuan itu tersenyum setelah lelah menangisi perjuangannya
Ia percaya, dunia hanya sementara, akhirat kekal selamanya

Detik membusuk
Jasad perempuan angkuh telah kaku
Hartanya, ilmunya, kotanya melambaikan tangan padanya
Tinggallah ia dalam senyap
Jika diingat pun, orang akan mengingatnya sebagai korban karina
Mengenaskan!
Tak bertuhan, ternyata tak cukup mengajarinya kekal di dunia fana
Lalu, ke manakah ia akan kembali jika bukan kepada Tuhannya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here