Pict : Indomenari

Riausastra.com – Ini adalah sebuah desa. Selayaknya sebuah desa, tentu saja menawarkan ketenangan. Sawah-sawah yang terhampar luas. Menghijau. Bila sudah waktunya, muncullah bulir-bulir padi yang semakin berisi, semakin merunduk. Lalu, menguning sempurna.

Desa yang bernama Mempura ini, segarnya bagai pucuk rebung, menarik mata untuk menyusuri setiap keindahan yang menawarkan kesyahduannya. Ibarat batu permata dalam kotak kaca, berkilau. Ini bukan sebuah fatamorgana. Ini sebuah realita yang tertulis dalam catatan senja di Negeri Istana Matahari Timur, Siak Sri Inderapura.

Air di permukaan Sungai Jantan seakan-akan berjalan lembut menuju tepi, ditiup angin pagi yang bersahaja. Seorang perempuan berwajah anggun, berdiri di sisi sebuah dermaga kecil yang terbuat dari kayu. Jilbab pendek berwarna silver yang dikenakan wanita itu, meliuk-liuk mengikuti arah sang bayu. Ntah apa yang merasuki pikiran wanita itu.

“Sandra!” seorang wanita berkerudung biru, tergopoh-gopoh menghampiri wanita yang dipanggil dengan sebutan Sandra.

Sandra menoleh ke belakang sembari menarik segaris senyuman di bibir merekahnya.

“Ayuk, makan! Sedari tadi menyendiri terus di tepi sungai. Nanti Kamu masuk angin!” ucap wanita berkerudung biru panjang dengan lembut.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sandra langsung menurut dan meninggalkan dermaga kayu yang sudah mulai lapuk di makan waktu.

Sandra menaiki anak tangga perlahan-lahan. Sesampainya di pintu belakang rumah panggung itu, Sandra mendapati saudara laki-lakinya sudah bersiap-siap rapi hendak berangkat kerja.

“Dari mana, Dek? Jangan suka melamun, ah. Nanti kesambet sama pangeran yang tiba-tiba muncul dari Sungai Jantan. Hayo lho,” seru laki-laki berpakaian dinas itu pada adiknya, Sandra.

“Abang ngaco!” jawab Sandra sambil tertawa simpul pada saudara laki-lakinya itu.

Sandra mencari posisi yang nyaman. Duduk menekuk kedua kakinya ke belakang seperti duduk tasyahud dalam salat. Rok panjang yang dia kenakan seakan memaksa kaki jenjangnya untuk bertekuk mengikuti adat. Perempuan berwajah oval dan berdagu lebah bergantung itu menatap sajian yang telah disediakan oleh kakak iparnya. Sandra menarik satu kobokan dan membilas tangan lentiknya dengan perlahan. Lalu, menyendokkan satu sendok nasi ke piring kaca di hadapannya.

Sandra masih seperti orang linglung. Empat hari sudah dia lalui di kampung yang asri ini. Abang dan kakak iparnya memintanya untuk mengikuti beberapa aturan terutama model pakaian dan menjaga sikap selama berada di Tanah Melayu. Mau tidak mau, Sandra terpaksa harus manut. Meskipun sehari-hari, Sandra tidak terbiasa mengenakan jilbab dan rok serta tunik longgar. Pakaian satu koper yang sudah dia bawa dari rumah, lebih banyak yang tidak lulus “sensor”. Alhasil, perempuan cantik itu harus meminjam beberapa buah rok panjang milik kakak iparnya.

“Abang berangkat ya, San. Makan yang banyak, agar cepat bahagia!” goda abangnya sambil berlalu setelah pamit pada perempuan berkerudung biru, istrinya.

“Ayuk, tambah lagi makannya!” ucap kakak iparnya.

Dengan sedikit terkejut, Sandra manggut-manggut kecil.

Setelah selesai makan, kakak iparnya membereskan makanan dan merapikan tikar yang dibentang di ruangan rumah kayu khas Melayu itu. Setiap sisi dinding ruangan terdapat jendela besar yang dibiarkan terbuka lebar tanpa jeruji besi. Hanya dipadankan dengan tirai kain setengah badan jendela. Angin sepoi-sepoi masuk  secara leluasa dan memberi kesejukan.

Sandra memainkan ponsel layar sentuh miliknya. Ia tampak gelisah. Seolah-olah, membuka dan menutup layar ponsel itu hanya sebagai iseng-iseng belaka. Tidak ada tujuan pasti yang ingin dilakukannya.

“Sandra, Kakak hendak ke pasar. Nak ikut?”

Sandra bangkit dari tempat duduknya dan merapikan jilbabnya. Tubuh tinggi semampai itu berjalan mengikuti jejak langkah kakak iparnya, Kak Siti. Setibanya di pasar, Kak Siti memilih sayuran dan buah-buahan segar yang baru saja dipetik dari perkebunan warga di Desa Mempura. Tidak hanya itu, rempah-rempah seperti cengkeh dan merica masih berwarna hijau dan merah cerah. Aromanya singgah di penciuman. Benar-benar hasil alam yang terjaga.

Di tepi Sungai Jantan, beberapa orang pemuda menyandarkan perahu-perahu kayunya menuju dermaga. Pemuda-pemuda itu membawa ikan segar, hasil menjaring secara tradisional di Sungai Jantan. Ada ikan patin, ikan selais, udang, kerang kijing, dan lain-lain.

Nak ikan apo, Sandra?” tanya Kak Siti.

Sandra menggeleng pelan pertanda “terserah” saja.

O, nama dara nan jelita ni, Sandra,” ujar seorang pemuda sambil tersenyum manis menatap Sandra.

