Foto: net

Riausastra.com – Salah aku, apa? Mengapa harus aku? Kenapa bisa begini, yach?

            Beberapa pertanyaan ini singgah dalam benakku. Banyak hal yang tidak kumengerti. Akan tetapi, alasan hadirnya pertanyaan-pertanyaan ini akan kuuraikan, meskipun jawabannya belum kutemui.

            Empat hari yang lalu, sahabatku, Mirah Diani Hutasuhut, menghubungiku via telepon. Dia memintaku untuk mencarikan surveyor untuk peserta event Al-Ahmadi Award. Dengan penuh percaya diri, aku menawarkan diri. Dengan kesibukanku sebagai ibu dari tiga balita juga seorang pegawai kontrak di sebuah kementerian, Mirah sempat meragukan kesanggupanku.

            “Beneran sanggup? Kan repot tuch, punya tiga balita,” ucapnya saat itu. Dan akupun mengiyakan.

            Waktu berjalan dalam lintasannya. Deadline  survey tinggal tiga hari lagi. Semangat yang sempat membara sehari yang lalu mulai pudar. Kebetulan ayah anak-anak sedang berada di luar kota dan si kecil pun demam tinggi. Aku mulai ragu untuk melangkah. Segera kukabari Diah, teman survey, agar berangkat sendiri saja. Aku serahkan semua tugas ke Diah agar Diah menyelesaikan survey bersama orang lain saja (tanpa aku). Akan tetapi, Diah menolak. Ia tetap berharap agar besok survey tetap kami jalankan berdua seperti kesepakatan kami di awal.

            Keesokan harinya, si bungsu sudah mulai mendingan. Aku berangkat survey dengan bismillah. Alamat pertama yang kami datangi adalah rumah Bu Sariyati. Setelah berbincang dan mengisi kuisioner yang disediakan oleh panitia Al Ahmadi Award, kami pun menuju ruang produksi.

             Ibu Sariyati merupakan pengusaha olahan ubi. Berangkat dari mindset masyarakat yang memandang ubi adalah tanaman karbohidrat biasa dengan kesan yang biasa saja, Bu Sariyati memiliki ide untuk mengolah ubi menjadi tepung. Tepung ubi diolah menjadi beberapa bahan pangan seperti bronis ubi, dodol ubi, pempek ubi, dll. Melalui ide ini, ternyata produk Bu Sariyati mendapat perhatian istimewa di setiap bazar, maupun pameran.

            Hampir satu jam berada di rumah Bu Sariyati, kami pun beranjak menuju Panam. Jarak antara Rumbai dan Panam cukup jauh. Akan tetapi, ada rasa penasaran untuk bertemu dengan peserta lainnya. Akhirnya tibalah kami di kediaman Wahyu Hidayat.

            Pemuda kreatif yang hobi melukis ini membuka usahanya melalui hobi melukis. Produk yang dihasilkan mahasiswa tersebut adalah sepatu lukis, tas lukis, kacamata lukis, dll. Omsetnya cukup luar biasa dengan usia yang masih sangat muda. Karyanya banyak diminati, khususnya para pelajar.

            Masih di daerah Panam, kami melanjutkan survey ke lokasi produksi Kaos Riau Plat BM milik Mohammad Reyhanougy S. Pebisnis muda tersebut memilih mahasiswa-mahasiswa Universitas Riau sebagai bangsa pasar. Peminat Kaos Riau cukup banyak. Masyarakat sangat tertarik dengan kata-kata yang terdapat di kaos, seperti “Kapan Balek Riau”, “Pekanbaru Kota Bertuah”, dll. Kaos Riau banyak diminati khususnya di saat bencana asap yang melanda selama empat bulan karena kaos Riau telah mewakili suara hati masyarakat Riau dalam menyampaikan aspirasi kepada dunia tentang asap.

            Selanjutnya kami menuju Pelataran Kampus Unri tempat advertice, souvenir, dan digital printing milik Agus Yoni Prasetyo Widodo. Kreatif dan tekun adalah bagian dari kesuksesan bisnis milik Agus Yoni Prasetyo. Pelanggan tak kunjung sepi menyambangi toko yang berani bersaing di tengah-tengah krisis saat ini. Sebagai seorang pebisnis, Agus menjadikan kepuasan pelanggan terhadap pelayanan mereka adalah kunci sukses.

            Panas terik Kota Pekanbaru tak menyurutkan langkah kami. Bagiku dan Diah, musim ekstrem seperti sekarang ini lebih baik dibandingkan musim asap seperti beberapa minggu lalu. Hingga akhirnya kami tiba di rumah produksi kebab milik Mahasiswa UIN Suska Riau, Muhammad Effendi.

            Berawal dari kebutuhan ekonomi, Muhammad Effendi mengawali bisnis kebab miliknya.

