Foto : Tribunnew

Riausastra.com – Sesekali, penting sekali merasakan suasana malam. Tidak selalu bercerita soal dunia malam yang identik dengan hiburan semu dan poya-poya. Pada sebuah malam, bisa saja banyak menyimpan cerita dan rahasia yang harus dipetik hikmahnya.

Seperti malam ini. Hujan turun di sepanjang perjalanan. Jaket yang menyelimuti tubuh tak lagi kuat menghapus dingin. Kesejukan seakan-akan menembus setiap ruang dalam kulit. Membuat mata tak lagi terjerat rasa kantuk.

Dua orang bercakap-cakap dalam sunyi. Tak sedikitpun kudengar mereka mengeluarkan suara. Hanya gerakan tangan dan sesekali gerakan tubuh yang terus mereka andalkan. Tidak terlepas pula dari mimik wajah, pembantu informasi agar sampai pada lawan bicaranya. Di antara kedua orang ini, aku tak bisa menduga, siapa di antara mereka yang benar-benar tunawicara.

Allah benar-benar Maha Sempurna. Dibalik kekurangan setiap makhluk ciptaan-Nya, pasti Ia imbangi dengan kelebihan. Seperti halnya kedua orang tersebut. Penampilan mereka sangat rapi. Tampak sekali bahwa mereka orang berpendidikan. Dengan keterbatasan itu justru aku melihat banyak keistimewaan. Mereka yang tunarungu dan tunawicara, tapi mereka tidak tunateknologi. Android mereka canggih. Mungkin mereka tidak bisa menggunakan layanan telepon, tapi mereka pasti bisa menggunakan layanan video call. Allah benar-benar Maha Segalanya.

Belajar dari kedua orang hebat tersebut, sudah selayaknya tidak ada di antara kita yang menyerah pada keadaan. Sudah sepantasnya di antara kita tidak menjadikan kekurangan fisik atau mental (disabilitas) sebagai momen untuk mengharapkan belas kasih dari orang lain. Cukup pada Allah saja merendah diri. Lalu, segera kita sadari bahwa dibalik kekurangan pasti ada kelebihan dan sungguh tidak pernah Allah menciptakan hal sia-sia dalam hidup kita.

Hujan semakin bersemangat membasuh isi bumi. Setiap mobil yang melintas di depan tempat persinggahan megah ini, selalu saja mobil-mobil tersebut menerobos genangan air. Saking lajunya, mobil-mobil itu seperti dihujani percikan air terjun. Seluruh badan jalan hingga bahu jalan turut kena percikan dahsyat. Mobil-mobil tersebut seolah-olah sedang mengadakan atraksi di ujung malam.

Ada yang bilang begini, saat hujan turun, teringat pada kenangan hanya 1%. Sisanya, 99% ingat mie rebus, disantap panas-panas.

Aku tidak sependapat dengan ungkapan di atas. Saat hujan begini, tak sedikitpun keinginan untuk menyantap mie rebus. Justru, 99 % pikiranku fokus pada tugas kuliah yang belum kelar. Hahahah. Sedangkan 1% nya fokus pada rindu yang segera diredam agar tak merusak suasana hati. Jika rindu yang 1% tersebut dibiarkan, maka ratingnya akan segera naik begitu cepat mencapai angka 99%. Bila diikuti isi perasaan, bisa-bisa cita-cita akan berakhir angan-angan. Oleh karena itu, mesti pandai-pandai membawa perasaan.

Aku memesan satu gelas teh hangat. Pelan-pelan kuaduk gulanya yang dibiarkan menumpuk di dasar gelas oleh si pramuniaga. Ditemani alunan musik khas Minangkabau yang dimainkan oleh seorang laki-laki paruh baya dengan meniup saluang. Sambil sesekali tiupan saluang itu berhenti saat lelaki itu menghisap rokoknya. Betah sekali lelaki itu ditemani beberapa batang rokok. Tubuhnya sepertinya sudah kebal dengan suasana dingin dan pekatnya malam.

Perjalanan berlanjut. Di setiap sisi jalan terdapat banyak sekali rumah makan dan toko-toko penjual sanjai. Pandanganku tertuju pada tempat makan bermerek Pangek. Terbayang saat bulan puasa kemarin saat Bu Ida, salah seorang teman baikku, memasakkan secara khusus “pangek itiak lado hijau dicampur cubadak”, untukku. Enak sekali, masya Allah. Terbayang pada Bu Ida yang pintar sekali memasak. Aku pun berpikir, kapan ya masakanku bisa seenak masakan Bu Ida?

Senandung suara saluang telah tertinggal jauh karena perjalanan semakin laju. Tidak hanya hujan, lagu Minang juga turut serta menemani perjalanan. Sebait syairnya bercerita tentang seseorang yang ditinggal pergi oleh ayahnya sehingga si anak harus menanggung rindu.

Jika bicara soal rindu, memang tak pernah ada habisnya. Seperti rindu yang kurasakan saat perjalanan memasuki Kota Bukit Tinggi. Kenangan bersama lelaki yang tak pernah usai mencintaiku itu, berakhir di Kota Bukit Tinggi. Lelaki hebat itu telah pergi untuk selamanya dan meninggalkan jejak rindu di hatiku.

Kulantunkan sebait doa untuknya. Kulafazkan istighfar dan alfatihah untuknya. Dia memang telah pergi dari kehidupan ini, namun sejatinya dia tak pernah pergi dari ingatanku. Dia: ayahku.

Perjalanan tiba di Kota Padang tepat dini hari. Banyak sekali bangunan dengan model atap bagonjong yang menjadi hiasan atap setiap instansi pemerintah. Kembali menata hati, menguatkan jiwa, dan meluruskan niat. Perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Ada banyak perjuangan panjang yang kuabadikan dalam kenangan. Suatu hari nanti, semoga perjalanan ini menjadi saksi bisu yang akan menorehkan kebahagiaan. Lalu, kebahagiaan itu akan aku persembahkan untuk mereka yang mengiringi perjalananku dengan doa dan cinta.

Spesial buat Abi dan anak-anak.
Miss all of you

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here