Beberapa pemuda lain ikut tersenyum dan merasa takjub dengan kecantikan Sandra. Tetapi, para pemuda itu bukanlah sembarang pemuda. Mereka memang tidak bersekolah sampai ke perguruan tinggi. Namun, mereka punya adab dan tata krama. Kekaguman mereka pada Sandra masih dalam batas wajar. Menggoda pun hanya sekadarnya. Sedangkan gadis yang digoda, hanya terdiam memaku.

Kak Siti membeli dua kilo ikan selais. Sesampainya di rumah, Kak Siti membersihkan ikan selais di dermaga kayu yang terhubung dengan pintu dapur rumahnya. Beberapa tetangga juga beraktivitas di dermaga kayu yang menghubungkan antara tepi sungai dengan pintu dapur masing-masing. Ada yang memandikan anaknya. Ada yang mencuci piring, ada juga yang mencuci pakaian, ada juga yang menunggu kapal pompong lewat untuk bepergian lewat jalur sungai.

Sandra tidak ikut turun ke dermaga. Gadis itu hanya menatap Kak Siti dari dalam rumah, berdiri di sisi sebuah jendela menghadap Sungai Jantan yang memesona.

“Sandra, apa kabar? Aku ingin minta maaf.”

Sandra buru-buru menghapus pesan yang masuk ke dalam WA-nya, lalu segera menekan tulisan blokir. Gadis itu gugup dan gemetaran. Ia mencoba membuang semua isi pikirannya yang menyatu dengan perasaannya. Buru-buru Sandra mematikan ponselnya dan meletakkannya di dalam koper di bilik rumah kayu itu. Ia duduk di tepi tempat tidur. Tak bisa ia bendung, air matanya jatuh berderai.

Sandra terkejut karena tiba-tiba saja Kak Siti membuka tirai bilik dan langsung mendekatinya. Sandra tak bisa menyembunyikan air matanya.

“Anak Dara jika menangis, akan mengurangi kecantikannya. Ayuk, cerita. Ada apa?” Kak Siti berusaha menggoda Sandra dengan dialek khas Melayunya.

Sandra semakin sesenggukan dan meninggalkan Kak Siti. Sandra menuruni anak tangga belakang dan segera menuju dermaga kecil tempat Kak Siti membersihkan ikan selais. Dermaga kayu ini berupa kayu yang disusun seperti jembatan panjang yang menghubungkan dapur rumah dengan tepi sungai. Setiap rumah hampir memiliki dermaga.

Anak-anak di seberang sungai mandi di tepi Sungai Jantan yang luas. Mereka melompat dari pinggir-pinggir dinding beton dengan gaya bebas. Tampak anak-anak itu tertawa lepas dan bahagia sekali melepaskan beban hidupnya.

Sandra bukanlah gadis sentimen. Tidak biasanya dia melankolis seperti ini. Tapi, hari ini ia sibuk menangisi luka yang menggores hatinya. Sebenarnya, gadis itu merasa bersalah pada Kak Siti yang sudah banyak berkorban untuknya, mengurusnya, bahkan berusaha untuk mengajaknya terbuka. Tapi, sulit sekali bagi Sandra untuk mengawali keterbukaan ini. Yang dia tahu, saat ini dialah wanita paling berduka. Sebab itu, air matanya ia biarkan terjun bebas membasahi wajahnya yang tak lagi sedap dipandang. Bahkan, ia membiarkan batinnya meratapi kesedihan yang ia ciptakan sendiri.

“Sandra, kembali ke rumah!” Ternyata Abangnya sudah pulang mengajar dari sekolah negeri.

Sandra terkejut bukan main. Gadis itu masih mematung.

“Apa maksudmu seperti ini terus-menerus, Sandra? Sudah empat hari Kamu di sini. Tapi, Kami tidak pernah mendengar cerita apapun darimu. Kata Papa, Kamu ingin liburan ke mari. Liburan apanya. Nangis melulu, cemberut tak karuan!” Bang Budi tampak kesal dengan Sandra.

“Kalau ingin pulang ke Jakarta sekarang, pulanglah! Biar Abang pesankan travel menuju Pekanbaru, lalu Kamu pulang lewat Bandara Sutan Syarif Kasim. Gimana?” ucap Bang Budi mulai bosan dengan sikap Sandra.

Bang Budi berbalik arah dan mencoba meninggalkan Sandra. Sandra mulai bingung. Gadis itu panik. Jika harus balik ke Jakarta, dia masih trauma dengan kota itu. Sejak ibunya meninggal lima tahun yang lalu, Sandra menjadi anak yang tertutup. Ditambah lagi Bang Budi yang memilih pindah ke Siak Sri Inderapura sejak lulus jadi guru PNS empat tahun yang lalu, Sandra merasa semakin tidak punya teman untuk bercerita. Sedangkan papanya lebih fokus pada kehidupan barunya dengan istri mudanya.

“Bang, Sandra nggak mau balik ke Jakarta. Sandra janji tidak akan sentimen lagi. Suer!” ucapnya masih dengan isakan kecil.

Bang Budi tidak menoleh. Lelaki bertubuh tinggi itu melanjutkan langkahnya. Tanpa dipinta, Sandra pun mengikuti abangnya memasuki rumah kayu itu.

“San, ini. Pakailah. Hasil sulam tangan buatan Kakak.”

Kak Siti memberikan sebuah mukena baru berwarna putih terang dengan motif tampuk manggis. Rajin sekali Kak Siti menyulam tangan seperti ini. Padahal zaman sudah canggih, era industri 4.0. Tapi, kak Siti lebih terpikat dalam pengerjaan yang manual. Dari karya tangan Kak Siti, terlihat kepribadiannya yang penyabar dan cerminan wanita Melayu yang taat pada suami. Terang saja abangnya betah tinggal dengan kehidupan yang sederhana begini, meskipun dulunya, lelaki itu dibesarkan dengan kemewahan. Pasti semua karena pancaran ketulusan istrinya, Kak Siti, perempuan Melayu yang ramah, sopan, dan penurut.