             “Impian itu penting,”ucap Effendi ketika kami bertanya tentang kronologi bisnis kebab miliknya.

            Setiap tahun, pemuda ini membuat perencanaan matang. Hingga pada tahun ketiga, Effendi telah mampu menyuplai bahan-bahan kebab untuk sepuluh outlet kebab yang telah dirintisnya.

            Dengan usia yang cukup muda, keberanian dan kegigihan Effendi menjadi cambuk besar bagiku dan Diah. Gelar kesarjanaan yang terpampang di belakang nama kami berdua tidak mampu membuat kami merasa lebih hebat di hadapan Effendi dan beberapa anak muda yang telah kami survey sebeluimnya.

            Lantas, aku pun bertanya kepada sahabatku, Diah, sembari bergurau,”Selama jadi mahasiswa, Anda ngapain aja?”

            Pertanyaan ini muncul setelah kami tersadar bahwa kami tengah berhadapan dengan orang-orang hebat dengan ide-ide cemerlang. Semasa mahasiswa dulu, aku dan Diah tidak berpikir untuk menjadikan peluang berharga seperti Effendi dan peserta lainnya untuk membangun impian-impian besar untuk menjadi orang sukses. Sungguh, kami berdua merasa cukup tertinggal jauh. Namun, masih ada secercah harapan di dalam benak kami untuk melangkah, membangun impian, dan belajar untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang di langit.

            Setelah terik yang menguliti, turunlah air hujan. Berkeliling Kota Pekanbaru dengan modal roda dua, tak cukup membuat kami tidak bermandikan air hujan. Ceria yang kami rasakan sebanyak bilangan air hujan yang jatuh ke bumi. Rasa lapar sempat menguap dan sempat tergantikan karena termotivasi dengan orang-orang sukses. Sungguh, kehadiran hujan di sore (19/11/15) benar-benar sebuah nikmat.

            Sore telah beranjak. Kami putuskan untuk melakukan survey pada satu peserta lagi di hari Kamis tersebut. Akhirnya kami tiba di rumah Perian Tika, seorang pebisnis las. Muda, energik, santun, dan semangat adalah sosok Peri. Berangkat dari kebutuhan ekonomi, Peri memulai langkah ini. Usia mudanya tidak membuatnya untuk merasa canggung untuk menjadi leader bagi karyawan yang usianya jauh lebih tua dari pada Peri.

            Petang menjelma. Senja pun telah berlalu. Kami putuskan akan melanjutkan survey besok hari. Menyusuri jalanan panjang menuju kediaman masing-masing. Aku sempat merenung sejenak, betapa berharganya hari yang telah kulalui seharian ini. Betapa manisnya takdirku hari ini. Lelah, letih sirna. Yang tersisa hanya sebuah harapan besar untuk menjadi orang besar. Sungguh, luar biasa. Aku benar-benar tidak faham, salahku apa? mengapa harus aku yang bertemu dengan jiwa-jiwa inspiratif seperti mereka?

            Pagi membuka hari dengan senyuman manis sang mentari. 20 November 2015, aku berangkat dengan semangat baru. Pukul 07.00 WIB, kami mulai melangkah menuju kediaman Teguh Ade Putra di sudut Kota Pekanbaru, tepatnya di Jalan Sumatera Gang Sumatera, Kecamatan Tenayan Raya. Dalam petunjuk data yang diberikan panitia Al Ahmadi Award, Teguh merupakan pebisnis kuliner kreatif “bakwan”.

            Awalnya aku dan Diah sempat bertanya-tanya, “bakwan?” Keistimewaan bakwan seperti apa yang dijadikan Teguh sebagai kuliner ktreatif? Untuk menjawab rasa penasaran kami, tibalah di rumah produksi Bakwan Bola milik Teguh.

            Pemuda yang masih muda belia itu, menunjukkan contoh produk bakwan bola yang telah dikemas dalam plastik anti udara. Sekilas melihat produk tersebut, aku mengira produk tersebut tak ubahnya dengan bakso. Selain bentuknya yang bulat, produk  tersebut ditempatkan di freezer. Setelah dijelaskan oleh Teguh, barulah kami mengerti ternyata bakwan bola tersebut tetaplah seperti bakwan biasa. Bahan dan rasanya tidak berbeda dengan bakwan lainnya. Hanya bentuknya yang berbeda. Akan tetapi, ada satu hal yang istimewa dari bakwan bola buatan Teguh. Bakwan tersebut memiliki beberapa varian rasa, seperti: udang, sosis, bakso, dan original.

            Bakwan yang dipasarkan oleh Teguh adalah bakwan yang senantiasa hangat. Oleh karena itu, setiap pelanggan meminta bakwan, maka bakwan akan disajikan dalam kondisi baru matang. Dengan konsep “bakwan bola hangat”, Teguh berinovasi untuk membuat adonan bakwan yang tahan lama. Pemuda alumnus Unri tersebut membentuk adonan bakwan yang tahan lama disimpan dalam kemasan dan di freezer sehingga para pengorder di luar kota tetap bisa membeli produk bakwan bola buatan Teguh. Ide cemerlang anak muda ini benar-benar masih pertama di Indonesia.

