Riausastra.com – Potret sebuah kota sedang terdengar merdu di seluruh seantero negeri. Kejadian di sebuah kota tersebut menjadi buah bibir dan menarik perhatian dari berbagai kalangan, baik itu jurnalis media, pakar-pakar pendidikan, para pemangku kebijakan, para pendidik, para orang tua, para peserta didik, hingga anak-anak usia prasekolah.

Setiap orang pasti menginginkan segala sesuatu baik-baik saja. Akan tetapi, ada saja musibah yang senantiasa hadir di tengah-tengah ketidaktahuan kita. Musibah bisa hadir tanpa prediksi dan di luar nalar dan perkiraan manusia. Namun, musibah terjadi lebih sering diakibatkan oleh faktor kelalaian dari orang-orang dewasa.

Mengapa harus selalu orang dewasa yang “dipersalahkan”? Sebenarnya, kata “dipersalahkan” lebih tepat diganti dengan kata “bertanggung jawab”.

Sebagaimana definisi “dewasa” adalah kondisi fisik dan cara berpikir seseorang sudah lebih matang. Oleh karena itu, segala musibah yang diakibatkan oleh faktor kelalaian, sebagai orang yang lebih matang secara pisik dan psikis, maka orang dewasalah yang pantas untuk bertanggung jawab.

Kabar berita yang sedang menjadi sorotan publik adalah peristiwa ambruknya sebuah bangunan sekolah yang mengakibatkan meninggalnya seorang guru dan seorang murid. Jika kita cermati bersama, kejadian ini cukup membuat hati pilu. Sang guru berangkat dari rumahnya, pamit untuk mengabdikan diri untuk mendidik generasi. Tiba-tiba kembali ke rumah dalam kondisi tidak bernyawa. Demikian juga seorang siswa yang paginya pamit pada kedua orang tuanya untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat, ternyata pulang ke rumah sudah dalam keadaan mengenaskan. Hati keluarga mana yang tidak akan merasakan kesedihan ini?

Kondisi ambruknya sebuah sekolah di sebuah kota tersebut tidak perlu menjadi bahan untuk saling menyalahkan. Alangkah arifnya jika para orang dewasa berpikir untuk berbenah diri dan menghadirkan rasa bertanggung jawab atas kejadian ini. Sebagai orang dewasa, berikut cara bijak yang harus kita benahi, yaitu:

  1. Mempelajari penyebab dari ambruknya bangunan sekolah
  2. Mengevaluasi semua fasilitas, lalu diuji kelayakan dan ketidaklayakannya
  3. Mengambil langkah tegas atas kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Misal: tidak menggunakan fasilitas yang sudah tidak layak.
  4. Meminta perhatian dan tindakan cepat tanggap dari para pemangku kebijakan dan orang tua siswa
  5. Mengedukasi seluruh siswa tentang kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi jika siswa berada di sekitar fasilitas yang tidak layak pakai, serta mengingatkan para siswa dan orang tua untuk turut serta bersama-sama, bahu-membahu untuk membenahi segala hal yang berada di dalam  ruang lingkup sekolah.

Berangkat dari kasus yang menimpa sebuah sekolah yang mengalami ambruk parah, ada satu hal yang harus lebih diwanti-wanti, yaitu ambruknya psikis masyarakat secara umum.

Ambruknya psikis bisa terjadi karena berbagai faktor, yaitu

1. Perkataan

Seorang pepatah mengatakan bahwa perkataan yang menyakitkan atau menyenangkan ibarat paku yang sedang tertancap di sebuah kayu. Meskipun kayu tersebut sudah dicabut, tetap saja meninggalkan jejak. Jika perkataan baik, motivasi, cinta, dan terima kasih selalu kita lontarkan pada orang lain, sudah pasti orang yang menerima perkataan baik tersebut akan merasa berkesan dan ingin berteman baik dengan kita. Sebalknya, orang yang senantiasa mengutarakan kata-kata kasar, hinaan, merndahkan, dan menyakitkan, sudah pasti tidak akan punya teman. Jika punya teman sekalipun, pasti tabiatnya tidak jauh beda dengan dirinya.

Perkataan sering membuat seseorang merasakan gangguan psikis. Khususnya perkataan orang tua terhadap anak-anaknya. Juga perkataan guru kepada murid-muridnya.

Orang tua yang sering berkata kasar pada anak-anaknya, maka anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi anak-anak yang tertutup atau suka melawan atau anak-anak anarkis. Sebaliknya, anak-anak yang terbiasa dengan perkataan baik dari orang tuanya, mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang percaya diri, tidak pendendam, dan mudah menahan diri.

2. Teknologi

Pada era milenial, hampir setiap orang tidak bisa terlepas dari pengaruh teknologi. Pada dasarnya, teknologi diciptakan untuk memberi kemudahan buat seluruh manusia, namun efek samping teknologi tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dihindari atau diminimalisasi. Dengan canggihnya teknologi, membuat masyarakat cenderung narsistik, individualis, hedonis, lalu muncullah sikap pesimis, hasad, dengki, bahkan skizofrenia (rasa sedih berlebihan) karena tidak bisa seperti orang lain atau selalu merasa diri lebih hebat dibanding orang lain.

3. Ekonomi

Faktor ekonomi sangat kuat sekali memengaruhi psikologis manusia. Apalagi masyarakat Indonesia yang menetap di beberapa tempat. Tempat-tempat tersebut cenderung biaya pendidikan sangat mahal. Belum lagi biaya pendidikan. Ditambah lagi lokasi hiburan dan berwisata yang sudah sulit dijumpai tanpa uang masuk. Yang paling membuat miris adalah saat jaminan kesehatan hanya menjamin yang mampu membayar saja. Tidak heran jika masyarakat cenderung memilih untuk berhenti bercita-cita. Masyarakat cenderung menyalahkan takdir mengapa dirinya tidak seperti orang lain yang tidak perlu pusing-pusing memikirkan makan apa hari ini.

4. Obsesi Pribadi

Gangguan psikis ini terjadi karena keinginan yang lahir dari dalam diri sendiri. Akan tetapi, keinginan tersebut berada di atas kemampuan sendiri. Jika keinginan itu tidak terpenuhi, maka seseorang dengan gangguan obsesi pribadi akan menyendiri, kaku, marah tak tentu arah, mengaharapkan perhatian dari orang lain, stres jika sesuatu hal tidak perfeksionis, bahkan menghakimi diri sendiri.

Oleh karena itu, setiap orang dewasa bertanggung jawab atas masa depan generasi kita agar generasi masa depan tidak sampai merasakan ambruk secara psikis. Jika telah ambruk secara psikis, sudah pasti akan ambruk juga semua hal yang berbentuk pisik. Naudzubillahi min dzalik. Mari belajar, berbenah diri, serta menatap masa depan yang akan kita wariskan pada generasi kita di hari esok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here