Selepas mandi sore, Sandra menunaikan salat asar di masjid dekat rumah. Tenang sekali jiwanya selepas menunaikan kewajiban di lima waktu yang sudah lama ia abaikan. Mukena pemberian Kak Siti ia pakai agar pahalanya sampai pada Kak Siti sebagai amal jariyah.

Saat hari sudah menjelang subuh, ayam berkokok bersahut-sahutan. Sandra mendekati Kak Siti yang sedang meracik bumbu rempah bersama ikan selais.

“Minum dulu. Biar badannya segar,” Kak Siti menyuguhkan madu hutan khas Siak yang disedu dengan air hangat dalam cangkir.

“Kak Siti, maafkan Sandra ya jika selama ini Sandra membuat Kakak dan Bang Budi kecewa,” Sandra akhirnya membuka cerita.

Dengan sabar, Kak Siti mendengarkan adik iparnya itu mengutarakan semua yang mengganjal dalam hatinya. Kembali, Sandra menangis lagi. Tapi, kali ini lebih pelan agar Bang Budi tidak terbangun.

“Sandra mencintai seseorang, Kak. Kami saling mengenal saat di Kampus. Dia senior Sandra. Sejak dia tamat kuliah setahun yang lalu, Kami hanya komunikasi aktif lewat WA, Facebook, dan instagram. Sekitar sebulan ini, komunikasi mulai jarang. Bang Budi sering mengingatkan Sandra untuk fokus skripsi. Bang Budi juga sudah berulang-ulang mengingatkan Sandra agar tidak pacaran. Tapi, Sandra tidak menghiraukan semua pesan Bang Budi. Ternyata, tanpa peduli dengan perasaan Sandra, laki-laki yang Sandra cintai itu sudah menyebarkan undangan pernikahannya di sosial media. Katanya, dia dijodohkan orang tuanya,” cerita Sandra sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.

Kak Siti duduk di depan gadis itu, lalu memeluknya erat. Seakan Kak Siti mengerti betul bagaimana tercabik-cabiknya perasaan Sandra. Sebuah hati yang sedang patah karena cinta.

“Itu artinya, lelaki itu bukan yang terbaik buatmu, Dek,” suara Bang Budi tiba-tiba saja mengejutkan kedua perempuan tersebut.

Wajah Sandra semakin memerah menahan malu. Buru-buru ia usap air matanya.

“Jangan lemah karena sebuah harapan yang belum tentu baik untuk diri kita. Sandra wanita baik-baik. Suatu hari, pasti akan Allah pilihkan laki-laki yang baik juga untukmu. Mulai sekarang, Abang tidak ingin melihatmu rapuh seperti kemarin-kemarin. Ambil wuduk, lalu mengadulah pada Allah dengan sejujur-jujurnya. Minta ampun pada Allah karena selama ini telah menyia-nyiakan waktu dari mengingat Allah. Okeh?”

Bang Budi mengacak-acak manja rambut adiknya itu. Gadis itu tersipu malu. Sandra sudah merasa plong setelah bercerita. Dia bertekad untuk mengawali lembaran baru hidupnya. Ia berjanji harus menerima dirinya sendiri. Ia tidak sedang sendiri dan ia tidak salah memilih tempat pelarian ke sini, ke sebuah Kampung di tepi Sungai Jantan yang gagah.

Pagi ini, Bang Budi hanya berpakaian biasa. Hari ini hanya ada kegiatan ekstrakurikuler di SMA tempatnya mengabdikan diri. Kak Siti sibuk membagi-bagi gulai asam pedas ikan selais menjadi beberapa piring dan diantar ke rumah-rumah tetangga.

“Terima kasih ya, Siti. Adik dikau ni, cantik sangat,” ucap Mak Cik Maimunah saat Sandra ikut mengantar gulai asam pedas ikan selais ke rumahnya.

“Diantar kemana lagi ini, Kak?”

“Ke Rumah Tenun di sebelah.”

Kedua wanita itu mendatangi rumah tenun. Ada lima orang yang sedang menggunakan alat tenun kayu manual di dalam rumah itu. Seorang lagi menggunakan alat kelos untuk menggulung benang. Lihai sekali para pekerja seni itu.

Sandra tertarik sekali mencoba songket dengan motif siku keluang. Wanita berusia dua puluh empat tahun itu membalutkan tubuh rampingnya dengan kain tenun yang sudah jadi. Selempang yang senada dengan songketnya, dia pasang di pundaknya. Anggun sekali. Dia pun mengabadikan moment itu di depan cermin kayu besar dengan kameranya.

Saat menatap dirinya di cermin tersebut, tampak bayangan patung berdiri jauh di belakangnya memakai baju adat melayu lengkap dengan tanjak di kepalanya. Sandra menoleh sekilas. Ia kembali baper. Perasaannya kembali bergemuruh. Namun, cepat-cepat ia kondisikan hatinya. Cekrek.

“San, ini ada kue,” ucap Kak Siti.

Sandra mencicipi bolu kemojo rasa pandan. Hanya berselang beberapa menit, seorang penenun datang dari dapur membawa nampan berisi minuman segar berwarna kuning cerah.

“Silakan diminum, Sandra,” ucap penenun berkerudung ungu lembut itu dengan ramahnya.

“Enak,” ucap Sandra dengan wajah sumringah dan mata yang membesar saking senangnya.

