Riausastra.com – Novel Max Havelaar lahir dari seorang penulis Belanda bernama Multatuli. Karya ini lahir untuk mengkritisi kebijakan feodalisme Belanda terhadap bangsa pribumi.

A. Kolonial dan Tanam Paksa

Pada abad ke-18, Belanda memasuki Indonesia dengan tiga tujuan, yaitu menyebarkan agama Nasrani, menjajah Indonesia, dan menguasai kekayaan alam Indonesia. Belanda melihat bahwa Indonesia memiliki potensi Sumber Daya Alam yang sangat kaya sehingga jika dikuasai akan memberikan kemakmuran buat negeri Belanda.

Tahun 1830 Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya sebesar 20% untuk ditanami komoditas ekspor, khususnya tanaman tebu, kopi, teh, dan tarum (nila). Hasil kebun akan dijual kepada Kolonial Belanda  dengan besar harga yang ditentukan oleh Belanda. Sedangkan keuntungan dari penjualan tersebut dikuasai oleh Belanda.

Bagi penduduk pribumi yang tidak memiliki tanah, maka penduduk desa harus bekerja dengan cara cultuurstelsel atau sistem tanam paksa. Penduduku diwajibkan bekerja selama 75 hari dalam setahun di kebun-kebun yang dikuasai oleh para penjajah.

Sistem tanam paksa merupakan era paling kejam yang dilakukan oleh Belanda kepada rakyat pribumi khususnya di daerah Lebak, Banten, untuk meraup keuntungan besar bagi kesejahteraan Belanda. Tidak heran jika pada tahun 1835 sampai dengan 1940 merupakan masa keemasan bagi Kolonial Hindia Belanda.

Foto : Internet

Kerja paksa akhirnya melahirkan kerja rodi, yaitu kerja paksa yang dilakukan oleh penduduk pribumi tanpa diberi upah yang layak sehingga membuat kehidupan penduduk semakin sengsara. Kolonial Belanda mewajibkan penduduk untuk kerja rodi membangun infrastruktur seperti jalan raya, waduk, jembatan, rumah-rumah pesanggrahan untuk tentara Kolonial. Selain itu, para penduduk dijadikan sebagai budak yang akan melakukan berbagai pekerjaan untuk kepentingan Kolonial.

B. Eduard Douwes Dekker dengan Nama Pena Multatuli

Multatuli merupakan nama pena dari seorang pegawai Belanda yang mahir sekali menulis karya sastra. Nama Multatuli diambil dari bahasa Latin yang berarti “banyak yang sudah aku derita”. Penulis yang memiliki nama asli Eduar Douwes Dekker terinspirasi membuat novel Max Havelaar lahir di Amsterdam, Belanda pada 2 Maret 1820 dari seorang ayah yang merupakan kapten kapal besar dengan penghasilan keluarga yang mapan sehingga  keluarga tersebut juga merupakan keluarga berpendidikan.

Foto : Internet

Di saat masih duduk di bangku sekolah, Eduard merupakan anak yang cerdas. Akan tetapi, semangat belajarnya mulai turun sehingga ayahnya mengeluarkannya dari sekolah dan menjadikannya sebagai pegawai kecil di di kantor perusahaan tekstil yang masih kecil. Selama empat tahun berada di kantor kecil tersebut, Eduard mulai merasakan bagaimana menjadi orang miskin yang termarginalkan.

Pada tahun 1839 Eduard tiba di Batavia. Selama di dalam kapal milik ayahnya, Eduard bekerja sebagai kelasi yang belum memiliki pengalaman. Tidak berapa lama, Eduard bekerja menjadi seorang pegawai negeri  (ambtenaar) di Kantor Pengawasan Keuangan Batavia. Tiga tahun kemudian, Eduard dikirim ke Kota Natal yang sangat terpencil sebagai seorang kontroling.

Sebagai seorang ambtenaar di daerah terpencil, Eduard sangat menikmati pekerjaannya. Akan tetapi, Eduard tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya di pemerintahan sehingga terjadi kerugian pada kas pemerintahan. Oleh karena itu, Eduard kembali ke Batavia dan mendapatkan tugas baru di Batavia.

Dalam perjalanan karirnya, Eduard mendapatkan tugas baru di Lebak, Banten. Eduard mendapati kondisi masyarakat pribumi yang dijadikan sebagai buruh paksa untuk memenuhi kehidupan Bupati Lebak yang hidupnya poya-poya. Bupati bahkan melakukan pemerasan terhadap pribumi dengan meminta secara paksa hasil pertanian dan hasil ternak milik pribumi.

Melihat kejahatan yang dilakukan oleh Bupati Lebak dan keluarganya terhadap kaum pribumi, Eduard mengirimkan surat kepada atasan residennya dengan penuh emosi. Eduard meminta agar Bupati Lebak dan puetra-puteranya ditahan untuk memperbaiki situasi di Lebak. Ternyata, meskipun permohonan Eduard telah sampai kepada Gubernur, tetap saja keinginan Eduard tersebut ditolak. Akhirnya Eduard mengundurkan diri dari pekerjaannya karena bentrok dengan atasannya.