            Kali ini, Diah yang bertanya padaku,”Jadi, selama Anda mahasiswa, Anda ngapain aja?” kami pun tertawa. Walau sebenarnya kami sedang menertawakan waktu dan kesempatan yang telah kami abaikan di masa-masa emas seperti Teguh dan kawan-kawan peserta Al Ahmadi Award lainnya.

            Hujan menjadi saksi, perjalanan panjang dan berliku ini telah mengikat jiwa ini dengan satu kalimat bahwa satu-satunya yang tidak mampu terbeli dengan uang adalah ide. Setelah adanya ide, maka harus dibungkus dengan kemauan. Silaturrahim ke rumah Teguh adalah sebuah rezeki istimewa.

            Perjalanan berikutnya menuju kediaman Mas Yondri Rosi di Perum Mutiara Kulim Permai. Lelaki kreatif dan imajinatif tersebut menekuni pembuatan dan penyewaan kostum karakter. Ia membuat karakter-karakter super hero sampai pada karakter anak-anak dengan tangannya sendiri. Hingga kini telah ada enam puluh kostum yang telah dibuat oleh Mas Yondri. Untuk menciptakan kesan di hati para penikmat bisnis kostum tersebut, Mas Yondri mengabadikan nama produknya dengan nama RiauKostum.com. 

            Selanjutnya kami mengunjungi kediaman Mbak Ulva Dayani pemilik Delicia Cake and Pastry di Perumahan Villa Duyung, Marpoyan Damai. Berawal dari hobi membuat berbagai macam kue, Mbak Ulva telah memiliki bangsa pasar sndiri. Daya kreativitas milik perempuan cantik tersebut telah membuat produknya mengena di hati para pelanggannya. Oleh karena itu, para pelanggannya selalu mengatakan kue buatannya sangat enak. Tanpa ragu, Mbak Ulva membuat jargon dalam produknya “Delicia Cake and Pastry tempatnya kue enak”.

            Terakhir, kami menyambangi kediaman Mbak Adriati di Jalan Fajar, Payung Sekaki. Rumah mewah milik Mbak Adriani dipenuhi dengan aksesoris dan peralatan dekor. Mbak Adriati mengawali bisnisnya dari nol hingga terus berkembang sampai sekarang. Kegigihan dan kemampuan beliau untuk menjaling hubungan dengan masyarakat, menjadikan produknya banyak diminati pelanggan.

            “Berawal dari sistem jemput bola,” urainya.

            Wanita cantik dan supel tersebut menganggap betapa pentingnya ilmu kewirausahaan serta silaturrahim. Dengan dua modal tersebut, menjadikannya sebagai pebisnis sukses.

            Setelah semua peserta kami survey, sepuluh peserta yang tetap bertahan dalam kompetensi ini. Seorang peserta pemilik Bumbu Pecal Terubuk mengundurkan diri karena sedang fokus di banyak acara. Hasil survey telah berhasil kami input dan telah terkirim kepada panitia. Akan tetapi, kesan manis yang kami rasakan belum hilang.

            Seluruh peserta yang telah kami survey telah memiliki outlet masing-masing, bahkan telah membuka cabang. Akan tetapi, bencana asap selama empat bulan kemarin sempat membuat beberapa di antara mereka harus menutup outlet karena berpikir akan kesehatan juga disebabkan oleh terhambatnya pengiriman ke luar kota karena penerbangan lumpuh total. Sebagian dari mereka mengatakan selama musim asap tersebut omset sempat menurun. Akan tetapi, semangat mereka telah mengalahkan banyaknya rintangan sehingga impian-impian di masa depan telah terbangun kembali dan telah memiliki planing untuk pengembangan usaha.

            Benar sungguh kata Soekarno, “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia!” sepuluh pemuda istimewa yang telah kami survey tersebut akan mampu mengubah dunia dengan karya dan ide-ide mereka. Betapa beruntungnya aku dan Diah, Allah beri kesempatan bertemu orang-orang sukses, muda, dan kreatif. Kami sangat berterima kasih kepada panitia yang telah menjerumuskan kami dalam kegiatan ini.

            Salah kami, apa? Kenapa jadi begini? Benar-benar sebuah keberuntungan yang tak mampu kulukiskan. Survey telah berlalu, namun kesan bahagia masih terngiang. Andai panitia berkenan, betapa inginnya kami “disalahkan” lagi agar kembali kami bertanya, “Salah kami, apa, sehingga harus diundang gratis di acara Al Ahmadi Award di Batam?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here