“Ini namanya Laksamana Mengamuk. Terbuat dari kuini yang dicampur dengan santan dan susu.” ucap penenun lain.

Hah, ngeri juga kalau Laksamana sedang marah? Tapi kayaknya lebih mendingan marah terus, ya kan? Soalnya rasa kuininya lebih enak saat laksamana marah ketimbang lagi baik hati.” jawab Sandra spontan.

“Hahahaha” serentak Kak Siti dan teman-teman masa kecilnya itu tertawa melihat tingkah Sandra.

Selepas berkunjung ke rumah tenun, Sandra dan Kak Siti beranjak pulang. Ternyata Bang Budi masih di rumah. Tidak berapa lama, lelaki berwajah teduh itu pamit pada istrinya. Sandra merasakan getaran dalam hatinya menyaksikan keharmonisan dua insan di hadapannya. Cinta mereka sungguh berkelas. Gadis itu memutar memori saat Bang Budi selalu mengingatkannya agar tidak pacaran. Tapi, hatinya terlalu lemah untuk menolak cinta sang senior. Meski saat ini, senior itu telah mengucap janji dengan wanita lain pilihan orang tuanya.

Sandra membuka ponselnya. Sudah beberapa hari ponsel itu dia matikan. Gadis itu benar-benar sedang berdamai dengan hatinya. Benar saja. Meskipun semua media sosial seniornya itu telah ia blokir, dia tetap saja mendapati foto-foto seniornya bersama wanita yang sudah sah menjadi istrinya tersebut. Foto-foto itu dibagikan oleh teman-teman mereka yang kebetulan teman bersama di dunia nyata dan di dunia maya. Demikian juga status di WA, berseliweran foto dan ucapan selamat dari berbagai pengunggah. Hatinya kembali tersayat. Sisi keperempuanannya kembali melow. Gadis itu tak mampu menahan kesedihannya. Benar sekali, inilah yang disebut dengan “cinta itu luka”.

Kak Siti diam-diam memperhatikan Sandra. Perempuan berbaju kurung warna pink itu memeluk adik iparnya. Sandra menumpahkan semua sesak yang selama ini tertahan di dalam rongga dadanya.

“Jangan menangis. Kita jalan-jalan, yuk!”

Kak Siti menghidupkan motor matic-nya. Sandra ikut dengannya. Hanya berselang beberapa menit, mereka sudah tiba di sebuah bangunan tua bergaya Kolonial. Bangunan ini disebut sebagai tangsi alias penjara milik Belanda.

“Kakek Kakak dulu pernah bercerita pada Kakak. Saat ayah Kakak masih usia SD, kakek Kakak diculik oleh Tentara Belanda. Dia bersama beberapa orang ditahan di dalam tangsi ini dan diberlakukan dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Hampir tiga tahun mendekam di dalam penjara, akhirnya kakek itu keluar dari penjara sejak Pasukan Kerajaan Siak Sri Inderapura berhasil mengalahkan musuh dan mengusir Kolonial dari Tanah Melayu ini”.

“Ketika kakek Kakak pulang ke rumah, ayah Kakak saat itu sudah mulai beranjak remaja. Nenek Kakak sangat setia menunggu suaminya kembali pulang, meskipun pulang dalam kondisi bernyawa atau hanya tinggal jasad seperti beberapa orang tetangganya yang menerima kepulangan suami mereka yang hanya tinggal jasadnya saja.”

Sandra menahan debaran jantungnya yang membuncah, membayangkan kesetiaan para pejuang dan pasangannya di kala itu. Cinta mereka sejati. Cinta mereka abadi meskipun tidak tertulis dalam sejarah, namun abadi di dalam hati anak cucunya.

Tidak seperti gadis sepertinya dan sebagian generasi sepantarannya yang selalu serius mengisi dinding Facebook, Instagram, status WA, Twiter, dan blog dengan curahan-curahan hati yang menggambarkan perasaan saat jatuh cinta, putus cinta, dan saat patah hati. Perasaan-perasaan itu diabadikan dengan curhatan, foto, bahkan dibubuhi dengan emoticon-emoticon yang mewakili isi hati penulisnya. Ditulis di dunia maya dan berharap semua netijen turut berempati. Alay sekali memang sebagaian generasi milenial masa kini.

Kak Siti lalu mengajak Sandra menuju Istana Siak. Mereka melewati Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah. Kemegahannya membuat Sandra takjub. Begitu juga dengan Istana Kerajaan Siak yang masih lengkap dengan berbagai furnitur dan peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya.

Kak Siti bercerita tentang Keluarga Sultan Syarif Hasyim yang memiliki anak seorang pejuang sejati dalam usia yang relatif masih sangat muda mampu memimpin Kerajaan Siak dengan cara yang arif dan bijaksana. Anak dari Sultan Syarif Hasyim itu bernama Sultan Syarif Kasim II. Bagaimana mungkin dalam usia 23 tahun, anak sultan tersebut bisa memimpin kerajaan dengan dinamika kehidupan masyarakat dan tantangan dalam melawan musuh? Ternyata tidak sulit bagi Sultan Syarif Hasyim dan Sultan Syarif Kasim II untuk mengatur Kerajaan Siak hingga masyhur hingga ke berbagai negara karena Undang-undang Kerajaan Siak yang disebut dengan Babul Kawait itu berlandaskan pada syariat dan syariat bersanding Kitabullah.

Ponsel Kak Siti berdering. Bang Budi menanyakan posisi mereka saat ini. Ternyata Bang Budi ingin ikut serta menyusul mereka karena jam sekolah telah usai. Setelah mengitari Istana Siak, Bang Budi mengajak mereka menuju perkebunan sayur dan buah-buahan organik, serta persawahan yang dikenal sebagai agrowisata di Kecamatan Bunga Raya, Siak Sri Inderapura, Riau. Lagi-lagi, hati perempuan belia itu takjub dengan kesuburan dan keelokan Bumi Melayu dengan segala plasma nutfah yang masih terjaga.