C. Novel Max Havelaar Karya Multatuli

Pada tahun 1875, Eduard Douwes Dekker membuat sebuah karya sastra Belanda yang berjudul Max Havelaar dengan membuat nama samaran “Multatuli”. Di dalam novel tersebut, Multatuli menceritakan tentang penderitaan yang dialaminya serta penderitaan yang dialami oleh masyarakat pribumi selama penjajahan Kolonial Belanda.

Karya-karya Multatuli telah menjadi motivasi bagi para Sastrawan Indonesia, misalnya Angkatan Pujangga Baru untuk bangkit dan menyuarakan penderitaan rakyat melalui tulisan dan karya-karya sastra. Akhirnya tumbuhlah semangat kebangsaan untuk menentang kebiadaban Belanda dengan lahirnya pemberontakan-pemberontakan.

Pada karya Multatuliyang berjudul Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy menggambarkan tentang seorang Max yang bersikap idealis dan sangat menentang kekuasaan feodalisme yang selalu menyiksa rakyat jelata. Karya Max Havelaar akhirnya populer di berbagai dunia dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

D. Sinopsis Novel Multatuli dengan Judul Max Havelaar

Karya fenomenal yang berjudul Max Havelaar berisi tentang kisah seorang tokoh yang sangat kumuh dan tokoh tersebut memakai syal. Dengan ciri khas tokoh tersebut, sehingga dia disebut dengan Sjaalman.

Pada suatu kesempatan, Sjaalman bertemu dengan seorang Makelar Kopi yang kaya raya di Amsterdam. Makelar kopi tersebut bernama Batavus Droogstoppel yang merupakan teman lama dari lelaki kumuh dan bersyal tersebut. Sjaalman baru saja datang dari Negeri Timur.

Batavus mengetahui bahwa Sjaalman memiliki banyak sekali tulisan yang bertema tentang kopi. Karena Batavus melihat tulisan-tulisan tentang kopi tersebut bisa mendatangkan keuntungan bagi usahanya, maka lelaki tersebut meminta untuk mempublikasikan tulisan-tulisan Sjaalman dengan harapan bisa mengenalkan kopi ke berbagai penjuru.

Pada beberapa naskah tentang kopi tersebut, Batavus menemukan cerita tentang “kekejaman” yang dirita oleh sebuah bangsa karena penerapan sistem tanam paksa yang dilakukan oleh Tentara Belanda. Masyarakat pribumi yang menjadi wilayah jajahan tersebut hidup dengan penuh penindasan, kelaparan, kesengsaraan, dan kemiskinan.

Dari resensi novel Max Havelaar karya Multatuli di atas, maka timbullah gejolak di dalam negeri Belanda dan di luar negeri. Banyak petinggi Belanda yang menganggap bahwa karya sastra yang ditulis oleh Multatuli tersebut merupakan rekayasa dengan isi cerita yang dilebih-lebihkan.

Multatuli tetap bertahan dengan fakta-fakta sejarah yang ia tulis di dalam novel Max Havelaar. Multatuli sangat menentang kekejaman yang dilakukan oleh bangsanya sendiri terhadap kaum pribumi. Oleh karena itu, Multatuli siap mengahadapi bangsanya sendiri yang tidak menyukai karya yang ditulis olehnya.

Dengan tersebarnya kekejaman Belanda tersebut ke seluruh penjuru dunia, maka Belanda pada tahun 1901 di bawah kepemimpinan Ratu Wilhelmina membentuk sebuah “politik etis”. Tujuan diadakan politik etis adalah sebagai bukti balas budi dari Belanda terhadap Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, dibuatlah tiga kebijakan berikut:

  1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian.
  2. Imigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi
  3. Edukasi yakni memeperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.

Ternyata, kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Belanda. Irigasi yang dibangun hanya menguntungkan perkebunan-perkebunan milik Belanda. Sedangkan imigrasi dilakukan dengan cara memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda dan dijadikan sebagai pekerja rodi.

Sedangkan bidang edukasi benar-benar diselenggarakan oleh Belanda dengan cara membangun sekolah-sekolah untuk kaum priyayi atau kaum bangsawan. Para kaum bangsawan yang bersekolah tersebut dijadikan sebagai pegawai-pegawai di perkantoran milik Belanda.

Foto : Internet

Akan tetapi, kesadaran dalam memperoleh ilmu dan pendidikan tersebut membuat para kaum terpelajar terinspirasi untuk bangkit dari penjajahan dan mulai menularkan sikap patriotisme untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dan segera mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi.

E. Kesimpulan

Pemaparan tentang karya sastra yang berjudul Max Havelaar karya Multatuli merupakan salah satu bukti sejarah tentang kekejaman penjajah Belanda terhadap bangsa Indonesia. Untuk menguntungkan Negeri Belanda, mereka membuat kerja paksa (rodi) yang menyisakan kesengsaraan, kelaparan, dan penindasan terhadap pribumi.

Dengan lahirnya novel karya Multatuli tersebut membuat Belanda merasa harus balas budi pada Bangsa Indonesia. Lalu, Pemerintah Belanda membuat kebijakan “politik etis” yang membuat rakyat Indonesia mulai mengenal pendidikan sehingga lahirlah rasa patriotisme untuk meraih kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here