“Apa rahasia bercocok tanam hingga bisa sekeren ini, Bang?” tanya Sandra pada petani sukses yang merupakan teman Bang Budi. Lelaki itu tersenyum simpul. Senyuman tuan rumah itu syarat dengan kehangatan melayu.

Lelaki yang menyelesaikan pendidikan Magister Pertanian di ITB itu memberi penjelasan pada Sandra, ”Prinsip Melayu itu sebenarnya sederhana, Dek.  Berumah tidak merusak tanah, berkebun tidak merusak dusun, berkampung tidak merusak gunung, berladang tidak merusak padang. Harmoni alam harus senantiasa dijaga agar alam juga menjaga penghuninya.”

Wow, amazing! Siak is the trully of Malay,” ucap Sandra menyatakan kekaguman.

“Cekrek. Cekrek. Cekrek.”

Entah sudah berapa puluh kali gadis cantik itu mengabadikan fotonya dengan berbagai latar tempat-tempat menakjubkan di Siak dalam kamera ponselnya. Setelah itu, dia akan langsung posting ke beberapa media sosial miliknya dengan caption seperti sebuah swafoto miliknya yang baru saja diunggahnya ini.

“Sungguhlah elok Taman Bunga Menara Lestari
Anugerah Allah indah bestari
Sungguhlah Siak Sri Inderapura menawan hati
Membuat diri betah di sini”

Senja mulai memerah. Langit mulai menutup tabir. Gema azan meramaikan menara-menara masjid di Negeri Istana. Sandra, Bang Budi, dan Kak Siti berangkat menuju masjid di dekat rumah mereka.

***

Hari Minggu telah tiba. Sandra telah selesai menjemur kain di samping rumah. Lantunan suara anak-anak mengaji Al-Quran dan mengulang hafalan Quran di setiap masjid bersahut-sahutan membuat Sungai Jantan semakin tenang dan bersahaja. Dalam dan luasnya Sungai Jantan sudah seperti lautan yang hampir tak bertepi. Di tepi sungai inilah kegiatan perdagangan dilakukan oleh para pedagang internasional dahulu karena Kerajaan Siak tersohor dengan kekuatan pemerintahan dan hasil buminya yang melimpah ruah.

Pagi ini, Sandra membantu kakak iparnya membuat roti jala selai durian. Kemarin, Bang Budi mendapat durian dari salah seorang siswanya yang keseharian keluarganya adalah berkebun durian.

Wow, enak banget ini,” ujar Sandra saat menikmati semangkok roti jala selai durian.

Hampir seminggu di Bumi Siak ini, membuat Sandra merasa seperti puteri raja yang disuguhi berbagai jenis kuliner khas Siak Sri Inderapura. Sebelum isi mangkok gadis itu ludes, buru-buru ia abadikan makanan tersebut.

“Cekrek.”

Lalu, segera ia unggah di instagram-nya dengan caption, “Hati boleh kacau balau, tapi tidak dengan selera. Roti jala selai durian memang cocok dijadikan santapan di berbagai suasana. Hahaha.”

“Tok, tok, tok.”

“Assalamu alaikum!”

Sandra langsung menoleh ke pintu. Betapa terkejutnya hatinya. Sampai-sampai suapan roti jala yang hampir mendarat di bibirnya, tumpah mengenai kerudungnya. Gadis itu segera terkesiap dengan degup jantung yang tak beraturan. Ia langsung berdiri dan raut wajahnya berubah bingung.

“Boleh Aku masuk, San?”

“Mau apa, Kamu ke sini?”

“San, Aku ingin minta maaf padamu.”

Laki-laki berwajah tampan itu bersimpuh dekat ke kaki jenjang Sandra. Sandra menjauh dua langkah.

Hah, untuk apa? Kamu pikir semudah itu meminta maaf? Kamu sudah membuat luka di hatiku dan tiba-tiba ke sini minta maaf setelah semuanya terlambat,” ucap Sandra ketus dan mulai terisak menahan perih di hatinya. Luka lama menganga kembali.

Hey, Anda siapa?” Bang Budi tiba-tiba datang dari dapur bersama istrinya.

“Aku Ardi, Bang,” ucap laki-laki itu sambil segera berdiri dan menghuluran tangan kanannya pada Bang Budi.

“Kamu duduk, Sandra duduk!” ucap Bang Budi tanpa menerima huluran tangan lelaki itu.

Lelaki itu duduk bersila. Sandra juga duduk merapat ke sisi Kak Siti. Air matanya masih tumpah. Rasa kecewa yang ia simpan selama ini, seperti terurai bagai titik-titik air hujan di Bulan September.

“Kamu ada masalah apa ke mari, hah? Tiba-tiba saja langsung masuk dan ingin mendekati adik Saya!” Suara Bang Budi meninggi dan wajahnya merah padam menahan amarah. Bang Budi benar-benar tidak suka dengan kehadiran laki-laki itu.

“Aku Ardi, Bang. Pacarnya Sandra,”

“Pacar?!?” Bang Budi emosi.

Lelaki itu pun gugup dan mulai salah tingkah.

“Sandra tidak punya pacar, paham!! Yang Saya tahu, Sandra ini sedang patah hati karena lelaki yang pernah memberi harapan-harapan palsu padanya, pergi menikah dengan perempuan lain. Lelaki pembohong itu, ternyata Kamu ya?”

Ardi menunduk dan merasa bersalah.

“Kamu mau apa ke mari? Kamu tidak lihat wanita itu menangis berhari-hari di rumah ini? Bukannya kamu sudah beristri? Kalau sudah beristri sepantasnya Kamu tidak lagi menggangu perempuan lain. Apalagi adikku yang ingin Kamu ganggu, Saya tidak terima! Paham!”

Bang Budi menampar lantai kayu itu dengan sekuat tenaga. Semua yang ada di ruangan itu terkejut.

“Aku memang sudah menikah, Bang. Tapi itu perjodohan dan Aku tidak bahagia. Aku ingin menceraikan wanita itu dan kembali membuka lembaran baru bersama Sandra,” ucap lelaki berprofesi sebagai abdi negara itu.

“Kurang ajar, Kamu!” Bang Budi berdiri dari tempat duduknya dan sudah siap-siap memukul Ardi. Untung saja tangannya langsung ditahan oleh Kak Siti.

“Kamu salah tempat, Anak Muda. Kedatanganmu ke mari hanya akan mengantarkan nyawamu!” Bang Budi emosinya meledak-ledak.

“Sudahlah, Ardi. Pulanglah! Aku sudah bahagia dengan jalanku. Tidak usah menggangguku lagi!” Suara Sandra tersekat di tenggorokan. Pilu sekali perasaanya dan ia merasa Ardi telah mempermainkan harga dirinya di hadapan abang dan kakak iparnya.

“Tapi, Aku sangat menyayangimu, Sandra.” Wajah Ardi memelas.

Hey, Anak Muda! Jangan coba-coba bermain-main api di Tanah Melayu ini! Bagi orang Melayu, harga diri adalah segalanya! Kamu siap-siap akan Saya bawa ke Balai Kerapatan Tinggi Siak agar Kamu diadili dengan seadil-adilnya di sana! Kamu sudah datang tanpa etika. Lalu, masih ingin merusak maruah adik Saya. Saya katakan sekali lagi, ini Tanah Melayu. Jaga ucapan dan tingkah lakumu!” Bang Budi semakin berapi-api.

Kak Siti gemetaran menatap suaminya seemosi itu. Selama ia mengenal suaminya, ia hanya mendapati jiwa yang lembut khas orang Jawa. Ternyata budaya dan adat Melayu telah melekat erat dalam jiwa suaminya ini.

Sandra tertunduk malu dengan perasaan yang berkeping-keping. Sedangkan Ardi merasa serba salah. Keberanian saja ternyata tidak cukup untuk melumatkan kesalahan. Lelaki itu bingung dengan hatinya.

“Ardi, pulanglah!” Akhirnya Sandra bersuara lagi.

“Tapi, San,” Ardi belum sempat melanjutkan kalimatnya.

“Pulanglah! Untuk semua masa lalu, Aku sudah menguburnya dalam-dalam. Di sini Aku berjuang membuka lembaran baru kehidupanku dan saatnya fokus dengan masa depanku. Jika saatnya Aku harus mendapatkan pendamping hidupku nanti, Aku pastikan bahwa lelaki itu bukan Kamu. Jadi, pergilah! Tolong jangan pernah mengusik Aku lagi,” Sandra berkata-kata dengan bijak, meskipun air mata membanjiri pipi mulusnya.

Terdiam sejenak. Akhirnya Ardi bangkit dari tempat duduknya dan menundukkan kepalanya tanda pamit. Wajah tampan itu basah oleh air mata. Ardi segera berlalu dan menaiki mobilnya. Harapannya sirna dan masa depannya tak tentu arah.

Kak Siti memeluk Sandra.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Kak Siti.

Sandra hanya menggeleng dan sesekali mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.

“Sandra, jalan-jalan, yuk!” Ucap Bang Budi lembut. Lelaki itu ingin menenangkan hati adiknya agar tidak berlarut-larut dalam luka lama.

Bang Budi naik motor sendiri, sedangkan Sandra dibonceng oleh Kak Siti.

Tujuan pertama mereka adalah sebuah tempat bersejarah. Tempat eksotis ini bernama Balai Kerapatan Tinggi Siak Sri Inderapura. Sebagaimana petuah dari Sultan Syarif Hasyim di masa pemerintahannya dahulu bahwa kebenaran ditegakkan, keadilan tidak pernah dinomorduakan. Sudah semestinya, keadilan dan kebenaran sejalan seiringan. Segala perkara yang terjadi di Negeri Matahari Timur ini akan diselesaikan di Mahkamah Syariah didampingi oleh para datuk yang adil dan bijaksana.

Negeri Siak Sri Inderapura pernah memancarkan sinarnya ke seluruh pelosok negeri, bahkan dikenal oleh seluruh dunia. Selain peradaban Islam yang tumbuh dan berkembang, Siak Sri Inderapura selalu menjadikan undang-undang kerajaan berasaskan pada Al-Quran dan sunnah. Undang-ndang ini disebut dengan Babul Kawait yang berisikan tentang adat bersanding syariat, syariat bersanding Kitabullah. Tidak heran jika jejak Melayu menyimpan kekaguman tersendiri di hati setiap orang yang datang ke Siak Sri Indrapura.

“Seseorang yang tidak bersalah, akan turun dari tangga besi yang posisinya berada di sebelah kanan balai, sedangkan orang yang benar-benar terbukti kesalahannya, akan turun dari tangga kayu yang posisinya terletak di sebelah kiri balai,” jelas Bang Budi pada Sandra.

Hampir setengah jam mereka mengitari Balai Kerapatan Tinggi Siak, akhirnya mereka melaju menuju Lapangan Siak Bermadah. Di lapangan tersebut terdapat beberapa orang remaja, seorang lelaki dewasa, dan seorang guru tari perempuan yang berasal dari sebuah sanggar tari. Mereka sedang latihan menari zapin di lapangan tersebut.

Lapangan itu merupakan fasilitas umum yang dibangun oleh pemerintahan Kabupaten Siak untuk dipergunakan secara gratis oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan sosial dan budaya. Karena hari ini adalah hari Minggu, maka Sanggar Tari Lancang Kuning meminjam panggung rakyat untuk latihan menari Zapin.

Bang Budi berbincang-bincang dengan lelaki dewasa yang merupakan teman sekaligus pemilik Sanggar Tari Lancang Kuning. Akrab sekali kedua lelaki tersebut. Bercerita panjang lebar dengan tema yang tak tentu arah.

Sandra menyaksikan tarian Zapin dengan mengabadikan tarian itu dalam video ponselnya. Hatinya berdecak kagum dengan tarian yang dibawakan oleh anak-anak remaja itu dengan menitikkan gerakan pada rentak kaki.

“Ayuk, sini!” Guru tari berusia empat puluh tahunan itu menarik tangannya agar menaiki panggung rakyat.

Sandra tersipu malu. Wajahnya merona. Gadis itu pun mengikuti gerakan-gerakan tarian yang diajarkan oleh sang guru tari. Kaki diayunkan mengikuti hitungan dan pola gerakan. Tidak lupa, segaris senyuman di bibir sebagai persembahan salam kehangatan dari warga Melayu.

Suasana di sekitar lapangan sangat indah. Angin sepoi-sepoi bertiup dari tepian Sungai Jantan. Dari seberang jalan, tampak berdiri kokoh Istana Siak yang megah dan sangat masyhur di masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim hingga Sultan Syarif Kasim II.

Menurut sejarah, tari Zapin dibawa oleh para pedagang Arab dari Yaman yang singgah ke Istana Siak. Tarian Zapin adalah gerakan kaki berulang-ulang. Pada mulanya, tarian ini diperankan oleh para penari laki-laki setelah menyelesaikan kegiatan mengaji di Istana Siak. Seiring bergulirnya waktu, tari Zapin dibawakan juga oleh wanita dan berpasang-pasangan. Meskipun demikian, kearifan lokal dalam tarian ini masih terjaga. Hal ini tampak pada sikap sopan santun dan maruah yang terjaga dari para penari karena tari Zapin tidak hanya sebatas hiburan, namun sebagai persembahan dan sambutan selamat datang kepada para tamu yang berasal dari kalangan istana, para ulama, para cendekiawan, dan masyarakat umum. Oleh karena itu, penari Zapin harus berpakaian tertutup, tidak berlenggak-lenggok, serta menggunakan hiasan yang tidak mencolok pada akseseoris dan wajah.

Menari Zapin membuat gadis berdarah jawa itu bahagia. Selama ini, Sandra hanya mengerti dengan tarian yang mengedepankan erotisme dan kemolekan tubuh. Selama berada di Bumi Melayu ini, gadis itu mengerti tentang batasan-batasan syariat yang membuatnya semakin merasa berharga. Sandra jatuh cinta pada tari Zapin.

Kak Siti turut tersenyum melihat segaris senyuman di wajah adik iparnya tersebut. Selepas menari, seperti biasa, Sandra akan mengabadikan pengalaman berharga itu dan menuliskannya di dalam blog pribadinya. Lalu, beberapa foto saat menari Zapin, diunggahnya ke media sosial dengan caption “Takkan Melayu hilang di bumi.”

Matahari mulai meninggi. Bang Budi mengajak Sandra dan Kak Siti untuk mencicipi kuliner di Warung Bude. Warung ini sangat sederhana, namun kuliner yang disajikan pemilik warung, khas dengan masakan Melayu yang sangat kental dengan rasa dan aroma rempah-rempah. Sandra memesan nasi putih dengan lauk ikan baung asam pedas.

Tidak berapa lama, ternyata teman Bang Budi, si Pemilik Sanggar Tari Lancang Kuning, menyusul mereka ke Warung Bude dan ikut menikmati kuliner. Tampaknya, ada misi khusus yang membuat lelaki itu menyempatkan diri untuk makan di Warung Bude.

Selepas menyantap kuliner, mereka berempat salat zuhur di Masjid Raya Syahabuddin Siak. Dalam khusuk, Sandra memasrahkan jiwanya yang rapuh pada Sang Pemilik Cinta.

Tidak berapa lama, Kak Siti dan Sandra pulang terlebih dahulu. Sedangkan Bang Budi masih ada urusan dengan temannya, sang pemilik sanggar tari.

“Adikku sedang menyelesaikan skripsinya. Sebulan lagi dia wisuda, insya Allah. Jika sudah selesai, Aku akan memfasilitasi perkenalan kalian. Jika Allah rido, Allah akan menyatukan hati kalian, sekalipun adikku belum mengetahui niat baik ini,” ucap Bang Budi meyakinkan sahabatnya.

***

Lima hari sudah berlalu sejak kehadiran Ardi ke Siak. Pikiran dan perasaan Sandra semakin lapang dan berangsur-angsur melupakan lelaki itu. Sandra fokus berlatih tari Zapin di Sanggar Tari Lancang Kuning yang lokasinya tidak begitu jauh dari panggung rakyat. Hampir setiap sore Bang Budi dan Kak Siti menemaninya berlatih menari Zapin. Sungguh, tari Zapin telah menumbuhkan pesona dalam hati Sandra. Sandra benar-benar terpikat pada tarian khas Melayu itu.

Sebelum berangkat ke sanggar pada sore ini, dua orang tetangga datang untuk menyirih. Pesan dari penyirih bahwa akan ada pesta pernikahan pada hari Minggu.

“Mengapa harus pakai sirih, Kak?” tanya Sandra untuk membayar rasa penasarannya.

“Menyirih merupakan warisan budaya. Selain keistimewaan sirih yang banyak sekali manfaatnya dalam kesehatan, sirih melambangkan ruang batin kebersamaan Melayu. Rasa sirih itu kecut, namun saat diberikan kepada orang lain akan terasa manis sebab adanya kesan penghormatan terhadap orang lain tersebut,” jelas Kak Siti.

Sandra manggut-manggut sambil dipandanginya sehelai daun sirih yang dilengkapi dengan kapur dan gambirnya. Darahnya sedikit berdesir mengingat daun sirih ini sebagai pengganti undangan pernikahan. Tapi, cepat-cepat ditepisnya dari ingatannya.

“Ayuk, dimakan!” ucap Kak Siti membuyarkan lamunannya.

“Mmmm, kecut dan pedas tentunya. Nggak, ah!” Sandra pun tertawa.

Setelah penyirih beranjak, Sandra bersama kedua suami istri itu berangkat menuju lokasi latihan menari Zapin. Di perjalanan, Kak Siti mengunyah daun sirih sehingga membuat bibirnya memerah darah.

“Filosofi tari Zapin ini, apa Bang?” tanya Sandra pada lelaki pemilik sanggar selepas menari Zapin di Sanggar Tari Lancang Kuning.

“Dari jenis gerakan tari Zapin, memberi pesan moral bahwa Melayu itu berasaskan pada agama Islam. Selain itu, gerakan tari Zapin fokus pada rentak kaki dan gerakan badan hanya seperlunya dan cenderung menyiratkan kesopanan dan jauh dari nilai-nilai erotis. Sedangkan alat musiknya merupakan perpaduan antara alat musik Arab seperti: gambus dan marwas, dengan alat musik tradisional seperti: rebana, akordeon, gembos, gitar, dan gendang. Untuk syair lagu yang mengiringi tari Zapin, maka syair lagunya berisi petuah-petuah yang berguna sebagai pedoman masyarakat dalam menjalani hidup di dunia hingga ke akhirat. Misalnya, syair Bismillah, syair Lancang Kuning, dan lain-lain,” urai lelaki itu sambil tersenyum dengan wajah merona.

Thank’s, Bang. Sandra sudah paham sekarang,” jawab gadis itu sumringah. Tari Zapin telah mencuri hatinya.

Keesokan harinya, Sandra sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Genap sudah gadis itu menjalani masa liburannya di Negeri Istana Matahari Timur itu. Jiwanya sudah kembali mekar. Semangatnya sudah mulai merekah. Beruntungnya gadis itu memiliki dua orang kakak yang mencintainya dengan ketulusan. Ia berhutang budi atas kebaikan-kebaikan itu. Untuk menebusnya, ia berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik, belajar dari kepribadian Melayu yang mengagumkan dan dari filosofi tarian Zapin yang memesona.

“Semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya, Sayang! Sampai ketemu di lain hari,” ucap Kak Siti sambil memeluk erat adik iparnya tersebut.

“Terimakasih atas semua ketulusan Kakak buat Sandra. Maafin Sandra sudah banyak merepotkan Kakak,” tangis gadis cantik itu pecah di pelukan kakak iparnya.

Sandra begitu salut pada gadis Melayu itu. Sikapnya, budinya, dan maruahnya sangat istimewa. Wajar saja abangnya yang dulunya pemilih dalam menentukan selera, bisa luluh pada perempuan Melayu ini. Kak Siti tak hanya cantik secara fisik, namun kecantikan hatinya telah menyempurnakan inner beauty dalam pribadinya.

Travel yang akan mengantarkan Sandra menuju Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru telah tiba. Sandra memeluk abang semata wayangnya itu dengan penuh haru.

“Terima kasih, Bang, atas kasih sayang yang selalu ada untuk Sandra.”

“Sandra harus semangat. Sebulan lagi akan wisuda. Insya Allah Abang dan Kak Siti akan ke Jakarta sekaligus berjumpa dengan papa. Salam buat papa ya. Jaga diri baik-baik.”

Sandra tak kuat menahan perasaannya. Meski hanya dua minggu, bagi Sandra, Tepian Sungai Jantan ini telah banyak memberinya pelajaran berharga tentang cinta, tentang persaudaraan, tentang kebersamaan, tentang adab, tentang maruah, dan tentang kehidupan Rabbaniyah. Benar sungguh kata pepatah Melayu bahwa “Alam terkembang menjadi guru”. Dan, satu hal yang mengobati luka hatinya adalah tari Zapin.

Gadis itu telah berangkat bersama mobil travel eksekutif menuju Kota Pekanbaru disaksikan oleh tetangga-tetangga yang sudah mulai akrab dengan gadis itu.

“Selamat tinggal kehangatan Melayu dan selamat tinggal tarian Zapin yang menggairahkan jiwaku. Semoga Allah menakdirkanku kembali ke Negeri Istana yang elok memesona ini,” Lirih suara Sandra       berbisik pada hatinya sendiri.              

Gadis itu berjanji dalam hatinya akan mengajarkan tari Zapin kepada teman-teman dan junior-juniornya di kampus, sambil menyelesaikan skripsi.

“Sambil menyelam mengambil ikan!” Bisik Sandra saat bercengkrama dengan batinnya sendiri.

Pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 5822 itu telah berhasil landas menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta. Meskipun jasad perempuan muda itu telah berada di pulau lain, namun jiwanya telah tertinggal bersama pendar-pendar cahaya Tari Zapin yang memikat hatinya.      

                                                                                                                                                                                                                                                    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here